
"Hei, bagaimana kuliahmu?"
"Lancar."
"Kau tidak membuat masalah lagi bukan?" Arthur terkekeh.
"Tentu saja tidak."
"Hmmm kau sedikit berubah dari terakhir kali kita bertemu." Arthur terus terkekeh seakan merasa sangat senang dengan kedatangan Will hari itu.
"Apa yang berubah?"
"Kau terlihat sedikit menyenangkan, sedikit saja."
"Aku bahkan tak merasakannya." Will menjawab cuek.
"Will, apa kau sudah mengunjungi orang tuamu?"
"Tidak."
"Pulanglah sesekali."
"Tak ada yang memintaku untuk pulang." Will menjawab santai.
"Hei, pulanglah walau tak diminta karena tidak semua orang bisa mengungkapkan kerinduan dan seenaknya memintamu untuk pulang."
"Hmmm, rindu ya?" Will tersenyum kecut.
"Will, ku yakin kedua orang tuamu ingin kau pulang. Cobalah temui mereka dan bicaralah." Arthur menarik nafasnya pelan.
"Aku bahkan bingung bagaimana untuk berbicara dengan mereka, menatap mereka saja aku sudah tak tahu bagaimana caranya." Will menatap kosong pada dinding.
"Kau hanya tak terbiasa."
"Karena itulah rasanya asing."
"Will."
"Kurasa aku hanya perlu menjalani kehidupanku seperti biasa, ku yakin mereka juga menjalani hidupnya dengan sangat baik."
"Kau masih keras kepala rupanya." Arthur terkekeh.
"Jika kepalaku tidak keras mungkin aku tak bisa hidup hingga sekarang." Will tersenyum kecut.
"Isi kepalamu yang keras."
"Kurasa tidak, sepertinya otakku masih normal dan tidak keras." Will mengusap belakang kepalanya.
"Hah sudahlah, tidak penting." Arthur mengibaskan tangannya.
"Hahah." Will akhirnya tertawa.
Arthur terperangah beberapa detik, pertama kalinya dia melihat Will tertawa selepas itu. Tak seperti biasa jika mereka berbicara tentang kedua orang tuanya, Will hampir tidak berekspresi apapun. Bagaimana mungkin sekarang anak itu bisa tertawa begitu?
Oh God, apa anak ini kesurupan? Aku tidak pernah melihat wajahnya serenyah ini di suasana seperti ini. Arthur berucap dalam hati.
Arthur sama sekali tidak mengetahui jika sebenarnya Will sudah menjadi anak yang konyol sejak bertemu dengan El. Anak yang mulai bertumbuh menjadi pria sedingin es akhirnya berubah memiliki sifat yang seharusnya dimiliki oleh anak seumurannya.
Dunia Will masih sama, hanya saja dirinya mulai berubah sedikit demi sedikit yang bahkan sulit untuk di sadarinya. Tak ada alasan lain yang merubahnya, hanya El yang bisa walaupun Will tahu jika suatu saat gadis itu akan pergi dari sisinya. Dia hanya mencoba menikmati saat yang dilaluinya sekarang sebelum semuanya kembali berubah lagi.
Malam semakin larut, entah apa saja yang mereka bicarakan. Masa lalu, masa sekarang, hingga masa depan habis di bahas oleh kedua orang yang berbeda masa itu. Arthur menganggap Will sudah seperti cucunya sendiri, begitu sebaliknya dengan Will yang sudah menganggap Arthur seperti Kakeknya sendiri.
"Hei sudah larut, ayo tidur." Liana tiba-tiba muncul memutuskan percakapan mereka berdua.
Liana membawa nampan berisi 3 gelas minuman hangat, dia meletakkannya di meja. Will tersenyum senang dan segera meminumnya. Begitu juga Arthur, dia dengan cepat menyesap minuman yang disuguhkan istrinya.
"Jika kau sudah selesai minum, segera antarkan minuman ini pada El, dia pasti kedinginan sekarang."
"Baiklah." Will mengangguk dan segera menghabiskan minumannya.
"Will, kau terlihat menyenangkan hari ini, apa kau benar-benar Will?" Liana mengernyit dan menatap Will lekat-lekat.
"Oh God, Arthur apa dia benar-benar cucumu?"
"Akupun juga ragu." Arthur menggelengkan pelan kepalanya.
"Terakhir kali aku bertemu dengannya beberapa waktu lalu, dia masih terlihat muram seperti awan yang tak pernah di sinari matahari." Liana berdecak.
"Ya, sekarang aku membegal matahari dan menguasainya, aku sangat cerah sekarang." Will terkekeh.
"Will, apapun yang terjadi padamu sekarang, aku sangat senang dan berharap kau selalu dikelilingi kebahagiaan." Liana berucap sangat tulus.
"Terima kasih." Will tersenyum.
"Antarkanlah minuman itu sekarang, nanti El tertidur." Liana tersenyum menatap minuman yang masih berasap diatas meja.
"Baiklah." Will mengangguk dan pergi meninggalkan mereka.
"Sepertinya banyak perubahan yang terjadi pada anak itu." Arthur berucap setelah kepergian Will.
"Ya, sepertinya ada yang mendorongnya untuk berubah." Liana tersenyum.
"Mungkinkah gadis itu?"
"Bisa iya, bisa tidak." Liana mengedikkan bahunya.
"Aku berharap dia terus bertumbuh dengan baik." Arthur menatap lurus pada pintu tempat Will menghilang tadi.
"Ya, anak itu terlalu banyak menanggung beban selama ini. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaannya."
"Aku tak pernah menyangka jika dia akan bertahan sekuat ini." Arthur terkekeh.
"Sepertinya dia akan menjadi pria yang tangguh." Liana ikut terkekeh.
"Entah sampai kapan dia akan menahan perasaannya saat ini, aku tahu dia merindukan kedua orang tuanya, aku juga tahu dia selalu berpikir ingin pulang dan menemui mereka. Namun sepertinya ego masih berdiri kokoh dalam dirinya."
"Kurasa dia juga merasa takut untuk pulang, bukan hanya ego yang dipertahankannya. Namun rasa cemas dan takut jika apa yang akan di dapatnya sama seperti dulu."
"Aku yakin kedua orang tuanya juga sudah menunggu kedatangan anak itu."
"Ada apa dengan keluarga itu, apa mereka sama-sama merasakan gengsi untuk mengakui bahwa mereka saling merindukan." Liana terkekeh.
"Mungkin saja, diantara mereka harus ada yang mengalah. Diantara mereka harus ada yang bisa menunjukkan perasaan terlebih dahulu." Arthur merenung.
"Aku hanya bisa berdoa untuk sekarang dan seterusnya, berdoa untuk kebaikan mereka, untuk kebaikan Will. Dia sudah seperti cucu kandungku sendiri." Liana memegang lengan Arthur.
"Percayalah Will akan selalu baik-baik saja, semesta akan selalu melindungi anak baik itu." Arthur mengelus punggung tangan Liana.
"Aku selalu percaya itu, Will bukan anak yang memiliki banyak teman disekitarnya namun semua yang ada disekitarnya selalu yang terbaik." Liana tersenyum.
"Termasuk El?"
"Ya, gadis itu kuyakin adalah gadis yang baik dan Will sepertinya senang berada di sisinya. Coba kau pikir, aku tak pernah melihat Will membawa seorang gadis ke tempat ini kecuali teman-teman berandalnya dulu." Liana menatap Arthur.
"Aku juga berpikir begitu, beberapa saat yang lalu aku berpikir keras apakah Will pernah membawa seorang gadis berlibur kesini sebelumnya. Namun aku sama sekali tak dapat memgingatnya."
"Kau tak akan bisa mengaingatnya karena memang Will tak pernah membawa gadis manapun ketempat ini." Liana terkekeh.
"Itulah yang terjadi, suasana tempat ini pun saat ini berubah menjadi sedikit menyenangkan saat dia datang membawa gadis itu dengan gembira."
"Apapun hubungan mereka, semoga saja gadis itu betah berada disamping Will." Liana terkekeh.
"Ya, aku juga berharap begitu." Arthur ikut terkekeh.
"Sudah semakin larut, ayo kita tidur, udara juga semakin dingin." Liana mengusap bahunya yang terasa dingin sejak tadi.
"Baiklah."
Mereka beranjak meninggalkan ruangan tersebut menuju kamar mereka. Di koridor menuju kamar tak hentinya mereka masih membicarakan tentang Will, dua orang tua itu terlihat sangat senang dengan sedikit perubahan yang terjadi pada Will yang sudah mereka anggap cucu mereka sendiri. Disela-sela pembicaraan, mulut mereka selalu mengucapkan doa-doa kebaikan untuk Will.
...****************...