The Wedding Agreement

The Wedding Agreement
13



Ke esokan harinya.


Di mansion kediaman keluarga Rahardjo.


Dok Dok Dok


" Daddy!!! Daddy!!! Banguunn!!" teriak Bryan sambil terus menggedor pintu kamar Reza.


Pria yang ada didalam kamar pun mengumpat dalam hati karena ada yang mengganggu tidur nya.


Dengan malas dia beranjak dari ranjang nya dan berjalan menuju pintu. Lalu membuka nya.


" SURPRISE!!!" teriak Bryan dan Zi yang sudah ada di depan pintu kamar Reza sambil membawa kue kecil.


" Kalian mengganggu tidur ku saja," kata Reza tak menggubris kejutan itu dan masuk kembali kedalam kamarnya.


" Iiiiishh ... Kakaaak!!! Ini hari ulang tahun mu!! Setidaknya hargailah usaha kami dengan meniup lilin nya," sahut Zi sambil mengikuti langkah Reza.


" Huuffft ... Baiklah-baiklah."


Reza langsung berbalik dan meniup lilin yang ada di kue itu.


" Yeeeeyy ... Selamat ulang tahun, DAAD!!" sorak Bryan sambil melompat-lompat dengan merentangkan kedua tangannya seakan minta untuk di gendong.


Reza tersenyum dan langsung menggendong anak itu dan membawanya ke ranjang.


" No!!! Lepaskan aku, Dad!!" teriak Bryan saat Reza memeluk nya erat di atas ranjang bagaikan sebuah guling.


" No!!! Kau harus di hukum karena sudah mengganggu tidur ku," sahut Reza sambil menggelitiki Bryan.


Mereka pun tertawa di dalam kamar itu. Zi meletakkan kue yang ada di tangan nya ke meja dan ikut bergabung dengan kakak dan keponakan nya itu.


Mereka pun saling menggelitik di atas ranjang yang sudah tak berbentuk itu.


.


.


Kini mereka sedang sarapan bersama di ruang makan.


" Kak. Apa kau tak ingin menikah? Umur mu sudah hampir 30 thn. Dan Bryan membutuhkan seorang Momy," kata Zi di sela-sela makan pagi nya.


" Daddy sudah melamar seorang wanita. Apa Daddy belum memberi tahu Aunty?" sahut Bryan.


" Benarkah? Aunty penasaran, siapa gerangan wanita malang itu," sahut Zi dengan tawanya.


Bryan pun ikut tertawa karena dia cukup tahu ketengilan daddy nya dan sikap keras nya.


" Dia melamar wanita itu untuk ku, Aunty," kata Bryan dengan percaya dirinya.


" Benarkah? Jadi karena bukan cinta?" jawab Zi.


" Cinta kok. Nona Cleo mengatakan bahwa dia jatuh cinta pada ku sejak pandangan pertama."


Zi menatap kearah sang kakak dan Reza hanya menghendikkan bahunya.


" Terimakasih, Dad. Terimakasih kau sudah mau menikahi nona Cleo untuk ku, aku sangat senang karena aku akan memiliki Momy yang sangat mencintai ku."


Reza tersenyum mendengar ucapan dari bocah itu dan dia mengacak rambut pirang Bryan.


" Nona Cleo? Apa yang Bryan maksud itu nona Cleo Antonia Ghazali?" tanya Zi penasaran.


" Ya. Itu namanya, Aunty. Apa kau mengenal nya? dia sangat cantik dan sangat pantas jika menjadi Momy dari seorang anak tampan seperti ku," kata Bryan.


Hal itu membuat Reza dan Zi tertawa dan sama-sama mencubit gemas pipi chubby Bryan.


Lalu mereka pun berangkat. Reza berangkat menuju perusahaan langsung. Sementara Zi mengantarkan Bryan dulu ke sekolah nya dan akan langsung menuju perusahaan setelah itu.


.


.


Reza tiba di perusahaan nya. Kini dia sedang berjalan untuk masuk kedalam ruangan kerja nya.


Pria itu melihat kearah wanita yang tengah melamun di meja kerja yang berada di depan ruangan nya.


Cleo pun kembali memfokuskan dirinya dengan pekerjaan nya. Dia sedang sangat malas untuk berdebat dengan siapa pun.


Drt drt drt


Ponsel Reza berbunyi, dia langsung mengangkat telponnya karena itu panggilan dari Momynya.


" Hallo, Son. Aku dengar kau akan menikah? Apa itu benar?" tanya Moza, Momy Reza.


' Huuffft ... Kenapa cepat sekali gosip itu menyebar,' batin Reza sambil memijat keningnya.


" Hmmm ... apa Zi yang sudah memberi tahu mu, Mom?" tanya Reza.


"No. Apa kau lupa Momy mempunyai seorang mata-mata kecil yang selalu melengket pada mu?" sahut Moza sambil tertawa pelan.


" Hmmm ... Aku melupakan bocah tengil itu."


Moza pun tertawa mendengar perkataan Reza.


" Daddy ingin bicara denganmu."


" Hmmm ...," sahut Reza.


" Hallo, son. Aku tahu kabar mu pasti baik-baik saja karena kau sedang bahagia karena sudah menemukan tambatan hati mu," ejek Rekza, Daddy Reza.


" Come on, Dad. Aku hanya memenuhi permintaan cucu tersayang mu itu," sahut Reza.


" Hmmm ... Baiklah. Tapi jika wanita itu tak cantik dan tak seksi kau pasti akan menolak, kan?" kata Rekza menggoda putra nya.


" Dad ...."


" Aku sangat mengenal mu, Boy. Kalau wanita itu tidak berhasil menarik perhatian mu tidak mungkin dengan mudah kau memenuhi permintaan Bryan, bukan?" kata Rekza yang sangat tahu karakter dari putra nya yang sangat pemilih.


' Itu karena kalian tak tahu apa yang mendasari dari pernikahan ini,' batin Reza.


" Biar daddy tebak. Wanita itu pasti juga keras kepala seperti mu dan dia selalu membantah mu, right?" ucap Rekza lagi.


" Ya. Tebakan daddy memang tak pernah salah," sahut Reza.


" Tapi ku harap kau tak mempermainkan sebuah pernikahan, Boy. Daddy tidak akan memaafkan mu jika kau berani mempermainkan sebuah pernikahan," ucap Rekza tegas yang membuat Reza terdiam.


" Kau sedang tak bermain dengan pernikahan, bukan?"


" Tidak, Dad. Aku sedang tak bermain-main," sahut Reza.


" Syukurlah. Kapan pernikahan itu akan di laksanakan?"


" Minggu depan, di mansion keluarga saja," sahut Reza.


" Baiklah, Jumat aku akan terbang kesana, bye Son."


Reza menatap ponselnya yang sudah mati.


" Aku tak akan mempermainkan sebuah pernikahan, Dad. Aku janji, tapi jika dia yang meminta sebuah perceraian kelak, aku akan langsung mengabulkan nya," gumam Reza.


.


.


Cleo menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Dia menyiapkan berkas-berkas untuk meeting yang di minta oleh Haikal.


Haikal adalah asisten dan bisa di bilang tangan kanan Reza yang akan mengatur jadwal serta selalu standby bila bosnya memerlukan bantuan nya.


Cleo adalah sekretaris Reza yang bertugas untuk menyiapkan semua keperluan berkas yang di butuhkan oleh Reza. Dia tidak perlu mengikuti meeting Reza bersama para rekan bisnisnya karena itu sudah menjadi tugas Haikal yang selalu ikut kemanapun Reza pergi.


Cleo menyelesaikan pekerjaan nya dengan cepat dan tepat di jam makan siang. Wanita itu membereskan berkas-berkas nya dan bangkit dari kursinya.


Tiba-tiba telepon yang ada di mejanya berbunyi.


" Ya, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?" kata Cleo mengangkat telepon itu.


" Ke ruangan ku sekarang! Dan bawa berkas yang tadi di minta Haikal!!" tegas Reza dan langsung memutuskan panggilan itu.


" Huuuft ... apa dia tidak melihat jam? ini sudah jam makan siang tapi dia malah menyuruh ku untuk ke ruangan nya. Tidak tahu apa, cacing-cacing di perut ku sudah pada demi," gerutu Cleo sambil mengambil berkas yang di minta Reza.