The Wedding Agreement

The Wedding Agreement
Koper



Kini Edo dan Grey sudah ada di ruang makan bersama dengan Cleo. Wanita cantik itu sedang melayani sang kakak, dia mengambilkan makanan ke piring Edo dan langsung memberikan piring yang sudah terisi penuh dengan makanan pada Edo.


Sementara itu, Grey tengah mengawasi gerak gerik Cleo yang sangat cekatan menyiapkan makanan.


" Kau mau ku ambil kan juga?" tanya Cleo yang langsung menyadarkan lamunan Grey.


" Tidak perlu, aku akan mengambilnya sendiri. Terimakasih," sahut Grey.


Pria itu langsung mengambil piring kosong dan mengambil nasi goreng yang sudah tersedia di meja.


Cleo duduk dan langsung menyantap makanannya sendiri. Mereka makan pagi bersama tanpa ada yang bersuara.


Namun Cleo terlihat sedang melamun dan hanya mengacak makanannya saja. Edo melihat hal itu dan dia mengira bahwa pikiran Cleo pasti tertuju pada Bryan dan Reza.


Grey juga melihat hal itu dan dia tak berani bertanya apalagi ikut campur.


" Kau melamun?" tanya Edo sambil memegang pundak Cleo.


Wanita itu tersentak dan langsung tersadar.


Dia mengerjapkan matanya dan melihat kearah sang kakak.


" Maaf," lirih nya sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Edo kembali fokus dengan makanan nya begitu pun juga dengan Grey.


Hingga mereka menyelesaikan makanannya, Edo dan Grey hendak beranjak namun tiba-tiba Cleo memanggil nama sang kakak.


" Kak Edo!"


Edo menoleh pada Cleo saat mendengar namanya di panggil.


" Hmmm ..."


Cleo beranjak dan mendekati sang kakak.


" Sesukses inikah pekerjaan kakak disini?" tanya Cleo heran dengan semua fasilitas yang dia dapatkan dari sang kakak.


Edo mengerutkan keningnya. Dia sudah mengira pasti Cleo akan menanyakan hal ini.


Pria itu menghembuskan nafasnya dan menggenggam tangan Cleo.


" Ikut Kakak. Ada sesuatu yang ingin kakak tunjukkan pada mu," ucap Edo menarik tangan Cleo menuju ruang kerjanya.


Sementara Grey hanya berdiam diri.


" Grey ... Bukankah ada yang ingin kau katakan juga pada ku? Ikut ke ruangan ku!" tegas Edo menghentikan langkahnya.


" Baik, Bos!"


Grey pun lekas melangkah kan kakinya mengikuti sang Bos menuju ruangan kerjanya.


.


.


Cleo mengedarkan pandangannya kesegala sudut di ruangan itu yang menurut nya sangat lah mewah dan hampir sama dengan ruangan kerja Reza.


Edo mempersilahkan Cleo dan Grey duduk di sofa. Sementara Edo berjalan menuju meja kerja nya.


Pria itu berjongkok dan menekan tombol pin yang ada disana hingga pintu besi itu terbuka.


Edo mengambil sebuah koper kecil yang terbuat dari besi dan membawanya menuju sofa setelah mengunci lagi brankas nya.


Cleo melihat koper yang di bawa Edo. Wanita itu mengerutkan keningnya seakan mengingat benda apa itu.


Hingga Edo berdiri di hadapannya dan meletakkan koper itu tepat di depan Cleo. Cleo tampak melihat kearah koper itu.


Dia mengambil nya dan memutar nya.


" Kakak ... Ini__"


" Iya."


Potong Edo, dia seakan sudah tahu apa yang ingin di katakan oleh sang adik.


" Kau masih mengingat nya?" tanya Edo yang kini sudah duduk disamping Cleo.


" Ya. Aku sangat mengingatnya, Kak. Dan aku sempat mengira koper ini hilang karena aku sudah sangat lama tak melihatnya lagi."


Cleo masih membolak balikan koper itu.


Hingga dia meletakkan koper itu di atas pangkuan nya dan membuka sesuatu yang juga terbuat dari stenlis yang berfungsi untuk menutupi tempat dimana letak finger print nya.


Dan yang tahu letak itu hanya Cleo. Bahkan Edo tak tahu jika ada penutup stenlis itu disana.


Sejenak Cleo menatap kearah sang kakak dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


" Bukalah," ucap Edo meyakinkan.


Lalu Cleo menempelkan 3 jarinya di atas finger print itu. Dan secara otomatis kunci koper itu terbuka.


Tiba-tiba air matanya menetes. Dia tak bisa menahan air matanya lagi hingga tumpah membasahi pipinya.


Edo merangkul bahu Cleo dan mengecup puncak kepala nya.


" Ini yang Daddy siapkan untuk kita. Maaf jika kakak baru mengatakan hal ini sekarang," ucap Edo lirih.


Cleo memeluk tubuh Edo dari samping dan menangis di ceruk lehernya. Dia mengingat saat dulu dia mengikuti perintah sang daddy yang ternyata menyuruh nya untuk mengunci koper itu dengan jarinya.


Kepingan ingatan itu melintas di pikiran Cleo hingga dia tak kuasa menahan tangisnya.


Dan hari ini, setelah sekian lama. Cleo melihat koper itu lagi dan membukanya hanya dengan jarinya.


Grey yang duduk di sofa di seberang Cleo dan Edo juga ikut merasa terenyuh dengan pemandangan di depannya.