The Wedding Agreement

The Wedding Agreement
Cleo dan Bryan



2 Minggu berlalu.


Kini Reza dan Cleo sudah kembali dari bulan madu nya. Rekza menyiapkan bulan madu untuk pasangan itu ke resort yang ada di tengah bukit.


Reza sama sekali tak menyentuh wanita yang menjadi istrinya itu. Hanya sebuah ciuman yang dia lakukan saat pernikahan itu.


Dan selama mereka berbulan madu, mereka sama-sama fokus dengan pekerjaan nya masing-masing.


Reza benar-benar tak menyentuh istri nya itu. Bahkan mereka tidur di kamar yang berbeda saat berada di resort.


.


.


Pagi menjelang. Cleo terlihat sedang membantu pelayan untuk menyiapkan makan pagi.


Setelah selesai. Dia langsung menuju kamarnya untuk memanggil sang suami.


Ya. Reza dan Cleo sudah tidur satu kamar setelah berada di mansion karena ada mata-mata kecil yang sangat jeli dan cerdik.


" Makan pagi sudah siap. Aku akan ke kamar Bryan," kata Cleo hanya berdiri di ambang pintu dan menutup kembali pintu itu setelah berbicara pada Reza.


Reza hanya bersikap biasa saja dan tetap fokus memakai dasinya.


" Bahkan istri ku tak berniat memasangkan dasi suami nya. Benar-benar istri yang tak berguna," gumam Reza.


" Aku memang istri yang tak berguna. Kau boleh mencari wanita lain untuk melayani mu, karena aku tak sudi untuk melayani pria seperti mu," kata Cleo yang tiba-tiba masuk dan hanya mengambil tas nya dan keluar lagi dari kamar itu.


" Dasar wanita siluman," gumam Reza lagi.


Cleo berjalan menuju ruang makan dan sudah melihat Bryan disana.


" Makanlah yang banyak, sayang. Kau harus tumbuh jadi pria yang kuat," kata Cleo sambil mengacak rambut pirang Bryan.


" Mom ... aku sudah merapikan rambut ku, dan Momi mengacaukan nya," kata Bryan mencebik sambil merapikan rambutnya.


" Oh my. I'm so sorry, Sweety ..."


ucap Cleo sambil menyatukan telapak tangan nya. Hal itu membuat Bryan kembali tersenyum.


" Pagi Boy ..."


Reza datang dan langsung mengacak rambut Bryan.


" DADDYY !!!" teriak Bryan kesal dan mendekap tangan di depan dadanya.


" Apa aku berbuat salah?" tanya Reza sambil mengangkat bahu nya.


Cleo tertawa melihat ekspresi Bryan yang sangat menggemaskan jika sedang kesal.


" Oke. Biar Momy yang merapikan kembali rambut mu." Cleo langsung bangkit dan menghampiri tempat duduk Bryan dan merapikan tatanan rambut nya.


" Done. Kau boleh melanjutkan makan mu," kata Cleo duduk di kursinya kembali.


Tapi Bryan masih tampak kesal. Reza hanya melihatnya saja tanpa berekspresi sambil menyantap makanannya.


" Mau Momy suapi?" tanya Cleo lembut.


" No, Mom. Aku bukan anak laki-laki yang manja," sahut Bryan.


Anak itu langsung menyantap makanannya kembali sampai habis dan langsung meminum susu nya.


Lalu mereka berangkat bersama. Reza akan mengantar Bryan ke sekolah nya, karena itu sudah permintaan Bryan.


Anak itu ingin seperti teman-teman nya yang lain. Yang selalu di antar oleh kedua orang tuanya.


Setibanya di sekolah Bryan. Cleo dan Reza keluar dan mengantar Bryan menuju gerbang sekolah.


" Belajar yang pintar dan jadilah anak yang baik, hmmm ..."


Cleo mencium kening dan pipi Bryan setelah mengucapkan kata-kata itu.


Lalu Reza mendekat dan ingin mengacak rambut pirang itu lagi. Namun dengan cepat Bryan menangkap tangan Reza.


" No. Jangan lakukan itu lagi, Dad. Atau kau ingin aku menghukum mu dengan menjauhkan mundari Momy," ancam Bryan.


Reza langsung tertawa dan mengecup puncak kepala anak sambungnya itu.


' Jika itu hukuman nya, maka aku harus melakukan nya, Boy,' batin Reza.


Saat Bryan berbalik dan ingin melangkah kan kakinya masuk ke gerbang. Dengan cepat Reza mengacak rambut Bryan dan langsung pergi setelah mendengar teriakkan yang begitu melengking dari mulut Bryan.


" Aku akan membiarkan Momy tidur dengan mu malam ini!!" teriak Bryan yang membuat Cleo dan Reza tertawa bahagia.


Dan nani yang bertugas menemani Bryan pun menggandeng tangan Bryan masuk kedalam gedung sekolah itu.


.


" Kau usil sekali pada Bryan," kata Cleo saat sudah ada di dalam mobil.


" Ya. Itu karena aku ingin tidur dengan leluasa di ranjang ku malam ini," sahut Reza tanpa menoleh pada Cleo.


" Ide yang bagus. Karena aku sangat muak jika terus satu kamar dengan mu," sahut Cleo dengan tatapan yang masih tertuju ke luar jendela.


.


.


" Berhati-hatilah di luar sana, Ed. Aku tak ingin melihat mu celaka seperti itu lagi," kata Mirna saat melepas kepergian suami dan Edo.


" Ya. Bibik jangan khawatir, aku pasti akan menjaga diriku," sahut Edo.


Lalu mereka berpelukan sesaat. Edo sudah memantapkan hati untuk keluar dari tempat persembunyian nya.


Dia memakai pakaian lusuh milik marlin dan juga menutup wajahnya dengan masker serta topi.


Edo berangkat ke kota bersama marlin dengan menaiki bus. Mereka berjalan dari rumah marlin ke jalan raya yang hampir menempuh satu jam lebih berjalan.


Lalu mereka langsung naik ke sebuah bus yang memang selalu melintas di kawasan itu.


" Kau benar-benar yakin, Ed?" tanya marlin yang duduk di sebelah nya.


" Ya, Uncle. Aku sudah sangat yakin," sahut Edo.


" Hubungi aku jika kau membutuhkan bantuan ku," kata Marlin dan hanya di tanggapi dengan anggukan kepala oleh Edo.


Edo sudah mengabari keberangkatan nya pada asistennya dengan mengirimkan surat pada nya.


Remon sudah menyuruh anak buah Edo untuk menjemput dan menunggu kedatangan Edo di sebuah terminal bus yang di tulis kan oleh Edo.


Setelah menempuh kurang lebih 3 jam perjalanan. Akhirnya bus yang di tumpangi Edo dan Marlin tiba di terminal itu.


" Kita berpisah disini, Uncle," kata Edo setelah keluar dari bus itu.


" Ya. Jaga dirimu baik-baik, cepat selesai kan masalah mu itu dan temui aku setelah itu," kata marlin sambil menepuk pundak Edo.


" Baiklah, Uncle. Sampai jumpa, terimakasih atas semua bantuan uncle dan bibik. Aku tidak akan melupakan itu," kata Edo.


Lalu mereka berpelukan sejenak. Dan Edo langsung berjalan menuju mobil yang terparkir di seberang jalan.


Dia melambaikan tangannya pada marlin sebelum dia masuk kedalam mobilnya. Lalu dia masuk kedalam mobil itu dan mobil itu langsung melaju meninggalkan tempat itu.


Dari kejauhan. Tampak seorang wanita menatap tajam kearah pria yang masih berdiri di terminal itu.


" Tunggu, Tuan. Aku sedang mencari keponakan ku, apa kau melihatnya?" tanya wanita itu menghampiri Marlin.


Marlin melihat sebuah foto yang di pegang oleh wanita itu. Dia mengerutkan keningnya saat melihat foto Edo disana.


" Aku sedang mencarinya, Tuan. Sudah hampir satu bulan dia menghilang, dan dia sedang di cari oleh seseorang yang mungkin bisa membahayakan nyawa nya jika dia tak segera di temukan," kata wanita itu lagi mencoba menarik empati dari Marlin.


Marlin tak langsung menjawab perkataan dari wanita itu. Dia tampak berpikir apa yang harus dia lakukan.