The Wedding Agreement

The Wedding Agreement
Edo



" Aku pernah melihatnya," kata Marlin.


" Benarkah Tuan? di mana kau pernah melihatnya, aku sedang mencari keponakanku ini," kata wanita itu memohon.


" Dia baru saja turun dari bus bersamaku, dan entah kemana dia sekarang," sahut Marlin.


" Kalau begitu aku akan terus mencarinya," jawab wanita itu lagi.


" Apakah kau mengenal nya? apa kau benar-benar kaluarganya?" tanya Marlin serius. Dia tak mau jika sampai salah memberikan informasi pada orang lain.


" Tentu saja aku mengenalnya, dia keponakanku, dan nyawanya sedang dalam bahaya jika aku tak langsung bertemu dengan nya," sahut wanita itu.


" Dia pasti akan kembali ke terminal ini untuk menemui ku, tapi entah kapan aku tak tahu," sahut Marlin.


" Bagaimana kau bisa bertemu dengan nya?" tanya wanita itu lagi penasaran.


" Istriku menolongnya saat dia celaka, aku dan istriku merawatnya sampai sembuh dan akhirnya diam memutuskan untuk kembali ke kota lagi," sahut Marlin.


" Baiklah, terima kasih atas informasinya, Tuan." Wanita itu pergi meninggalkan Marlin yang masih terpaku di tempatnya setelah mendapatkan informasi tentang Edo.


" Ternyata dia masih hidup, itu kesempatan lagi untuk ku agar bisa membuka koper itu," gumam Edwin.


.


.


Edo tiba di markas nya. Semua anak buah nya berkumpul dan menyambut kedatangan pria itu.


Lalu mereka mulai menyusun strategi untuk merebut koper itu dari tangan Edward.


" Dimana dia menyembunyikan koper itu?" tanya Edo.


" Koper itu berada di suatu tempat, Bos. Aku tahu tempat nya," ucap salah satu anak buah Edo.


" Bagus. Cepat bergerak dan jangan sampai ketahuan dan kalian harus berhasil merebut koper itu!" tegas Edo.


" Baik Bos!!" semua anak buahnya menjawab dengan serentak.


Lalu keluar dari markas itu untuk menjalankan aksinya.


" Semoga kali ini benar-benar berhasil," gumam Edo.


.


.


Di sebuah rumah kumuh. Edwin masuk kedalam rumah dan membangun kan Edward yang tengah tertidur.


" Bangun Ed. Dia masih hidup, aku baru saja mendapatkan informasi tentang Edo. Dia selamat," kata Edwin sambil mengguncang tubuh Edward.


Pria itu langsung terbangun saat mendengar perkataan dari sang istri.


" Apa kau melihatnya sendiri?" tanya Edward.


" Ya. Dia mencoba mengelabui ku dengan memakai topi dan masker serta kacamata hitam. Tapi aku masih bisa mengenal nya. Lalu aku bertanya pada seorang pria yang bersama nya di terminal itu. Dan ternyata benar, itu Edo!"


Edward tampak berpikir keras setelah mendengar penjelasan dari Edwin.


" Dimana kopernya?" tanya Edwin saat tak melihat koper itu di tempatnya.


" Shiiit ... aku meninggalkan nya di rumah teman ku kemarin. Karena dia masih ingin memeriksa nya hari ini," sahut Edward.


" Cepat ambil koper itu sebelum Edo menemukan nya!!" tegas Edwin.


Adward langsung memakai jaketnya dan berjalan keluar dari rumah itu.


Saat baru keluar dari rumah itu langkahnya terhenti saat sudah melihat Edo yang berdiri jauh di hadapannya.


Edward menyeringai tipis dan kembali melangkahkan kakinya.


" Ternyata benar informasi yang ku dapat. Kau masih hidup," kata Edward.


" Ya. Aku masih hidup karena kau masih membutuhkan ku untuk membuka koper itu," sahut Edo sambil melangkah kan kakinya menuju Edward.


Semua anak buah Edo yang ikut ke sana sudah bersiap untuk menyerang pria itu.


Saat Edo dan Edward berdiri berhadapan. Edwin keluar dari dalam rumah itu dan begitu terkejut saat melihat sang suami yang sudah di hadang di depan rumah nya.


" Hallo, Aunty. Apa aku harus memanggil mu, Momy?" kata Edo saat melihat Edwin keluar dari dalam rumah dengan satu tangan yang ada di belakang punggung nya.


Edo menyeringai dan tahu apa yang ada di balik punggung wanita itu.


" Serahkan koper itu, aku meminta nya baik-baik pada kalian. Sebelum anak buah ku akan memporak porandakan tempat ini!" tegas Edo.


Edward tertawa mendengar perkataan dari Edo.


" Kau mengancam ku? Berani sekali kau!!" bentak Edward yang langsung mengambil pistol yang ada di saku jaketnya.


Dan langsung mengarah kan nya ke kepala Edo. Semua anak buah Edo bergerak maju dan ingin menyerang Edward.


" Majulah ... jika Ingin Bos kalian ini mati tertembak!!" teriak Edward.


Semua anak buah Edo langsung menghentikan langkahnya saat mendengar ancaman dari Edward.


Edo menyeringai tipis sambil terus menatap kearah Edward.


" Kau tak akan pernah bisa membuka koper itu, sampai kapanpun," ucap Edo.


" Aku sudah tahu tombol pin di koper itu tak berfungsi. Kau dan Daddy mu cukup cerdik sudah mengelabuhi ku selama ini," sahut Edward masih santai.


" Hahaha ... ternyata kau sangat mudah di bodohi, Uncle!" ucap Edo yang semakin membuat Edward kesal.


" BERANINYA KAU!!!"


DOR ...


terdengar suara tembakan peluru yang terlepas. Semua anak buah Edo terlihat terkejut saat mendengar suara tembakan itu dan melihat Edo terkapar di tanah.


.


.


" Bos ... Tuan Edo sudah kembali!"


Reza langsung menghentikan kegiatan nya dan menatap kearah Haikal yang baru masuk ke ruangan nya.


" Dia sudah kembali dan langsung menjalankan aksinya untuk merebut koper itu di tempat persembunyian Edward!" lanjut Haikal.


" Cepat hubungi anak buah kita yang ada disana. Dan suruh mereka menghampiri dimana Edo berada, dia pasti membutuhkan bantuan kita," sahut Reza dengan mata tajamnya.


" Baik Bos!!"


Haikal langsung menghubungi anak buahnya dan menyuruh mereka untuk menyusul Edo.


" Bawa aku menemui Kakak ku."


Reza dan Haikal langsung menoleh ke asal suara. Mereka melihat Cleo yang sudah berdiri di ambang pintu.


Haikal menepuk keningnya karena dia lupa menutup pintu ruangan itu.


Dan dia langsung mendapatkan tatapan tajam dari Bos nya itu.


" Dia belum menghubungi ku, dan aku yakin dia masih sibuk dengan urusan nya disana," sahut Reza dingin dan tanpa melihat kearah wanita itu.


" Beri tahu aku dimana tempatnya dan aku akan berangkat kesana sendiri!" tegas Cleo.


Reza langsung menatap tajam pada Cleo dan bangkit dari kursinya. Pria itu berjalan menghampiri Cleo dan menarik tangan nya lalu menutup pintu nya.


" Jika kau pergi tanpa ku, aku akan menjamin kau tak akan bisa lagi bertemu dengan Bryan!!" tegas Reza.


Pria itu sangat tahu kelemahan Cleo. Wanita itu tak bisa jauh dari Bryan karena dia memang sangat menyayangi anak itu.


" Kau mengancam ku dengan menggunakan Bryan. Aku ingin menemui kakak ku, aku hanya ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja!" tegas Cleo.


" Dia baik-baik saja!! jika kau bersikeras ingin menemui nya, maka kau hanya akan mengacaukan semua rencana nya!!" bentak Reza.


" Tak perlu membentak ku!! aku sangat membenci mu!!" teriak Cleo berbalik dan ingin membuka pintu.


" Apa peduliku," sahut Reza berbalik menuju kursi nya.


Cleo menoleh dengan tangan yang sudah memegang gagang pintu.


" Aku bersyukur kakak sudah cepat kembali dan itu artinya aku akan segera terbebas dari pernikahan bulshit ini!!" tegas Cleo.


" Dan itu artinya kau akan segera berpisah dari Bryan," sahut Reza tersenyum miring.


Cleo begitu kesal mendengar ucapan dari Reza. Dia langsung keluar dari ruangan itu dan ...


BRAAKK


Cleo menutup pintunya dengan begitu keras. Dan tak terasa buliran bening keluar dari sudut matanya.