
Cleo membuka matanya. Dia mengedarkan pandangannya ke segala sudut ruangan yang dia sendiri tak tahu itu ada dimana.
Lalu dia melihat tangannya yang sudah ada selang infus disana. Dan matanya tertuju pada seseorang yang tertidur di kursi yang ada di sebelah ranjang.
" Akhirnya aku berakhir disini lagi," gumam Cleo.
Ya. Sudah kali ketiga Cleo di larikan ke rumah sakit karena perbuatan suaminya sendiri. Dan Reza akan meminta maaf pada nya dan akan mengulangi hal itu lagi dan lagi.
Reza terbangun karena Cleo menarik tangan nya yang di genggam oleh Reza. Dia menatap kearah wajah pucat Cleo dan mencium keningnya.
" Sorry," ucap Reza menciumi wajah Cleo bertubi-tubi.
" Ya. Dan kau akan mengulangi hal yang sama lagi dan lagi. Mungkin hingga aku mati," sahut Cleo memalingkan wajahnya.
" Jangan bicara seperti itu," sahut Reza.
Pria itu terlihat sangat menyesali perbuatannya. Dan Cleo melihat nya.
Reza menggenggam tangan Cleo dan menempelkan di kening nya. Pria itu menangis.
Hal itu membuat Cleo melihat kearah nya dengan tatapan heran. Karena kali ini pria itu menangis sesenggukan di depan nya.
" I'm sorry. Aku berjanji tidak akan berbuat seperti itu lagi. Ini sudah kali terakhir nya, dengan tuhan mengambil bayi kita dari kejadian ini. Aku benar-benar minta maaf," kata Reza dengan tangisnya.
Cleo tampak terkejut dengan penuturan Reza. Ya. Cleo kehilangan bayi yang bahkan belum dia ketahui kehadiran nya di dalam rahimnya.
Wanita itu langsung menarik tangan nya dari genggaman Reza.
" Keluar dari sini sekarang!!" tegas Cleo yang air matanya sudah menetes.
" Maaf kan aku, sayang. Jika saja aku tahu kau sedang hamil maka aku tidak akan. berbuat itu pada mu," kata Reza.
" KELUAR DARI SINI!!! KAU SUDAH MEMBUNUH BAYIKU!!!" teriak Cleo frustasi.
" Aku minta maaf. Kau boleh menghukum ku semau mu, aku hanya ingin meminta maaf," sahut Reza.
" TIDAK!!! KELUAR DARI SINI SEKARANG! AKU TAK MAU MELIHAT WAJAH MU LAGI!!"
Dia menangis sejadi-jadinya. Dia mengamuk dan begitu frustasi hingga Reza memanggil dokter untuk menenangkan Cleo.
.
.
Di tempat lain. Edo keluar dari mobil nya, dia berjalan menuju gudang tempat Edward menyekap Marlin.
Wajah nya menampakan guratan emosi. Matanya tajam nya menyalang merah dan terlihat sangat emosi dengan tindakan Edward yang sudah berani membawa orang lain dalam masalah ini.
BRAAKK
Edo mendobrak pintu itu dengan sekali hentakan dari kaki jenjangnya. Hingga membuat orang yang ada di dalam tersentak kaget.
" Lepaskan dia sekarang juga!" bentak Edo.
" Tidak semudah itu."
DOR
Edward langsung menembak Marlin di hadapan Edo. Hingga membuat Edo berteriak dan semakin emosi.
Pria itu menghampiri Marlin yang sudah tak sadarkan diri karena peluru itu sudah bersarang tepat di dalam dadanya.
" Uncle. Sadarlah!!" teriak Edo.
Terdengar tawa Edward menggelegar di gudang sempit itu. Dia merasa sangat puas karena sudah membuat orang yang dekat dengan Edo celaka.
" Kau juga mau seperti itu, Ed? aku akan dengan senang hati melakukannya," kata Edward sambil mengarahkan pistol nya pada Edo.
Pria itu menoleh dengan tatapan tajam nya.
Edward menyeringai dan sudah bersiap untuk melepaskan pelurunya kearah tubuh Edo.
" Aku sudah tak membutuhkan mu dan harta mu. Aku hanya ingin kau dan adik mu mati di tangan ku!" Tegas Edward.
Pria itu mulai menekan tuas di pistolnya dan ...
DOR DOR
Terdengar suara tembakan pistol. Edo membelalak kan matanya saat melihat Edward sudah terkapar di lantai yang kotor itu.
Lalu Edo melihat kearah pintu yang ternyata adalah Remon. Ya, Remon merasa sangat khawatir saat mendapati Tuan nya yang berangkat tanpa pengawalan dari anak buahnya.
Dia bergegas mengikuti kemana mobil Edo melaju dan disini lah dia saat ini.
" Uncle. Terimakasih kau datang tepat waktu," kata Edo.
" Hmmm ... harusnya kau tak nekat datang sendiri ke tempat ini, Ed," sahut Remon sambil berjalan kearah Edward yang sudah tak bergerak.
Dia memeriksa nadinya. Dan ternyata dia sudah meninggal.
" Dia sudah mati."
Edo menoleh kearah Remin dan melihat kearah Edward yang sudah tak bernyawa.
" Aku tidak peduli. Uncle tolong urus mayat nya dan aku akan membawa Uncle Marlin ke rumah sakit," kata Edo.
" Ya. Sebaiknya kau harus cepat sebelum dia kehilangan banyak darah," sahut Remon menghampiri Edo dan membantu nya mengangkat tubuh Marlin ke mobil nya.
Edo langsung membawa Marlin ke rumah sakit. Dan Remon langsung menelpon anak buahnya untuk membantu nya mengurus mayat Edward.