The Wedding Agreement

The Wedding Agreement
Menjadi pelayan



Milea tampak menyirami tanaman yang ada di halaman depan mansion. Senyum cantiknya selalu tersungging bahkan dia juga sambil bersenandung ria.


Dia sangat menikmati pekerjaan barunya itu. Karena biasanya dia hanya berdiam diri sambil menemani sang paman di kampung.


Wanita itu terlihat sangat bahagia meskipun hanya menjadi seorang pelayan. Dia senang bahkan ingin selalu bekerja di mansion megah itu.


Dia terus menyirami tanaman yang ada disana, setelah itu dia langsung merapikan dan memetik daun-daun yang sudah kering.


Seseorang tampak terus menatap nya dari dalam mobilnya. Entah kenapa pemandangan itu sangat menghibur bagi nya hingga dia melupakan bahwa dia akan melakukan meeting pagi ini.


Senyumnya tersungging saat wanita yang tengah di lihat nya tengah asik merawat tanaman sambil menari bak seorang putri.


Wanita itu bahkan memutar-mutar tubuh nya sendiri dengan tawa riang dari bibirnya.


Edo menggelengkan kepalanya saat melihat pelayan itu membungkuk sama halnya seperti seseorang penari yang sudah selesai melakukan tarian nya.


' Siapa pelayan ini? kenapa aku baru hari ini melihat nya?' batin Edo.


Lalu terdengar dering ponselnya yang membuat dirinya tersadar. Dia mengambil earphone kecil dan meletakkan di daun telinga nya.


" Hallo, ada apa Grey?"


" Bos, semua sudah menunggu mu di ruangan meeting!" ucap Grey dari seberang telepon.


" Shiiittt," umpat Edo yang merasa konyol karena dia sudah melupakan acara meeting nya hanya karena melihat seorang pelayan.


Pria itu langsung menyalakan mesin mobil nya dan langsung memutar mobil itu hingga menuju kearah gerbang.


Dia melajukan mobilnya dengan cepat hingga membuat Milea melihat kearah mobil yang melaju kencang kearah gerbang.


Wanita itu hanya menghendikkan bahunya dan kembali fokus dengan pekerjaan nya.


.


.


" Kenapa aku se ceroboh ini," gumam Edo saat melihat jam di tangan nya yang sudah menunjukkan pukul 8 lewat 20 menit.


Dan itu artinya selama hampir 20 menit dia membuang waktunya hanya untuk menatap seorang pelayan yang sedang menyiram tanaman di halaman mansion nya.


" Siapa dia? dia bekerja di mansion ku tapi aku tak tahu siapa dia, sungguh konyol!"


Lalu dia mengingat saat beberapa hari yang lalu ada seorang pelayan yang menggantikan posisi Bibik Neli.


Namun dia belum sempat bertemu bahkan tahu siapa pelayan baru itu.


" Apa dia keponakan dari Bibik Neli?" gumam Edo.


" CK. Untuk apa aku mengurusi hal itu. Fokus Edo fokus!!"


Edo memfokuskan diri pada kemudinya. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga tak sampai 15 menit dia sudah sampai di gedung itu.


.


.


CEKLEK


Grey membuka kan pintu untuk sang Bos dan Edo pun langsung masuk kedalam ruangan itu. Di ikuti dengan Grey setelah nya.


Mereka kembali di sibukkan dengan setumpuk dokumen serta berkas-berkas yang perlu di tanda tangani oleh Edo.


Edo sama sekali tak menanyakan tentang pelayan baru yang ada di mansionya karena dia memang sudah melupakan apapun jika sudah fokus dengan urusan pekerjaan.


Lain halnya dengan Grey yang tampak tak fokus karena memikirkan tentang sosok perempuan yang sempat mencuri perhatian nya.


Edo melihat kearah Grey yang tampak hanya membolak-balik kan halaman demi halaman berkas yang dia pegang namun tatapan matanya tidak tertuju pada lembaran itu.


Pria itu menatap heran kearah pria yang berumuran lebih muda darinya itu dengan kening yang berkerut.


" Ada yang kau pikirkan, Grey?" tanya Edo dengan tatapan yang fokus pada sebuah berkas yang akan di tandatangani nya.


Grey tersadar dan langsung melihat kearah Edo.


" Tidak, aku hanya __"


" Kau jatuh cinta?" tanya Edo memotong perkataan Grey.


Raut wajah Grey tampak berubah dan pria itu menjadi salah tingkah.


" Siapa wanita itu?" tanya Edo yang merasa tertarik untuk membahas tentang hal ini.


Grey tampak tersenyum tipis. Dia ragu antara menjawab atau tidak pertanyaan yang di lontarkan oleh sang bos.


" Katakan saja, apa kau mau aku menyelidiki nya sendiri?" lanjut Edo tanpa melihat ekspresi wajah bingung Grey.


" Aku ... Dia ... kita baru kenal dan dia hanya seorang pelayan," sahut Grey yang akhirnya menceritakan hal itu pada Edo.


" Lalu?" tanya Edo yang tampak sudah fokus dengan laptopnya.


" Dia hanya gadis kampung yang lugu, dan aku sudah menyukai nya sejak awal bertemu dengan nya."


" Hmmm ... Siapa dia?" tanya Edo lagi.


Grey tampak kembali berpikir dan tampak ragu untuk mengatakan siapa nama wanita itu.


" Apa aku mengenal nya?" tanya Edo saat Grey tak kunjung menjawab pertanyaan nya.


" Mungkin Anda sudah mengenal nya, dia pelayan baru di mansion mu, Bos. Namanya Milea Blossom, dia keponakan Bibik Neli yang baru beberapa hari bekerja di mansion Anda."


Edo terpaku dan langsung menghentikan kegiatan nya saat mendengar ucapan dari Grey yang mulai menceritakan tentang wanita yang mencuri hati sang asisten.


' Keponakan Bibik Neli? apa pelayan tadi yang dia maksud?' batin Edo.