
Maoura dan sekertaris Max telah sampai ke Villa yang berada di bibir pantai.
"Apa Luna sudah pergi,?"tanya Maoura kepada penjaga.
"Sudah Miss, baru saja mereka keluar."
"Bagus, perketat penjagaan dan jangan boleh ada orang asing masuk," perintah Maoura.
"Baik Miss."
Maoura dan sekertaris Max langsung menuju ruang bawah tanah. Ruangan bawah tanah itu terhubung ke laboratorium di bawah laut.
"Miss aku mendapatkan laporan kekacauan sudah terjadi di dalam sana," sekertaris Max memperingati.
"Separah apa Max ??"tanya Maoura yang merasa khawatir.
"Emm sistem kontrol mengalami kerusakan parah membuat ruangan bawah laut tidak setabil. Aku khawatir tempat itu akan segera meledak Miss," ucap Sekertaris Max.
"Apa !!! jika memang mereka tempat itu tidak bisa di selamatkan cepat suruh seluruh orang di sana untuk pergi meninggalkan tempat itu," perintah Maoura.
Di depan gerbang Rio mencoba memberanikan diri untuk masuk.
"Maaf Tuan anda tidak diizinkan masuk saat ini," ucap Penjaga.
"Aku adalah suami Maoura, apa kalian lupa," ucap Rio mencoba menggertak para penjaga.
para penjaga saling menatap.
"Baiklah Tuan, silahkan masuk," akhirnya para penjaga membukakan gerbang untuk Rio.
Rio berjalan cepat memasuki villa itu, dia mencari keberadaan Maoura kemana mana tetapi tidak ada.
Disisi lain Maoura dan sekertaris Max menghubungi seseorang di laboratorium bawah laut. Layar besar yang berada di depan Maoura menunjukan kekacauan yang terjadi di laboratorium itu, asap tebal menyelimuti tempat itu. Maoura memerintahkan mereka untuk segera keluar dan pergi menggunakan kapal selam. Tapi sayang sebelum mereka keluar tempat itu meledak dan menewaskan semua orang yang berada di dalam laboratorium itu.
Rio yang mendengar suara ledakan melihat kearah jendela. Air laut berdiri sampai ketinggian 10 meter. Semua para penjaga yang melihat itu semua berlari mencoba menyelamatkan diri dan meninggalkan villa ke arah puncak yang lebih tinggi.
Rio yang awalnya mau ikut lari tetapi teringat dengan Maoura yang masih berada di dalam villa. Sedangkan Maoura dan sekertaris Max tidak menyadari bahaya yang akan menimpa mereka, Maoura masih meratapi dan menangisi nasib mereka yang telah gugur.
"Maaouraa !!!!! Maaouraa !!!!! suara teriakan Rio Sangat kuat membuat Maoura sadar.
"Sekertaris Max bukankah itu suara Rio," ucap Maoura yang merasa bingung.
"Sepertinya iya Miss," ucap Sekertaris Max.
"Bagaimana bisa dia sampai ketempat ini," ucap Maoura.
Di sisi lain Rio terus berteriak memanggil Maoura.
"Maoura stunami akan terjadi, dimana kamu, cepat keluaarlaah !!!"teriak Rio lagi.
Maoura yang baru sadar dampak dari ledakan tadi akan menimbulkan sunami langsung keluar dari ruangan bawah tanah. Dia bisa saja selamat di dalam sana, tetapi Maoura memikirkan Rio yang masih di luar sana.
"Miss Maoura, kita akan tetap selamat di dalam sini," ucap Max memperingati Maoura.
"Tapi bagaimana dengan Rio Max, dia dalam Masalah besar !!"ucap Maoura panik.
Dengan buru buru Maoura keluar dari tempat itu. Sedangkan sekertaris Max tetap tinggal di dalam ruangan itu.
Maoura berlari dan menemui Rio yang seperti orang kehilangan arah saat mencari Maoura.
"Rio !!"panggil Maoura dengan tatapan berkaca kaca.
"Maoura, dari mana saja kamu !! tempat ini akan hanyut," ucap Rio lalu memeluk erat Maoura dengan erat.
Dan saat itu juga angin berhembus kencang kearah mereka dan air 5 detik akan menghanyutkan mereka.
Rio dan Maoura saling menatap dan dari tatapan mereka seperti mengatakan jika mereka saling mencintai.
BUUSSSHHHHH !!! Air itu menghempaskan tubuh mereka. Sekuat tenaga Rio membawa Maoura ke atas permukaan air.
Karena villa Maoura terdapat banyak pohon akhirnya Rio berhasil mendarat di atas pohon besar.
Maoura yang kehabisan napas tidak sadarkan diri.
"Maoura sadarlah Maoura, jangan tinggalkan aku pliss aku mohon," ucap Rio yang terus memompa dada Maoura. 5 menit pertolongan pertama tidak membawa Maoura ke alam sadarnya.
"Hik hik Maoura sadarlah aku mohon," ucap Rio dengan keputusasaan.
"Uhuuk uhukk Maoura mengeluarkan air yang sangat banyak dari mulut dan hidungnya.
"Amoura kamu sadar sayang," ucap Rio yang langsung memeluk Maoura.
"Dingin sekali Rio," ucap Maoura dengan bibir yang membiru.
"Aku sudah menghubungi Leo agar dia datang membawa bantuan," ucap Rio yang memeluk Maoura dengan sangat erat.
Maoura merasa hangat di pelukan Rio. Sedangkan Rio merasa senang khawatir dengan keadaan Maoura, di tambah wajah yang pucat dan bibir yang membiru.
Perlahan Rio mendekatkan wajahnya ke wajah Maoura.
"Maoura ini akan membuatmu hangat," ucap Rio yang perlahan mencium bibir Maoura.
Wes wes wes suara helikopter terdengar dari atas mereka. Leo yang datang dengan para bala bantuan membawa helikopter segera menolong Maoura dan Rio.
Setelah Maoura dan Rio berhasil naik ke atas helikopter, mereka langsung membawa Maoura ke rumah sakit.
Dari atas Maoura melihat penduduk kecil yang tinggal di dekat pantai mengalami kerusakan parah dan beberapa dari mereka ada yang harus kehilangan nyawa.
Maoura meneteskan air mata, hatinya begitu sangat sakit melihat kekacauan terjadi gara gara dia.
Rio yang mengerti perasaan Maoura langsung memeluk istrinya dengan erat.
"Kamu jangan khawatir sayang, kita akan memberi mereka bantuan. Ini adalah hukum alam, tidak ada yang bisa mengendalikan alam," ucap Rio mencoba menenangkan Maoura.
Tetapi bukanya merasa lebih baik Maoura malah nambah merasa sakit dan pilu. Sebab kekacauan itu bukanlah kehendak alam, tetapi karena kecerobohan dia dan juga semua rekan kerjanya.
Rio yang belum mengetahui semua terus mencoba untuk menenangkan Maoura.
..
Di rumah sakit Maoura di beri obat penenang karena dia terus terusan menangis pilu dan tidak berhenti.
Leo yang menemani Rio mencoba mencari tahu apa yang terjadi.
Rio menceritakan semua dari saat Maoura berada di restoran dan sampai Maoura pergi terburu buru membuat dirinya merasa sesuatu yang tidak baik akan terjadi pada Maoura, sehingga dia mengikuti Maoura kesebuah villa. Dan benar dugaan Rio, pantai yang berada di dekat villa Maoura menguap dan terjadi sunami.
"Lalu dimana sekertaris Max ?"tanya Leo. Karena tadi Rio sempat cerita jika Maoura bersama Max.
"Ntahlah, saat aku memanggil Maoura hanya dia yang keluar, aku tidak melihat Max," ucap Rio.
"Leo tolong jangan beri tahu ibu soal ini, biarlah dia mengira bahwa aku masih di luar negeri," ucap Rio memohon.
"Ibu sakit Rio," ucap Leo yang tidak ingin berbohong.
"Apa !! sakit apa ?"tanya Rio yang khawatir mendengar ibunya sakit.
"Kamu tidak perlu khawatir karena selama dua hari ini kami akan menjaga Ibu dengan baik," ucap Leo mencoba menenangkan Rio.
"Sebenarnya apa yang kalian kerjakan di dalam sana sampai sampai ada peraturan seperti itu," tanya Rio merasa heran.
"Sebenarnya pekerjaan kami hanya memantau dan membatu setiap kelompok yang akan membuat sesuatu, tetapi kami harus beradaptasi dengan ruangan kami bekerja," ucap Leo yang tidak ingin menjelaskan semuanya secara detail kerana itu di larang.
"Hmm baiklah, setelah kalian pergi aku pulang bertemu ibu," ucap Rio merasa frustasi dengan keadaan yang dia ciptakan sendiri.
"Rio mengapa kamu tidak ingin Ibu tahu jika kamu sudah menikah ?"tanya Leo.
"Ada sesuatu yang tidak bisa aku ceritakan padamu Leo, Maafkan aku," ucap Rio yang masih belum bisa terbuka dengan Leo.
"Baiklah, aku pulang dulu. Jaga dirimu baik baik," ucap Leo berpamitan.
"Tolong jaga ibu sebaik mungkin," mohon Rio.
Rio menghampiri Maoura yang sedang tertidur pulas di atas kasur pasien yang besar. Rio masih tidak ingin Maoura merasakan dingin mencoba tidur disamping Maoura dan memeluknya.
"Tidurlah dengan nyenyak sayangku," ucap Rio yang mencium hangat kening Maoura dan ikut tertidur di sampingnya.