Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
DAVIN-CERITA



“Mandi dan makanlah dulu, aku akan menceritakannya setelah itu.”


“Tidak mau.” El mengerucutkan bibirnya.


“El sayang, jika kau tidak mau melakukannya aku tak jadi menceritakannya.” Aku tersenyum, mengancam El secara halus.


“Jahatnya.”


“Kau belum makan dari kemarin kan?”


“Tapi aku tidak lap..”


Kruk..krukk...


“Hehe.” El tersenyum kaku mendengar suara perutnya sendiri.


“Makanlah dulu.” Aku mengusap rambutnya, wajahnya sudah mulai kembali ceria.


“Baiklah, aku mandi dulu. Om jangan kemana-mana, jangan kabur.” El mengerucutkan bibirnya.


“Haha, biasanya kau mengusirku.” Aku tergelak.


“Diam disana saja.” El berucap sambil menutup pintu kamar mandi.


Saat El mandi aku keluar dari kamarnya untuk mengambil sarapan. Aku membawa nampan berisi beberapa potong sandwich dan segelas susu. Saat aku kembali ke kamar, El belum keluar dari kamar mandi. Aku meletakkan nampan diatas meja disamping tempat tidur sambil menunggu gadis itu keluar.


Tak lama, el keluar sudah rapi dengan pakaian rumah. Wajahnya terlihat lebih segar. Aku tersenyum menatapnya, gadis cilikku kini sudah berubah menjadi putri cantik yang beranjak dewasa. Dia berjalan dan duduk diatas kasur, dia menatap sandwich dan aku secara bergantian.


“Apa om yang membawanya?”


“Tidak.” Aku menggeleng.


“Bi Hana?”


“Juga tidak.”


“Lalu?”


“Tidak tahu,. Tiba-tiba ada disaana.”


"Om berbohong, mana mungkin nampan ini berjalan sendiri ke kamarku." El melempar bantal didekatnya.


“Haha, ya ya, ampun.” Aku menangkap bantal itu.


“Huh.”


“Makanlah sekarang.”


“Om juga, makanlah.” El menyodoriku sepotong sandwich.


“Kau saja, aku nanti saja.”


“Kau menyuruhku makan, tapi kau menolak juga saat kusuruh.” El merengut.


“Bukan begitu, itu untukmu semua, aku akan ambil lagi nanti.”


“Tidak mau, ambil ini atau aku tidak akan memakannya juga.”


“Baiklah, sudah pintar kau sekarang mengancamku.” Aku menerima sandwich yang disodorkan oleh El.


“Tentu saja, kau yang mengajarkan.” El tertawa senang kemudian mengunyah sandwich ditangannya.


Gadis ini memang sedikit aneh, baru saja tadi dia bersedih dan menangis dengan keras karena cemburu, salah paham dan meracau entah apa saja yang dibicarakannya tadi. Sekarang dia sudah tersenyum dengan cerianya hanya karena aku akan bercerita padanya. El, kau memang gadis istimewa, aku tak bisa berhenti mencintaimu.


......................


Aku dan Jessi hidup bertetangga dan bersahabat sejak kecil, kami tumbuh bersama-dari kecil hingga remaja. Aku dan Jessi memiliki nasib yang sama, kamu sama-sama dibesarkan tanpa seorang ibu. Ibu kami meinggal sejak kami masih kecil. Hal itulah yang membuat kami selalu merasa seasib dan sepenanggungan. Aku bahkan sudah menganggapnya seperti adikku sendiri yang selalu kujaga.


Keluargaku dan keluarganya juga sangat dekat sehingga tidak ada jarak diantara kami. Hingga lulus SMA, akhirnya kami terpisah. Aku berkuliah diluar kota, sedangkan dia pergi ke luar negeri untuk menempuh pendidikan sebagai model. Itu cita-citanya sejak kecil, menjadi model internasional.


Sejak saat itu aku tidak pernah bertemu dengannya lagi, kami hanya berhubungan lewat sambungan telepon itupun jika tidak sibuk. Hingga setelah pendidikan kami selesai, aku dan Jessi dipanggil untuk kembali kerumah. Kami bertemu kembali untuk pertama kalinya setelah sekian lama.


Ayahku dan ayahnya ternyata memiliki tujuan tersendiri kenapa memanggil kami untuk kembali. Mereka telah menjodohkan kami sudah sejak lama, bahkan sejak kami lahir. Aku dan Jessi benar-benar tak menyangka, kami memang saling menyayangi tapi bukan perasaan seperti itu, kami saling menyayangi seperti saudara.


“Ini adalah permintaan terakhir dari ibu kalian.” Saat itu ayah Jessi berucap dengan wajah muram.


Aku hanya terdiam tak bisa berkata apapun, namun berbeda dengan Jessi, dia bukanlah tipe gadis penurut. Dia tentu saja berucap degan lantang menolak perjodohan itu karena memang dia sudah memiliki kekasih. Jessi dengan tegas tidak ingin dijodohkan denganku, aku juga sebenarnya sama dengannya, tidak ingin dijodohkan tapi aku tidak seberani Jessi menentang secara langsung seperti itu.


Aku jelas tidak bisa merubah perasaanku padanya menjadi cinta sepasang kekasih, tapi aku tidak ingin memperkeruh suasana sehingga aku hanya diam saja saat itu. Aku tak mengatakan apapun, hanya mendengarkan apa yang mereka katakan. Jessi sepertinya sangat sulit menahan perasaanya sehingga dia benar-benar berdebat dengan ayahnya.


Saat itu ayah Jessi yang terkejut dengan sikap Jessi tiba-tiba terjatuh dan pingsan, dia terkena serangan jantung. Dengan kepanikan kami segera membawanya kerumah sakit. Ayah jessi koma beberapa hari, Jessi sangat terpukul sepertinya dia menyesali apa yang diperbuatnya. Aku terus menemani Jessi menjaga ayahnya selama dirumah sakit. Jessi sangat khawatir dengan keadaan ayahnya, meskipun dia sering menentang keinginan ayahnya namun dia sangat menyayangi ayahnya.


Beberapa hari setelah itu, hal yang lebih pahit terjadi padaku, ayahku mengalami kecelakaan saat diperjalanan ingin menjenguk ayah Jessi dirumah sakit. Dia sempat dilarikan kerumah sakit, namun nyawanya tidak bisa diselamatkan. Aku dan saudaraku sangat terpukul, kami merasa kehilangan pijakan setelah ayah pergi. Namun aku berusaha mengesampingkan kesedihanku karena aku harus menemani Jessi. Dia juga sedang bersedih karena keadaan ayahnya tidak juga membaik. Jessi anak tunggal dia tidak punya siapapun lagi selain ayahnya. Aku berusaha selalu menguatkan Jessi hingga suatu hari saat keadaan ayahnya sudah mulai stabil, dia meminta kami untuk mendengarkan ucapannya.


“Vin, aku tidak bisa menolak lagi keinginan ayahku, keadaannya sedang sakit aku tidak ingin kehilangannya.” Jessi berucap saat kami berada di taman rumah sakit, matanya terlihat terus berkaca-kaca.


“Ya, aku mengerti.”


“Aku punya jalan untuk kita berdua.”


“Apa itu?”


“Kita menikah, tapi hanya pura-pura.”


“Hmmm, bagaimana?"


“Vin, aku tidak bermaksud untuk mempermainkan kata pernikahan.”


“Ya.” Aku mengangguk.


“Aku tahu kau juga menolak perjodohan ini.”


“Ya.” Aku kembali mengangguk.


“Kau juga tahu bahwa aku memiliki kekasih.” Jessi menatap kosong kedepan. “Dan mungkin kau juga memiliki seseorang yang kau cintai diluar sana.”


“Jadi bagaimana?”


“Kita menikah sungguhan, tapi kita hidup masing-masing.”


“Baiklah, aku akan mengikuti apa yang kau mau saja jika ini yang terbaik untukmu dan ayahmu.”


“Ya ini yang terbaik, kau tenang saja.” Jessi terlihat yakin.


"Baiklah."


“Ya, kita hanya perlu menyembunyikannya dari ayah.”


“Ya.”


Akhirnya aku dan Jessi mengikat janji suci pernikahan, kami terikat namun tidak benar-benar terikat. Kami menjalani hidup masing-masing, tak ada yang berubah diantara kami, perasaan kami tetap sama seperti saudara. Tidak ada yang tahu, hanya aku, Jessi, Ray kekasih Jessi dan beberapa orang kepercayaan kami.


Ayah Jessi berangsur membaik setelah itu, kesehatannya mulai pulih, dia merasa sangat senang walaupun aku dan Jessi merasa bersalah dengannya. Tapi hanya itulah yang bisa kami lakukan, aku dan Jessi akan mengumumkan perceraian setelah semuanya sudah membaik.


Setahun berlalu, ayah Jessi kembali sakit. Kali ini dia tidak lagi bia bertahan, dia pergi untuk selama-lamanya. Aku tak bisa meninggalkan Jessi dalam kerapuhannya saat Ray sedang tak ada disisinya. Aku akan menjaga Jessi, dia wanita mandiri diluar sana, namun sebenarnya dia menjadi sangat rapuh saat sendiri.


Ray saat itu sedang menyelesaikan studinya diluar negeri, sehingga aku menunda untuk menceraikan Jessi dengan alasan karena ayahnya baru saja pergi, takut publik mencium apa yang terjadi dan akan berimbas pada karir Jessi. Jessi menyetujuinya, aku berencana menundanya hingga Ray kembali kesini.


......................


"Kalian menikah karena dijodohkan?" El ternganga mendengar ceritaku.


"Ya." Aku mengangguk.


"Jadi, tante Jessi sahabatmu?"


"Ya." Aku kembali mengangguk.


"Om, ternyata kau terluka dimasalalu."


"Ya, aku terluka saat kehilangan orang-orang yang kucintai. Karena itu aku tidak ingin kehilanganmu, aku tak ingin kehilangan kembali."


"Aku minta maaf." El menatapku.


"Untuk apa?"


"Karena selalu berpikir buruk tentangmu."


"Makanya otakmu harus dibersihkan, ku tebak di otakmu penuh debu dan sarang laba-laba." Aku tergelak.


"Hei mana mungkin." El menyentuh kepalanya.


"Mungkin saja."


"Om, aku sangat mengantuk." El menguap.


"Tidurlah, aku juga mengantuk."


"Apa kau juga ingin tidur siang?"


"Ya, tidur siang disini denganmu."


"Tidakkkkk......"


...****************...