
perusahaan grup MAMBIO sedang dalam keadaan tidak setabil ketika berita kecelakaan Maoura dan Rio terjadi, dan hilangnya Laras membuat pertanyaan besar.
Di ruangan Savior, semua kru di istirahatkan dan di kumpulkan untuk melakukan doa bersama untuk Maoura dan Rio.
Leo yang dan para saudara yang mendengar kematian Rio merasa tidak percaya.
"Aku tidak percaya Rio mati dan Laras adalah dalangnya," ucap Leo.
"Itu karena kamu ada hubungan kan sama Laras !!"ucap Sun.
Di dalam Kamar mereka melihat jam tangan mereka penuh notifikasi merah dari Rio.
"Hay lihatlah, Rio memberikan pesan jika dia dalam bahaya," ucap Juo.
"Dia juga memberikan notifikasi kepada saya," ucap Sun.
"Saya juga !!"ucap Deon.
Mereka semua diam diam keluar dari Ruangan itu dan bersiap siap untuk pergi Mansion utama.
Di dalam perjalanan Leo mencoba menghubungi Rio..
Rio sudah di dalam kapal selam belum menyadari jika dirinya sudah mendapatkan sinyal terkejut melihat jam tangannya bergetar.
"Apa disini ada sinyal,?"tanya Rio pada Pak Winanto.
"Ada Tuan," jawab pak Winanto
"Ya ampun, kenapa tidak bilang dari tadi," ucap Rio sambil mengangkat telepon Leo.
"Hay Rio !! kamu masih hidup !!?"ucap Leo merasa bersyukur.
"Apa yang kamu katakan, mana mungkin aku bisa mati secepat itu," jawab Rio kesal.
"Lalu bagaimana dengan Maoura !?"tanya Leo.
"Aku dan Rose baik baik saja, sekarang kami akan kembali kesana Lewat kapal selam. Kamu siapkan mobil sekarang karena sebentar lagi kami akan sampai."
"Baiklah, kami akan langsung menuju bibir pantai sekarang."
"Deon putar balik, kita akan menjemput Rio di villa dekat pantai," ucap Leo.
"Apa yang sebenarnya terjadi !?"tanya Juo merasa heran.
"Aku juga tidak tahu, sepertinya ini adalah ulah Max !! kenapa tiba tiba dia yang menjadi CEO di MAMBIO, ini benar benar tidak masuk akal,". ucap Leo menduga duga.
..
Di Mansion utama, semua keluarga besar sedang berkumpul. Bahkan Tuan Widjaya, Back dan King juga ada.
Di dalam Ruangan keluarga besar itu.
Tuan Raden, Nyonya Sarla, Kakek Widjaya, kakek Suerdja, nenek Mandalika, Nyonya Shian, Luna, Tuan Nick, tuan Back, tuan King. Mereka semua mendengarkan para pelayan menjelaskan tentang situasi yang terjadi sekarang ini.
"Apa !! Max adalah dalang dari semua ini, kurang ngajar !! aku harus membunuh anak bajang itu !!"geram Tuan Raden.
"Maaf Tuan, sebaiknya kita harus berhati-hati karena Nona Laras dan Miss Maoura ada di tangan dia," ucap pelayan.
"Ya tuhan, Hua hik hik hik... Bagiamana keadaan kedua putriku, bagaimana nasib mereka, apakah Rose benar benar mati !!"histeris Nyonya Sarla.
Mereka yang baru tahu jika kembarannya Maoura masih hidup, dan sekarang di nyatakan mati lagi membuat mereka semua tidak bisa mengerti keadaan. Mereka benar benar di buat pusing dengan teka teki keluarga itu.
"Sarla !! kamu anggap apa mama ini, kamu menyembunyikan kenyataan jika kembaranya Maoura masih hidup !?"ucap Nyonya mandalika merasa kecewa dengan putrinya.
"Maafkan aku ma, Rose selama ini koma setelah kejadian itu. Demi keselamatannya kami semua menyembunyikan," jelas Sarla di depan ibunya.
"Ini bukan waktunya mengapa dan kenapa, siapa yang salah dan siapa bersalah. Kita semua harus segera menyelamatkan Maoura dan Laras. Kirim pasukan untuk menemukan jatuhnya helikopter Rio dan Rose," perintah Tuan Widjaya.
Tuan Widjaya sudah berjanji pada Soraya akan menjaga cucunya.
Tuan Back dan Tuan King maju untuk mencari keberadaan Laras dan juga Maoura.
Di sisi lain, Rose dan Rio telah sampai ke darat dan di sambut hangat dari leo dan yang lain.
"Syukurlah kamu baik baik saja Rio, kami semua sangat khawatir," ucap Leo.
"Kita harus segera Mansion utama," ucap Rose.
Setelah beberapa jam perjalanan, pukul 8 malam Rose dan yang lain sampai ke mansion utama.
"Mami !!!"
"Rose sayang !! kamu selamat nak, syukurlah ya tuhan. Ibu sangat khawatir dengan keadaan kalian," ucap Nyonya Sarla penuh haru.
"Bagaimana dengan Maoura Mami,?"
"Dia masih belum di temukan Rose, Max adalah dalang dari semua ini .."
"Iya mami, Max lah yang mengurung Rose di pulau ini," ucap Rose.
"Pak Winanto, anda selamat dari ledakan Laboratorium bawah laut !!"tanya Tuan Raden terkejut melihat Pak Winanto datang bersama Rose.
"Iya Tuan, kami sudah menemukan alat dimensi lain, dan saya sudah berhasil memasuki dunia masa lalu. Saya melihat Max lah sudah membunuh kedua orangtua angkatnya. Sayang ketika saya akan melaporkan itu pada kalian, Max sudah lebih dulu mengetahui sehingga dia mencoba membunuh kami semua," jelas Pak Winanto.
"Bagaimana bisa Max bisa sejauh ini sampai mengambil alih MAMBIO !!"ucap Tuan Raden merasa geram.
Perlahan Rio berlutut di depan mereka semua. Rio mengaku jika dirinya sudah membantu banyak untuk rencana Max, tetapi tidak di sangka ternyata Max juga telah mengkhianatinya.
Buk !! Buk !! Buk !!" pukul keras dari Tuan Raden untuk Rio.
"Kamu benar benar !!! Ahhh !!"ucap Tuan Raden menahan emosi.
Semua yang di sana memandang Rio dengan tatapan tajam. Bahkan Leo merasa ingin melayangkan tangannya mengingat Laras juga menjadi korban dari kecerobohan Rio.
"Untuk menebus kesalahanku, aku akan menemui Max dan meminta untuk melepaskan Maoura dan Laras. Aku siap mati demi mereka," ucap Rio dengan berani.
..
Malam penuh ketegangan, Tuan Raden dan pak Winanto mengobrol bersama dari sekian lama.
"Tuan, maafkan aku telah mengasuh anak haram itu," ucap tulus dari Pak Winanto.
"Jangan salahkan dirimu pak Winanto, niat kamu sudah benar hanya saja anak itu telah mewarisi sifat Paman dan bibik'nya," ujar Tuan. Raden..
....
Di sisi lain, Maoura dan Laras di sekap oleh Max di suatu tempat.
Maoura dan Laras di sekap di dalam rumah lama yang sudah tua terapi masih terlihat bersih. Itu adalah Rumah kediamannya dulu bersama dengan bibik dan pamannya.
"Uhuk uhuk ,, Laras kita berada dimana !?"tanya Maoura yang baru saja siuaman.
"Aku tidak tahu Maoura, hik hik hi aku sangat takut Maoura," ucap Laras menangis karena sangat takut.
"Laras, kamu jangan khawatir karena kakek akan menyelamatkan kita, dia adalah orang hebat," ucap Maoura membujuk Laras agar tenang.
Maoura memegangi perutnya yang masih rata.
"Nak, kita akan keluar dari sini hidup hidup. percayalah," batin Maoura.