
Di atas gedung sebuah Bar bertingkat, Dauna dan Sun menikmati angin malam.
Di bawah bintang yang germelap Dauna mulai menceritakan masa lalunya.
"Setelah mama aku meninggal, aku tidak pernah mendapatkan perhatian dari orang tua karena papa selalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai tentara dan akhirnya di angkat menjadi seorang ketua perwira. Papa tidak pernah ada waktu untuk putri satu satunya. Waktu SMA aku telah salah memilih teman dan akhirnya terjerumus sampai di tempat seperti ini, tapi ini tidak sepenuhnya salah mereka, aku yang yang merasa kesepian selalu mencari cara untuk mencari kesenangan. Mungkin karena penampilan aku yang seperti ini membuat para mafia mengincarku dan ingin menjualku. Aku selama ini tidak pernah mengaku jika aku adalah anak dari seorang tentara, lagian teman temanku juga selama ini tidak bertanya apa pekerjaan orang tuaku," ucap Dauna menjelaskan masalalunya yang menjadikannya berakhir di tempat seperti itu. Dauna mencoba tegar dan menahan kepedihan hatinya.
Sun yang mendengar itu tidak dapat berkata apa apa. Sun menatap Dauna yang menahan kepedihannya perlahan mencoba memeluk Dauna.
Malam yang dingin, angin sepoi-sepoi bintang yang berganti dengan awan hitam, kilatan petir yang menyambar seolah-olah ikut adil dalam kepedihan Dauna.
Sun yang tidak pandai berkata kata akhirnya menuntun Dauna untuk turun dan pulang.
"Sun kita mau kemana ?"tanya Dauna.
"Aku akan mengantarmu pulang."
"Aku tidak ingin pulang kerumah Sun."
"Baiklah, ayo ikut aku."
Setelah di guyur hujan akhirnya Sun dan Dauna sampai ke apartemen milik Juo.
"Dimana kita Sun?"
"Ini apartemen Juo, kamu bisa menginap disini."
"Tapi bagaimana dengan Juo ?"
"Tidak papa, apartemen ini sudah lama tidak dihuni."
"Baiklah."
Sun membuka apartemen tanpa kunci membuat Dauna heran.
"Hay apa apartemen ini tidak di kunci ?"
"Apartemen ini tidak ada apa apanya, jadi tidak pernah kami kunci," jelas Sun.
"Emm begitu."
Mereka masuk kedalam, tempat ini terlihat sangat bersih dan seperti ada yang merawat. Sun berfikir mungkin Juo menyuruh orang untuk membersihkan tempat ini.
"Dauna kamu mandilah dulu, Disini ada baju Juo kamu maukan?"
"Iya tidak papa Sun, aku mandi dulu ya."
Disaat Dauna sedang mandi Sun berfikir akan memasak mie instan untuk makan malam.
Di apartemen sebelah, seperti biasa Zahra akan masuk ke apartemen Juo untuk membersihkan apartemen itu. Zahra tahu apartemen Juo tidak dikunci, jadi Zahra inisiatif untuk membersihkannya secara suka rela tanpa sepengetahuan Juo.
Disaat Zahra masuk dia merasa ada kehidupan di apartemen itu dan benar saja. Zahra melihat seorang pria sedang memasak. Zahra yang mengira itu adalah Juo langsung memeluknya dari belakang dengan sangat erat. Sun yang mengira itu adalah Dauna memegang tangan Zahra dengan sangat erat.
Di sisi lain Dauna yang selesai mandi tidak sengaja melihat Sun yang sedang di peluk dari belakang oleh seorang wanita membuat hatinya sangat sakit, dia mengambil jaket dan berlari keluar dari apartemen dengan diam diam karena takut mengganggu mereka.
"Juo aku sangat merindukanmu," ucap Zahra membuat Sun membelalakkan matanya.
Sun mencoba melepaskan pelukan Zahra memutar balik badannya.
"Loh Juo !!" teriak Zahra terkejut.
"Zahra !!!"
"Gadis itu ada ada saja," batin Sun sambil menggeleng kepalanya.
"Oya kenapa Dauna lama sekali ya," batin Sun mencoba melihat.
"Dauna !! Dauna !!" Sun memanggil Dauna, tetapi tidak ada jawaban. Sun yang merasa ada yang tidak beres mencoba mendobrak kamar mandi, tetapi ternyata kamar mandi tidak di kunci.
"Oh shiiit !!!!" gerutu Sun melihat kamar mandi telah kosong. Dengan kaki seribu Sun berlari menyusul Dauna. Untung Dauna pergi membawa jaket milik Sun sehingga Sun bisa melihat lokasi dimana Dauna pergi.
"Plis Dauna jangan lakukan hal apapun," batin Sun yang merasa sangat khawatir karena posisi Dauna berada di atas jembatan.
Disisi lain Dauna yang masih setia di bawah guyuran hujan berteriak sekuat kuatnya untuk melepaskan semua beban yang ada di hatinya.
Dauna melihat air yang mengalir di bawahnya seolah terhipnotis dan mengambil ancang ancang untuk melompat.
"Sun selamat tinggal," ucap Dauna lirih dan melompat dari atas jembatan.
Sun sedari awal sudah melihat Dauna langsung berlari sekuat tenaga dan akhirnya dia bisa menggapai tangan Dauna.
"Dauna !!!!! apa yang kamu lakukan !!!"teriak Sun yang berhasil menangkap tangan Dauna.
"Sun ,,," ucap Dauna lirih, dia tidak menyangka Sun datang untuk dirinya.
"Dauna pegang tanganku erat !!!teriak Sun yang tidak ingin kehilangannya.
Dengan susah payah akhirnya Dauna berhasil naik keatas.
"Apa yang kamu lakukan HAH !!! kamu gila !! kamu sudah tidak memiliki akal, kamu wanita bodoh !! kamu tahu itu !!!" teriak Sun memaki maki Dauna.
"IYA !!! AKU MEMANG SUDAH GILA !!TIDAK PUNYA AKAL !! LALU KENAPA KAMU MASIH MENYELAMATKAN AKU !!"teriak Dauna tidak kalah kuat dengan Sun. Dauna menangis kuat di bawah guyuran hujan yang masih terus turun dengan deras.
Sun yang merasa sudah kelewatan langsung memeluk Dauna dengan sangat erat.
singkat cerita Sun kembali membawa Dauna ke apartemen, Sun juga memanggil Zahra untuk datang.
"Dauna maafkan aku yah, kamu telah salah faham. Aku yang salah disini, maafkan aku," ucap Zahra dengan penuh penyesalan.
"Tidak papa Zahra, aku saja yang berlebihan dan memutuskan sendiri dengan apa yang aku lihat," ucap Dauna yang merasa malu sendiri karena dia sudah salah faham.
"Baiklah, kamu istirahat dulu ya Dauna. Emm dan sekali lagi aku minta maaf atas semua kecerobohan aku," ucap Zahra yang benar benar masih merasa tidak enak. Akibat dari kecerobohan dia ada wanita yang hampir mati karena dirinya.
Setelah mengantar Zahra sampai depan pintu Sun kembali menemui Dauna di dalam kamar.
Dauna tersenyum kikuk karena dia merasa sangat malu.
"Hmm kamu sudah dengar semua Dauna?"tanya Sun mengejek.
"Iya Sun, maafkan aku ya karena telah salah faham."
"Ya sudah kamu istirahatlah dulu," ucap Sun sambil memasangkan selimut untuk Dauna.
Namun tiba tiba suara gemuruh terdengar dari perut Dauna.
"Kamu lapar ?"tanya Sun.
Dauna hanya mengangguk dengan pipi yang sudah memerah bak kepiting rebus.
"Baiklah aku akan masakan mie instan yang baru."
Malam itu mereka habiskan malam bersama dengan saling menghangatkan satu sama lain.