The Lion, PRINCESS CEO.

The Lion, PRINCESS CEO.
EPISODE 30 PRINCESS CEO



"Permisi Miss, ada tamu yang ingin bertemu dengan anda," ucap salah pelayan.


"Baiklah suruh mereka masuk," ucap Maoura yang masih duduk bersantai di ruang keluarga dengan yang lainnya.


"Maaf Miss mereka ingin berbicara di taman," ucap pelayan itu lagi.


"Oh baiklah aku akan menemui mereka," ucap Maoura.


"Maoura aku akan ikut denganmu," ucap Rio.


"Baiklah," ucap Maoura, dia ingin kakeknya melihat bahwa Rio benar benar menjaganya dan melindunginya.


"Rio kakek minta kamu selalu menjaga dan menemani Maoura," pinta kakek Widjaya dengan tersenyum penuh kepercayaan kepada Rio.


"Siap kakek, serahkan semua kepada Rio."


..


Di taman Rio terkejut melihat Leo dan Juo.


"Ada apa anak ini kesini," batin Rio menatap mereka dengan mata elangnya.


"Waduh leo ternyata Rio mengikuti Maoura," ucap Juo sedikit cemas.


"Mau bagaimana lagi, kita harus jujur walau nyawa taruhan kita. Cepat atau lambat semua ini akan ketahuan juga," ucap Leo memberanikan diri.


"Oh hay ternyata kalian, ada apa ini, tumben?"tanya Maoura terkejut karena yang datang ternyata Leo.


Saat Leo ingin menjawab Rio dengan cepat memotong.


"Ah kalian pasti merindukanku bukan, aku tau kalian tidak bisa jauh dariku meski sedetik sekalipun. Tapi maaf saudara, aku sekarang sudah memiliki istri," ucap Rio dengan tawa renyahnya.


"Benarkah begitu Leo Juo?"tanya Maoura.


"Ah iya benar Maoura, Rio adalah kakak terbaik kami. Emm Lihat ini tanganku terluka karena teriris pisau saat memasak, biasanya setiap pagi dan malam Rio lah yang memasak untuk kami," ucap Leo yang jatuh dalam permainan Rio.


"Kasian sekali sekali kalian tetapi maaf aku tidak bisa di bohongi, cepat katakanlah apa maksud kalian datang kemari," ucap Maoura dengan tegas.


Mereka terlihat kikuk dan bingung.


Juo menunduk dan menyembah Maoura sambil menyatukan kedua tangannya. Perbuatan Juo membuat Leo dan Rio melotot kearahnya.


"Miss Maoura kami mengaku kami telah salah, kami bertanggung jawab dengan apa yang terjadi kepada Luna saudari anda," ucap Juo dengan sangat cepat sambil menutup matanya.


Tidak ada pilihan lain Leo juga berjongkok untuk meminta maaf kepada Maoura.


"Apa yang di katakan Juo benar Miss itu semua perbuatan kami, tetapi sungguh kami tidak mengetahui jika Luna adalah saudari anda," ucap Leo mengakui kesalahannya.


Di hamparan bunga yang tersusun rapi Luna sengaja menguping mereka.


"Uuh Maco sekali Leo, aku tidak menyangka dia berani mengakui kesalahannya, benar benar pria impian," batin Luna tersenyum senyum sendiri membayangkan Leo pria yang sangat dia sukai.


"Apa !! jadi semua itu adalah ulah kalian. Rio katakan yang sebenarnya ada apa ini," tanya Maoura sengaja menghadap Rio, Maoura ingin melihat seberapa besar kejujuran Rio.


"Maoura maaf kami, apa yang mereka katakan adalah benar, apa yang terjadi kepada Luna adalah perbuatan kami," ucap Rio jujur.


"Saat itu aku datang untuk mengambil sesuatu di toko bunga tetapi aku melihat ruang rahasia kami terbuka begitu saja, aku mencoba untuk menyelidiki dan ternyata Luna ada di dalam disana, dia mengaku tidak sengaja menemukan ruang rahasia kami. Tapi kamu tahu kan Maoura kita tidak bisa percaya begitu saja kepada seseorang yang tidak kita kenal, jadi kami memutuskan untuk membuat Luna kehilangan sebagian ingatannya," ucap Rio mencoba menjelaskan semua kepada Maoura.


Maoura melihat kejujuran mereka. Maoura juga bisa memaklumi semua perbuatan mereka. Sejujurnya akibat dari kelakuan mereka Maoura akhinya jadi mengetahui sesuatu yang menimpa Luna selama ini.


"Baiklah aku bisa memaklumi perbuatan kalian, tetapi kalian tetap akan aku hukum," ucap Maoura yang tidak ingin melepaskan mereka begitu saja.


"Hukuman seperti apa Maoura," tanya Rio merasa cemas.


"Aku ingin melihat sendiri ruang rahasia kalian," ucap Maoura.


Mereka berfikir cukup lama sampai akhir Rio menyetujui keinginan Maoura.


"Baguslah, karena kalian tidak ada pilihan lain. Sejujurnya aku sudah menemukan ruang rahasia kalian, tetapi aku bukan pemberontak dan juga bukan pencuri jadi aku tidak akan masuk jika tuan rumah tidak membukakan pintu," ucap Maoura dengan sikap aroganya.


Rio baru tersadar.


"Ini adalah Maoura, Maoura yang telah membunuh ayahku. Akhirnya dia menunjukkan sikap aslinya," batin Rio dengan wajah sedikit kecut sesaat dan kembali lagi ke wajah ramahnya.


"Kasihan, gara gara aku Leo jadi mendapatkan masalah dengan Maoura. Duuh apa ya yang akan Maoura lakukan kepada mereka, aku harus membujuk Maoura agar memaafkan mereka," batin Luna yang masih setia menguping.


..


Di pinggiran danau buatan di tengah tengah kota Sun dan Dauna beristirahat dan mengelap keringat yang sudah mengucur deras di tubuh mereka.


"Hah hah hulah Sun apa kamu sudah merasa lelah ?"tanya Dauna yang merasa kakinya ingin patah karena mencoba menerima tantangan dari Sun untuk berlari mengelilingi danau itu sebanyak 3 putaran.


"Dauna rasanya aku ingin pingsan tapi aku malu ada kamu disini," ucap Sun yang sudah tidak sanggup lagi untuk berbicara.


"Hahaha dasar kamu Sun," ucap Dauna yang langsung merebahkan tubuhnya di atas rumput yang sangat lebat dan tebal.


Kota itu di disain sedemikian rupa untuk memanjakan rakyatnya. Semua kecanggihan dan kenyamanan selalu diperkembangkan agar kota mereka menjadi kota yang tidak tertandingi.


Sun melihat jam tangannya dan mengetik sesuatu. 2 menit kemudian datang bola terbang.


"Pesanan anda sudah datang silahkan masukan kode untuk membuka," ucap bola terbang itu.


Sun langsung mengarahkan jam tangannya ke mata bola.


"Kode teridentifikasi silahkan ambil pesan anda dan terima kasih," ucap bola itu lalu membelah diri menjadi 2 bagian.


Sun memesan 2 minuman dan 2 porsi jumbo burger .


"Waw apa alat ini baru di kota kita ?"tanya Dauna yang baru mengetahui ada draiver robot terbang.


"Iya ini dari perusahaan grub MAMBIO yang telah bekerja sama dengan beberapa restoran besar di kota kita," jawab Sun sambil memakan burger.


"Oh begitu, apakah kamu bekerja di perusahaan itu ?"tanya Dauna.


"Emm tidak."


"Lalu kamu tahu darimana, biasanya jika ada produk baru dalam setahun hanya orang orang kaya dapat menikmati fasilitas itu sampai mereka menemukan hal hal baru lagi," ucap Dauna.


"Oh itu karena saudariku Rio dia menikah dengan Maoura Raden Widjaya cucu penerus perusahaan itu, apakah kamu lupa ?"tanya Sun yang mencoba mengingatkan Dauna.


Sejujurnya anggota the Meong sudah lama bekerjasama dengan perusahaan MAMBIO dan alat pengantar pesanan itu adalah salah ciptaan mereka.


Mereka bekerja sama hanya dari jarak jauh, sejauh ini perusahaan MAMBIO tidak mengetahui siapa pemilik dari akun yang telah lama bekerjasama dengan mereka.


Maoura selalu mencari jejak mereka tetapi tidak pernah menemukan petunjuk apapun dari akun the Meong itu.


Jika perusahaan menginginkan produk baru maka mereka tinggal mengirim disain dan fiktur fiktur yang di butuhkan, sisanya akan mereka buat sesuai keinginan. Setelah barang siap the Meong akan mengirim barang pada malam hari dan pembayaran di lakukan secara online.


"Ow iya iya aku mengingatnya. Hebat juga ya saudara kamu bisa mendapatkan wanita seperti Maoura," ucap Dauna kagum.


"Itu hanya keberuntungan," ucap Sun.


"Hmm seperti aku yang beruntung bisa mengenalmu," ucap Dauna berhasil membuat Sun tersedak makanannya.


"Uhuk uhuk ."


"Sun apa kamu tidak papa, ini minum dulu," ucap Dauna yang terlihat khawatir.


"Apa kamu senang bertemu denganku?"tanya Sun yang tiba tiba serius.


"Kamu adalah malaikat penolong ku Sun, aku selalu berjanji akan berhutang nyawa padamu Apapun yang kamu inginkan sebisa ku akan aku kabulkan," ucap Dauna.


"Jika aku menginginkan dirimu," ucap Sun membuat Dauna tersipu malu.


"Sun aku bukanlah wanita baik baik, aku adalah wanita nakal makanya aku berakhir di tempat kamu menemukanku, jika aku wanita baik baik mereka tidak akan menculik aku. Kamu tahu sedari sekolah menengah aku sudah mengenal dunia Bar, setiap malam selalu aku habiskan untuk bersenang senang."


"Tapi kamu masih suci," ucap Sun.


"Haha bagaimana kamu bisa menyimpulkan itu Sun," ucap Dauna.


"Kamu tahu mafia Ghost tidak akan menjaga berlian sampai sedalam itu," ucap Sun meyakinkan Dauna bahwa dirinya benar.


"Apakah kamu yakin Sun bahkan aku meragukan diriku sendiri. Kamu tahu setelah aku mabuk aku selalu berada di ranjang tanpa menggunakan sehelai benang pun, aku sendiri tidak pernah ingat bagaimana aku bisa berakhir seperti itu," ucap Dauna yang menahan air matanya.


"Dauna tidak perduli apapun yang kamu lakukan aku tetap akan berada di sampingmu," ucap Sun yang tidak perduli dengan masa lalu Dauna.


Dauna tidak menjawab Sun, dia hanya melihat langit langit yang mulai memanas karena waktu menunjukan pagi menjelang siang.