
Di mansion utama, semua berkumpul untuk makan malam.
Anak kecil nan tampan dan ceria membuat suasana makan malam di mansion utama berkesan ramai dan harmonis.
"Hay anak pintar, apa kamu tidak merindukan mama kamu selama ini ?"tanya Laras dengan lembut tetapi mampu menampar hati Luna dengan sangat kuat.
"Zie Lindu mama ante, tapi mama Cali duit uwat Zie," ucap Zie anak satu tahun setengah itu. walaupun masih cedal tetapi semua orang yang di sana masih bisa mengerti apa yang di ucapkan Zie.
"Uuw anak pintar, jika mama pergi lagi boleh tidak ?"tanya Maoura.
"Boleh Ante, kan bial Zie ngak tinggal di Pati acuhan Agi," ucap Zie yang mampu membuat mata mereka yang disana berkaca kaca karena haru.
"Sayang mama janji tidak akan meninggalkan kamu lagi nak," ucap Luna mencium anaknya dengan sangat lembut.
"Holee belalti Zie akan tinggal cama Ante Aula dan Ante lalas," ucap Zie yang merasa senang.
"Haha iya sayang, kamu akan tinggal disini sama ante Maoura dan juga ante Laras," ucap Laras dengan gemas.
"Apa Om Lio papa Zie ?"tanya Zico membuat semua yang disana terdiam membisu.
"Kenapa Zie kok bisa berkata seperti itu ?"tanya Maoura.
"Kalena kata mama kalo di lual panti kita akan tinggal dengan papa," ucap Zie yang masih polos.
"Sayang tapi ..."ucap Luna terpotong.
"Iya sayang Om Rio ini adalah papa Zie, tetapi papa sementara," ucap Maoura mencoba menghibur Zie.
"Holee Zie punya papa hole ,,"ucap Zie yang senang dan berlari menghampiri Rio.
Dengan ragu ragu Rio memeluk Zie dan menggendongnya.
"Baiklah karena Zie anak Om Rio sekarang, berarti Zie boleh om dengan sebutan papa untuk sementara," ucap Rio dan mendapatkan anggukan dari Zie.
"Ya sudah sekarang Zie turun dan makan dulu dengan mama," ucap Luna yang mencoba menyeka air yang berada di sudut matanya.
Mereka makan malam dengan sangat nikmat. Walau terkadang Nyonya Sarla dan Nyonya Shian saling melempar tatapan tajam.
Di saat makan malam berakhir, Nyonya Shian membuka suara untuk berpamitan.
"Emm Luna dan semuanya, aku ingin mengatakan sesuatu."
"Ada apa Ibu ?"tanya Luna.
"Em besok ibu memutuskan akan pulang."
"Tapi perusahaan itu belum berhasil Maoura ambil alih Tante," ucap Maoura.
"Tidak papa Maoura Tante akan menunggu dari sana. Setelah sahabatnya ibu meninggal dia terlihat terpuruk dan sedih, aku memutuskan akan menemani ibu sebelum terjun kembali ke perusahaan," ucap Nyonya Shian mencoba cari alasan.
"Emm begitu, Baiklah. Tapi aku mohon Tante harus bersabar ya, karena kami beluk menemukan siapa yang mengambil alih perusahaan itu. Dan sepertinya dia tidak ingin menjualnya, jadi kita harus bersabar untuk membujuknya," jelas Maoura.
"Iya Maoura tidak papa, Tante akan menunggunya."
"Mama Zie ngantuk," ucap Zie tiba tiba.
"Baiklah ayo kita istirahat," ucap Luna.
"Ayok papa," ajak Zie menggandeng tangan Rio.
"Sayang papa Rio tidak tidur dengan kita, dia akan tidur dengan Ante Maoura," ucap Luna mencoba memberi pengertian kepada Zie.
Zie yang tidak paham mengapa dia harus tidur terpisah dengan papanya hanya bisa menundukkan kepalanya dengan lesu.
"Baiklah semua saya permisi dulu ya," ucap Luna berpamitan.
..
Di ruang keluarga Tuan Raden, Nyonya Sarla, Maoura, Rio dan Laras berkumpul.
"Laras bagaimana kabar kamu selama ini?"tanya Tuan Raden.
"Laras baik Om."
"Apa kamu hidup kesulitan selama ini?"tanya Nyonya Sarla yang merasa prihatin.
"Oh tidak kok Tante, walaupun Laras dan nenek hidup sederhana tetapi kami sangat bahagia," ucap Laras yang polos.
"Emm Laras merasa tidak pantas Om," ucap Laras.
"Sayang kamu sangat sangat pantas, jadi Tante mohon kamu mau ya.?" Nyonya Sarla.
"Tapi bagaimana dengan Maoura Tante?"
"Dia akan menggantikan kami," Tuan Raden.
"Laras akan berusaha yang terbaik untuk keluarga ini," ucap Laras.
"Syukurlah jika kamu bersedia, Om harap kamu akan melakukannya tanpa terpaksa dan menjalankan nya dengan suka rela."
"Baik Om."
"Ya sudah kamu istirahatlah dulu," ucap Nyonya Sarla.
Setelah Laras pergi. Tuan Raden mencoba mengintrogasi Maoura.
",Maoura apa kamu menemukan kejanggalan saat ledakan di laboratorium bawah tanah?"tanya Tuan Raden.
"Entahlah Papi, Maoura merasa semua nya terjadi begitu cepat," ucap Amoura.
"Tapi dimana Max saat itu ?"tanya Rio
"Kami berada di ruangan bawah tanah, awalnya aku akan mengontrol sistem lewat ruangan bawah tanah, setelah aku coba tidak berhasil aku mencoba untuk masuk ke lorong menuju Laboratorium bawah laut tetapi di halangi oleh Max. Di saat aku menyuruh semua kru untuk pergi menggunakan Kapal selam tapi semua sudah terlambat."
"Papi mendengar dari Max katanya kamu menolak untuk meminta bantuan dari Leo? mengapa ?"tanya Tuan Raden.
"Papi tempat itu sangat rahasia," ucap Maoura membela diri.
"Tapi apa yang terjadi dengan keputusan mu ini ?"
"Maafkan Maoura Pi ,,"
"Hmm Rio adalah suamimu, papi harap kamu harus terbuka dengannya," gertak Tuan Raden.
"Tidak papa Pi, papi tidak perlu menyalakan Maoura, Rio sadar Rio bukan apa apa disini," ucap Rio dengan nada kecewa.
"Rio maafkan aku,"
"Tidak papa Maoura."
"Tapi tolong jangan katakan itu."
"itu kenyataanya Maoura."
"Rio kapan kamu akan memperkenalkan kami dengan keluargamu ?"tanya Nyonya Sarla membuat Rio terkejut.
"Ah maaf mami, ibu masih berada di luar negeri karena urusan ya belum selesai," ucap Rio berbohong.
"Dimana negara mana, biar kami yang akan mengunjunginya," ucap Tuan Raden membuat Rio mengeluarkan keringat dingin.
"Papi mami sudahlah nanti jika sudah waktunya kita akan bertemu dengan mertua ku, jika kita datang takutnya akan menganggu pekerjaan beliau," ucap Maoura mencoba melindungi Rio.
"Hmm baiklah. Dan Maoura kapan kamu akan berkunjung ke perusahaan papi ?"
"Setelah Laras di resmikan menjadi CEO, baru Maoura akan datang kesana."
"Hmm baiklah, yasudah kita istirahat dulu kamu pasti pasti sangat lelah karena menjalani hari yang berat hari ini."
"Selamat malam sayang," kecupan di kening dari Nyonya Sarla untuk Maoura.
"Malam mami."
...
Di dalam kamar Maoura dan Rio saling diam.
Mereka tidur saling membelakangi tanpa ada kata satupun yang keluar dari mereka. Hari yang awalnya sangat romantis tiba tiba berganti dengan suasana yang akan saling membunuh.
"Rio lupakan hari ini, istirahat lah," ucap Maoura.
"Kamu tenang saja Maoura, aku akan melupakannya malam ini juga," ucap Rio.
Mereka berbicara masih dengan masih membelakangi satu sama lain. Sampai akhirnya mereka terlelap dalam mimpi buruk mereka.