
" Bos!!" teriak anak buah Edo.
Lalu Edo langsung berdiri tegap di hadapan Edward. Pria itu tampak menyeringai tipis karena tembakan itu tak mengenai tubuhnya.
" Sorry, Uncle. Tembakan mu bisa terbaca dan akhirnya meleset," ucap Edo yang kini langsung mengarahkan tembakan nya pada Edward.
DORR
Peluru itu hanya menyerempet di area lengan Edward. Karena Edo hanya memberikan peringatan pada Edward agar tak lagi merebut koper yang ternyata sudah ada di tangan anak buahnya.
" BRENGSEK!!!" teriak Edwin yang langsung mengarah kan pisau lipat yang di sembunyikan di balik punggung nya kearah Edo.
Namun lagi-lagi gerakan Edwin bisa terbaca oleh Edo. Dia menangkap tangan Edwin dan langsung memelintir nya hingga wanita itu meringis kesakitan dan pisau itu terjatuh ke tanah.
Dengan cepat Edo menendang pisau itu ke arah anak buahnya dan langsung di amankan oleh mereka.
" Asal kalian tahu. Semua perusahaan dan semua harta keluarga Ghazali sudah jatuh di tangan ku dan Cleo. Kalian bukan bagian dari keluarga kami jadi kalian sama sekali tak punya hak atas itu semua!!" bentak Edo dan langsung menghempaskan tubuh Edwin hingga terjatuh kearah Edward.
Lalu Edo langsung berbalik dan melangkah kan kaki nya meninggalkan Edward dan Edwin.
" Jika kalian berani mengganggu hidup ku dan adikku maka aku tidak akan pernah mengampuni kalian!!" kata Edo menghentikan langkahnya dan menoleh pada Edward dan Edwin.
.
.
Drt drt drt
Ponsel Reza berbunyi. Pria itu langsung mengangkat nya setelah melihat nama Edo Remon disana.
" Hallo, Uncle."
" Hallo, Bagaimana kabar mu?"
" Ed? kau kah itu?" sahut Reza saat mendengar suara Edo di seberang telepon.
" Hmmm ... terimakasih sudah menjaga adikku selama ini," sahut Edo.
" Ya. Bagaimana kabar mu?" tanya Reza.
" Aku baik. Bagaimana dengan pernikahan mu?" tanya Edo basa-basi.
" Heii ... kau menanyakan pernikahan yang seharusnya tak terjadi itu?" sahut Reza.
" Heii ... apa aku salah jika bertanya tentang pernikahan adik dan adik ipar ku ini? Come on ... kau pasti senang menikah dengan wanita secantik Cleo," ejek Edo.
" Kau yang meminta nya dan aku melakukan itu hanya karena mu, brengsek," sahut Reza.
Edo tertawa di seberang telepon. Dia sedang duduk di kursi kebesaran nya.
" Aku akan segera menjemput nya, kau tenang saja."
Reza terdiam saat mendengar perkataan dari Edo yang sudah ingin mengambil Cleo dari nya. Bahkan disaat dirinya belum menyentuh wanita yang menjadi istrinya itu.
" Heii ... kenapa kau diam saja? apa kau sudah mencintai adikku?" tanya Edo saat tak mendapatkan sahutan dari Reza.
" Tidak. Bahkan aku belum menyentuh nya sampai saat ini," sahut Reza dan langsung mendapatkan tawaan dari Edo.
" Ya. Tertawalah sepuas mu, kau yang membuat ku terjebak dengan wanita siluman itu," geram Reza.
Edo semakin meledakkan tawanya. Karena dia sangat tahu bagaimana sikap menyebalkan Cleo.
" Baiklah baiklah. Aku akan segera membebaskan mu dari istri bar-bar mu itu," sahut Edo masih dengan tawanya.
" Kau mau mempermainkan ku? aku mungkin akan sangat senang saat kau membawa pergi wanita itu. Tapi bagaimana dengan Bryan?"
" Kau benar. Apa hubungan mereka sangat dekat?" tanya Edo.
" Jika kau melihat nya, maka aku yakin kau tidak akan pernah memisahkan mereka. Mereka benar-benar seperti ibu dan anak kandung," ucap Reza.
Edo terdiam. Dia tampak berpikir keras bagaimana baiknya.
" Lalu apa maumu?" tanya Edo.
" Entahlah. Aku ingin terbebas dari wanita itu tapi aku tak akan bisa memisahkan Bryan dengan Momy tercinta nya itu," sahut Reza.
" Baiklah. Aku akan menanyakan bagaimana baiknya pada Cleo."
Lalu mereka sama-sama memutuskan panggilan itu. Reza tampak memikirkan bagaimana baiknya. Dan Edo pun juga sama.
" Kenapa ini semakin rumit? andai saja Bryan tak begitu menyayangi Cleo. Mungkin aku sudah bisa langsung mengakhirkan pernikahan gila ini," gumam Reza.
.
.
Kini Cleo sudah dalam perjalanan menuju mansion. Dia pulang dengan supir yang sudah di sediakan oleh Reza jika pria itu tak bisa pulang bersama nya.
Dia tampak melihat keluar jendela. Sambil menopang dagunya.
" Kenapa kakak belum menghubungi ku," gumam Cleo.
Wanita itu termenung sepanjang perjalanan hingga tak terasa mobil yang di tumpangi sudah tiba di halaman mansion.
" Nyonya. Kita sudah sampai," kata supir.
Cleo tersadar dan langsung keluar dari mobil. Dia melihat sebuah mobil sport keluaran terbaru terparkir di samping mobilnya.
" Mobil siapa ini? sepertinya ada tamu," gumam Cleo lalu berjalan menuju pintu mansion.
Wanita itu berjalan dan masuk kedalam mansion itu. Dia mendengar suara Bryan yang sedang tertawa di ruang tengah bersama seseorang.
" Dengan siapa Bryan tertawa? kenapa dia terdengar sangat akrab dengan orang itu?" gumam cleo masuk dan berjalan menuju ruang tengah.
Langkahnya terhenti saat mendengar suara yang sangat dia kenal.
" Kakak ... ini suara kak Edo," gumam Cleo melangkah kan kakinya lagi.
Dia tiba di ruang tengah. Tiba-tiba air matanya menetes saat melihat seseorang yang sangat dia rindukan sudah ada di hadapannya.
Edo menyadari kehadiran Cleo dan dia langsung menurunkan Bryan dari gendongan nya.
Pria itu merentangkan kedua tangannya dan Cleo langsung berlarian kearah Edo.
Mereka pun berpelukan melepas rindu antara kakak beradik itu.
Cleo menangis sesenggukan di dalam pelukan Edo. Pria itu mengusap lembut punggung Adik nya itu.
" I Miss you. Kau jahat kak, kau membuat ku khawatir," ucap Cleo sambil terisak.
Edo melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Cleo. Dia mengusap air mata yang membasahi pipi wanita cantik itu.
" Sorry ... dan sekarang kakak sudah kembali, apa kau mau ikut bersama kakak?" tanya Edo.
Cleo langsung melihat kearah Bryan yang tengah menatapnya. Wanita itu sangat ingin terlepas dari pernikahan itu.
Namun dia tak bisa meninggalkan Bryan yang sudah dia anggap sebagai putra nya sendiri.
Wanita itu terduduk dan memangku Bryan. Dari situ Edo sudah bisa menyimpulkan sesuatu bahwa adiknya itu sangat berat untuk meninggalkan Bryan.