
Mansion Edo, pagi hari.
Pria tampan itu baru saja keluar dari kamar mandi, dan hanya melilit kan handuk di bagian bawah tubuhnya.
Dia berjalan menuju walkin closet dan langsung memilih sendiri pakaian yang akan di pakai nya. Biasanya ada Bibik Neli yang melakukan hal itu, tapi sudah beberapa hari pelayan itu sedang mengajukan cuti.
Edo keluar dari walkin closet dengan penampilan yang sudah rapih, dia berjalan menuju meja rias dan langsung memakai kan gel untuk merapikan rambutnya.
Pria itu menyisir rambutnya dengan jari jemari nya, lalu dia langsung menyemprotkan parfum ke tubuhnya.
Drt drt drt
Ponselnya berbunyi dan hal itu membuat Edo menoleh dan melihat kearah ponsel yang ada di atas ranjang. Dia melangkahkan kakinya menuju ranjang dan menjangkau benda pipih itu dengan satu tangan nya.
Terlihat nama Cleo di layar ponselnya dan itu membuat Edo menarik sudut bibirnya hingga tercipta senyuman tampannya.
Edo langsung menggeser tombol berwarna hijau hingga membuat panggilan itu tersambung.
" Hallo ... akhirnya kau menghubungi kakak, aku kira kau sudah melupakan kakak mu ini karena pria laknat itu," kata Edo.
Cleo terkekeh dari seberang sana dan lekas menjawab perkataan dari Edo.
" Kakak!!! dia suamiku dan juga Adik ipar mu!" tegas Cleo.
" Apa kau lupa siapa yang sudah membuat kita menikah?" lanjut Cleo menyinggung permintaan sang kakak yang harus membuat nya menikah dengan Reza.
Edo terdiam karena memang dia yang telah meminta Cleo dan Reza menikah. Dan pada saat ini dia sangat tahu bahwa pasangan itu menikah dengan keterpaksaan dan tanpa adanya perasaan sedikit pun.
" Kakak!!! kau masih disana?" tanya Cleo karena tak mendengar suara sang kakak.
" Ah ... Iya. Ada apa?" tanya Edo tersadar dari lamunannya.
" Kakak, aku masih berada di kota X. Aku masih betah disini mungkin satu minggu lagi aku akan pulang. Kakak tak keberatan kan?" tanya Cleo.
" Ya. Bersenang-senanglah, katakan jika pria itu tak membuat mu bahagia karena kakak sendiri yang akan menjemput mu kesana," sahut Edo.
" Iisshhh ... Kakak!!"
Edo terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
" Iya ... iya. Aku tidak akan ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian. Berbahagialah, bye!"
Edo langsung memutuskan panggilan itu karena dia akan terlambat pergi ke perusahaan jika terus melayani pembicaraan dengan sang Adik.
Saat menuruni tangga, ponselnya kembali berdering. Dia mengambil benda pipih itu dan tersenyum saat kembali melihat nama Sang Adik di layar ponselnya.
" Hallo ... ada apa lagi, Cleo?"
" Kenapa Kakak tadi langsung memutuskan panggilan ku? apa kakak sudah bosan bicara dengan ku!!!" pekik Cleo.
Edo langsung menjauhkan ponselnya dari telinga nya.
" Oh my. Kau bisa membuat ku tuli, sayang!!"
Edo terus berjalan menuju ruang makan dan langsung duduk di kursinya. Disana sudah ada beberapa makanan yang biasa di masak oleh Bibik Neli dan itu membuat Edo heran.
Dia terus mendengar kan ocehan dari sang Adik dari seberang telepon sambil mengambil makanan ke piring nya.
Cleo terus saja mendesak nya untuk mencari pendamping hidup dan menyuruh nya segera menikah, dan Edo hanya terus mengiyakan keinginan sang Adik hanya biar Cleo berhenti mengoceh.
" Ya sudah, aku ingin makan dengan tenang, Cleo. Bisa kau matikan panggilan ini dulu?"
" Oke oke. Nanti aku akan menghubungi kakak lagi, bye!! selamat makan!!"
Edo meletakkan ponselnya di meja dan langsung menyantap makanan nya. Seketika dia berhenti dan melihat kearah makanannya.
" Makanan ini sama persis dengan makanan yang sering di masak oleh Bibik Neli. Apa dia sudah kembali?" gumam Edo.
" Tapi bukannya kemarin ada pelayan baru yang menggantikan Bibik Neli?"
Edo langsung menyantap makanan nya lagi sampai makanan yang ada di piring nya pun habis.
Lalu dia melihat kearah jam tangan yang melingkar di tangan nya. Dan jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi.
Dia langsung bergegas keluar dari mansionnya dan berjalan kearah mobil yang sudah siap di halaman depan.
Saat dia masuk kedalam mobil dan menyalakan mesin mobil nya. Edo melihat sosok perempuan yang sedang menyiram tanaman yang biasa di kerjakan oleh Bibik Neli.
Wanita itu terlihat cantik dengan baju seragam khas pelayan yang ada di mansionya. Rambut panjang nya di ikat ke belakang dan poninya menjuntai di keningnya.
Senyum manisnya selalu terpancar dari bibirnya seolah dia sangat menikmati pekerjaan nya sebagai pelayan di mansion itu.
" Siapa dia?" gumam Edo dan terus menatap kearah wajah cantik pelayan yang belum tahu siapa namanya.