Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
PENCULIKAN



“Halo Om.” El berbicara di telepon.


“Kau sedang berada dimana?”


“Aku sedang berada di perpustakaan kampus, Om.”


"Apa kau belum ingin pulang?"


"Belum."


“Bisakah kau membantuku?”


“Apa itu?”


“Aku punya teman yang memiliki butik di dekat kampusmu."


“Terus?"


“Beberapa waktu yang lalu aku memesan pakaian padanya.”


“Jadi?”


"Hari ini dia sangat sibuk, dia tidak sempat untuk datang kerumah. Jadi dia akan menitipkan pesananku padamu saja."


"Dia akan mengantarnya ke kampusku?"


"Ya, El. Sebentar lagi dia akan kesana."


“Baiklah Om, aku akan menunggu disini."


"Terima kasih El."


"Sama-sama."


"Ya."


"Om, hari ini aku akan pulang terlambat.”


“Kenapa?”


“Aku akan pergi kerumah Val.”


“Untuk apa?”


“Membahas tentang penelitian.”


“Baiklah, jangan pulang terlalu malam.”


“Ya, aku akan pulang sebelum jam makan malam.”


“Baiklah, jangan keluyuran, setelah selesai cepat pulang.”


“Ya, om.” El mematikan sambungan telepon, dia takut Davin akan semakin cerewet dan akan berceramah panjang lebar.


Tidak sampai sepuluh menit tiba-tiba ponsel El kembali berdering, nomor tanpa nama tertera disana. El memencet tombol terima dan mendekatkan ponselnya ke telinga.


"Nona El?" Suara diseberang.


"Ya."


"Saya teman Davin yang mengantarkan pesanan, saya sudah didepan gerbang kampus nona."


"Baiklah." El berlari kecil menuju gerbang kampus, dia segera mengambil pesanan milik Davin dan kembali ke perpustakaan.


......................


Waktu sudah sore, kampus sudah sangat sepi. El dan teman-temannya yang lain meninggalkan kampus dan pergi kerumah Val. Rumah Val tidak jauh dari kampus sehingga mereka sering berkumpul disana. Mereka akan membahas tentang penelitian yang akan mereka lakukan. Walaupun penelitian mereka berbeda-beda namun masih saling berkaitan, jadi mereka masih bisa bertukar pikiran tentang hal itu.


Tak terasa hari beranjak gelap, El memutuskan untuk pulang. El tiba dirumah sebelum jam makan malam, dia langsung pergi menuju kamar Davin untuk memberikan pesanan tadi. El masuk keruangan tunggu kamar Davin, kemudian dia mengetuk pintu kamar utama. Walaupun Davin menyuruhnya untuk langsung masuk tapi El tetap merasa tidak enak, jadi dia memutuskan untuk mengetuk pintu.


Beberapa saat kemudian pintu terbuka namun bukan Davin yang muncul, tapi Jessi. Dia tersenyum lembut menatap El yang terperangah di depan pintu. El berusaha mengambil kembali kesadarannya dan membalas senyuman Jessi.


“Mmm, aku ingin mengantarkan pesanan milik Om Davin.” El menyerahkan kotak yang dibawanya pada Jessi.


“Oh baiklah, aku akan memberikan ini pada Davin. Dia sedang mandi sekarang.”


“Ya, tante. Aku pergi dulu.”


“Ya, terima kasih El.”


El keluar dari ruangan itu dan berlari kecil menuruni tangga, dia tidak pergi ke kamarnya namun pergi keluar dan masuk kedalam mobil. El melajukan mobilnya menjauhi rumah Davin. Tanpa sadar El meneteskan air matanya. Dia menangis, hatinya terasa sangat sakit sekarang. Dia tidak menyangka jika Jessi berada di kamar Davin.


El merutuki dirinya sendiri yang telah dengan lancang mencintai seseorang yang telah terikat dengan orang lain hingga akhirnya dia merasakan sendiri akibatnya. El tidak bisa menguasai perasaannya sendiri, dia sudah terlanjur jauh menyukai pria itu. El memegang erat kemudi, menandakan bahwa dia sedang berusaha untuk menekan rasa perih di hatinya.


El menangis sesenggukan, dia menyesali dirinya sendiri kenapa percaya dengan perkataan Davin. Dia percaya bahwa Davin dan Jessi telah memiliki kehidupan masing-masing. Namun nyatanya mereka dengan mudahnya kembali, kini tinggallah El yang merana sendirian.


Apa aku benar-benar terluka sekarang?


El memutuskan untuk pulang kerumahnya, dia ingin menenangkan perasaannya yang sekarang terasa sangat kacau. El sakit hati, dia cemburu degan hal yang sebenarnya sudah bisa ditebaknya dari dulu akan terjadi. El seharusnya menghentikannya sebelum terjadi namun dia terbuai hingga akhirnya dia terjatuh sendiri.


El tidak menyadari bahwa ada beberapa mobil yang sedang megikutinya sedari tadi. El masuk ke pekarangan rumahnya dan segera memarkirkan mobilnya. Dia sudah ingin membuka pintu rumahnya namun seseorang memanggilnya dari luar pagar.


“Nona El, ada paket untuk nona.”


El dengan penasaran berjalan menghampiri orang itu, dia bingung siapa yang mengirimkan paket semalam ini untuknya. Namun belum sempat dia bertanya, mulutnya sudah dibekap dengan sapu tangan oleh seseorang yang datang dari belakang, entah dimana orang itu bersembunyi tadinya. El tidak bisa berbuat apa-apa, dia merasakan tubuhnya lemas dan tak sadarkan diri.


“Bawa dia masuk kemobil, jangan sampai tergores sedikitpun atau kalian akan celaka.” Seorang berkepala plontos keluar dari mobil dan memerintahkan untuk membawa El kedalam mobil.


“Baik bos.” Pria yang membawa paket segera meggendong El dengan pelan dan membawanya masuk ke mobil.


“Kau urus satpam itu agar terlihat seperti tertidur normal.” Pria plontos memerintahkan kepada pria yang membekap El tadi.


“Bagaimana degan cctv?”


“Aku sudah merusaknya beberapa waktu yang lalu.”


“Baik bos.” Pria itu dengan cepat medudukan satpam ke kursi di dalam pos, dia mengatur letak tubuh satpam agar terlihat seperti ketiduran, satpam itu juga terkena efek obat tidur sejak tadi.


Setelah beres mereka langsung pergi meninggalkan tempat itu. Will yang baru saja tiba curiga karena melihat beberapa mobil pergi meninggalkan rumah Grace dengan cepat. Will keluar dari mobilnya dan melihat mobil El terparkir didepan rumah. Will berjalan masuk ke pos satpam, dia melihat satpam sedang tertidur pulas.


Will meggoyangkan tubuh satpam dengan pelan namun tak ada respon. Dia meggoyangkan lebih keras namun tak juga bangun. Will merasa ada sesuatu yang tak beres dengan satpam itu. Dia membuka komputer yang ada disana, semuanya rusak, tak ada gambar apapun yang muncul. Will berlari kepintu rumah dan menekan bell beberapa kali dengan cepat, seorang pelayan membukakan pintu.


“Tuan siapa?”


“Apa El pulang kesini?”


“Tidak tuan.” Pelayan itu menggeleng.


“Baiklah, aku hanya megantarkan mobil El.” Will menunjuk mobil El, dia berbohong. Dia tidak ingin memberitahukan pelayan itu karena takut mereka akan panik.


“Baik Tuan.”


Will tidak lagi menjawab, dia yakin mobil tadi yang telah membawa El. Dengan cepat Will melajukan mobilnya seperti kesetanan, dia tidak ingin kehilangan jejak. Dia melihat nomor plat salah satu mobil itu tadi sehingga dia yakin akan menemukan mobil itu dan juga El.


“Kurang ajar, siapa yang berani melakukan ini?” Will bergumam pelan, giginya bergemeretak karena geram.


Will terus melajukan mobilnya di atas rata-rata. Bunyi klakson terus berdengung ditelinganya sejak tadi. Beberapa pengemudi lain terus memaki-maki dirinya namun Will tidak peduli sama sekali. Dalam pikirannya hanyalah bagaimana caranya dia harus bisa membawa El kembali, gadis itu sedang berada dalam bahaya.


Will bahkan terus menerobos jalanan degan beringas, dia mempertaruhkan hidupnya untuk mengejar mobil-mobil itu. Will sangat khawatir, dia tidak ingin gadis itu terluka sedikitpun. Will semakin mempercepat laju mobilnya, dia sama sekali tidak takut akan kehilangan nyawanya. Baginya keselamatan El lebih penting ribuan kali lipat dibanding nyawanya sendiri.


Will menyeringai saat melihat mobil yang dikejarnya sudah berada dalam jangkauan pandangannya. Will menurunkan kecepatan berusaha megimbangi mobil itu agar tidak terlihat mencolok sedang megikuti mereka.


“Baiklah, kita lihat kemana kalian akan membawa gadis itu.” Will bergumam pelan, bibirnya terus melengkung menampakkan seringaian diwajah tampannya.


Beberapa kali mobil-mobil itu berbelok, entah kemana mereka akan membawa El. Will terus fokus dengan targetnya, dia tidak ingin kehilangan jejak sedikitpun. Mobil memasuki jalanan yang sudah terlihat sepi, Will melonggarkan jarak diantara mereka agar tidak dicurigai. Dia megikuti dengan jarak lumayan jauh, tapi dia masih bisa melihat mobil itu di depannya.


Will bersiap-siap. Malam ini akan menajdi malam yang panjang untuknya. Dia berjanji akan membawa EL kembali dengan segala cara walaupun harus megorbankan nyawanya. Entah kenapa gadis itu sekarang menjadi sangat berarti untuknya.


...****************...