The Lion, PRINCESS CEO.

The Lion, PRINCESS CEO.
TAMAT.



Bandara pribadi milik Tuan Widjaya. Rose dan Maoura bersiap-siap untuk pergi mengunjungi kakek mereka.


Namun, mata memandang, Maoura melihat seseorang berlari kearahnya. Maoura menghentikan niatnya untuk naik ke kabin pesawat.


Melihat itu adalah kekasihnya, Rio. Maoura langsung berlari dan ikut untuk menghampiri suaminya.


Kini, dua pasangan saling berpelukan. Rio sangat senang, karena dia tidak terlambat untuk menemui istrinya.


"Rio, apa yang kamu lakukan disini?" tanya Maoura.


"Aku ingin menjemput kamu, sayang. kita pulang ya?" ucap Rio sembari memegang kedua pipi Maoura.


"lalu, bagaimana dengan, ibu?" tanya Maoura dengan sendu.


"Ibu sudah merestui kita. Dia sedang menunggu kita dirumah. Jadi, Tuan putri bersediakah anda ikut bersama daku," ujar Rio sembari menundukkan tangan dan mengulurkan tangannya.


Rose mendekati Maoura dan memberinya dukungan.


"baiklah, aku mau ikutan denganmu," ucap Maoura merasa sangat senang.


Akhirnya, keberangkatan Rose dan Maoura menuju kediaman kakek Widjaya diundur sampai waktu yang tidak diketahui.


..


Sesampainya dirumah Rio mereka langsung menuju keruang tamu, dimana Bibik Luis telah menunggu mereka.


Maoura dan Rio masih terdiam dihadapan Bibik Luis.


"Aku sudah merestui kalian. Hanya saja luka dalam tidak akan aku lupakan. Bahagialah, dan jadilah pribadi baik mulai saat ini," ucap Bibik Luis membuat senyum diwajah Maoura mengembang.


...


Akhirnya, Maoura dapat membawa Rio ke Mansion utama dengan perasaan yang lega. Walaupun mertuanya masih sedikit berat, tapi Maoura berjanji akan terus berusaha untuk meyakinkan ibu mertuanya, jika ia sudah berubah dan akan mencintai suaminya dengan segenap hati.


Leo, Juo dan Deon merasa sangat senang melihat Rio dan Maoura akhirnya dapat bersatu.


"Ah, kini tugasku adalah bertemu dengan cintaku, Laras," ucap Leo membuat Juo sendu.


"kamu kenapa, Juo?" tanya Deon.


"Deon, aku titip Zahra. Kamu lebih berhak untuk membuat dia bahagia."


"Tapi, pria yang dia cintai adalah kamu, Juo."


"Itu dulu Deon. Aku yakin, Zahra pasti akan menerima kamu. Perjuangkan cintamu Deon. Buat dia bahagia atau aku akan membunuhmu."


"Haha, aku bercanda Leo. Besok kita akan masuk Kemabli keruang Savior. Persiapkanlah diri kalian untuk berpamitan kepada wanita-wanita kalian," ucap Juo memberikan saran.


Leo dan Deon saling menatap dan tersenyum.


"Kak, kita sekarang mau kemana?" tanya Deon mengejek kakaknya.


"Aku, tentu aku akan perusahaan. kekasihku sedang menungguku disana," jawab Leo dengan senyum tengilnya.


"Aku juga kak, aku akan menemui Zahra," ucap Deon malu-malu.


"Haha, adikku ini ternyata sudah besar ya," ejek Leo.


Deon dan Leo berlari berebutan untuk mengambil posisi sebelah supir, karena dari mereka tidak ingin ada ingin menyetir mobilnya.


Tapi Deon kalah cepat, sehingga dialah yang harus membawa mobilnya.


"Ah, kakak curang !!"


"Sudah cepat bawa. Jam istirahat sebentar lagi akan selesai," ucap Leo yang tidak ingin berdebat.


Juo hanya bisa tersenyum kearah saudaranya. Ia rela melepaskan Zahra. Karena sejatinya, Juo tidak mencintai Zahra. Cinta Juo hanyalah untuk Luna yang kini telah bahagia dengan suaminya.


...


Disebuah pulau terpencil. Terlihat sepasang kekasih sedang menatap pantai. Tatapan mereka terlihat canggung.


Yuna mencoba untuk memegang tangan Max.


"Max, Rose telah mengampuni kamu. Asalkan kita tidak keluar dari pulau ini. Demi calon anak kita, aku harap kamu mau melupakan dendam kamu," ucap Yuna dengan tulus.


Max menatap tidak percaya. Dengan semua perilaku yang telah ia berikan pada Yuna. Yuna masih mau menerimanya dan mencintai dirinya.


Max juga tidak menyangka, jika ia akan segera menjadi seorang Ayah.


"Yuna, maafkan aku," Hanya itu yang dapat Max ucapkan. Rasa menyesal masih menyelimuti hatinya.


Yuna menyandarkan kepalanya kebahu Max dan menatap hamparan lautan yang membentang luas.


Meski harus menua di pulau ini. Yuna tidak masalah, asalkan ia bersama dengan Max.


........ TAMAT ....