The Wedding Agreement

The Wedding Agreement
22 Keputusan



" Uncle Edo ingin membawa pergi Mommy dariku?" tanya Bryan.


Edo pun terdiam dia tampak memikirkan sesuatu dan Bagaimana baiknya untuk masalah ini.


" Tidak, sayang. Uncle hanya ingin menemui adik Uncle," sahut Edo sambil duduk di sofa dan mengusap lembut puncak kepala Brian.


Cleo tampak termenung dan tengah memikirkan sesuatu.


" Apa yang kau pikirkan?" tanya Edo sambil mengusap puncak kepala Cleo.


Wanita itu tak menjawab Dia hanya menatap ke arah Edo.


lalu Cleo menurunkan Brian dari pangkuannya.


" Bisakah kau ke kamarmu dulu, sayang? Aku ingin bicara pada kakakku yang nakal ini," kata Cleo pada Bryan.


" Baiklah, Mom," sahut Bryan.


Anak itu menatap tajam ke arah Edo.


" Uncle harus berjanji padaku, bahwa Uncle tidak akan membawa pergi Mommy dariku," kata Bryan sambil mengulurkan jari kelingkingnya pada Edo.


" Ya. Uncle berjanji," sahut Edo sambil menautkan jari kelingkingnya dengan jari mungil Bryan.


Hal itu membuat Cleo langsung menoleh dan menatap ke arah Edo dengan penuh pertanyaan.


Lalu Brian pergi dari ruang tengah dan masuk ke dalam kamarnya.


.


Kini Edo dan Cleo sudah ada di halaman belakang mansion itu. Mereka terlihat membicarakan sesuatu yang cukup serius tentang keputusan Cleo.


" Aku tidak bisa meninggalkan Bryan, Kak. Itu keputusanku saat ini," kata Cleo.


Edo sudah menduga keputusan yang akan diambil oleh adiknya itu.


" Lalu apakah kau bisa bertahan dengan pernikahan ini? aku tahu kau dan Reza bahkan tidak saling mencintai. Aku juga tahu kau dan Reza melakukan ini hanya demi permintaanku dan juga kemauan dari Bryan," kata Edo.


" Tapi setidaknya ada hikmah dari pernikahan ini, kita bisa memberikan kebahagiaan untuk Bryan, Kak," sahut Cleo.


" Dan itulah fokus utama kami dalam pernikahan ini," lanjut Cleo.


" Lalu bagaimana dengan surat kontrak perjanjian pernikahan kalian? di dalam kontrak itu aku hanya memberi waktu pada kalian hanya sampai aku bisa menjemputmu. dan sekarang aku sudah bisa menjemputmu," sahut Edo.


" Kalau tentang itu kakak bisa menanyakannya pada Reza. Aku mengikuti keputusan darinya, namun aku tidak akan pernah meninggalkan Bryan apapun keputusannya," jawab Cleo.


.


.


Dia ingin membahas tentang apa keputusan dari Reza setelah mendengar keputusan dari Cleo.


Mereka kini sedang makan malam bersama. Suasana di meja makan itu sangatlah hangat dengan kehadiran Edo.


Bryan terlihat sangat senang karena kehadiran Edo membuat suasana di meja makan itu sangat ramai.


.


Saat jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Cleo membawa Bryan masuk kedalam kamarnya.


Seperti biasa. Dia akan membacakan buku dongeng untuk anak itu sampai dia tertidur dan Cleo pun ikut tertidur di ranjang yang tak terlalu besar itu.


Reza dan Edo membuka perlahan pintu kamar Bryan dan melihat Cleo dan Bryan yang tertidur sambil berpelukan.


" Apa kau masih bisa memisahkan mereka?" tanya Edo.


" Tapi aku benar-benar tak bisa mencintai adik mu," sahut Reza.


" Itu karena sikap kalian yang sama-sama tak terbuka dan tak memberikan kesempatan pada hati kalian," sahut Edo.


Reza tak menjawab. Dia hanya menatap intens pemandangan hangat yang ada di hadapannya. Dan hal itu membuat hatinya menghangat.


" Aku tahu, aku tidak mungkin bisa memisahkan mereka," ucap Reza lirih.


Lalu dia menutup pintu kamar Bryan.


Mereka melanjutkan obrolan nya di ruang tamu.


" Akan ku pikirkan, tapi untuk syarat mu yang harus mencintai Cleo, itu aku masih sangat berat karena dia senang tak bisa bersikap selayaknya seorang istri pada suaminya," ucap Reza.


" Aku yang akan menasehati nya nanti," sahut Edo.


" Berikan aku waktu satu tahun. Jika aku bisa membuka hati untuk adik mu, maka surat perjanjian itu batal. Namun jika dalam waktu satu tahun aku tak tertarik dengan Cleo maka kau boleh membawa paksa wanita itu," sahut Reza.


" Baiklah, jika itu keputusan mu. Tapi ingat!! jangan coba-coba menyentuh nya jika kau belum membuka hati mu pada nya!!" tegas Edo.


Lalu pria itu pergi dari tempat itu.


Reza masuk kedalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia menatap langit-langit di kamar nya dan sedang memikirkan sesuatu sampai akhirnya dia terlelap.