
Malam hari pukul 7:00 Bibik Luis menikmati makan malam bersama ke empat anaknya. Sun tidak hadir karena dia menerima undangan makan malam di kediaman perwira tentara. Walaupun Bibik Luis tahu suasana hati Rio tidak baik, dia berusaha mencoba menghibur anaknya itu.
" Emm.. Leo, Deon, Juo apakah malam ini kalian akan tidur dirumah ?"tanya Bibik Luis memastikan.
" Iya ibu, ada apa ?"tanya Leo kembali.
" Em bagaimana jika malam ini kita berkemah di halaman belakang. Ah ibu sangat rindu ingin bermain bersama kalian ?"jawab Bibik Luis dengan raut wajah yang memelas.
"Ibu maafkan kami yang jarang memperhatikan ibu, sekarang kami terlalu fokus dengan pekerjaan kami sehingga jarang memiliki waktu untuk menemani ibu," ucap Juo yang langsung berdiri dan memeluk Bibik Luis dan di ikuti oleh Deon dan Leo.
"Rio bagaimana denganmu nak ?"tanya Bibik Luis kepada Rio yang sedari tadi hanya makan tanpa ikut menimbrung obrolan mereka.
" Ibu,,, ibu baru saja sembuh dari demam, jadi Rio saranin agar ibu beristirahat dengan baik di dalam kamar. Angin malam tidak baik untuk kesehatan ibu," jawab Rio dengan pelan.
" Apaa !! Ibu sakit, sakit apa, mengapa tidak ada yang memberi tahu aku," ucap Deon khawatir dan sedikit kecewa.
" Iya mengapa ibu tidak menghubungi kami,?"ucap Juo melanjutkan.
" Nak ibu tidak apa apa, kalian tidak perlu khawatir. Baiklah jika Rio tidak mau, kita batalin saja apa yang ibu katakan tadi," ucap Bibik Luis lalu beranjak dari tempat duduknya dengan wajah yang sendu, padahal makanannya belum di habiskan.
"RIO !! Ada apa denganmu !!?"tanya Leo kesal, mereka tahu ibu mereka merasa sedih karena Rio.
"Sudahlah, itu yang terbaik buat ibu karena dia baru sembuh dari demamnya. Aku hanya tidak ingin ibu kenapa Napa," ucap Rio yang berlalu meninggalkan mereka.
"Ada apa dengan anak itu, menyebalkan !!"cetus Juo kesal.
"Dia memang benar, ibu harus beristirahat dengan baik. Tetapi sikap Rio pasti membuat ibu kecewa," ucap Deon.
"Bagaimana jika kita membuat perkemahannya di dalam rumah saja," ucap Juo memberi ide.
"Bagus, ayok kita buat ruangan santai menjadi seperti danau yang dan memberi nya pemandangan alam." Ucap Deon dengan semangat.
Mereka bertiga mengosongkan ruangan bersantai dan mendirikan tenda besar di tengah tengahnya. Menggunakan alat canggih, mereka membuat seluruh ruangan itu terlihat seperti alam yang terbuka. Walaupun itu hanyalah sebuah dimensi tetapi keasliannya sangat nyata di mata, dan untuk menambah aroma kealamian nya , mereka menggunakan pewangi dari bunga lavender. Mereka menambahkan bintang kecil di langit langit rumah dan juga Aurora yang begitu cantik.
"Sempurna.. sekarang ayo kita bujuk Rio untuk membawa ibu kemari, jika bukan Rio ibu tidak akan beranjak dari kamarnya," ucap Juo bersemangat membuat kejutan kepada ibunya.
Beberapa nasehat dari Leo, akhirnya Rio menyadari jika dirinya sudah bersikap acuh kepada ibunya dari saat dirinya pulang dari suatu tempat. Rio pun pergi menuju kamar ibunya.
"Ibu,, maafkan Rio ?"ucap Rio yang melihat ibunya sedang duduk membelakangi pintu.
Bibik Luis yang mendengar anaknya langsung menyapu air matanya dan menyimpan foto yang ada di tangannya.
"Rio tidak ada yang harus di maafkan, kemarilah," ucap Bibik Luis tersenyum.
"Ibu maafkan aku karena sedari aku pulang, aku telah bersikap acuh kepada ibu dan maafkan Rio yang tidak bisa berbicara masalah Rio kepada ibu," ucap Rio dengan penuh penyesalan.
"Ah ternyata anak ibu sudah dewasa. Apakah kamu sedang bertengkar dengan pacarmu ?"tanya Bibik Luis yang langsung membuat Rio seperti udang di rebus. Rio berfikir "bagaimana bisa bertengkar, pacar saja tidak punya." batin Rio.
"Ah tidak ibu, bukan seperti itu," ucap Rio kikuk.
"Nak cepat lah bawa kekasihmu kehadapan ibu. Hmm ibu sebenarnya sudah sangat ingin meminang cucu," canda Bibik Luis.
"Hahah ibu, ibu bisa saja. Sudahlah kita jangan membicarakan itu, sekarang ayo ibu ikut aku. Aku akan memberi kejutan buat ibu," ucap Rio bersemangat.
"Benarkah, baiklah ibu akan ikut jika itu permintaan anak ibu tersayang ini," ucap Bibik Luis tersenyum bahagia.
Di balik pintu Leo meneteskan air matanya.walaupun dirinya sudah di anggap anak tetapi tetap saja kasih sayang bibi Luis hanyalah kepada Rio. Tetapi selagi Bibik Luis menginginkan dirinya untuk tinggal, maka sampai kapan pun Leo tidak akan meninggalkan Bibik Luis, pikir Leo lalu pergi dari balik pintu.
Rio menutup mata bibi Luis sampai ke ruangan tengah.
"Rio wangi apa ini ibu sangat suka," ucap Bibik Luis yang sudah mencium wangi bunga lavender.
"KEJUUTAAANNN !!!!"Teriak mereka serempak.
"Waaaah apa ini ?"tanya Bibik Luis tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Ibu kami membuat ini untuk ibu, karena ibu sedang dalam keadaan kurang sehat jadi kami membuat perkemahan di dalam rumah, apa ibu senang," ucap Deon.
"Ibu sangat senang sayang, ibu sangat beruntung memiliki anak seperti kalian," ucap haru bibik Luis yang langsung memeluk ke empat putranya.
"Hay ada apa ini ?"sapa Sun yang baru kembali dari acra'nya.
"Hay dari mana saja kau dari kemarin ?"tanya Leo.
Sun mendekati mereka dan mulai bercerita.
Mereka menghidupkan api di perapian yang ada di ruangan santai itu, dan duduk memutar untuk mendengarkan cerita Sun.
"Ibu tau bukan pekerjaan aku selain jaga toko bunga adalah membantu polisi untuk menangkap penjahat," ucap Sun mengingat kan ibunya tentang pekerjaan.
Mereka memang tidak pernah cerita kepada Bibik Luis tentang diri mereka yang telah menjadi mafia sedari kecil.
"Iya nak, Lalu apa yang kamu kerjakan,?"tanya Bibik Luis antusias.
Lalu Sun pun menceritakan bagaimana dirinya yang sudah menyelamatkan anak dari seorang perwira tentara itu dengan sangat rinci, dari A sampai Z.
....
Di Mansion utama.
Nyonya Shian berjalan perlahan menuju kamar Luna anaknya.
"Luna mengapa kamu belum tidur sayang," ucap Nyonya Shian.
Luna yang sedang menonton drama tv itu pun menoleh.
"Oh ibu, ada apa buk malam malam datang kemari, Luna tidak bisa tidur karena dari tadi siang Luna sudah banyak tidur," ucapnya.
"Sayang ibu ingin membicarakan hal serius," ucap Nyonya Shian.
"Luna apakah kamu sama sekali tidak ingat rencana kita ?"tanya Nyonya Shian perlahan.
"Rencana !?rencana apa ibu ??"tanya Luna yang tidak mengerti.
"Hmm Luna sampai mana kamu mengingat kejadian itu,?" Tanya Nyonya Shian memastikan.
"Aku hanya ingat ayah menjualku ke sebuah bar, dan aku selalu di ganggu oleh pria pria hidung belang itu ibu, aku selalu berdoa supaya ada orang baik yang mengeluarkan ku dari tempat itu. Apa ibu tahu, mereka selalu menyiksaku disaat aku tidak mau menuruti keinginan mereka ibu hik hik hik," ucap Luna dengan polosnya, dia selalu merasa sakit jika mengingat itu semua.
" Ya sudah nak kamu jangan ingat ingat lagi kejadian itu, maafkan ibu karena sudah mengganggu malammu. Beristirahatlah, besok pagi kita akan berkebun untuk menghilangkan rasa risaumu," ucap Nyonya Shian dengan lembut.
Setelah sampai kamar, nyonya Shian meluapkan semua emosi yang ada di dalam dirinya.
"Aaah sial sial sial, mengapa Luna bisa kehilangan ingatannya, ah gagal semua rencanaku. Aku akan pelan pelan membuat Luna kembali mengingat dirinya yang begitu menyedihkan, dan membuatnya mengingat tentang rencana kita." Ucap Nyonya Shian yang mengingat masa lalu.
FLASHBACK 2 TAHUN YANG LALU.
Waktu itu Tuan Siga dan Nyonya Shian sangat bingung karena perusahaan mereka diambang kebangkrutan, hutang mereka sudah terlalu banyak sehingga mereka sudah tidak dapat mengajukan pinjaman ke bank ataupun rentenir. Itu semua karena mereka tidak berhati hati sehingga proyek yang mereka kerjakan membuat rugi dan karena tidak ada modal lagi proyek itu pun mangkrak. Karena tergiur dengan bisnis yang tidak jelas mereka meng-infestasikan semua harta yang mereka miliki demi keuntungan yang besar, dan akhirnya harta mereka ludes di bawa kabur oleh penipu itu.
Setiap hari mereka selalu di datangi boleh preman rentenir yang menagih hutang. Mereka diam diam sangat putus asa karena mereka sama sekali tidak memiliki uang.
Saat rentenir akan pergi mereka berpapasan dengan wanita cantik dan polos.
"Hay Paman, apakah paman teman ayahku,?"tanya Luna yang tidak tahu apa apa.
"Ah iya cantik kami adalah teman ayahmu," ucap preman itu.
"Oh baiklah lanjutkan obrolan kalian, aku permisi dulu," ucap Luna dengan senyum manis dan manjanya.
"Apakah dia putri kalian?"tanya preman itu.
"Iya Tuan, tolong jangan sakiti dia," ucap Tuan Siga memohon.
"Jika kalian ingin memiliki banyak uang, jual putri kalian di sebuah bar xxx, kalian akan mendapatkan uang muka yang banyak jika putri kalian masih perawan. Dan kalian akan selalu mendapatkan uang setiap putri kalian melayani tamu VVIP dengan baik, semakin banyak tips maka semakin uang yang kalian terima," ucap preman itu dengan tatapan mengejek.
"Tutup mulut kalian, kami akan menghasilkan uang sendiri, sekarang keluarlah !!ucap Tuan Siga emosi.
"Hahahaa jika kalian berubah pikiran hubungi kami," ucap preman itu lalu pergi. Mereka sangat yakin pasti menyerahkan putri nya kepada mereka.
"Suamiku bagaimana ini," ucap Nyonya Shian khawatir, karena dua hari bank akan menyita rumah mereka jika mereka tidak membayar hutang hutang mereka.
"Apa kita menerima tawaran preman itu," ucap Tuan Siga ragu.
"Aku tidak ingin Luna membenciku karena telah menjualnya," ucap Nyonya Shian ragu, demi uang dia rela melepaskan anaknya, tetapi disisi lain dia tidak ingin namanya jelek di depan anaknya.
"Aku akan mengalah, biarlah putri kita membenciku saja," ucap Tuan Siga dengan ragu ragu.
Sejujurnya mereka tidak tega, tetapi karena napsu mereka terhadap uang membuat rasa prikemanusiaan mereka memudar.
Selama dua hari Tuan Siga bersandiwara menyiksa Nyonya Shian sampai babak belur, Luna yang tidak tahu mengapa ayahnya berubah selalu mencoba mengehentikan nya.
"Ayah jangan pukul ibu lagi, aku mohon, ada apa dengan ayah !!"ucap Luna yang sangat takut dan juga sedih.
"Kamu tahu aku telah bangkrut, dan kalian hanya beban bagiku, setelah membunuh ibumu aku akan membunuhmu !!" ancam Tuan Siga lalu memukul nyonya Shian dengan kasar.
"Ayah ayah hentikan, baiklah baik, Luna akan mendengarkan kata ayah tetapi dengan syarat. Ayah harus membiarkan ibu hidup," ucap Luna putus asa.
"Luna jangan lakukan itu nak," ucap Nyonya Shian bersandiwara sedang bersedih.
"Ibu tidak papa Bu, setelah hutang hutang ayah lunas aku akan mengumpulkan uang dan membawa ibu pergi dari sini," ucap Luna penuh kasih sayang, sejujur di lubuk hati orang tua Luna sangat tersentuh dengan kebaikan Luna, tetapi karena hawa napsu telah merasuki merek, mereka tidak perduli.
Setelah mereka menjual Luna, perekonomian mereka berangsur angsur mulai membaik walaupun baru 20%.
Di dalam Bar Luna selalu mencoba untuk menolak melayani para hidung belang itu, sampai dua Minggu Luna selalu lolos dari tikaman pria pria hidung belang. Setelah menyiksa Luna karena Luna tidak ingin melayani mereka, mereka tetap membayar Luna untuk berobat dan mereka pun pergi setelah puas menyiksa Luna.
Sampai suatu hari ada seorang pria hidung belang yang sangat jelek mencoba untuk menaklukkan Luna, tetapi seperti biasa Luna selalu menolak ber-bagai cara bahkan Luna menawarkan pria itu untuk menyiksanya saja. Tetapi pria jelek itu mau mendengarkan celoteh Luna dan terus berusaha untuk menjatuhkan Luna. Luna yang pasrah hanya bisa berteriak meminta tolong.
BRUKK !!!sebuah pintu di dobrak paksa.
Seorang pria tampan masuk dan memberi pelajaran kepada pria belang itu.
"Hay siapa kamu !!"bentak orang jelek itu.
"Jang'an paksa wanita !" Ucap pria tampan itu sedikit menekankan suranya.
"Saya telah membayar mahal untuk wanita ini," ucap pria jelek itu.
Pria tampan mengenal pria jelek itu dan menyodorkan kartu namanya karena enggan berbasa basi.
"Oh maaf Tuan, maafkan saya, silahkan ambil wanita ini, saya permisi," ucap pria jelek itu mundur setelah melihat kartu nama pria tampan itu.
Luna yang merasa sangat takut hanya bisa menangis dan menutupi tubuhnya yang sudah kacau.
Nona ayo ikut saya.
"Kemana Tuan ?"tanya Luna.
"Saya akan membawa kamu keluar dari sini," ucap pria tampan itu.
"Benarkah, saya akan kembali kepada kedua orang tua saya," ucap Luna merasa sangat bahagia.
"Kamu saya beli jadi kamu akan ikut dengan saya," ucap pria tampan itu membuat Luna kembali merasa takut.
Setelah Pria tampan itu membayar Luna dengan harga yang fantastis, pria itu membawa Luna ke sebuah Rumah yang menyerupai istana.
Luna di bawa kesebuah kamar yang luas, semua fasilitas ada di dalam kamar itu, hanya saja tidak ada jendela ataupun kaca untuk melihat keadaan di luar.
Luna merasa sangat bingung. Akankah dirinya lebih atau malah lebih buruk di dalam rumah yang megah itu.