The Wedding Agreement

The Wedding Agreement
Kopi



Milea membawa nampan yang sudah berisi secangkir kopi dan juga camilan yang di minta oleh majikan tampan nya.


Wanita itu berjalan dengan perlahan ke ruang tengah dimana Edo sedang menonton film di televisi raksasa yang ada di ruangan itu.


Saat sudah ada di ruang tengah, Milea mengatur deru nafasnya yang cepat serta dada nya yang kembali berdebar hanya dengan melihat bagian belakang kepala Edo yang bersandar di sofa.


Lalu Milea langsung menyajikan kopi serta camilan yang dia bawa di meja yang ada di hadapan Edo.


Pria itu tampak fokus pada layar besar yang menyala di depan nya. Milea mencuri pandangan kearah Edo yang tampak serius menonton film trailer yang dia putar.


Dan dia terlihat sangat tampan di mata Milea.


" Apa ada lagi yang Anda butuhkan, Tuan?" tanya Milea yang masih berdiri di samping meja.


" Tidak, kau boleh beristirahat. Terimakasih," sahut Edo tanpa menatap kearah wajah cantik Milea.


" Baiklah. Saya permisi dulu, Tuan."


Edo mengangguk kan kepalanya dan sekali lagi dia tak melihat Milea yang tersenyum pada nya.


Milea membalikkan tubuhnya dan berjalan dengan perlahan menuju dapur untuk meletakkan nampan nya.


Wajah nya tertunduk lesu saat mengingat Edo yang sama sekali tak melihat kearah nya.


' Apa yang kau harapkan, Mil? dan kenapa hatiku merasa sesak?' batin Milea sambil terus berjalan lemas.


Hingga dia sampai di dapur dan meletakkan nampan yang dia bawa ke tempat nya semula. Milea berbalik pergi dari dapur dan mematikan lampu yang ada di sekitar ruang makan.


' Dia bahkan tak menanyakan namaku, siapa aku atau mengintrogasi ku seperti yang di lakukan Mas Grey waktu itu,' batin Milea sambil melihat kearah ruang tengah.


Lalu dia berjalan menuju pintu belakang yang langsung tertuju ke paviliun tempat dirinya tinggal.


Namun langkah nya terhenti saat mendengar suara bariton dari seorang pria yang sudah berdiri di belakangnya.


" Tunggu!!!"


Milea berhenti dan menoleh. Dia melihat wajah tampan Edo meskipun keadaan yang sudah remang-remang.


" Iya, Tuan. Apa ada yang Anda butuhkan lagi?" sahut Milea sopan.


" Apa kau keponakan Bibik Neli?" tanya Edo dengan wajah datar nya.


Milea mengangkat wajahnya dan melihat kearah Edo. Matanya bertumpu dengan mata tajam Edo dan dia langsung mengalihkan nya.


" I-iya, Tuan. Bibik Neli yang menyuruh ku untuk mengganti kan nya sementara di mansion ini," sahut Milea dengan wajah yang kembali menunduk.


" Kalau begitu kau harus melakukan semua pekerjaan nya mulai besok. Termasuk menyiapkan pakaian kerjaku di kamar!"


" B-baik, Tuan."


Edo langsung berbalik dan mulai melangkah kan kakinya. Milea melihat punggung lebar Edo dan langsung berbalik, dia mengambil ponselnya yang dia letakkan di meja dekat pintu belakang.


" Ah ya. Siapa nama mu?" tanya Edo menghentikan langkahnya dan hanya menoleh kan kepalanya.


Milea mendekap ponselnya dan tersenyum saat Edo menanyakan namanya. Dia berbalik dan melihat punggung lebar Edo.


" Milea Blossom!" sahut Milea semangat.


Edo tersenyum miring dan itu masih terlihat oleh Milea.


" Mulai besok kau harus menyiapkan kopi setiap pagi untuk ku! Aku menyukai kopi buatan mu," ucap Edo dan langsung berjalan kearah ruang tengah tanpa melihat kearah Milea yang sudah tersenyum bahagia.


" Baik, Tuan!" sahut Milea semangat.


Senyum lebarnya terlihat dan itu semakin menambah kecantikan nya. Milea begitu bahagia saat Edo mengatakan bahwa dia menyukai kopi buatan nya.


Dia berbalik dan segera kembali ke paviliunnya untuk segera mengistirahatkan tubuh nya. Karena besok pagi dia harus menyiapkan segala keperluan Edo termasuk pakaian kerja nya.


Bahkan pria itu meminta nya untuk membuat kan kopi setiap pagi untuk nya.


Milea masuk kedalam paviliun kecil tapi menurut nya itu sangatlah nyaman dan besar dari pada kamar nya yang berada di kampung.


Dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang berukuran tak terlalu besar dan itu sangat nyaman bagi Milea.


Senyumnya masih tersungging saat dia melihat senyum tampan Edo pada nya tadi. Apalagi suara bariton nya yang mengatakan dia menyukai kopi buatan nya.


Kata-kata itu selalu terngiang di kepala nya. Entah kenapa dia bisa sampai sebahagia itu.


Namun satu yang dia tahu. Milea menyukai majikan tampan nya.


" Aku wanita normal, wanita mana yang tidak menyukai makhluk setampan dia? Dan itu hanya sebatas suka dan tak akan ada kelanjutannya," gumam Milea menyadari siapa dirinya dan siap Edo.


Lalu dia mulai memejamkan matanya setelah meletakkan ponselnya di sebelah bantal nya. Karena dia sudah menyalakan alarm di ponsel itu agar dia tidak bangun kesiangan.


EDO ANTONIO GAZALI



MILEA BLOSSOM