The Lion, PRINCESS CEO.

The Lion, PRINCESS CEO.
EPISODE 08 PRINCESS CEO



" Miss ada kabar bahwa Nyonya Purima di bawa kerumah sakit," ucap sekertaris Yuna dengan cemas.


" Apa ! Saya akan kerumah sakit, kamu urus semua ini dan bawa berkas berkas yang akan saya urus ini kerumah utama." ucap Maoura panik.


" Baik Miss."


...


Setelah samapai di Rumah Sakit Raden Widjaya, Maoura berlari di koridor dengan perasaan yang sangat khawatir. Para bodyguard dengan sigap memblokir jalan untuk Bos mereka.


" Kakek bagaimana keadaan Nenek,?"tanya Maoura yang merasa sangat khawatir.


" Maoura Nenekmu telah beristirahat dengan tenang sekarang, tabahkan dirimu," ucap kakek sambil menundukkan kepalanya.


" Apaaa..! Kakek kenapa bisa seperti ini, dokter tolong jelaskan kepada saya," ucap Maoura yang belum bisa menerima kenyataan bahwa Nenek yang selama ini menemaninya pergi begitu saja. Padahal selama ini yang dia tau Neneknya tidak pernah sakit.


" Maaf Miss Maoura, penyakit jantung Nyonya Purima sudah sangat parah di tambah dengan usianya yang sudah menua tidak memungkinkan untuk dia bertahan lebih lama lagi," ucap dokter menjelaskan.


" Hik hik hik Nenek, kenapa Nenek tidak pernah mengatakan jika Nenek memiliki penyakit jantung. Hik hik hik kakek, sejak kapan Nenek menahan sakit yang dia derita,?" tanya Maoura.


" Kurang lebih lima tahun terakhir Nenekmu mulai merasakan gejala gejala itu, Nak tenangkan dirimu, ikhlas kan Nenekmu agar dia bisa beristirahat dengan tenang," bujuk kakek mencoba menenangkan Cucunya.


..


Di acara pemakaman ini Raden Widjaya hadir tanpa di dampingi istrinya Sarla Suerdja. Acara pemakaman ini sangat di batasi, hanya orang orang tertentu yang boleh menghadiri dan mengikuti acara pemakaman. Tuan Widjaya sangat berhati hati karena tidak ingin melakukan kesalahan lagi. Jika tidak maka nyawa Cucunya akan menjadi sasaran empuk para musuhnya.


setelah acara pemakaman selesai, para saudara berkumpul. Bahkan Nyonya Yuan Li saudari tiri Kakek yang berada dari negeri Tirai bambu ikut hadir. Nyonya Yuan Li tidak sendiri, dia datang bersama anaknya Shianhai dan cucunya Luna Shan. Tuan Suerdja dan Nyonya mandalika orang tua dari Sarla Suerdja pun mengahadiri acara ini bersama anak mereka Danu Suerdja.


" Kakak kami datang dari sekian lama, aku berturut duka atas kepergian kakak perempuanku. Dan kemungkinan tidak lama lagi aku menyusulnya," ucap Nyonya Yuan Li.


" Apa yang kamu bicarakan Yuan," Ucap kakek yang sedikit tidak nyaman dengan ucapan adik tirinya.


" Kakak sudah sangat lama kamu tidak berkunjung ke tempat kami, dari saat kabar Maoura meninggal kamu tidak pernah datang untuk menemui kami," Ucap Yuan merasa telah di abaikan.


" Ada banyak yang harus aku kerjakan Yuan, tetapi aku tidak lepas tanggung jawab begitu saja, bukankah aku selalu mengirim kalian uang," ucap kakek mengingatkan.


" Iya aku tau kakak, dan terima kasih karena kamu sudah mau membantu masa masa sulit kami." Ucap Yuan singkat, dia merasa kurang nyaman dengan kejujuran kakaknya karena disana ada Tuan Suerdja dan keluarganya.


" Tuan Widjaya, bolehkah kami bertemu dengan Cucu kami." ucap Tuan Suerdja yang baru mengetahui jika cucunya tidak jadi mati.


" Maafkan aku Tuan Suerdja, karena hampir 15 tahun ini aku telah membohongi kalian," ucap kakek dengan merasa sangat bersalah.


" Anda memang sedikit keterlaluan Tuan. Kami tahu anda adalah orang yang sangat kaya dan terpandang, kamu bisa menyembunyikan Cucuku dari dunia tetapi tidak bisa menyembunyikan Maoura dari kami. Dan bagaimana bisa Maoura bangkit dari kematiannya?" ucap Nyonya Mandalika yang sedikit tersulit emosi.


" Nyonya Manda sebenarnya Maoura memang telah tiada, yang ada di hadapan kalian adalah kembaran Maoura 1. Mereka adalah anak kembar dan kami menamai mereka Maoura 1 dan Maoura 2." penjelasan Tuan Widjaya membuat semua yang ada di sana sangat terkejut kecuali Danu Suerdja, dia malah tersenyum yang sangat aneh.


" Apaaa!! jadi kami selama ini memiliki cucu kembar dan kami tidak tahu," ucap Nyonya Manda yang langsung memegangi kepalanya karena yang terasa sakit, karena dia memiliki darah tinggi.


" Sayang tenangkan dirimu, Tuan Widjaya pasti memiliki penjelasan tertentu sampai sampai harus membohongi kita selama ini," ucap Tuan Suerdja membujuk Istrinya yang sudah sangat menua agar tenang.


" Maafkan sungguh maafkan aku Tuan dan Nyonya Manda, sungguh aku sangat merasa bersalah. Sebagai gantinya kalian tinggallah disini sementara waktu untuk melepaskan rindu kalian kepada Maoura," ucap kakek memohon maaf yang sedalam dalamnya.


Mereka semua hanya terdiam, tidak ada yang berbicara lagi. Hanya isak tangis Nyonya Manda yang terdengar di ruangan itu.


Di tempat lain, Maoura menemani Luna untuk meletakkan barang barang mereka ke dalam kamar khusus keluarga. Awalnya pelayan ingin membantu tetapi Luna menolak dan Maoura dengan inisiatif untuk membantu Luna.


" Maoura apa kamu tau, kamu benar benar sangat cantik. Oya bagaimana bisa kamu hidup dari kematian selama bertahun tahun?" tanya Luna yang penasaran.


" Luna selama ini aku tidak pernah mati, tetapi kembarankulah yang mati. Kami anak kembar keluarga ini biasanya memanggil kami dengan sebutan Maoura 1 dan Maoura 2, dan aku adalah Maoura2, tetapi sekarang sudah tidak ada Maoura1 ataupun Maoura2 yang ada sekarang hanya Maoura." ucap Maoura menjelaskan panjang lebar.


" Ohh ya ampuun, pantas saja kamu terlihat berbeda, kamu lebih banyak bicara daaaaan mata kamu terlihat lebih manis ketimbang saudari kamu itu yang memiliki mata bak seekor elang, rasanya tubuhku ini mati berdiri disaat berhadapan dengannya dulu. Uuups," ucap Luna yang langsung menutup mulutnya, dia sadar telah lancang berkata yang tidak tidak kepada keluarga yang sangat terhormat ini.


" Tidak apa Luna, aku mengerti," ucap Maoura dengan senyum manisnya. Di dalam rumah Maoura di izinkan untuk tersenyum manis kepada keluarga mereka.


" Uuuuh kamu benar benar manis sekali, apa kamu tahu Maoura. Dahulu saat masih kecil Maoura 1 sering sekali berkunjung ke tempat kami, dia sangat senang menjitak keningku ini karena aku terlalu cerewet baginya, Hemm dia sangat menyebalkan," Tutur Luna lagi, dia mengingat ngingat masa masa itu.


" Benarkah," ucap Maoura yang berantusias mendengarkan cerita Luna. sungguh Maoura sangat senang karena selama ini dia tidak memiliki teman untuk bercanda gurau.


" Dan apakah kamu tahu Maoura, walaupun saudarimu itu sangat cuek tetapi dia sangat hebat dan jago. Saat itu kami sedang membeli makanan ringan, di saat kami berjalan pulang ada beberapa preman jahat menghadang kami, mereka ingin membawa kami dan menculik kami, tapii tidak pernah aku duga saudarimu mampu menghajar 3 preman sekaligus dengan tangan kosongnya," ucap Luna yang terkagum kagum mengingat saudarinya yang telah tiada itu.


" Kamu benar Luna dia sangat hebat, jika bukan karena aku dia pasti akan menang dan berada di sini bersama kita," ucap Maoura dengan wajah sendu'nya.


" Maoura ini adalah takdir, jangan salahkan dirimu lagi, yang terpenting sekarang kita harus banyak banyak berdoa agar dia bisa tenang di alam sana," ucap Luna mencoba menenangkan Maoura.


" Terima kasih Luna," ucap Maoura yang merasa senang karena memiliki tempat untuk bercurah.


...


Di meja makan, Nyonya Manda dengan sangat senang menyuapi cucunya. semua itu membuat para keluarga tersenyum terharu.


" Nenek aku bisa makan sendiri, seharusnya sekarang akulah yang menyuapi Nenek," ucap Maoura senang tetapi dia juga merasa malu, sudah besar tetapi masih di manja seperti ini.


" Cucuku sayang biarkan nenek melakukan ini sebelum nenek pergi, nenek merasa sangat senang karena kamu ternyata masih hidup. Kamu tenang saja nak, nenek akan menghukum kedua orang tuamu karena telah menelantarkan cucu nenek," ucap Nyonya Manda yang membuat Tuan Raden menciut, dia mengakui dia memang salah, tetapi dia tidak bisa berbuat apa apa.


" Tidak nenek, Mami dan Papi tidak bersalah, Maoura sendirilah yang memilih jalan ini, nenek jangan menghukum mereka karena mereka sangat menyayangi Maoura," ucap Maoura memohon agar neneknya mau memaafkan kedua orang tua nya.


" Hmmm baiklah, tapi sekarang ayo sini nenek suapi lagi," ucap Nyonya Manda, dia ingin melupakan semua dan mengisi waktunya yang tersisa untuk menyayangi cucunya, Maoura.


" Lihatlah ibumu yang aneh itu, dia sedang kehilangan orang tuanya, tapi malah masih sibuk mengurus pekerjaan," ucap Nyonya Manda yang sedikit kesal dengan kelakuan putrinya.


" Hmm tapi kami senang bukan saat menerima kiriman dari putrimu itu," ucap Tuan Suerdja mengejek istrinya.


Nyonya Manda sedikit berfikir dan berkata" Hmm iya juga sii hahahaha." ucap nyonya Manda dan di sambut tawa oleh semua orang.


Maoura sangat sangat senang, akhirnya dari sekian lama dia bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga, dan itu membuat pukulan keras terhadap Kakek Widjaya. Kakek Widjaya sadar selama ini dia tidak pernah memperhatikan kesepian Maoura, selama ini dia telah menyembunyikan Maoura dari dunia dengan alasan demi kebaikannya, tetapi menyembunyikan Maoura dari keluarganya sendiri adalah kesalahan terbesar Kakek.