Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
EL-BOLEHKAH AKU MENGINAP DI KAMARMU MALAM INI?



Kami tiba dirumah saat hari sudah petang, Nevan tertidur sejak di perjalanan tadi hingga sekarang. Om Davin menggendong Nevan dan merebahkannya ke tempat tidur, aku dan pelayan mengikutinya di belakang. Tante Jessi pergi menuju kamarnya karena harus bergegas untuk bersiap-siap berangkat lagi. Pekerjaan yang mendadak membuatnya harus pergi kembali.


Aku dan Om Davin memastikan terlebih dahulu bahwa Nevan masih terlelap, barulah kami keluar dari ruangan Nevan. Aku masuk kedalam kamarku dan segera menuju kamar mandi, aku merendam tubuhku dengan air hangat. Hal yang hampir setiap hari kulakukan untuk menyegarkan kembali tubuhku saat lelah. Bahkan aku sering tanpa sadar tertidur di bak mandi.


Aku mengakhiri acara berendam setelah sekitar setengah jam berlalu. Aku keluar dari kamar mandi dan masuk ke ruang ganti, memakai beberapa pakaian santai untuk malam ini. Sebentar lagi waktu makan malam, perutku sudah sedikit keroncongan. Aku memutuskan untuk menonton televisi terlebih dahulu, tanpa sadar bahwa waktu makan malam telah tiba.


Aku mendengar suara ketukan di pintu, aku membukanya dan ternyata seorang pelayan menyuruhku segera turun untuk makan malam. Aku mengangguk dan bergegas menuruni tangga menuju ruang makan. Om Davin dan Nevan sudah duduk menikmati makanannya, malam ini tidak terlihat tante Jessi, sepertinya sudah berangkat sejak tadi.


Aku duduk berseberangan dengan pasangan ayah dan anak itu, mereka berdua tersenyum menatapku. Aku juga membalas tersenyum kepada mereka. Aku dan Om Davin tak banyak berbicara hari ini. Kami hanya beberapa kali berbincang saat di mobil. Tak ada topik pembicaraan yang ku dapat hari ini sehingga aku memutuskan untuk lebih banyak diam dan menyahut seadanya saja saat di tanya.


"El." Om Davin akhirnya membuka mulutnya.


"Ya, Om?"


"Apa kau senang liburan hari ini." Dia bertanya.


"Ya." Aku mengangguk dan tersenyum.


"Kau yakin?"


"Tentu saja." Aku mengangguk.


Sebenarnya aku juga tidak terlalu yakin, aku merasa cukup senang hari ini tapi seperti ada yang kurang. Entahlah aku juga tidak tahu apa yang kurang, hanya saja kehadiran Will membuatku merasa lebih baik. Anak itu memang selalu hadir di waktu yang tepat.


"Kau pergi kemana tadi El?"


"Aku pergi melihat singa." Aku tersenyum.


"Kenapa lama sekali?"


"Tadi aku bertemu temanku, Om."


"Siapa?"


"Will."


"Hmmm, baiklah."


"Unty, aku melihat banyak binatang tadi." Nevan berucap girang."


"Benarkah? apa saja yang kau lihat sayang?" Aku tersenyum ke arah anak itu.


"Aku melihat gajah besal."


"Sebesar apa?"


"Sebesal ini." Nevan mengangkat kedua tangannya dan merentangkannya.


"Apa lagi yang kau lihat?"


"Bulung bangau."


"Seperti apa burung bangau itu?"


"Kakinya panjang."


"Kau sangat pintar Nevan, sekarang habiskan makananmu. Nanti ceritakan lagi apa yang kau lihat disana setelah kau selesai makan." Nevan menganguk dengan patuh dan kembali menyuap makanannya.


"El, seperti apa singa itu?" Om Davin meledekku.


"Seperti Om." Aku membalasnya.


"Ku kira seperti dirimu." Dia terkekeh


"Om, karena tante Jessi sudah kembali, apakah aku bisa pulang besok?"


"Unty mau pelgi kemana?" Nevan menyela pembicaraan kami.


"Mmm, hanya pulang kerumah unty saja sayang."


"Tidak boleh, unty tidak boleh pelgi."


"Sayang, mama Nevan kan sudah pulang. Jadi unty harus pulang."


"Tidak mau." Nevan benar-benar terlihat merajuk.


"Sayang, mama Jessi yang akan menemani Nevan."


"Mama selalu sibuk, Nevan tidak mau, Nevan mau sama unty saja."


Aku kehabisan kata-kata, aku menatap ke arah Om Davin, berusaha minta bantuan agar dia menjelaskan kepada Nevan. Namun om Davin hanya mengangkat kedua bahunya tanpa rasa bersalah. Aku jadi bingung harus mengatakan apa lagi kepada Nevan.


"Baiklah sayang, unty akan menemani kamu." Aku akhirnya hanya bisa mengatakan hal itu.


"Unty jangan pelgi."


"Iya, unty tidak akan pergi."


"Janji."


"Ya, sekarang habiskan makananmu." Aku terkekeh, anak kecil seperti Nevan sudah bisa menyuruhku untuk berjanji, anak ini memang istimewa.


Om Davin hanya tersenyum mendengar pembicaraanku dengan Nevan. Aku mengerucutkan bibirku saat dia memandangku. Melihat ekspresiku, dia kembali tersenyum dengan puas seakan menertawakan kekalahanku.


Nevan bercerita banyak tentang apa yang di temuinya di kebun binatang, dia berbicara cepat hingga terkadang aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Nevan mulai menguap, dia tidur dengan posisi menyamping ke arahku. Nevan memintaku untuk mengusap-usap punggungnya, aku mengerti jika dia meminta hal itu berarti dia sudah sangat mengantuk. Aku mengusap-usap lembut punggung anak itu, setiap malam menjelang tidur dia akan minta di usap punggungnya hingga terlelap.


Nevan sudah sangat terlelap, aku menyelimutinya dan turun dari tempat tidur. Aku duduk dengan kasar di samping Om Davin yang sedang bermain ponsel, dia menyimpan ponselnya saat melihat aku duduk didekatnya. Om Davin berpaling dan menatapku dengan rasa penasaran.


"Ada apa?"


"Apakah ini berarti aku tidak bisa pulang kerumah?"


"Ya." Dia mengangguk


"Bagaimana caranya agar aku bisa pulang?"


"Kenapa? Apa kau tidak senang bersama Nevan?"


"Bukan begitu, tapi..."


"Sudahlah, tinggalah disini lebih lama, El. Kau bisa pulang kerumahmu sesekali, bukankah tak ada siapapun juga disana kecuali pelayan." Om Davin menyela kata-kataku.


"Mmm, apakah tidak apa-apa jika aku terus berada disini?"


"Memangnya kenapa?"


"Apa aku tidak mengganggu kalian?"


"Tentu saja tidak, lihatlah Nevan, dia bahkan sangat senang bersamamu."


"Baiklah, aku akan disini untuk sementara waktu, apakah tante Jessi juga setuju?"


"Dia pasti juga senang jika kau berada disini lebih lama."


"Baiklah." Aku menyandarkan tubuhku disandaran sofa yang sangat empuk."


"El."


"Ya?" Aku menoleh ke arah Om Davin.


"Maafkan aku."


"Untuk apa?"


"Aku tidak bisa menemanimu melihat singa."


"Om meminta maaf untuk itu?" Aku tertawa mendengar kata yang diucapkan Om Davin.


"Kenapa kau tertawa, ku kira kau sedih." Dia mengernyitkan alisnya.


"Kau sangat lucu, Om. Kau minta maaf hanya karena tidak bisa menemaniku melihat singa." Aku masih tertawa kecil.


"Maaf karena aku mengabaikanmu seharian ini." Om davin tiba-tiba merangkul bahuku, membawa kepalaku ke bahunya dan mengusap-usap lembut rambutku.


"Kau tidak mengabaikanku, Om." Aku berkata lirih.


"Aku mengabaikanmu."


"Tidak, kau hanya berusaha memberikan waktu untuk keluarga kecilmu. Kau tak perlu berpikir bahwa kau mengabaikanku."


"El, bolehkah aku menginap dikamarmu malam ini?"


Aku sedikit terkejut dan refleks menarik diri dari rangkulan Om Devan. Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu dengan santainya kepadaku. Kemarin saja aku dibuat tidak bisa tidur lagi karenanya.


"Tapi om."


"Kenapa?"


"Bagaimana jika tante Jessi pulang dan mencarimu." Aku bertanya dengan konyol seakan aku adalah seorang simpanan om om yang takut di labrak istri sahnya.


"Dia tidak pulang malam ini."


"Om, sebaiknya kau tidur kamarmu sendiri."


"Aku tidak bisa menemanimu tadi siang, aku akan menemanimu malam ini."


"Tapi om..."


"Hei, apa yang kau takutkan?"


"Mmmm..."


"Jangan berpikiran aneh, aku tidak akan melakukan apapun, aku hanya ingin tidur bersamamu, bukan menidurimu tahu."


"Hei, aku tidak berpikir begitu."


"Ya, tapi ekspresi wajahmu bilang begitu?"


"A..apa?" Aku memegang kedua pipiku.


"Sudahlah, ayo." Dia menarik tanganku keluar dari kamar Nevan dan masuk ke kamarku.


"Hei, hei, Om tunggu." Aku kehabisan kata-kata.


...****************...