The Wedding Agreement

The Wedding Agreement
Kesibukan baru



Pagi-pagi buta, Milea sudah terbangun dan bahkan sudah siap dengan seragam pelayan nya.


Dia keluar dari paviliun nya dan berpapasan dengan beberapa pelayan yang juga sudah terbangun.


" Selamat pagi Paman, Bibik."


Sapa Milea pada satu pelayan dan tukang kebun di mansion itu.


" Pagi Milea. Kau tampak semangat dan ceria pagi ini," sahut Bibik Beti.


" Bukankah aku selalu ceria dan semangat sepanjang hari, Bibik?" sahut Milea sambil berjalan kearah pintu belakang mansion.


" Tapi entah kenapa hari ini terasa berbeda, sayang. Dan itu sangat terlihat di mata ku," sahut Bibik Beti sambil mencolek dagu runcing Milea.


Milea terkekeh dan mengapit lengan Bibik Beti, mereka masuk kedalam mansion lewat pintu belakang seperti biasa bersama.


Sikap Milea yang ceria dan ramah pada siapapun membuat dirinya di sukai oleh semua pelayan yang bekerja di mansion itu.


Ada 8 pelayan wanita di mansion itu dan semua sudah berusia setengah baya. Hanya Milea yang paling muda jadi semua pelayan menganggap nya sebagai anak atau keponakan.


Ada satu tukang kebun yang selalu merawat dan menjaga setiap halaman mansion. Dan 3 orang pria berbadan besar yang bertugas berjaga di gerbang depan.


Milea yang memiliki wajah cantik jelita dan sikap yang ramah membuat dirinya di sukai oleh semua yang bekerja disana.


Dia bahkan di juluki sebagai putri Cinderella karena kecantikan dan sikap nya yang sangat menyenangkan.


Di awal pagi nya itu. Milea langsung mengerjakan tugasnya untuk menyiapkan makan pagi untuk Tuan rumah di mansion itu.


Di sela kegiatannya, Milea bertanya dan mengobrol dengan Bibik Beti yang tugas nya bersama dengan nya di dapur.


" Bibik, aku ingin bertanya," kata Milea.


" Hmmm katakan," sahut Bibik Beti.


" Apa biasanya Bibik Neli yang menyiapkan pakaian untuk tuan Edo?" tanya Milea.


" Ya. Tuan Edo sangat mempercayai Bibik Neli, dia yang selalu menyiapkan keperluan Tuan Edo dari pakaian serta sepatu nya. Bahkan Tuan Edo sangat menghormati Bibik Neli sama halnya dengan orang tuanya," sahut Bibik Beti.


Milea menganggukkan kepalanya beberapa kali mendengar penjelasan dari Bibik Beti.


" Ada apa, Milea? apa kau sudah bertemu dengan Tuan besar kita?" tanya Bibik Beti.


" Iya. Tadi malam saat aku kemari untuk mengambil ponsel ku yang tertinggal di dapur. Dia sangat tampan Bibik dan aku langsung jatuh hati pada nya," sahut Milea sambil membayangkan senyum tampan Edo dan tanpa rasa malu sedikit pun mengungkapkan perasaannya.


Bibik Beti terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.


" Ya, kau benar. Jika saja Bibik masih muda mungkin Bibik akan menggoda nya," sahut Bibik Beti dan membuat Milea tertawa.


" Tapi kau masih bisa berdiri dan berjalan sendiri semalam, kan?" kata Bibik Beti menggoda Milea sambil menyenggol lengan nya.


" Iiishhh ... Bibik. Tentu saja! Aku sangat pandai menyembunyikan perasaan ku dan dia tidak akan tahu jika aku mengagumi nya," sahut Milea.


Tanpa mereka sadari, Edo berdiri di belakang mereka dengan tangan yang terlipat di dadanya.


Edo baru saja menyelesaikan joging di pagi hari dengan mengelilingi kompleks perumahan elit itu.


Dia mendengar tawa Milea dari dapur dan entah kenapa itu menarik perhatian nya untuk menghampiri asal suara.


Deheman itu membuat obrolan dari dua pelayan itu terhenti. Milea langsung terpaku dan dadanya kembali bergemuruh.


' Oh God. Bagaimana jika dia mendengar perkataan ku barusan?' batin Milea.


Dua pelayan itu menoleh dan menundukkan kepalanya pada sang majikan.


" Apa ada yang Anda butuhkan, Tuan?" tanya Bibik Beti yang tumben sekali majikan nya itu ke dapur pagi-pagi sekali.


" Hmmm ..." sahut Edo singkat dan langsung menatap kearah Milea yang langsung menundukkan wajahnya.


Wanita itu gugup karena takut jika Edo mendengar ucapan nya barusan.


' Mati aku ... sepertinya dia mendengar perkataan ku,' batin Milea.


" Milea!"


Wanita cantik itu langsung mengangkat wajahnya dan melihat kearah wajah tampan Edo.


" Iya, Tuan?"


" Buatkan kopi untuk ku dan langsung antar kan ke kamar. Aku akan menunggumu di sana dan menjelaskan apa yang harus kau siapkan setiap paginya!"


Milea meneguk saliva nya dan melirik kearah Bibik Beti yang juga melirik kearah nya.


" B-baik Tuan!" sahut Milea.


Edo pun langsung pergi dari tempat itu dan berjalan kearah kamar nya.


Milea dan Bibik Beti sama-sama menghela nafasnya dan mereka sama-sama tertawa.


" Apa tadi malam kau membuat kan kopi untuk tuan besar?" tanya Bibik Beti.


" Iya Bibik. Dan dia menyukaiku kopi buatan ku!" sahut Milea dengan semangat.


Wanita cantik itu langsung meracik kopi yang sama seperti semalam dengan senyum yang terbit di bibirnya.


" Sepertinya kau membuat kopi itu dengan segenap perasaan. Karena Tuan Edo tidak pernah meminta kopi pada pelayan lain selain pada Bibik Neli dan kau pasti nya," kata Bibik Beti.


" Hmmm ... setidaknya dia menyukai kopi buatan ku, iya kan Bik?" sahut Milea.


" Ya. Dan itu awal yang sangat baik untuk mendekati Majikan tampan kita," sahut Bibik Beti menggoda Milea.


" Iiishhh ... Bibik!!"


" Cepat antarkan kopi itu dan jangan membuat Tuan tampan itu menunggu karena dia bisa mengeluarkan tanduknya jika sudah menunggu terlalu lama," kata Bibik Beti menakuti Milea.


" Benarkah? apa dia bisa marah?" tanya Milea.


" Cepat antarkan kopi itu! atau kau akan melihat tanduk merah yang keluar dari atas kepalanya," sahut Bibik Beti sambil terkekeh.


Milea dengan cepat keluar dari dapur dengan membawa secangkir kopi buatan nya untuk sang majikan tampan.


Dia berjalan terburu-buru namun masih berhati-hati karena takut Kopi nya tumpah.


Hingga dia tiba di depan pintu kamar Edo. Milea mengatur nafas nya dan mengetuk pintunya.