The Lion, PRINCESS CEO.

The Lion, PRINCESS CEO.
EPISODE 62 PRINCESS CEO



Tiga hari berlalu, Max sangat sulit untuk di temui. Keluarga Widjaya semakin di buat geram di buatnya.


Di dalam kamarnya, Tuan Nick dan Luna saling menatap anak mereka yang sedang tertidur.


"Nick, aku sangat takut dengan keluarga ini sejak dulu. Saat kecil, Rose sudah pandai berkelahi dengan para preman," ucap Luna.


"Aku akan membantu sebisa aku untuk keluarga kamu ini," ucap Nick.


"Nick, terima kasih banyak. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, dari awal kamu memang yang terbaik Nick, walaupun aku sempat salah faham denganmu," ucap Luna.


Mereka saling berpelukan dan berdoa agar Laras dan Maoura baik baik saja.


..


"Apa kalian sudah menemukan keberadaan anak haram itu !!?"tanya Tuan Raden.


"Dia berada di rumah tua, rumah itu tempat tinggalnya dulu Tuan," ucap Salah satu bodyguard.


"Baiklah, kita akan kesana dan menyelamatkan Maoura, !"


"Papi, aku mohon Papi disini saja, biarkan aku dan yang lain mencoba menyusul Max," ucap Rio.


"Apa aku bisa percaya denganmu ?"tanya Tuan Raden.


"Papi, Maoura adalah istri aku, dia sedang mengandung anak aku jadi aku akan menyelamatkannya bagaimanapun caranya," ucap Rio penuh dengan keyakinan.


"Baiklah, hati hati !!"


..


Rio, Rose, Leo, Deon, Jun dan Sun. Mereka semua bergegas untuk mendatangi kediaman lama Max.


Di dalam kamarnya, Max sedang menyiksa seorang wanita, yaitu Yuna.


"Max !! Aaaah ampun Max !!"teriak Yuna yang merasa sekujur tubuhnya terasa remuk.


"Apa kamu yang memberi tahu informasi kepada mereka bahwa aku berada disini hah !! Aku sudah memberikanmu kesempatan untuk menutup mulut, tetapi sepertinya kamu ingin mencoba bermain main dengan aku !!"


"Max !! aku hanya ingin kamu berubah menjadi orang baik, bukankah kamu mencintaiku !?"


"Hahaha !! kamu pikir aku bodoh harus mencintai wanita sepertimu !!"


"Tapi jika kamu memang mencintai aku, baiklah malam ini aku akan memberikanmu hadiah terbaik," ucap Max dengan senyum yang membuat bulu guduk Yuna merinding.


"Max !! ampun max ..."teriakan Yuna tidak ada artinya lagi. Max dengan kasar mencium bibir Yuna.


Setelah melakukan itu, Max meninggalkan Yuna begitu saja yang masih terkulai lemas. Air mata Yuna mengalir begitu saja tanpa suara.


Tidak lama suara tembakan saling sahut menyahut di depan.


Maoura yang dan Laras yang mendengar itu merasa sangat senang.


"Laras, itu sepertinya orang suruhan Kakek, mereka sudah datang," ucap Maoura merasa senang.


"Iya Maoura, semoga saja mereka segera menemukan kita !!" ucap Laras.


Tetapi tidak lama para orang suruhan Max membawa Maoura dan Laras pergi dari tempat itu.


Max berhasil kabur dari Rio dan yang lain. Dia membawa Laras dan juga Maoura menggunakan mobil dengan kecepatan tinggi.


Rio yang tidak menyadari jika Max telah kabut lewat jalan belakang langsung menendang kursi dengan sangat kuat.


"Ahh sial sial sial !! Ayo cepat kita kejar mereka !!"ucap Rio.


Deon yang tidak sengaja melihat seorang wanita tidak berdaya di atas kasur.


Setelah menutupi Sekertaris Yuna dengan selimut, Deon membawa sekertaris Yuna kerumah sakit.


"Rio !! aku akan membawa Sekertaris Yuna kerumah sakit !!"ucap Deon.


"Oh ya ampun sekertaris Yuna, apa yang terjadi dengan dia ?"tanya Leo.


"Sepertinya ini ulah Max !!"ucap Deon.


"Baiklah kamu bawa Sekertaris Yuna, dan kami akan mengejar Max !!"ucap Rio.


Dengan kecepatan tinggi, Rio berhasil menemukan mobil milik Max.


"Rose tolong !!!!!" ucap Maoura yang kepalanya keluar dari kaca mobil.


Buk !!" dengan kuat Max memukul bagian kepala Maoura sampai pingsan.


"Max !! kurang ngajar !! tunggu saja kamu ya !!"geram Rio.


Rio berhasil menjajarkan mobilnya dengan Max, mereka saling menyerempet satu sama lain.


"Hahaha mereka tidak menyerah rupanya," ucap Max dengan picik.


Max mengeluarkan Pistolnya dan menembakan ke arah Rio.


Dor dor dor !!


Shiiittttt .....""terpaksa Rio mengerem mobilnya.


"Rose ! apa kamu siap ??tanya Rio.


"Aku siap Rio !!"ucap Rose yang siap siap dengan pistol di tangannya.


Leo dan Juo yang berbeda mobil sudah mendapatkan aba aba dari Rio.


Jalan yang sepi membuat mereka semakin ugal ugalan di jalan setapak.


mobil Max di hampit oleh mobil Rio dan juga Leo.


Suara tembakan saling saut sautan.


Sun memantau mereka dari atas helikopter.


Tidak lama mobil anak buah Max datang untuk menolong tuannya membuat Rio dan juga Leo kualahan.


Rio yang berhasil lolos dari anak buah Max terus mencoba untuk mengejar Max.


Rio yang merasa sudah sangat jengah Akhirnya memutuskan untuk memotong jalan Max.


"Shiiittt .....!!!!! Bruk !!!!" Suara tabrakan tidak terelakan lagi.


Posisi mobil yang menabrak bagian depan membuat Rio terluka cukup parah.


Max yang masih selamat mencoba menyelamatkan diri dan memasuki hutan.


WIIIW. wiiiww wiiww


Suara mobil bala bantuan datang dengan cepat.


Rose, Rio, Maoura dan Laras yang berada dalam mobil mengalami luka yang cukup serius. Dan yang paling parah adalah Rio.


"Apa Max sudah di temukan !?"tanya Tuan Raden di tempat kejadian.


"Maaf Tuan, max sudah melarikan diri," ucap Leo.


"Cepat cari dia sampai ketemu !!"


"Baik Tuan.


Leo dan di bantu oleh para kepolisian mencari Max dengan sekala besar kedalam hutan.


Setelah semalaman Max masih tidak di temukan.


Ternyata Max terjun ke laut ketika melihat sebuah kapal sedang berlayar.


...


Di dalam Ruangan operasi, Rio dan Maoura sedang melakukan operasi.


Rio melakukan operasi besar di bagian kepala dan Maoura harus mengangkat janinnya karena dirinya sudah keguguran.


"Hik hik hik ini semua salah aku," ucap Rose merasa sangat sedih.


"Sayang, ini bukanlah kesalahanmu," ucap Tuan Raden.


"Andai saja waktu itu aku tidak membunuh Paman dan Bibi Max maka dia tidak akan melakukan ini pada keluarga kita," ucap Rose menyesali masa lalunya.


"Mereka orang jahat Ross, jika kamu tidak membunuh mereka maka pasti akan banyak nyawa tidak berdosa menjadi tawanan mereka," ucap Taun Raden.


Tidak lama Nyonya Sarla dan yang lain menyusul kerumah sakit.


"Rose, apa yang terjadi denganmu nak ? bagaimana dengan Maoura ?"tanya Nyonya Sarla dengan khawatir.


"Dia sedang Operasi Mami, Maoura keguguran," jelas Rose dengan berat.


"Apa !! ya tuhan hik hik hik ,,," tangis Nyonya Sarla dengan pilu.


"Mami, kita harus kuat demi Maoura !"ucap tuan Raden mencoba menenangkan Istrinya.


"Dimana Laras ?"tanya Tuan Widjaya


"Dia berada di ruang rawat Pah, biarkan dia beristirahat dahulu," ucap Tuan Raden.


"Syukurlah jika begitu," ucap Tuan Widjaya merasa lega.


....


6 Jam setelah operasi, Maoura sudah sadarkan diri.


"Papi mami ,," ucap Maoura meras sangat lemas.


"Iya sayang, kamu sudah sadar nak ?"ucap Mami.


"Minum dulu Maoura," ucap Rose.


"Dimana Rio ?"tanya Maoura.


"Dia baik baik saja nak, dia sedang istirahat," ucap Tuan Raden.


"Aku ingin melihatnya Pi ,," ucap Maoura yang ingin bangun dari tempat tidurnya.


"Sayang kamu baru saja keguguran, jadi istirahat dulu ya," ucap mami keceplosan.


"Apa !! Maoura keguguran Mami !! ini tidak benar bukan, hik hik Maoura tidak keguguran kan !!!?"tanya Maoura histeris mengetahui anaknya telah hilang.


Rose, tuan Raden dan juga Nyonya Sarla hanya diam saja sambil menundukkan kepalanya.


"Tidaaaak !!!! haaaaaa huaaa hahahaa hii hik hik, ini tidak benar, ini pasti salah, aku tidak tidak mungkin !!!!" teriak Maoura histeris membuat para suster terpaksa memberikan obat penenang untuk Maoura.


..


7 hari berlalu, Rio mencoba untuk mendekati Maoura yang selama itu murung karena kehilangan anak dalam kandungannya.


"Maoura, ?"sapa Rio yang baru sadar tetapi langsung sudah membaik.


Maoura yang melihat Rio sudah sadar tidak bergeming sedikitpun.


"Maoura, maafkan aku !?"


"Pergilah Rio !!"


"Maoura, aku tahu kamu marah tetapi aksi mohon maafkan aku, aku sungguh mencintaimu Maoura !?"


"Sudah aku katakan, pergilah Rio !!" ucap Maoura memalingkan wajahnya.


Rose mencoba untuk membawa Rio kembali ke kekamarnya.


"Rio, ini belum waktunya ,,"ucap Rose mencoba membuat Rio memahami keadaan sekarang.


Dengan terpaksa Rio kembali ke kamarnya


Maoura menangis tanpa suara, dia masih belum menerima anaknya meninggalkannya secepat ini, bahkan dia belum sempat melihatnya.