
Didalam kamarnya Luna mondar mandir seperti setrika.
"Duh kenapa Maoura tidak keluar kamar juga sii, aku harus segera berbicara kepadanya," batin Luna yang cemas, bagaimana jika Maoura menghukum Leo.
Sedangkan Maoura tertidur pulas karena habis melakukan pertemuan sengit dengan Rio. Rio tersenyum puas setelah 3 jam membuat Maoura berkeringat.
"Darahnya banyak sekali, ini tanda perawan tau pendarahan," batin Rio yang baru sadar tempat tidur mereka penuh dengan darah.
Perlahan Rio memakaikan Maoura baju longgar, setelah itu memindahkannya ke sofa.
Rio mengganti dan membersihkan tempat tidur mereka agar membuat Maoura nyaman beristirahat. Setelah selesai membersihkan tempat tidur Rio mengendong Maoura dan menidurkannya di tempat semula.
Setelah membersihkan diri Rio turun untuk membuatkan Maoura makan malam. Luna yang mendengar ada suara turun tangga langsung berlari menghampiri.
"Ah Rio kemana Maoura ?"tanya Luna.
"Dia sedang beristirahat jangan ganggu dia," ucap Rio memperingati.
"Em Begitu, baiklah."
"Kamu mau ngapain Rio ?"
"Aku akan memasak untuk makan malam," ucap Rio.
"Wah bolehkah ikut membantu."
"Terserah kamu saja," ucap Rio.
"Baiklah mana yang bisa aku bantu," ucap Luna.
"Kamu mengupas buah buahan saja, aku akan membuat salad buah," ucap Rio.
"Aku kira kamu akan mengajari aku masak, huh hanya mengupas buah aku bisa," cetus Luna kesal.
Rio hanya diam saja dan memulai aksi memasaknya.
Luna hanya melihat kagum sekaligus ngeri saat melihat pisau bisa melayang layang di udara. Dia tidak berani mendekat hanya untuk sekedar melihat lihat apa yang Rio masak.
Di tempat tidurnya Maoura terbangun.
"Aw badanku rasanya remuk semua. Rio aku akan membalasmu," gumam Maoura kesal.
"Aku tahu kamu sedang menyiksaku bukan mengutarakan cinta, apa sebenarnya yang kamu inginkan Rio," batin Maoura.
Selama ini Maoura tidak dapat menemukan bukti apapun yang menjanggal dari Rio. Semua masa lalu Rio tertutup rapat hingga sulit untuk mencari jejak.
"Aku akan mandi membersihkan diri dulu. Oh spreinya sudah di ganti, apakah Rio yang melakukan ini, hm dia memiliki tingkat kebersihan yang baik," batin Maoura
Saat Maoura akan bangkit dia merasakan sakit yang luar biasa dianunya. Lalu Maoura mengambil obat salep yang ada di lacinya untuk mengolesi luka di bagian itunya. Obat salep ini yang sering Maoura gunakan saat dia terluka setelah bertarung oleh para mafia jahat, selain dapat menghilangkan rasa sakit juga mempercepat pemulihan.
Setelah merasa lebih baik Maoura segera mandi dan mempersiapkan diri untuk makan malam.
Maoura turun dari tangga dengan anggunnya seperti tidak terjadi apa.
Rio yang ingin membangunkan Maoura melihat istrinya turun dari tangga.
"Apakah dia monster, bukankah dia terluka Sampai mengeluarkan begitu banyak darah, kenapa dia bisa jalan biasa seperti tidak terjadi apa apa. sepertinya aku terlalu lembut kepadanya," batin Rio.
"Hay Rio."
"Oh hay Maoura, aku baru saja mau membangunkanmu untuk makan malam," ucap Rio.
Maoura hanya tersenyum dan berjalan menuju ruang makan.
"Dimana Bibi Shian dan nenek Yuan ?"tanya Maoura yang tidak mereka.
"Oh ibu sedang menemani nenek berkunjung ke rumah teman lamanya yang ternyata masih hidup," ucap Luna.
"Oh begitu, ya sudah ayo kita makan."
"Hmm makanan enak," ucap Maoura.
"Iya Maoura karena ini suamimu yang memasak," ucap Luna.
"Benarkah sayang kamu yang memasak ini semua," ucap Maoura membuat Rio tersedak.
"Oh iya sayang, apa kamu meragukan aku," ucap Rio yang mengikuti permainan Maoura.
"Aku percaya kok, bukankah suami tercintaku ini adalah Chef terhebat," ucap Maoura sambil memegangi pipi Rio membuat Luna tersipu malu.
"Sudahlah jika kalian ingin bermesraan di kamar saja," ucap Luna.
Akhirnya mereka makan malam dengan tenang.
Di ruang rahasia milik the Meong Leo, Deon,Sun dan Juo sibuk membereskan ruang rahasia mereka karena Maoura malam ini akan datang untuk berkunjung. Mereka harus membereskan tempat ini agar mereka tidak ketahuan jika mereka yang selalu memasok dan membuatkan alat alat canggih untuk perusahaan mereka.
"Huft beres juga," ucap Deon kesal karena pekerjaan di ganggu.
"Sabar Deon tidak hanya dirimu yang kesal tetapi kami juga," ucap Sun.
"Jam berapa mereka akan datang ini sudah pukul 9 malam," ucap Juo.
"Rio bilang jam 11 malam mereka akan sampai sini," ucap Leo.
"Baiklah ayo kita makan dulu, dari siang aku belum menikmati satu butir nasi," ucap Deon.
Sembari menunggu Maoura dan Rio mereka memesan nasi goreng di sebrang jalan.
..
Maoura dan Rio bersiap siap menuju ke ruang rahasia the Meong.
"Maoura kalian mau kemana?"tanya Luna yang ternyata masih menonton tv di ruang keluarga.
"Luna kamu belum tidur," ucap Maoura kaget.
"Belum aku tidak bisa tidur, kalian mau kemana ?"tanya Luna.
"Kamu ikut kami saja Luna," ucap Maoura.
"Sayang dia harus beristirahat ?"ucap Rio yang kurang nyaman jika Luna ikut.
"Kamu tidak usah khawatir karena Luna sudah ingat semua," ucap Maoura melirik Rio dengan tajam.
"Apa !! Luna benarkah itu, sejak kapan?" tanya Rio terkejut.
"Sehari sebelum kalian menikah," ucap Luna.
"Apa !! jadi sebenarnya saat hari pernikahan kita kamu sudah ingat semua," ucap Rio.
"Benar," ucap Luna.
"Sudah ayok kita berangkat, jangan buat keributan nanti bibi Shian dan nenek bisa bangun," ucap Maoura memperingati Rio.
"Maoura aku tidak menyangka jika kamu memang wanita yang begitu licik !!"batin Rio padahal dasarnya memang Maoura belum mengetahui jika mereka adalah dalang dari masalah Luna jika bukan Leo dan Juo mengakui kesalahan mereka.