
" Heii ... tidak perlu menangis. Bukan kah daddy bilang kau sangat menyukai koper ini dulu? Hingga kau diam-diam masuk kedalam ruang kerja daddy hanya untuk membuka dan menutup koper ini, kau ingat?"
Cleo tertawa dalam tangisnya. Dia melepaskan pelukannya dan memukul lengan atas Edo dengan keras.
" Oouuhh ... Pukulan mu lumayan juga," kata Edo sambil mengusap lengannya.
Lalu Cleo kembali menatap kearah koper yang masih ada di pangkuan nya. Koper itu belum terbuka sempurna, wanita itu membuka koper itu dan melihat foto keluarga nya disana.
Dia mengambil foto itu. Foto kedua orang tuanya, Edo dan juga dirinya. Senyumnya tersungging dan tak terasa air matanya kembali menetes.
Edo mengusap air mata yang menetes di pipi Cleo.
" Kenapa kau jadi se cengeng ini?" kata Edo.
" CK. Kakak!!"
Edo tertawa begitu pun Grey dan Cleo menatap sinis kearah Grey yang ikut menertawai nya.
" Boleh aku menyimpan ini?" tanya Cleo sambil menunjukkan foto itu pada Edo.
" Hmmm ... Semuanya untuk mu," sahut Edo dan mengambil koper yang ada di pangkuan Cleo.
Dia mengambil berkas-berkas berharga keluarga nya. Dokumen kepemilikan beberapa perusahaan yang sudah atas nama Cleo dan Edo.
Dan ada beberapa dokumen penting lainnya seperti surat tanah, kebun, Rumah sakit dan juga panti asuhan milik keluarga Antoni.
Bahkan banyak juga yang lain seperti hotel dan juga beberapa resort.
" Wahh ... Aku seperti tertimpa durian runtuh," kata Cleo saat membaca surat-surat itu.
Edo hanya terkekeh. Lalu dia mengambil dokumen yang ada di tangan Cleo dan meletakkan kembali ke tempat nya.
" Apa perlu aku mengganti kuncinya?" kata Edo.
" TIDAK!!!" pekik Cleo mengambil lagi koper itu dari tangan Edo.
Wanita itu melakukan hal yang serupa. Menutup koper itu dan sedikit menekan nya. Hingga koper itu tertutup namun belum terkunci sepenuhnya.
Lalu dia meletakkan jari jempol nya ke finger print dan koper itu langsung mengunci secara otomatis keseluruhan nya.
Cleo menutup kembali penutup finger print. Dan menyuruh Edo untuk mencoba membuka nya.
" Kenapa tidak bisa?" kata Edo yang masih berusaha membuka penutup finger print.
" Kalau kakak tidak bisa membuka nya berarti penguncian itu sukses. Masak kakak tidak tahu?" kata Cleo.
Dia menatap kearah koper itu.
' Pantas saja Edward tak bisa membuka koper ini meskipun sudah berusaha dengan sangat keras membuka nya,' batin Edo.
" Aku ke kamar ku dulu. Kalian bisa bekerja sekarang," ucap Cleo beranjak dari sofa dan keluar dari ruangan itu.
" SE canggih ini?" ucap Edo masih heran dan berusaha membuka dengan keras penutup finger print itu lagi.
Grey hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Pada akhirnya Edo menyerah. Ternyata sang daddy telah menyiapkan koper secanggih itu untuk melindungi surat-surat itu selama ini.
Dan benar saja. Siapapun tak bisa membuka Koper itu meskipun dengan cara apapun.
Hanya Cleo yang bisa membuka dan mengunci koper itu lagi.
Edo mengembalikan koper itu kedalam brankas yang ada di bawah meja kerja nya. Dan kembali menuju sofa setelah mengunci brankas nya.
" Apa yang ingin kau sampaikan, Grey?" tanya Edo setelah duduk di sofa.
Grey mengambil ponselnya. Dia menyalakan benda pipih itu dan memutar rekaman video yang dikirim oleh anak buahnya dan meletakkan benda pipih itu di meja.
Edo melihat kearah ponsel itu dan melihat dengan seksama. Disana ada rekaman video Edwin yang sedang mengintai mansion Reza.
Bibirnya terangkat dan menciptakan senyum licik nya.
" Sudah kuduga. Disana sudah tak aman," ucap Edo.
" Lalu apa rencana kita selanjutnya, Bos? apa perlu kita menangkap nya saja?" tanya Grey.
" Tak perlu. Kita tunggu tindakan dari Reza, aku yakin dia tak akan tinggal diam jika ada seseorang yang mengintai mansionnya seperti ini," sahut Edo tersenyum smirk.
" Tapi ... Bukankah __"
" Ssssttt ... jangan sampai rencana ini terbongkar apalagi di dengar oleh Cleo," potong Edo.
" Baik, Bos!"
sahut Grey dengan tegas.
Edo tersenyum smirk. Dia mengingat rencana yang sudah dia buat bersama dengan Uncle Rekza. Dan pria paruh baya itu mendukung rencana nya yang melibatkan terpisah nya Cleo dan Reza.