The Lion, PRINCESS CEO.

The Lion, PRINCESS CEO.
EPISODE 52 PRINCESS CEO



Malam yang indah ini akan menjadi sejarah untuk Sun Dauna.


"Mengapa rumahku sangat gelap? apa semua pembantu mengambil cuti?"tanya Dauna yang merasa heran.


Setelah seharian Dauna dan Sun berjalan jalan, sebelum pulang Sun mengajak dan memaksa Dauna untuk menggunakan gaun yang dia pilih.


"Entahlah, ayo kita masuk dulu," ucap Sun masih belum ingin mengatakan yang sebenarnya.


"Ya ampun Sun semua lampu mati, apa papa lupa untuk membayar tagihan listrik ?"gerutu Dauna.


"Makanya kamu jangan keluyuran terus, bekerja lah untuk mengahasilkan uang," ejek Sun.


"Aku pikir papaku memiliki banyak uang karena dia tidak pernah pulang," ucap Dauna merasa heran.


Setelah sampai di depan pintu utama, Dauna pelan pelan membuka pintu.


Di dalam sangat gelap, membuat Dauna meraba raba mencari saklar lampu.


DOR !!! suara petasan kejutan membuat Dauna membuka mulutnya lebar lebar.


"Oh haha acara apa ini Papa,?"Tanya Dauna merasa heran. Dia sedang tidak ulang tahun tetapi mereka membuat kejutan untuknya.


perlahan Sun mendekati Dauna berjongkok di depannya.


"Dauna, maukah kamu menikah dengan ku?" ucap Sun melamar Dauna, dan dia mengeluarkan sebuah cincin permata delima.


Warna merah dari cincin itu sangat mencolok dan bersinar indah di mata Dauna


"Apa yang kamu lakukan Sun, apa kamu sungguh yakin melamarku? apa aku sedang tidak bermimpi?"tanya Dauna yang masih tidak percaya.


"Aku bersungguh sungguh Dauna, lihatlah hiasan ini, aku menyiapkan semua untuk pernikahan kita."


"Apa !!! kita akan menikah sekarang, oh ya tuhan hik hik hik," air mata Dauna tidak bisa ia bendung lagi.


"Nak, papa serahkan semua kepadamu," ucap tuan Wibowo untuk menenangkan anaknya.


"Papa hik hik hik, Dauna tidak percaya ini pa, Dauna akan menikah, hik hik," Dauna masih menangis dan kali ini dalam pelukan sang ayahnya.


Akhirnya acara pernikahan sederhana itu berjalan dengan lancar. Tidak ada tamu undangan, hanya para pelayan dan Tuan Wibowo dan juga kedua mempelai.


Dauna Sangat bahagia, tidak bisa dia ucapkan dengan kata betapa bahagianya dia malam ini.


"selamat ya nak, papa harap kamu bisa menjadi istri yang baik untuk suamimu. Maafkan papa yang tidak bisa membahagiakanmu selama ini."


"Hik hik papa,, maafkan Dauna papa, selama ini Dauna telah banyak mengecewakan papa."


"Sudahlah nak, yang lalu biarlah berlalu dan yang terpenting sekarang kamu sudah bersatu dengan pria yang kamu cintai."


"Sun terima kasih banyak telah menerima ku dalam hidupmu .."


"Aku juga berterimakasih kepada mu karena telah menerima cintaku .."


Malam itu menjadi malam bersejarah bagi Dauna dan Sun. Sun sengaja tidak memberitahu keluarganya karena suatu alasan. Tapi jika waktunya telah tiba dia akan memberi tahu semuanya.


...


Di sebuah Mansion utama, didalam kamar Rio hanya memandang Maoura dengan tatapan yang tidak pasti. Maoura yang sedang membersihkan make up'nya menyadari jika ada sesuatu yang tidak baik.


"Rio, ada apa ?"tanya Maoura dengan lembut.


"Maoura, apa kita tidak akan melakukan bulan madu ?"tanya Rio dengan wajah yang memelas.


"Hahaha kamu ternyata sedang memikirkan itu."


"Hmm Maaf ya Rio, karena terlalu sibuk aku melupakan ini," ucap Maoura yang jadi merasa bersalah.


"Tidak papa Maoura, aku memaklumi nya."


"Hmm aku janji, setelah peresmian Laras menjadi Ceo, kita akan melakukan bulan madu," ucap Maoura mencoba membujuk Rio agar wajahnya tidak di tekuk lagi.


"Benarkah, Hmm enaknya kita bulan madu kemana ya," ucap Rio mencoba berfikir.


"Kamu ingin tempat yang seperti apa ?"tanya Maoura sambil menyandarkan kepalanya di dada Rio.


"Emm apa kita perlu menyewa pulau pribadi, sepertinya asyik berada di pulau dan hanya ada kita berdua. Tapi akan memakan biaya mahal ya jika kita menyewa sebuah pulau," ucap Rio yang menyadari isi dompetnya.


"Rio, kamu tenang saja. Kamu tidak perlu mengeluarkan biaya karena aku memiliki pulau pribadi," ucap Maoura mencoba menghibur Rio.


"Oya benarkah !"tanya Rio berpura pura tidak tahu, padahal Rio sengaja memancing Maoura.


"Iya benar Rio, aku janji setelah peresmian Laras kita akan pergi kesana," ucap Maoura tersenyum.


"Emm tapi terlalu lama Maoura," ucap Rio.


Senyum samar samar Rio terlihat jika benar benar memperhatikan nya.


"Benarkah, mengapa kamu baru bilang sekarang?"


"Maaf Rio, karena ini baru direncanakan hari ini dan 2 hari lagi kami akan terbang. Apa kamu keberatan, jika kamu menolak maka aku tidak akan pergi."


"Oh tidak sayang, mana mungkin aku menghalangimu. Jaga diri baik baik ya saat disana, jaga pola makan dan ingat, jangan coba coba melirik pria lain disana."


"Haha percayalah padaku Rio."


"Aku akan selalu percaya padamu Maoura."


"Janji ya, apapun yang terjadi percayalah padaku ?" ucap Maoura serius.


Rio sedikit ragu ragu dengan pertanyaan Maoura.


"Tentu sayang, aku akan selalu percaya padamu."


Didada Rio, Maoura memejamkan matanya. Hatinya begitu damai dan hangat ketika berada di pelukan Rio.


"Rio, kamu adalah tulang rusukku."


"Maoura maafkan aku, kedatangan ku hanyalah untuk balas dendam kepadamu dan juga keluarga mu," batin Rio yang merasa sedih dengan kenyataan ini.


Hubungan aneh yang mereka jalani telah membuat jati diri mereka tidak menemukan arahnya. Ambisi dan amarah telah mengunci rasa cinta yang telah mereka rasakan satu sama lain.


"Rio, apapun kesalahanmu aku akan memaafkannya asalkan kamu jangan sakiti keluarga ku," batin Maoura di detik detik alam sadarnya.


..


Disisi lain Laras dan Leo sedang melakukan Vidio Call.


"Hay Laras, malam ini kamu cantik," puji Leo.


"Kamu bisa saja."


"Sungguh, ternyata tanpa make up wajahmu sangat cantik."


"makasih," ucap Laras yang tidak tahu harus berkata apa.


"Oya besok aku akan kembali tugas, sampai jumpa kembali di Minggu depan," ucap Leo dengan senyum manisnya.


"Sampai jumpa Leo, selamat malam," ucap Laras lalu memutuskan panggilan.


Di sisi Deon dan Juo sedang terbaring di halaman belakang sambil melihat bintang.


Deon sedang memikirkan nasib Zahra yang cintanya telah bertepuk sebelah tangan.


Sedangkan Juo sedang memikirkan nasibnya mungkin akan menjadi ayah dari anak orang lain.


"Juo, apa kamu yakin dengan Luna ?"tanya Deon..


"Aku sudah jatuh pada pandangan pertama Deon."


"Lalu bagaimana jika Luna ternyata tidak menginginkan kamu ?"


"Entahlah Deon, yang aku rasakan dia pasti menerima aku," ucap Juo dengan yakin.


Dengan ragu ragu Deon meminta izin kepada Juo.


"Juo, bagaimana dengan Zahra ?"


"Dia hanya aku anggap sebagai teman atau adik, aku sama sekali tidak memiliki rasa cinta terhadapnya," ucap Juo dengan yakin.


"Emm Bolehkah aku mengejarnya?"tanya Deon ragu ragu.


Juo langsung menatap Deon dengan tajam.


"kenapa kamu menatapku seperti itu !!!"ucap Deon merasa horor di tatap Juo dengan tajam.


"Aku awalnya ingin menjodohkan Zahra dengan Leo, tapi aku tidak percaya ternyata kamu tertarik dengannya?"tanya Juo merasa senang.


"Sebenarnya aku juga tidak yakin. Aku hanya ingin mencobanya," ucap Deon yang masih plin-plan.


"Baiklah Deon, aku izinkan kamu mendekati tapi bukan untuk di sakiti." ancam Juo.


"Aku akan mencobanya Juo," ucap Deon dengan yakin.


Deon tersenyum manis kepada bintang, kali ini dia akan berusaha mendapatkan cinta Zahra dan melupakan membuat Robot wanita untuk di jadikan pacarnya.