
Di Mansion utama..
" Nenek, kenapa nenek belum tidur?" tanya Maoura yang melihat Nenek Purima sedang bersantai di depan tv.
" Cucuku sayang, Nenek tidak bisa tidur nak, Nenek melihat kamu di berita, apakah kamu baik baik saja, tidak ada yang terluka," ucap Nenek Purima yang sangat khawatir dengan keadaan Cucunya.
" Nek, aku dan kakek baik baik saja, Nenek tidak tidak usah khawatir, percaya kepada Maoura, Maoura akan selalu menjaga kalian," ucap Maoura menenangkan Neneknya.
" Ya sudah, sekarang ayo istirahat. Maoura jangan lupa minum vitamin agar besok pagi kamu terlihat fit, karena besok kamu akan mulai melakukan tugas tugas penting menggantikan Kakek," ucap kakek memperingati Maoura.
" Baik kakek."
...
Di kediaman Rio Hantara.
" Yaa ampuun Rio, ada apa dengan wajahmu nak, kenapa babak belur seperti ini. Leo ada apa ini ?"tanya Bibik Luis yang sangat khawatir melihat putranya yang babak belur.
" Ibu, tadi saat di jalan Rio kerampokan saat perjalanan pulang, untung ada kami yang tidak sengaja berpapasan dengan Rio," jelas Leo berbohong kepada Bibik Luis, selama ini Bibik Luis masih belum mengetahui jika anak anaknya adalah anggota Geng Mafia.
" Yaa ampun sayang ini pasti sakit sekali, ayo Ibu akan mengobatimu."
" Aw Ibu sakit, pelan pelan Ibu," ucap Rio mengadu kesakitan saat di obati.
Plak..
Leo menjitak kepala Rio.
" Dasar anak manja begitu saja sudah mengeluh," ejek Sun.
" Ibu sini biar aku saja yang mengobati anak manja ini," ucap Leo mengambil peralatan obat, lalu tersenyum jahat.
Ibu yang sudah jengah dengan sikap anak anaknya memutuskan meninggalkan mereka dan menyiapkan makan malam.
" Jika kalian berani maju sejengkal saja aku akan menghabisi kalian," ucap Rio mengancam saudara saudaranya yang mulai mendekati dirinya. Tetapi mereka malah semakin mendekat dengan senyum jahat di wajah mereka.
" Haaayy lepaskaaan. Aw aw sakiiit kepar**t, AW aaaaaaaw pelan pelan sakiiit, aaaaaahhhh,," teriak Rio histeris, sedangkan Leo, Deon, Jun dan Sun malah tertawa di atas penderitaan Rio.
" Selesai. Lepaskan dia," ucap Leo.
Mereka tertawa bersama karena berhasil mengerjai Rio dengan memperban semua bagian kepala Rio, dan mereka memberi tanda tangan mereka di wajah Rio yang penuh dengan perban.
" Ayok kita Selfi bersama untuk mengenang kejadian ini," ucap Leo puas dengan hasil yang mereka perbuat.
Awalnya Rio menolak, tetapi dengan cepat semua memegangi Rio agar tidak kabur.
Crek crek crek.. Beberapa foto sudah di dapat, dan mereka tertawa bersama sama, Rio pun tertawa dengan bahagia. kenapa tidak, walaupun mereka hanya saudara angkat
tetapi Rio sudah menganggap mereka saudara kandung sendiri. Selama ini mereka telah melalui hal hal yang sulit bersama, sampai hingga akhirnya sekarang mereka masih tidak bisa lepas dari kesulitan itu, karena mereka tidak di izinkan keluar dari The King.
" Sayang ayoo kita makan malam dulu."
" Ohh yaa ampun Rio, ada apa dengan wajahmu nak," ucap Bibik Luis yang baru menyadari jika kepala anaknya di penuhi perban.
" Tidak apa Bu, ini agar aku cepat sembuh," ucap Rio pasrah.
Setelah makan malam berakhir, mereka pergi ke kamar tidur masing masing dan beristirahat.
...
Pagi hari pukul 8:00. Di sebuah gedung pencakar langit, semua pekerja bersusun rapi untuk menyambut CEO mereka yang baru.
Tak tak tak.. Suara sepatu Maoura mengisi ruangan yang sunyi itu, semua orang menunduk hormat dan tidak ada yang berani menatap Bos baru mereka. Maoura menghentikan langkahnya.
Maoura pun melanjutkan jalannya, setelah sampai di dalam ruangan Maoura di sambut oleh sekertaris Max dan sekertaris Yuna.
" Selamat pagi Miss."
" Pagi juga, apa kalian sudah mengumpulkan semua nama nama yang sudah aku kirim ke kalian?"ucap Maoura, dia sengaja mengumpulkan orang orang yang terbukti melakukan korup dan kecurangan di perusahaan itu.
" Sudah Miss," ucap kedua sekertaris itu.
" sekertaris Yuna, kamu urus semua yang berurusan dengan kantor. Dan untuk kamu sekertaris Max urus semua markas mafia, selidiki semua penghianat yang mencoba bermain api dengan kita," ucap mau dengan tegas.
" Siap Miss."
...
Di ruangan rapat, semua para petinggi yang melakukan korup dan melakukan kecurangan saling berbisik.
" Manager Danu apa anda tahu kenapa kami di panggil,?"tanya salah satu dari Mereka.
" Aduh manager Ali mana aku tahu. Hmm mungkin ini masalah perkejaan, dia kan baru dan mungkin hanya ingin menanyakan sesuatu kepada kita," ujar Danu Suerdja menduga duga.
Clek.. pintu terbuka dan para petinggi berdiri untuk memberi hormat kepada Maoura.
Maoura melangkah menuju kursi kebesarannya dan sekertaris Yuna membagikan sebuah kertas yang berisi data data yang membuktikan bahwa mereka telah melakukan kesalahan.
Dan semua yang mendapatkan berkas berkas itu gemetar dan saling pandang menunjukan wajah yang tidak dapat di percaya. Ini adalah akhir dari mereka semua.
"Maaf Miss apa maksudnya ini," Danu Suerdja memberanikan diri membuka suara.
"Saya tidak akan basa basi, siapa yang ingin keluar dari perusahaan silahkan, saya tunggu surat pengunduran diri kalian dan siapa yang masih ingin tinggal silahkan pergi ke gudang dan lakukan pekerjaan kalian dengan benar disana," ucap Maoura memberi pilihan kepada mereka, yang mana membuat mereka bergaduh meminta maaf dan ada juga yang mengelak kesalahan mereka.
" Miss ini tidak benar data ini adalah palsu, mana mungkin kami melakukan hal hal semacam ini," ucap manager Ali.
" Disana ada sebuah CD, silahkan buka laptop kalian dan lihat sendiri bukti bukti itu," ucap Maoura, membuat semua para petinggi itu langsung membuka laptop mereka dan melihat bukti bukti diri mereka yang sedang melakukan konspirasi. Akhirnya mereka tidak ada yang berani mengelak lagi.
" Jika tidak ada yang ingin di katakan lagi, saya permisi karena masih ada banyak pekerjaan lain. Oya satu lagi saya harap kalian mampu mengambil keputusan yang bijak," ucap Maoura berharap mereka masih mau bekerja di perusahaan walaupun mereka akan di tempatkan di bagian gudang, dan sesungguhnya itu hanyalah sebuah gertakan karena Maoura ingin melihat siapa saja yang masih setia dengan perusahaan ini. Walaupun mereka telah melakukan korupsi besar besar bahkan ada yang mencapai angka Ratusan US Dollar, tetapi mereka juga telah berjasa sangat besar dalam perusahaan, uang yang mereka ambil hanyalah recehan saja. Tetapi kesalahan tetaplah kesalahan.
Setelah Maoura keluar, semua para petinggi pun membubarkan diri.
" Miss Tuan Danu ingin bertemu dengan anda," ucap sekertaris Yuna.
" Biarkan dia masuk."
" Maoura tolong maafkan pamanmu ini, Paman hilaf melakukan itu semua. Apakah kamu tega memecat Pamanmu sendiri," ucap Paman Danu membujuk Maoura.
" Paman, seharusnya Paman berfikir seribu kali untuk menghianati perusahaan ini."
" Maoura, selama ini Paman tidak tahu jika kalian adalah anak kembar, sungguh kalian sangat tega membohongi Paman, apakah kalian sama sekali tidak menganggap aku ini saudara kalian," ucap Paman dengan wajah yang di sedih sedihkan.
" Inilah alasan kenapa Kakek menyembunyikan salah satu dari kami, jika tidak mungkin aku juga akan mati seperti saudari kembarku," ucap Maoura menyindir Pamannya.
" Jika kalian mengatakan yang sebenarnya maka aku akan ikut melindungi keponakanku yang cantik cantik dan baik hati seperti kalian," Rayu Paman Danu.
" Sudahlah Paman jika tidak ada yang di bicarakan lagi silahkan keluar, aku tidak memecat Paman, jika Paman masih ingin berada di gedung ini silahkan pergi ke gudang dan lakukan pekerjaan Paman dengan baik disana," ucap Maoura sedikit menekan karena sudah sangat jengah dengan sandiwara Pamannya ini.
Akhirnya Tuan Danu pergi dengan hati yang sangat marah, dia merasa terhina dengan bocah yang dia anggap masih ingusan itu.
Dan Maoura hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, bagaimana bisa dia percaya dengan seseorang yang telah sangat melakukan banyak kesalahan tetapi tidak mau mengakui kesalahannya yang begitu fatal.
sebenarnya Maoura telah menyelidiki khasus yang menimpa Paman Gutai, ternyata orang telah menjebak Paman Gutai adalah keluarganya sendiri yaitu Paman Danu. Dia menyuruh Paman Gutai untuk mengantar barang senjata ilegal yang telah berhasil di rebut oleh kelompok Kakek Widjaya dari mafia jahat yang mencoba menyeludupkan senjata ilegal itu, dan ternyata kecurangan itu sampai di telinga Kakek Widjaya. Dan akhirnya kesalah pahaman itu membuat nyawa Paman Gutai tidak tertolong karena selain mendapatkan pukulan dia juga memiliki riwayat penyakit jantung. Kakek memaafkan Paman Danu hanya karena dia adalah Kakak dari menantunya yaitu Sarla Suerdja.