The Wedding Agreement

The Wedding Agreement
Kecurigaan Edo



Kini Edo sedang berada di ruang operasi. Dia sedang menunggu Marlin yang tengah di operasi untuk mengeluarkan sebuah peluru yang bersarang di dadanya.


Bahkan saking paniknya, Edo sampai memerintahkan anak buahnya untuk menjemput bibik Mirna.


Satu jam berlalu. Operasi itu telah selesai dan dokter pun keluar dari ruangan itu. Edo bergegas menghampiri dokter yang menangani Marlin untuk menanyakan bagaimana keadaan pria itu.


" Bagaimana keadaan nya, Dokter?" tanya Edo khawatir.


" Keadaan nya sudah stabil. Beruntung peluru itu tak sampai mengenai jantung nya, dia hanya sedang di pengaruhi obat bius. Kita akan memindahkan nya ke ruang perawatan nya setelah ini," kata dokter itu.


" Terimakasih, Dokter."


Dokter itu mengangguk dan segera pergi dari hadapan Edo.


.


.


Sementara di tempat lain. Tepatnya di sebuah gudang yang baru saja di gunakan untuk menyekap Marlin.


Edwin mengintip kearah beberapa orang yang sedang menggotong tubuh kaku Edward. Wanita itu terkejut dan menutup mulutnya melihat sang suami yang sudah tak bernyawa.


Ya. Edwin kembali ke gudang itu untuk memberi tahu dimana Cleo berada pada Edward. Namun apa yang dia dapat, dia malah melihat sang suami yang sudah kaku tak bernyawa dan sedang di makamkan oleh anak buah Edo.


" Aku akan memastikan mereka akan mati di tangan ku," kata Edwin geram dengan suara yang tertahan namun bergetar.


Wanita paruh baya itu terlihat sedang menahan emosi nya. Dia sangat mendendam dengan kematian Edward, suaminya.


" Aku berjanji padamu, Edward. Aku akan membuat mereka mati di tangan ku, cepat tau lambat."


Wanita itu mengepal kuat kedua tangannya. Air matanya menetes dan guratan kemarahan terpancar dari raut wajahnya dan matanya yang merah.


Lalu dia kembali melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu. Setelah melihat anak buah Edo yang sudah menjauh.


.


.


Satu minggu berlalu.


Kini Cleo sudah keluar dari rumah sakit, dia menjadi pendiam jika sedang tak ada Bryan di samping nya.


Reza tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya terus menahan emosinya saat wanita itu tak kunjung menjawab setiap sapaan yang di lontarkan oleh nya.


Dia paham dan sadar akan kesalahannya yang mungkin sudah fatal. Bayinya tiada karena perbuatan nya sendiri.


Kini Cleo sedang berada di halaman belakang mansion nya. Dia menatap kearah hamparan rumput hijau disana dengan tatapan kosong.


Drt drt drt


Ponselnya berbunyi. Dia lekas menoleh kearah benda pipih yang ada di sampingnya. Tertera nama Edo disana dan itu cukup membuat nya lega.


Dia mengulas senyum tipis di bibir nya dan bergegas mengambil ponsel itu dan menggeser tombol hijau disana hingga panggilan itu tersambung.


" Hallo, Kak. Kapan kau akan menjemput ku?"


Edo tertegun. Dia begitu terkejut saat mendengar penuturan dari Adik nya saat sambungan teleponnya terhubung.


Keningnya berkerut menandakan dia sedang berpikir keras. Apa gerangan yang sudah terjadi dengan adiknya itu hingga dia menanyakan kapan dia akan menjemputnya.


" Ada apa? apa ada masalah? apa Reza berbuat kasar padamu? katakan saja, biar kakak langsung memberinya pelajaran," sahut Reza.


Cleo tak langsung menjawab. Bibirnya tersenyum saat mendengar kekhawatiran sang kakak yang sudah lama tak dia temui.


Ya. Setelah mendengar keputusan Cleo beberapa bulan yang lalu. Edo memutuskan untuk kembali ke negara nya, dimana perusahaan keluarga nya berdiri.


Dia mempercayakan adiknya pada Reza. Dia sangat yakin bahwa pria itu akan menjaga adik nya dengan baik.


Dan tanpa sepengetahuan nya. Reza sudah berlaku kasar pada adiknya itu sehingga membuat wanita itu kehilangan bayinya.


" Tidak, kak. Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin berlibur dan bertemu dengan mu. Aku merindukan kakak ku dan ingin tinggal bersama mu untuk beberapa minggu," sahut Cleo berbohong dengan keadaan nya.


" Lalu bagaimana dengan Bryan?" tanya Edo.


" Aku akan membawa nya berlibur kak. Karena dia sedang libur panjang," sahut Cleo.


Edo tampak berpikir. Dia yakin pasti terjadi sesuatu disana, namun Cleo tak mau memberi tahu nya.


' Baiklah. Aku akan menyelidiki nya sendiri,' batin Edo.


" Kak. Tapi aku minta kakak yang meminta izin pada Reza. Aku takut dia tak mau mengizinkan ku untuk berlibur jika aku sendiri yang meminta izin pada nya," lanjut Cleo.


Edo semakin curiga.


" Baiklah, nanti aku akan menghubungi Reza untuk memberi tahu kan rencana mu itu," sahut Edo.


' Aku yakin ada sesuatu yang terjadi antara mereka,' batin Edo dengan ekspresi wajah yang tak bisa di tebak.