
"Papi cepaaat !! cucu kita tidak sabar ingin bermain,"teriak Nyonya Sarla.
Karena Luna harus bekerja, jadi Nyonya Sarla inisiatif memomong Zie untuk di ajaknya jalan jalan keliling kota.
"Nenek Kita mau mana?"tanya Zie yang merasa senang.
"Emm Zie mau kemana sayang?"
"Zie mau naik kuda kudaan," ucap Zie polos sambil wajah seolah olah berfikir keras.
"haha iya sayang, kita akan keliling kota dan naik kuda kudaan. Selama nenek disini kita akan habiskan waktu bersama, ok."
"Ok nenek."
Tuan Raden awalnya ingin menolak karena dia masih harus menyelidiki Khasus yang menimpa Maoura. Tetapi Nyonya Sarla memaksanya pergi, Nyonya Sarla sangat kesal karena tidak disana tidak disini yang ada di pikirannya hanyalah pekerjaan. Nyonya Sarla sebenarnya ingin berhenti bekerja dan menikmati harta mereka yang sudah menumpuk. Tetapi demi masa depan Maoura Nyonya Sarla rela menghabiskan waktunya di depan berkas berkas yang mengahasilkan uang banyak.
...
Disisi lain Sun dan juga Dauna sedang asyik bermain di taman. Sebelum berpisah Sun ingin menghabiskan waktu bersama. Tanpa sepengetahuan Dauna sejujurnya Sun telah menyiapkan sebuah pernikahan mendadak. Sun sengaja mengajak Dauna jalan jalan karena di rumah Dauna sedang di hias untuk acara pernikahan nanti malam.
Sun yang mendapat tekanan dari ayah Dauna akhirnya setuju dengan kemauan calon mertuanya itu. Sun juga tidak ingin Dauna kembali menjadi wanita malam disaat dirinya kembali bertugas.
..
Di sebuah perusahaan ternama dan terbesar di kota Parades, Grup MAMBIO telah mencapai puncak keunggulan dalam bidangnya.
Leo yang sedang di mabuk asmara diam diam mencari ruangan Laras. Selama ini tidak ada wanita yang mampu membuat hatinya berdebar sangat kencang. Bahkan Leo tidak melirik Luna yang selama ini selalu main mata didepannya. Sejujurnya Leo tahu jika Luna tertarik dengan dirinya, tapi sayang Leo sama sekali tidak memiliki daya tarik terhadap Luna, apalagi Juo Sangat menyukai Luna.
Dengan pura pura menjadi tukang bersih Leo akhirnya menemukan Ruangan Laras.
Laras terlihat sangat bingung dengan pekerjaan yang menumpuk di depan matanya.
"Hay Laras," sapa Leo
",Oh ya ampun Leo itukah kamu, hahah kenapa kamu mengenakan pakaian seperti itu ?"
"Shuut !! ini agar aku tidak ketahuan," ucap Leo.
"Hmm baiklah baiklah sekarang katakan, ada apa kamu mencariku ?"
"Emm kenapa ya, sepertinya aku merindukanmu," gombal Leo.
"Ah kamu ada ada saja Leo. Aku sedang tidak ada waktu bercanda, Lihat lah pekerjaan ku sangat banyak," ucap Laras sambil memanyunkan bibirnya.
",Bagaimana jika aku membantumu ?"
"Apakah kamu yakin ?"
"Tentu."
"Baiklah, Terima kasih banyak leo."
"Sama sama."
Di ruangan Laras, dia banyak belajar dari Leo. Ternyata leo orang yang multifungsi tetapi selain memasak.
Di bawah lindungan dari Tuan King, Leo dan yang lain belajar dengan sungguh sungguh agar menjadi orang hebat dan pintar.
Baru dua hari bertemu Leo dan Laras sudah begitu sangat akrab. Buih buih cinta tumbuh begitu cepat setiap permili detik. Laras tidak ingin terburu karena dirinya belum mengenal Leo lebih jauh. Dan tujuan Laras datang keperusahaan bukankah mencari jodoh tetapi untuk mendapatkan kepercayaan Maoura.
...
Deon yang sedang mencari wanita idaman melihat kesana kemari tetapi tetap saja tidak ada wanita yang mampu membuat jantungnya berdegup kencang.
"Hik hik hik, ya tuhan sakit sekali hatiku ini hik hik belum juga mulai tetapi sudah patah hati, Huaa hiik hik ,,"suara tangis dari sebuah semak semak di taman yang berada di belakang perusahaan membuat Deon penasaran.
"Siapa itu yang menangis, kasihan sekali," batin Deon.
Deon mencoba membuka semak semak itu untuk melihat siapa yang sedang berduka disaat siang bolong, tetapi bertepan juga dengan Zahra yang akan berdiri dan keluar dari semak semak.
"Aaaaaahhhh !!! Bruukkk !!!!" Deon yang sangat terkejut melihat Zahra nongol begitu saja membuat tubuhnya kehilangan seimbang dan jatuh menimpa Zahra.
Deon begitu lama memandangi mata Zahra yang sudah memerah karena terlalu banyak menangis.
"Kamu berat," ucap Zahra pelan tapi mampu di dengar oleh Deon.
"Oh maaf Zahra, maaf."
"Hmm ada apa kamu tiba tiba nongol disitu ?"tanya Zahra.
"Aku tadi mendengar ada orang sedang menangis, jadi aku ingin memastikan."
"Hmm apa suaraku terdengar sampai kemana mana?"
"Tidak juga si, aku kebetulan sedang lewat sini."
"Ada urusan apa ?"
"Gak ada urusan apa apa, aku hanya ingin berjalan jalan saja di perusahaan ini."
"Hmm ya sudah aku pergi dulu ya, dan Oya pliss jangan kasih tau kesiapa pun ya kalo aku habis nangis."
"Baiklah."
"Terima kasih Deon."
Zahra pergi begitu saja. Deon yang masih bingung dengan nasib dirinya sendiri mencoba berlari dan mengejar Zahra.
",Hay Zahra !!"
"Emm apa kamu sudah makan siang?"
"Belum Deon, ini aku mau mengajak Luna untuk makan bersama. Juo ingin bertemu dengan Luna."
"Bolehkah aku ikut."
"Tentu saja Deon, semakin rame semakin asyik."
"Ayo berangkat."
"Ayo !!"
Siang itu Deon, Zahra, Luna dan Juo makan di tempat terbuka yaitu taman danau yang berada di tengah tengah kota. Mereka tidak perlu membawa bekal karena Juo sudah menyiapkan semua dengan matang.
"Deon bagaimana kamu bisa pergi bersama dua wanita ini ?"tanya Juo heran.
"Itu tidak sengaja," ucap Deon cuek.
"Hmm ..." dengus Juo yang tidak ingin ambil pusing.
"Haayyy !!!!! Juuooo !! Deooon!!!"Teriak sun yang tidak sengaja lewat di dekat mereka.
"Hay Sun, Hay Dauna," sapa Juo kepada dua sejoli itu.
"Waaah kebetulan sekali kita berkumpul disini," ucap Luna merasa Senang.
"Iya, ayo Dauna kita makan bersama," ucap Zahra.
"Baiklah."
"Kamu dari mana ?"tanya Luna
"Kita hanya berjalan jalan saja Luna," ucap Dauna.
"Ayo ayo kita makan ,," ucap Juo yang sudah tidak sabar.
Mereka semua asyik makan bersama di pinggir danau buatan di tengah tengah kota itu. Sesekali Juo dengan asyik menyuapi Luna membuat hati Zahra tidak karuan. Sedangkan Luna hanya menganggap Juo sebagai adik dari Leo.
"Hmm ternyata Zahra cemburu terhadap Luna," batin Deon yang mengerti mengapa Zahra bisa menangis menyedihkan.
Di saat sedang asyik tiba tiba ada anak kecil berlari kearah mereka.
"mama mama mama mama !!"teriak anak itu.
"Ziieeee sayang kamu disini nak ?"ucap Luna yang senang bertemu dengan anaknya.
",Zie cama nenek," ucap anak tampan itu.
Semua yang ada di sana sangat terkejut mengetahui jika Luna ternyata sudah memiliki anak terutama Juo, hatinya seperti hancur berkeping keping mengetahui jika Luna sudah memiliki seorang anak.
"Luna ini anak kamu?"tanya Zahra.
",Iya Zahra ini anak aku."
"Dimana papanya ?"tanya Dauna yang tidak tahu apa apa.
"Emm papanya sudah tiada," ucap Luna mengecilkan suaranya agar tidak di dengar Zie.
"Oww sory Luna," ucap Dauna merasa bersalah telah bertanya.
"Tidak papa Dauna."
Juo yang mendengar itu tersenyum tipis. Dia bertekad akan menjadi ayah yang baik untuk anak yang malang itu.
"Ziiee !!!! Zie !!!! dimana kamu nak !!!"teriak Nyonya Sarla yang mencari Zie.
"Tantee !!!! kami disini !!"teriak Luna melambaikan tangan.
"Oh ya ampun anak itu." gerutu Nyonya Sarla.
"Luna kamu disini. Zie jika ingin pergi bilang kepada nenek sayang."
"Zie lihat mama," ucap Zie.
"Luna tadi Zie meminta di belikan es krim, tapi tiba tiba Zie hilang begitu saja saat Tante akan membayarnya."
"Ziiee lain kali jangan membuat nenek khawatir ya," ucap Luna mencoba mengingatkan anaknya.
Dan Zie hanya mengangguk mengerti.
",Dimana Om Raden Tante,?"
"Dia tadi sedang mencari Zie ke arah sana."
"Emm yasudah tante ikut makan bersama kita yuk disini," tawar Luna.
"Baiklah, sepertinya nikmat," ucap Nyonya Sarla.
Mereka semua makan dengan sangat nikmat, sesekali Juo mencari perhatian kepada Tuan muda Zie. Zie yang mudah akrab membuat hubungan mereka sangat baik.
Dengan suara ngos ngosan tuan Raden menghampiri mereka.
"Ya ampun kalian disini," ucap Tuan Raden yang terlihat mengenaskan.
"Papi apa yang terjadi dengan papi ?"tanya Nyonya Sarla.
"Papi tadi di kejar anjing, mami," ucap Tuan Raden membuat semua orang disana tertawa.