
Pagi sekali pukul 6:00.
Luna sudah bersiap siap akan menemui anaknya. Dia tidak sabar sampai semalaman tidak tidur.
"Luna apa kamu tidak ingin sarapan dulu ?"tanya Nyonya Shian yang terburu buru mengikuti Luna.
"Ibu, jika ibu ingin sarapan dulu ya tidak papa. Tapi Luna akan tetap berangkat duluan," ucap Luna, dia masih memendam rasa kesal kepada ibunya. Walaupun nasib ibunya sangat memperihatinkan tetapi dengan membunuh seseorang itu bukanlah tindakan yang baik.
"Tidak nak, ibu akan berangkat bareng sama kamu," ucap Nyonya Shian pasrah.
",Hmm aku akan merapikan make up dan rambutku di dalam mobil saja," batin Nyonya Shian sambil memegangi rambutnya yang masih acak acakan.
Perjalanan yang menghabiskan waktu 30 menit. Luna dan Nyonya Shian sampai ke sebuah villa yang ada di tengah hutan, di belakang Villa juga terdapat pantai yang sangat indah. Hutan itu tidak menyeramkan karena telah di urus dan jaga oleh orang orang Maoura.
Dengan tergesa gesa Luna berlari untuk menghampiri anaknya.
"Zicoo sayang, mama datang nak !!"teriak Luna yang sebenarnya masih sangat jauh dari pintu jauh.
"Selamat pagi Nona Luna," sapa seorang pelayan.
Total yang menyambut kedatangan Luna ada 20 pelayan termasuk satpam dan penjaga kebun. 5 laki dan 15 perempuan. Maoura tidak ingin anak menggemaskan itu merasa kesepian, jadi dia memperkerjakan banyak baby sitter untuk menemaninya.
"Pagi, dimana anak saya ?"tanya Luna tanpa basa basi.
"Tuan Muda ada dalam kamarnya, dia sedang tertidur Non," ucap salah satu pelayan.
"Baiklah, kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian.," ucap Luna lalu pergi ke kamar anaknya.
"Anakku sayang, hik hik hik maafkan mama nak maafkan mama hii hik hik," suara tangis pilu Luna yang sangat menyayat hati. Dia merutuki kebodohannya sendiri karena tega meninggalkan anaknya jauh darinya.
"Mama mama Mamaa," ucap anak kecil berusia 1 tahun 5 bulan itu.
"Iya sayang ini mama nak," ucap Luna yang merasa senang, dia langsung menyeka air matanya dan menggendong anaknya.
"Mama pulang mama pulang," ucap anak polos itu dengan wajah yang berseri seri. Terlihat rindu yang mendalam di dalam diri anak itu.
"Iya sayang ini mama nak, mama pulang," ucap Luna menahan air matanya dan memeluk anaknya yang di gendong dengan erat.
Di saat Luna melihat anaknya, ternyata anaknya juga menangis dengan menjembekkan mulutnya yang imut.
"Sayang kamu kangen Mama ya, maafkan mama ya nak, mama janji tidak akan meninggalkanmu sendiri lagi," ucap Luna mencoba menghibur anaknya.
Anak pintar itu hanya mengangguk dan memeluk Mamanya.
"Mama susu Zie mau susu," ucap Zico yang menyebut dirinya dengan sebutan Zie.
"Ok Zie sayang, mama akan membuatkanmu susu," ucap Luna yang mencoba menurunkan Zie.
"No mama !! Ante buat susu," ucap Zie yang tidak ingin di tinggal mamanya lagi.
"Ouh sayang baiklah, biar ante saja yang buatkan ya," ucap Luna yang mengerti.
Walaupun bicaranya Zie masih di seret seret tetapi Luna sudah mengerti.
"Hos hos hos," suara ngos ngosan Nyonya Shian.
"Ibu ada apa denganmu ?"tanya Luna heran karena ibunya sangat berantakan, daun dan ranting ada di rambutnya.
"Huh ibu tadi tersandung kaki ibu sendiri dan terjatuh di pagar pohon," ucap Nyonya kesal.
"Nennnek nennnek," ucap Zie yang senang neneknya juga datang.
"Oh hay cucu tampan nenek, Nenek sangat rindu padamu," ucap Nyonya Shian lalu memeluk cucunya. Sudah satu bulan dia tidak bertemu dengan cucu tercintanya.
"PrOK PrOK suuusuu suusuu dot," ucap Zie yang senang karena susunya telah tiba. Setelah mendapatkan Susunya,Zie langsung mengambil posisi yang nyaman untuknya meminum susu. Dia langsung naik keatas kasur dan mengambil bantal untuknya.
"Uuh anak mama pintar, minum yang kenyang ya sayang," ucap Luna gemas.
..
Di Mansion, dalam kamar Maoura.
"Huuuaammm,,, em sayang kamu sudah siap, mengapa tidak membangunkan aku," ucap Rio.
"Aku pikir kamu sedang sangat lelah, aku udah mencoba membangunkan kamu tetapi kamu tidak bangun juga," ucap Maoura, sebenarnya semalam Maoura memberi minum Rio yang sudah di beri obat tidur. Maoura sengaja karena dia ada tugas yang harus di bahas oleh para pelayan di rumah itu.
"Benarkah.. Hmm kepalaku sangat berat dan pusing," ucap Rio memegangi kepalanya.
"Ya sudah kamu istirahatlah dulu, aku akan berangkat kekantor bersama Laras," ucap Maoura yang masih setia di depan cermin.
"Emm Maoura," ucap Rio yang ingin mengatakan sesuatu dengan ragu
"Ada apa sayang ?"tanya Maoura.
"Emm bolehkah aku bekerja di perusahaan mu?" tanya Rio ragu ragu.
Maoura yang sedang memoleskan lipstik di bibirnya langsung menghentikan tangannya.
"Emm apa kamu serius ?"tanya Maoura.
"Em itu pun jika boleh," ucap Rio merasa canggung.
"Tentu boleh dong sayang, kamu mau masuk di bagian apa ?"tanya Maoura antusias.
"Apakah tidak papa," tanya Rio yang merasa tidak percaya jika Maoura setuju Begitu saja.
"Tentu tidak papa sayang, kamu adalah suamikuu, miliku ya milikmu juga," ucap Maoura tanpa Ragu
"Dan Oya aku harap kamu tidak meminta menjadi CEO di perusahaan itu, karena itu akan aku berikan kepada Laras," ucapnya lagi.
"Tapi jika kamu ingin status CEO kamu bisa mengurus perusahan kakek yang ada di kota lain," Lanjut Maoura lagi.
"Emm apakah boleh aku ikut gabung dengan Leo dan yang lain ?"tanya Rio ragu ragu.
"Melihat keahlianmu dan saudara saudaramu kamu bisa masuk kesana, tetapi kamu akan terjebak di dalam sana dalam waktu dua tahun," ucap Maoura menjelaskan.
"peraturan macam apa itu?"tanya Rio tidak mengerti.
"Kamu harus beradaptasi didalam ruangan itu, aku tidak bisa mengubah peraturan itu karena itu semua demi keselamatan dan kesehatan mereka," ucap Maoura.
Rio terdiam dan berfikir.
"Hemm aku akan membuang buang waktu jika harus diam diri selama dua tahun disana,"batin Rio.
"Bagaimana Rio ?"tanya Moura.
"Hmm aku akan memutuskannya nanti," ucap Rio.
"Em baiklah, aku harap kamu bisa memilih yang lain, emuach ,," ucap Maoura lalu mencium bibir Rio singkat.
"Aku pergi dulu," lanjut Maoura
"Hati hati sayang," ucap Rio tersenyum.
..
Maoura dan Laras sudah sampai di perusahaan terbesar di kota Parades. Grup MAMBIO tidak hanya mencangkup di kota itu tetapi juga luar kota dan juga luar negeri.
Laras yang baru pertama kali melihat gedung setinggi dan Sebasar itu hanya bisa membelalakkan matanya dan mulutnya lebar lebar.
Tiga gedung yang saling terhubung, dan gedung tengah paling menonjol dan tinggi membuat Laras menelan ludah dengan kasar.
Di puncak gedung paling tinggi itu adalah tempat CEO menikmati pemandangan dengan leluasa. Laras berjanji pada dirinya tidak akan mengecewakan nenek dan kakeknya terutama kepada Maoura.