The Wedding Agreement

The Wedding Agreement
18. Wanita penggoda



Cleo melepaskan ciuman itu dengan mendorong dada Reza hingga ciuman itu terlepas.


" Kau melupakan wanita murahan yang masih ingin menggodamu, suami ku," ucap Cleo sambil melihat kearah wanita yang terlihat sangat kesal di samping Reza.


" Apa kau bilang? wanita murahan! asal kau tahu, Reza selalu tidur denganku sebelum bertemu dengan mu!!" sahut wanita itu kesal.


" Benarkah? itu sudah biasa karena kau wanita murahan. Dan sebelum aku bertemu dengannya ternyata suami ku juga pria murahan jadi kalian memang cocok," sahut Cleo yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Reza.


" Tapi tidak untuk sekarang. Dia sudah resmi menjadi suami ku, dan aku tidak akan membiarkan suami ku tergoda oleh wanita murahan seperti dirimu," lanjut Cleo.


Wanita itu tampak sangat kesal. Dia merasa terinjak-injak harga dirinya di depan para pria yang berkumpul disana.


Dia mengepalkan tangannya dan berjalan menghampiri Cleo namun Reza menahannya.


" Kau mau apa? jika kau berani menyentuh nya, maka aku akan menyuruh anak buah ku untuk menyeret mu dari acara ini!" tegas Reza dengan tatapan tajam nya.


" Aku ingin memberinya pelajaran, Reza. Dia sudah berani mengatakan aku wanita murahan!!" teriak wanita itu tak terima.


Semua para tamu tampak menatap kearah mereka.


" Kau memang wanita murahan," sahut Reza menghempaskan tangan Berlin.


" Kau juga, suamiku," sahut Cleo tersenyum licik.


Wanita itu langsung pergi dari tempat itu dan berjalan menuju mansion. Dia sangat lelah dan di tambah dengan kejadian itu yang membuat dia begitu muak.


Cleo menghempaskan tubuhnya di ranjang saat sudah berada di dalam kamar nya. Dia menatap kearah langit-langit kamar itu.


" Ya. Inilah pernikahan ku. Dan aku harus kuat demi kakak dan juga demi senyuman dari Bryan."


Cleo langsung bangkit dan melepaskan gaunnya dan masuk kedalam kamar mandi. Dia ingin menenangkan diri dan pikirannya dengan berendam dalam bisa sabun yang melimpah.


.


.


" AAAARRGGH!!! MEREKA SUDAH MEMBODOHI KU SELAMA INI!!" teriak Edward.


Pria paruh baya itu baru tahu bahwa tombol pin yang ada di koper itu tidak berfungsi.


" Lalu bagaimana cara nya agar kita bisa membuka koper ini?" sahut Edwin. Istri Edward.


Edwin adalah wanita yang dulu menjebak Antoni hingga berhasil menikahinya, dan dia juga yang telah memberikan obat pada setiap makanan yang di makan oleh Antoni hingga pria itu meninggal dunia.


" Aku akan membawa koper ini pada salah satu temanku," kata Edward sambil membawa koper itu.


" Lalu bagaimana dengan Edo? apa dia benar-benar sudah mati?" tanya Edwin. Mendengar pertanyaan itu membuat Edward langsung menghentikan langkahnya.


" Entahlah. Dia belum ditemukan sampai saat ini, jika memang dia sudah meninggal Kita harus mencari keberatan Putri dari Antoni. Hanya dia kunci dari koper ini," sahut Edward.


" Tapi dulu dia masih sangat kecil, dan tak mungkin gadis itu tahu tentang hal ini," sahut Edwin.


" Ya. Kau benar, tapi di mana gadis itu sekarang? kenapa keberadaannya seolah disembunyikan?" tanya Edward. Dia baru menyadari hal ini.


" Aku yakin pasti Edo sengaja menyembunyikan adiknya itu di suatu tempat," jawab Edwin.


" Kita pikirkan hal itu nanti, aku akan menemui salah satu temanku untuk memeriksa kembali koper ini," sahut Edward.


Pria itu berjalan keluar dari rumah kecil dan kumuh itu yang menjadi tempat persembunyiannya saat ini.


" Cleo ... di mana kau gadis kecil," gumam Edwin.


.


.


Di tempat terpencil, tepatnya di suatu desa yang terletak di tengah hutan.


Seorang pria tampan tengah membantu seorang wanita paruh baya yang tengah memanen sayuran yang ditanamnya di kebun itu.


Pria itu adalah Edo. Dia berhasil selamat dari kejadian mengerikan itu, dia ditemukan oleh wanita baru bayar saat melintas di kawasan jurang itu untuk mencari kayu bakar.


Edo terjatuh dari atas tebing dan ditemukan tergeletak oleh wanita itu, lalu wanita itu memanggil suaminya untuk membawa Edo yang sedang terluka parah akibat sebuah tembakan di kakinya.


Sejak saat itu Edo bersembunyi di desa itu, dia memerintahkan asistennya untuk menjalani rencana yang sudah dia susun sedemikian rupa, agar bisa merebut kembali koper yang ada di tangan Edward.


" Uncle ... kau baru datang?" sahut Edo yang tidak menjawab pertanyaan dari Marlin.


" Ya aku baru datang dan ini ada surat untukmu," kata Marlin sambil memberikan amplop coklat kepada Edo.


Edo menerima amplop itu dari tangan Marlin. Pria paruh baya itu bekerja di kota, dan dia selalu menyempatkan diri untuk pulang ke desa karena tak mau meninggalkan sang istri sendiri di rumah yang cukup jauh dari permukiman warga dan terletak di tengah hutan.


" Kau belum menjawab pertanyaanku," kata Marlin.


" Dia masih belum ditemukan, Uncle," sahut Edo.


" Kau sudah datang, Suamiku?" tanya Mirna, istri dari Marlin.


" Ya. Aku baru saja tiba, apa panennya sudah selesai?" tanya Marlin.


" Ya, berkat bantuan dari Edo, panenku sudah selesai dan lihat hasilnya. Sangat banyak bukan?" sahut Mirna.


Lalu Marlin dan Edo membawa hasil panen itu ke rumah mereka. Setibanya di rumah pasangan paruh baya itu, Edo mencuci tangannya lalu dia masuk ke dalam rumah yang berdinding kayu itu.


Dia duduk di ranjang kayu yang hanya beralaskan karpet, lalu dia membuka isi surat yang diberikan oleh Marlin.


Senyumnya mengembang saat melihat sebuah foto pernikahan dari Cleo dan Reza.


" Kalian memenuhi permintaanku," gumamnya.


Lalu dia membuka isi suratnya.


~~ Isi surat itu ~~


aku sudah menyelidiki keberadaan dari Tuan Edward dan Nyonya Edwin. Mereka bersembunyi di sebuah rumah kecil yang ada di tengah kota.


Sepertinya mereka sudah mengetahui tentang tombol PIN yang tidak berfungsi dari koper itu. Edward terlihat membawa koper itu kepada salah satu temannya mungkin untuk memeriksa koper itu.


Kita sudah mengetahui pergerakan Edward dan Edwin, mereka terlihat sedang mencari seseorang dan aku berpikir yang sedang dicari oleh Edward adalah Nona Cleo.


Lalu bagaimana rencana selanjutnya? apa kita akan melanjutkan rencana Tuan untuk mengambil koper itu? atau mengubah rencana dengan menyembunyikan keberadaan Nona Cleo?


.


Edo menutup kembali surat itu dan memasukkan ke dalam amplop coklatnya. Marlin datang dan menghampiri Edo.


" Sebenarnya Apa yang sedang kau rencanakan? mungkin aku bisa membantumu, katakan saja padaku," kata Marlin.


" Adikku dalam bahaya, mereka akan mengincar adikku," sahut Edo yang tak menjawab pertanyaan dari Marlin.


" Apa sebenarnya masalahmu? kenapa mereka ingin membahayakanmu dan adikmu?" tanya Marlin.


" Bukan masalah yang besar, Uncle. Tapi masalah ini cukup rumit karena ini menyangkut keselamatan dari adikku," sahut Edo yang tak langsung percaya pada seseorang yang baru dia kenal.


" Lalu apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Marlin lagi.


" Tidak, Uncle. Kau sudah banyak membantuku, terima kasih."


" Lalu kapan kau akan keluar dari sini? tidak mungkin kau terus bersembunyi di sini, kan?" tanya Marlin lagi.


" Minggu depan aku akan mencoba keluar dari desa ini," sahut Edo meyakinkan diri nya.


" Lebih cepat lebih baik. Karena ini menyangkut keselamatan adikmu," sahut Marlin.


" Ayo kita makan malam bersama," ajak Marlin.


Lalu Edo pun mengikuti langkah Marlin keluar dari ruangan itu. Terlihat Mirna sedang menyajikan makanan yang baru dia masak.


Hanya makanan sederhana, nasi putih sayuran dan lauk tempe dan tahu. Hanya itu makanan yang sering Edo makan di tempat itu.


Tapi entah kenapa dia merasa nyaman, karena dia merasa memiliki orang tua baru.


Mirna serta marlin sangat perhatian pada Edo, itu sangat membuat Edo nyaman berada di tengah-tengah mereka meskipun dalam keadaan yang sederhana.


Hal itu membuat pasangan paruh baya itu tidak kesepian karena kehadiran Edo.


Marlin dan Mirna memiliki seorang putri yang tengah berkuliah di kota dengan beasiswa yang didapatnya.


' Ya. Uncle benar, lebih cepat lebih baik. Cleo ... aku akan segera menjemputmu,' batin Edo.