The Lion, PRINCESS CEO.

The Lion, PRINCESS CEO.
EPISODE 45 PRINCESS CEO



Orang Tua Maoura yang berada di luar negeri panik seketika saat mendapat kabar bahwa Laboratorium bawah laut meledak. Mereka mencoba terus menghubungi Maoura.


Sekertaris Yuna yang mendapat kabar saat itu juga langsung menuju ke Villa.


Yuna sangat terkejut melihat villa yang sudah tidak berupa, dia sangat khawatir dan cemas.


Selain khawatir Maoura kenapa kenapa dia juga takut jika sesuatu terjadi pada Max.


Disaat Yuna menangis tidak tahu harus mencari kemana keberadaan Max, tiba tiba Max keluar dari ruangan bawah tanah. Max yang melihat semua berantakan langsung berlari keluar untuk memastikan keadaan Maoura.


"Yuna ?"


"Max !!"


Yuna langsung berlari menghampiri Max dan memeluknya dengan berat.


"Hik hik Max ,, syukurlah kamu selamat. Apa kamu tahu, aku sangat takut saat mendengar ada sunami yang terjadi di dekat Villa Miss Maoura," ucap Yuna yang tak henti hentinya menangis.


"Tenangkan lah dirimu Yuna aku tidak papa," ucap Max mengerti perasaan Yuna.


"Oya bagaimana keadaan Miss Maoura ?"tanya Max yang teringat Maoura.


"Dia sudah di bawah kerumah sakit. Rio mengatakan Miss pergi bersamamu, tetapi Rio tidak melihat keberadaanmu. Dimana kamu Max ?"tanya Yuna yang juga merasa heran, bahkan baju max tidak basah sama sekali.


"Aku bersembunyi di ruang bawah tanah. Aku sudah memperingati Miss Maoura untuk tidak keluar, tetapi dia menghawatirkan Rio sehingga mengorbankan dirinya untuk suaminya," jelas sekertaris Max.


"Miss Maoura sungguh mencintai Chef Rio, aku merasa iri pada mereka," ucap Yuna malu sendiri membayarkan keromantisan Maoura dan Rio.


Cetak !! max menjitak jidat Yuna.


"Apa yang kamu pikirkan."


"Aw sakit Max !!"


"Sudahlah, ayo kita kerumah sakit."


Yuna hanya menatap Max dengan sinis.


"Dasar pria tidak romantis. Padahal aku sudah menangisi dia tetapi dia malah menjitak kepalaku, huh." batin Yuna menggerutu.


Pesawat pribadi mendarat dengan sempurna. Tuan Raden dan juga Nyonya Sarla berlari kecil meninggalkan pesawat.


Mereka terlihat sangat cemas dan khawatir, berharap anak mereka akan selamat.


Setelah sampai rumah sakit Tuan Raden dan Nyonya Sarla langsung menuju ke ruangan Maoura di rawat.


"Sekertaris Yuna bagaimana keadaan Maoura ?"tanya Nyonya Sarla yang melihat Yuna.


"Miss Maoura baik baik saja Nyonya, dia sedang istirahat karena dalam pengaruh obat penenang," ujar Yuna.


"Syukurlah, ayo papi kita masuk."


Rio sudah terbangun dari tidurnya mencoba merapikan selimut Maoura.


"Rio !?"


"Mami Papi kalian datang."


"Iya nak, bagaimana dengan keadaan Maoura?"Nyonya Sarla.


"Dia baik baik saja Mi Pi jadi kalian tidak perlu cemas."


"Syukurlah, apa Kakek sudah di beritahu ?"tanya Tuan Raden.


"Kami belum memberi tahu Tuan Widjaya Tuan," ucap Max yang tiba tiba muncul.


"Bagus, rahasiakan ini dari dia. Biarkan dia menikmati masa tuanya dengan tenang Disana," ucap Tuan Raden.


"Baik Tuan," ucap Max.


"Max ayo kita bicara di luar, jelaskan padaku apa yang terjadi," ucap Tuan Raden mengajak Max berbicara di luar.


..


"Maoura sayang Mami disini nak," ucap Nyonya sambil Sarla mengelus kepala anaknya yang sedang tertidur.


"Mami, mami disini," ucap Maoura pelan, dia baru sadar dari mimpi buruknya.


"Iya sayang ini Mami nak."


"Hik hik Mami Maoura sangat takut Mi, ini semua salah Maoura Mi," ucap Maoura yang kembali histeris dan menangis.


"Sayang hey dengar mami, ini bukan salah Maoura, kita akan menyelidiki semua ini jadi tolong tenangkan dirimu, jangan membuat musuhmu menertawai keadaanmu," ucap Nyonya Sarla mencoba menenangkan Maoura.


"Tapi bagaimana musuh bisa tahu tempat rahasia itu Mi, ruangan bawah laut itu tidak pernah bocor kesiapa pun selama ini jika bukan karena kecerobohan Maoura."


"Sayang, Papi dan sekertaris Max sedang menyelediki ini jadi mami mohon tenangkan dirimu oke, ada Mami disini sayang," Nyonya Sarla memeluk anaknya dengan erat.


Rio yang selama ini hanya melihat keangkuhan Maoura terkejut dengan sikap Maoura yang seperti anak yang tidak berdaya di depan ibunya. Dia meringkuk lemas di depan ibunya, Maoura yang kuat sekarang hanya seperti anak berusia 5 tahun yang butuh perlindungan orang tuanya.


...


"Sekertaris Max jelaskan padaku !"ucap Tuan Raden meminta penjelasan.


"Ada kebocoran gas dan, dan ..." sekertaris Max ragu mengucapkan.


"Dan apa Max !!!"


"Dan alarm peledak di aktifkan oleh hecker dan di kunci olehnya, aku sudah meminta Miss Maoura untuk membawa Leo bersama kami tetapi Miss Maoura menolak," jelas Max.


"Apa !!! heker, bagaimana bisa ada heker yang bisa membobol ruangan bawah laut. Max cepat cari tahu siapa orang itu," Tuan Raden terlihat sangat marah.


"Baik Tuan."


"Tunggu, siapa kamu bilang tadi, Leo ?"


"Dia saudara dari Chef Rio tuan."


"Hmm yasudah kamu pergilah, biar nanti aku meminta penjelasan dari Maoura."


"Baik Tuan."


Sekertaris Max dan Yuna pergi dari rumah sakit. Di parkir sekertaris Max dan Yuna berpisah.


"Max berhati hatilah," ucap Yuna merasa cemas dengan keselamatan Max.


"Kamu tenang saja," ucap max dan lalu pergi meninggalkan Yuna.


"Hmm kamu tidak mencintaiku apa memang sikapmu seperti ini," batin Yuna yang merasa kecewa dengan sikap Max.


"Huuft aku lupa tidak mengabari Nona Laras," batin Yuna kembali, dan cepat cepat kembali ke perusahaan.


..


Di rumah utama Luna dan Nyonya Shian yang tidak mengetahui kabar yang terjadi menimpa Maoura terlihat sangat santai memasuki rumah utama.


Mereka baru pulang dari shoping dan berjalan jalan untuk menyenangkan hati Zie.


"Dari mana kalian ?"tanya Tuan Raden yang mengejutkan Luna dan Nyonya Shian.


"Kakak kamu pulang," ucap Nyonya Shian senang.


"Ini anak kamu Luna ?"tanya Tuan Raden.


Walaupun Tuan Raden dan Nyonya Sarla jauh dari Maoura, tetapi mereka tidak pernah kehilangan informasi yang ada di rumah utama.


"Iya paman ini anakku," jawab Luna merasa tidak enak karena telah membohongi keluarga ini.


"Kamu tidak perlu merasa sungkan Luna, kami tahu apa yang terjadi di rumah ini," sindir Tuan Raden sambil melirik Nyonya Shian dengan tajam.


Nyonya Shian yang mendapatkan tatapan tajam dari Tuan Raden hanya bisa menunduk.


"Oya dimana Bibik Sarla ?"tanya Luna.


"Dia sedang dirumah sakit menemani Maoura."


"Apa !! memang apa yang terjadi dengan Maoura ?"tanya Luna yang terkejut mendengar Maoura berada di rumah sakit.


"Di villa terjadi sunami dan Maoura hampir hanyut disana, untung ada Rio disampingnya," ucap Tuan Raden.


"Ya ampuun !! kita baru saja keluar dari villa itu dan villa itu terkena sunami, nasib beruntung berada di pihak kita Luna," ceplos Nyonya Shian merasa hidupnya di atas keberuntungan.


"Iya Bu, tapi bagaimana dengan keadaan Maoura," ucap Luna merasa sangat khawatir.


"Oh iya, ayok kita kerumah sakit," ucap Nyonya Shian yang langsung menggandeng Luna untuk pergi kerumah sakit.


"Pelayan tolong jaga Zie sebentar ya, aku akan kerumah sakit menjenguk Maoura." Luna.


"Baik Non."


"Hmm Siska kamu jaga Zie dan kumpulkan semua pelayan, aku tunggu di ruangan rahasia," perintah Tuan Raden.


Di ruangan rahasia semua pelayan yang ahli dalam bidangnya berkumpul. Mereka memberi informasi terperinci apa yang terjadi dirumah itu, dan salah satunya adalah mereka juga mencurigai Rio.


Menurut mereka mengapa Miss Maoura tidak ingin meminta bantuan Leo itu karena Leo masih sodara dengan Rio, Maoura takut tempat rahasia itu di ketahui oleh Rio. Tapi sayang nasib buruk menimpa mereka, laboratorium itu meledak dan tidak menyisahkan apapun.


Seorang ahli teknologi dan sistem mengatakan bahwa peledak di aktifkan dari dalam, bukan dari seorang heker. Tapi sayang mereka tidak bisa menemukan bukti apapun karena tempat itu sudah hancur.