
Lily melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Milea. Dia menciumi seluruh wajah sang adik dan kembali memeluknya.
" Bagaimana kabar mu? apa kau baik-baik saja?" tanya Lily dengan nada yang bergetar saking bahagianya bisa bertemu dengan Adik nya lagi.
Milea menganggukkan kepalanya dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
" Aku akan menyelesaikan belanjaan ku dulu, Kak. Setelah itu kita mengobrol di cafe sebelah," kata Milea dan Lily pun menyetujui nya.
Dengan cepat Milea mulai melanjutkan belanjaannya dan langsung menuju kasir saat merasa apa yang ingin dia beli sudah lengkap.
Lily masih setia menemani nya. Dia juga melihat transaksi yang di lakukan Milea dan melihat Milea membayar semua belanjaan itu dengan sebuah kartu yang bisanya di miliki orang-orang kaya.
Dari situ Lily beranggapan bahwa sang Adik pasti sudah sukses dan bekerja di sebuah perusahaan karena melihat kartu itu.
.
.
Kini Milea dan Lily tampak sudah ada di sebuah cafe yang tak jauh dari pusat perbelanjaan itu.
" Bagaimana keadaan mu, Kak?" tanya Milea sambil memegang tangan Lily.
Lily mengangkat wajahnya dan melihat kearah wajah cantik Milea yang hampir mirip dengan wajahnya.
" Aku baik, tapi aku sedang dalam masalah," sahut Lily sendu.
" Masalah apa, kak? kau bisa bercerita padaku," kata Milea.
" Aku di incar oleh anak dari istri ayah Alex. Ayah Alex sudah meninggal, Mil dan dia menyerahkan 70% dari harta nya atas nama ku. Anak dari istri ayah Alex tak terima dan ingin mengambil harta itu dari ku. Aku memiliki amanah dari ayah untuk mengurus semua hartanya dan menjaga nya agar tak jatuh pada anak tiri nya yang serakah dan aku ingin mempertahankan itu," kata Lily menceritakan masalah nya.
" Kenapa bisa serumit itu, Kak?" tanya Milea.
" Entahlah. Mereka sangat serakah dan hanya ingin berfoya-foya dengan harta yang tak seberapa ini," sahut Lily.
" Lalu dimana Kakak tinggal sekarang?" tanya Milea.
Milea memegang tangan Lily hingga wanita itu kembali menatap kearah nya.
" Ikutlah dengan ku, Kakak. Aku bekerja di sebuah mansion besar, majikan ku memang terlihat galak tapi dia baik. Aku menggantikan Bibik Neli sementara karena Bibik sedang merawat Kakek yang sudah semakin tua," kata Milea.
" Tapi apa majikan mu akan menerima kehadiran ku disana?" tanya Lily ragu.
" Aku yang akan mengurus hal itu, Kak. Sekarang lebih baik kau ikut aku, dari pada nanti Kakak di tangkap oleh kakak tiri itu? dan aku takut jika dia berlaku kasar pada kakak," kata Milea.
Lily tampak berpikir dan akhirnya dia menyetujui ajakan dari Milea.
" Hanya untuk sementara, Mil. Setelah aku menemukan pekerjaan dan tempat tinggal, aku akan segera pergi dari sana," kata Lily.
Milea mengangguk semangat dan mereka pergi dari cafe itu. Lily juga membantu membawakan barang belanjaan Milea yang banyak menuju mobil dari keluarga Edo yang mengantar Milea berbelanja.
" Wah ... kau naik mobil mewah ini, Mil?" tanya Lily saat Milea berhenti di samping mobil mewah itu.
" Iya. Ini mobil majikan ku yang di khususkan untuk mengantarkan para pelayan untuk berbelanja kebutuhan mansion kak," sahut Milea sambil mencari keberadaan supir yang juga bekerja di mansion Edo.
" Siapa dia, Mil? Apa dia saudara mu? wajah kalian mirip," kata seorang supir yang langsung membuka bagasi mobil untuk memasukkan barang belanjaan Milea.
" Dia Kakak ku, Paman."
Pria itu hanya menganggukkan kepalanya sambil memasukkan barang belanjaan Milea.
" Aku sudah menduga nya karena wajah kalian hampir mirip," kata supir itu.
Lalu Milea membuka pintu mobil dan menyuruh Lily masuk. Dia juga masuk kedalam mobil setelah Lily ada di dalam mobil itu.
Dan supir pun langsung meninggalkan area parkiran itu menuju mansion Edo.
" Sepertinya majikan mu sangat kaya raya, dia bahkan menyediakan mobil yang terbilang mewah hanya untuk seorang pelayan," kata Lily dengan suara yang hampir berbisik.
" Iya. Dia memang kaya raya dan juga tampan. Kau bahkan langsung jatuh hati pada nya saat pertama kali melihatnya," kata Milea dan Lily hanya tertawa kecil.