
Waktu menunjukan jam pulang kerja. Laras yang bersiap siap pulang menggerutu sambil menyusun berkas yang begitu banyak.
"Ih kemana si semua orang, Maoura dan Yuna tega memberi aku tugas sebanyak ini di hari pertama aku kerja," omel Laras yang tidak mengetahui jika Maoura mengalami kecelakaan.
"Permisi Nona Laras," sapa Yuna yang baru sampai.
"Sekertaris Yuna kamu dari mana saja, dimana Maoura ?"tanya Laras mencoba mengontrol emosi.
"Maaf Nona Laras saya tadi sedang membantu Miss Maoura, kami ada meeting mendadak di perusahaan XXX," ucap Yuna berbohong. Dia memang mendapat pesan agar tidak memberi tahu soal Maoura kepada Laras.
"Oh begitu. Lalu bagaimana pekerjaan ini ?"tanya Laras menunjukkan berkas penting yang belum diselesaikan.
"Miss Maoura meminta anda untuk mengerjakan itu di Mansion utama, Miss Maoura sudah menyiapkan ruang kerja untuk anda di Mansion," ucap Yuna.
"Hmm baiklah sepertinya Amaoura tidak main main, maka aku juga tidak akan mengecewakan dia," ucap Laras lirih tetapi masih dapat di dengar oleh Yuna.
"Saya harap anda bisa menjadi seperti yang di harapkan Miss Maoura," ucap Yuna mencoba memberi pengertian kepada Laras.
"Aku akan berusaha sebisaku Yuna, aku juga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini," ucap Laras dengan penuh tekat dan semangat.
"Saya yakin anda pasti bisa."
"Terima kasih Yuna. Baiklah aku pulang dulu Yuna," ucap Laras dengan ramah.
"Hati hati dijalan Nona."
...
Di rumah sakit Maoura yang merasa sudah membaik meminta untuk pulang.
"Mami kita pulang saja ya, Maoura tidak ingin berlama lama di rumah sakit," ucap Maoura memohon.
"Hmm baiklah kita tunggu Rio sebentar ya, dia tadi katanya ingin membeli minuman hangat untuk mu," ucap Nyonya Sarla.
Tidak berselang lama Rio datang dengan membawa teh hijau hangat untuk Maoura.
"Sayang lihatlah aku bawakan apa untukmu," ucap Rio menyerahkan satu minuman hangat untuk Maoura.
"Terima kasih banyak sayang, ini kesukaan aku," ucap Maoura senang dan meminum teh hijau hangat itu dengan perlahan.
"Hmm ini enak sekali Rio, kamu beli dimana ?"tanya Maoura.
"Aku beli di sebrang jalan sana, tetapi aku membuatnya sendiri," ucap Rio dengan senyum dan mengelus rambut Maoura dengan mesra.
"Waaah kamu memang yang terhebat sayang," puji Maoura.
"Nak Rio Terima kasih banyak ya, kamu sudah mau menemani dan mencintai anak Mami ini," ucap Nyonya Sarla yang merasa senang anaknya di cintai sepenuh hati.
"Mami tidak perlu khawatir karena Rio akan selalu menjaga Maoura dan mencintai dengan tulus." Ucap Rio membuat Maoura dan Nyonya Sarla terharu.
"Sayang aku ingin pulang saja, tadi Luna dan Bibi Shian mereka datang kemari dan katanya Zie sudah ada di Mansion utama. Aku rindu dengan anak menggemaskan itu," ucap Maoura memohon.
"Emm baiklah, apapun keinginan tuan Putri," ucap Rio menggoda Maoura.
"Hmm makanya kalian juga harus cepat memberi Mami cucu, mami juga ingin segera menggendong cucu," ucap Nyonya Sarla membuat Maoura tersedak teh yang dia minum.
"Mami tenang saja, setiap siang malam kita selalu membuat adonan," ucap Rio membuat pipi Maoura memerah bak kepiting rebus.
"Haha bagus, kabari Mami jika kabar bahagia itu datang," ucap Nyonya Sarla antusias.
"Sudah sudah ,,Mami pernikahan kita masih baru dan Maoura belum memikirkan itu," ucap Maoura dengan tegas.
"Dan sekarang ayo kita pulang," lanjutnya lagi membuat Rio dan Nyonya Sarla tidak bisa berkata kata lagi.
...
Di rumah utama Tuan Raden dan beberapa para pelayan baru keluar dari ruang rahasia. Tuan Raden menyimpulkan akan menyelidiki sendiri kejadian yang menimpa Maoura. Ada banyak kejanggalan dengan apa yang terjadi di laboratorium bawah laut. Sekertaris Max mengatakan ada heker, tetapi para ahli yang ada di rumah itu mengatakan jika sistem di aktifkan dari dalam Laboratorium itu sendiri. Tidak ada jejak jika sistem telah di bobol.
Laras yang tidak mengetahui jika di Mansion utama kedatangan tamu terhormat langsung menuju kamar dan membersihkan diri. dia berniat akan langsung menuju keruang kerjanya untuk menyelesaikan tugas tugasnya.
Sedangkan Luna, dia sedang memandikan anak tampannya yang menggemaskan.
Nyonya Shian sendiri dia sedang mengemas barang barangnya karena besok dia akan kembali ke negaranya.
Walaupun perusahaannya belum kembali tetapi dia sudah bertekad akan pulang lebih awal karena dia merasa tidak nyaman jika berlama lama satu atap dengan Tuan Raden dan Nyonya Sarla.
"Rio jangan berlebihan, aku bisa sendiri," ucap Maoura yang mencoba menepis Rio yang ingin membopongnya.
"Hmm Baiklah, hati hati ,,,"
"Iya sayang, jangan berlebihan dan membuatku terlihat seperti wanita lemah," ucap Maoura yang merasa tidak seperti dirinya.
"Em ya ya apa kamu ingat beberapa jam yang lalu kamu mengeluh kepadaku," ejek Rio.
"Rioo ,,,,"teriak kecil Maoura mencubit pinggang Rio dengan gemas.
"Aw AW ya ya aku tidak akan membahasnya lagi," ucap Rio lalu mencium kening Maoura.
"Ya sudah ayo kita masuk, Mami bilang dia akan mampir ke suatu tempat," ucap Maoura.
..
"Hay sayang," sambut Tuan Raden.
"Bagaimana keadaanmu sekarang ?"
"Mauora sudah bagaikan papi, dan ini semua berkat Rio yang mengurus Maoura dengan sangat baik," puji Maoura untuk Rio.
"Rio tidak melakukan apa apa papi, Maoura adalah anak yang keras kepala," ejek Rio.
"Hahaha ya ya Papi paham dengan putri tersayang satu ini."
"Papii !!!" Maoura terlihat cemberut menjadi bahan ejekan mereka.
"Hahaha ya sudah kalian bersihkan diri kalian dulu, kita akan bertemu saat makan malam nanti," ucap Tuan Raden.
"Baik Papi." ucap Rio dan Maoura.
..
Di tempat lain Sun sedang bersiap siap akan menemui Dauna. Dengan penampilan tampannya dia dengan percaya diri keluar kamarnya.
"Sun sayang kamu mau kemana nak?"tanya Bibik Luis.
"Ibu aku akan segara datang membawa mantu untuk ibu," ucap Sun dengan percaya diri.
"Syukurlah, ibu harap rencanamu berjalan dengan lancar."
"Terima kasih banyak bu doanya. Ibu jangan lupa sebelum tidur minum obat dulu ya."
"Iya sayang."
"Emuach, daa Ibuu ,," Sun mencium pipi Bibi Luis dan berlari kecil kearah parkir mobil.
Kali ini Sun mengurung niatnya untuk membawa mobil dinas untuk menemui Dauna. Karena tampangnya yang yang kurang menarik Sun juga tidak ingin menjawab setiap pertanyaan yang pasti akan di lontarkan Dauna tentang mobil kuno yang super canggih itu.
Setelah sampai di kediaman Dauna, Sun memberanikan diri masuk kedalam gerbang.
"Malam Om," sapa Sun kepada Perwira tentara, ayah dari Dauna.
"Malam Sun, ada Keperluan apa datang kemari,?" tanya perwira itu.
"Emm saya ingin mengajak Dauna untuk makan malam di luar Om," ucap Sun ragu ragu.
"Hmm semenjak kamu tidak bisa di hubungi seminggu yang lalu, sikap Dauna kembali menjadi angkuh dan menjadi anak pembakang lagi. Dia merasa orang satu satunya yang perduli dengannya menjahui dirinya," penjelasan perwira tentara itu.
"Lalu dimana sekarang Dauna Om ?"
"Pelayan bilang dari pagi dia pergi bersama seorang pria, entah dimana dia sekarang," ujar Tuan Wibowo.
"Oh begitu ya Om, baiklah jika begitu saya permisi dulu," ucap Sun merasa kecewa.
"Sun aku harap kamu dapat merubah anakku kembali," ucap Tuan Wibowo memohon.
"Tapi Dauna sudah memiliki pria lain Om."
"Aku tahu itu hanya pelampiasan dia saja, aku rasa hanya kamulah yang pantas untuk putriku."
"Baiklah Om saya akan mencoba mencari Dauna dan membicarakan ini."
"Aku akan selalu mendukungmu Sun."
"Terima kasih banyak Om."
Sun keluar dari rumah itu Dangan perasaan campur aduk. Dauna telah memiliki pria lain, tetapi Om Wibowo memintanya untuk bersama putrinya.
"Bagaimana jika Dauna menolak ku," batin Sun terasa tidak karuan.
Karena putus asa mencari Dauna tidak ketemu, Sun akhirnya memutuskan untuk pergi ke sebuah Bar malam di pusat kota.
Saat masuk Sun langsung tertuju dengan seorang wanita sedang menari nari di sebuah tiang.
"Dauna !!!"batin Sun yang sangat terkejut melihat Dauna yang hanya menggunakan bikini dan menari nari di depan hadapan banyak orang.
"Permisi, permisi, permisi," ucap mencoba menerobos para pelanggan yang sedang ikut menari mengikuti alunan musik DJ.
Dengan sekuat tenaga Sun menarik Dauna dari kerumunan dan membawanya ke atas gedung.
"Dauna !!!! apa yang kamu lakukan hah !!"gertak Sun sambil melepaskan jaketnya dan memberikannya kepada Dauna. tetapi Dauna malah membuangnya dengan kasar.
"Apa perdulimu Sun, inilah aku !! inilah wajah asliku !!Huaaaa hiik hik hik!!"Teriak dan tangisan Dauna yang merasa kecewa kepada Sun.
"Dauna apa yang kamu katakan," ucap Sun merasa kasihan melihat Dauna dan mecoba untuk memeluknya.
"Maafkan aku Dauna maafkan aku, aku tidak berniat meninggalkan mu atau pun menjauhimu. Aku memiliki pekerjaan baru Dauna, aku mohon dengarkan penjelasan aku," ucap Sun mencoba memeluk erat Dauna dan memberinya penjelasan.
"Hik hik hik ,, apa kamu sungguh Sun, kamu tidak berniat meninggalkan aku ?"tanya Dauna mencoba untuk memastikan.
"Kamu dapat memercayai aku Dauna, belah lah dadaku agar kamu tahu isi hatiku," ucapan lebay Sun sambil membuka kaosnya dan memperlihatkan bentuk badan Sun yang sangat sempurna.
"Sun apa yang kamu lakukan, cepat pakai bajumu kembali," ucap Dauna merasa malu melihat tubuh Sun.
"Memang kenapa, kamu saja hampir tidak menggunakan sehelai benang pun," ejek Sun sambil mengambil kembali jaket yang di lempar Dauna dan memakainya kembali untuk menutupi tubuh seksi Dauna.
Dauna hanya bisa meneteskan air mata harunya. Dia tidak percaya akhirnya pria yang dia tunggu tunggu datang mengutarakan cintanya walaupun dia sudah melihat semua keburukan Dauna.