The Wedding Agreement

The Wedding Agreement
Pelayan baru



Cleo membalikkan tubuhnya dan menghadap kearah Reza. Dia melingkar kan tangannya di leher pria itu dan mereka saling menatap.


Cleo mendekatkan wajahnya pada wajah tampan Reza dan pria itu juga melakukan hal yang sama.


Hidung mereka saling bersentuhan dan deru nafasnya pun sama-sama menerpa wajah nya Mading. Dengan lembut Reza memagut bibir Cleo.


Wanita itu menutup matanya dan membalas ciuman dari sang suami. Mereka berciuman di hadapan matahari terbit dan itu merupakan hal paling indah bagi Cleo.


Selama 30 menit mereka berada di atas puncak. Mereka juga sarapan pagi disana karena Reza memang sudah mempersiapkan semuanya.


Cleo merasa sangat bahagia dengan pengalaman barunya itu. Dan dia ingin melakukan hal itu lagi nanti bersama Bryan.


Kini mereka sedang menuruni bukit itu. Cleo tampak masih semangat dan senyumnya masih tersungging hingga mereka tiba di tempat perkemahan.


Disana mereka melihat sejumlah pendaki yang sedang berkumpul sambil menyantap sarapan pagi nya.


" Heii ... Kemarilah!" panggil Luza.


Mereka semua menoleh dan melihat kearah pasangan suami istri itu. Namun tidak dengan Ane, wanita itu tampak memasang wajah tak pedulinya dan cuek ketika Reza dan Cleo menghasilkan mereka.


" Ayo duduklah. Kita makan pagi bersama," kata Moiz.


Reza dan Cleo hanya tersenyum.


" Makanlah. Kita sudah makan dan akan langsung membereskan barang-barang kita," sahut Reza.


Semua tampak menatap kearah Reza.


" Kenapa secepat itu?" tanya Linos.


" Aku sudah berpuasa selama berada disini, jadi aku tak bisa berpuasa terlalu lama lagi," sahut Reza sambil melirik kearah Cleo.


Semua yang ada disana tertawa kecuali Ane. Cleo melihat hal itu dan dia tampak tak peduli karena dia memang tak punya urusan dengan wanita itu.


" Ya ya ya. Di bawah sana ada sebuah hotel kecil, Za. Jika kau memang benar-benar tak tahan," sahut Moiz mengejek.


" Ya, akan aku lihat nanti," sahut Reza.


.


.


Kini Reza dan Cleo sudah selesai membereskan semua barang-barang nya. Mereka berpamitan pada semua pendaki yang sudah siap untuk mendaki.


" Semoga kita bertemu lagi," kata Reza.


" Ya. Ku harap begitu," sahut Moiz.


Cleo melihat kearah Ane yang sama sekali tak melihat kearah nya. Sekali lagi Cleo tak peduli dengan hal itu. Dia lebih memilih untuk berpamitan pada Luza dan juga kedua putra kembar nya.


" Aku akan menghubungi mu lain waktu," kata Luza sambil memeluk tubuh Cleo.


" Ya. Aku menunggu nya," sahut Cleo.


Lalu Cleo berjongkok dan berpamitan pada kedua putra kembar Luza.


" Oke Aunty!!" sahut keduanya secara bersamaan.


.


.


Kini Cleo dan Reza sudah ada di dalam mobil nya. Mereka melakukan perjalanan selanjutnya.


" Akan kemana kit setelah ini?" tanya Cleo melihat kearah sang suami yang sedang fokus mengemudi.


" Kita cari hotel dulu karena aku merindukan ******* mu," sahut Reza sambil melirik kearah Cleo dengan senyum smirk nya.


Cleo terkekeh mendengar ucapan dari pria itu.


" Aku juga merindukan hentakan mu, Beby!"


Reza tertawa dan mengambil tangan Cleo lalu mencium punggung tangannya.


.


.


Sementara itu. Di mansion Edo.


Seorang wanita cantik baru memasuki mansion itu. Wanita itu masih muda dan berusia sekitar 24 tahun.


Dia berpenampilan sederhana dan mengepang rambut panjangnya. Wanita itu juga membawa tas yang berukuran cukup besar.


Dia berdiri di depan gerbang mansion itu dan mencoba mengetuk pagar besi itu.


" Permisi!!!" panggil wanita itu.


Lalu seorang penjaga gerbang menghampiri nya.


" Ya? ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya pria yang bertubuh tegap itu.


" Saya Milea, keponakan dari Bibik Neli. Saya akan mengganti kan Bibik Neli sementara dimansion ini," sahut Milea sopan.


" Oh ... jadi kau keponakan Bibik Neli? Baiklah, aku akan membukakan pagar nya."


Pria itu langsung membuka gerbang tinggi itu dan Milea pun masuk.


" Terimakasih, Mas__"


" Panggil aku Hardi," potong pria itu.


" Mas Hardi. Boleh kan? akan sedikit tak sopan jika aku memanggil nama mu saja," sahut Milea sambil menundukkan wajahnya.


Hardi terkekeh dan menganggukkan kepalanya.


" Baiklah, terserah kau saja. Ayo, aku akan mengantar kan mu bertemu dengan Tuan Edo," sahut Hardi.


Pria itu menyuruh dua anak buahnya untuk berjaga di gerbang itu selagi dirinya mengantarkan Milea ke dalam.