The Lion, PRINCESS CEO.

The Lion, PRINCESS CEO.
EPISODE 29 PRINCESS CEO



Di ruang meja makan keluarga besar berkumpul bersama untuk sarapan.


"Pagi semuanya," sapa Maoura yang baru turun sendirian.


"Pagi juga sayang, dimana Rio ?"ucap Tante Sarla.


"Mengapa kamu bertanya Sarla, mungkin saja cucuku sedang kelelahan karena baru buka pabrik," ucap nenek Mandalika bergurau.


"Hahahaha !!" tawa mereka serempak membuat wajah Maoura memerah seketika.


"Rio sedang mandi nek," ucap Maoura malu malu padahal di antara mereka semalam tidak terjadi apa apa.


"Baiklah kita akan menunggu Rio dahulu," ucap Tuan Widjaya.


"Selagi menunggu ada yang ingin aku katakan kepada kalian, terutama Raden anakku."


"Ada apa pah ?"tanya Tuan Raden penasaran.


"Begini, sejujurnya sebelum bersama dengan ibumu papa pernah memiliki hubungan dengan wanita lain dan ternyata wanita itu selama ini memiliki anak bersama papa. Aku baru tahu setelah King memberi tahu papa perihal mantan papa yang ternyata masih hidup. Papa berencana akan menyusulnya di negara S karena dia hanya hidup bersama cucunya. Dari kabar yang papa dengar anakku telah meninggal kecelakaan bersama dengan istrinya," ucap Tuan Widjaya menjelaskan masa lalunya.


"Loh kak bukanya Soraya menikah dengan King ?"tanya Nyonya Yuan.


"Dari mana kamu bisa menyimpulkan hal itu Yuan ?"tanya Tuan Widjaya mengintimidasi.


"Em sebenarnya dulu Soraya sempat datang kerumah bersama dengan King. Soraya ingin berpamitan denganku dan dia berpesan agar aku tidak memberi tahu kepadamu jika dirinya sedang mengandung. Aku pikir selama ini dia hidup bahagia bersama king," ucap Nyonya Yuan mencoba menjelaskan kepada Kakaknya Widjaya.


"Jadi selama ini kamu tahu Yuan ?"


"Iya kak, maafkan aku karena menyembunyikannya selama ini."


"Hmm sudahlah yang lalu biar berlalu. Aku berfikir akan pergi menemui Soraya tetapi aku masih sangat berat untuk meninggalkan Maoura," ucap kakek yang merasa bingung.


"Kakek tidak perlu khawatir karena aku yang akan menjaga Maoura," ucap Rio yang baru datang.


"Rio ,,"ucap Maoura lirih.


"Kakek jangan khawatir soal Maoura karena dirinya sekarang adalah tanggung jawabku. Kakek bisa beristirahat dan menjalani masa tua kakek dengan damai," ucap tulus dari Rio membuat yang berada disana tersenyum.


"Terima ya nak, kakek percaya padamu. Akhirnya kakek bisa pergi dengan tenang untuk menemani Soraya."


"Oya ayok kita mulai sarapan. Tuan Suerdja sungguh saya minta maaf karena mengganggu acara sarapan kita dengan cerita cerita masa laluku, aku jadi merasa tidak enak," ucap Tuan Widjaya kepada besanya.


"Haha tidak papa besan santai saja, saya cukup terharu dengan kisahmu. Semoga perjalananmu untuk menemui Soraya berjalan dengan lancar dan selamat sampai tujuan," ucap Tuan Suerdja yang mengerti keadaan Tuan Widjaya.


"Amin, terima kasih banyak besan. Mari habiskan sarapannya."


"Hahaha sebentar lagi kakek tua ini akan meninggalkan rumah ini. Satu batu sudah menghilangkan, tinggal mengatasi Maoura si anak arogan itu," batin Nyonya Shian yang memiliki niat jahat.


"Sepertinya Ibu sedang memikirkan hal yang tidak baik, aku akan selalu menyembunyikan tentang ingatanku ini sampai ibu benar benar sadar," batin Luna yang mengetahui apa isi otak ibunya.


..


Di kediaman Bibik Luis para lelaki mencoba memasak untuk ibu mereka karena Rio sudah tidak ada. Sebenarnya Bibik Luis melarang mereka tetapi mereka memaksa.


"Leo apa kamu tahu soal Luna yang ternyata saudari Maoura ?"tanya Juo.


"Aku tidak tahu Juo, kepalaku rasanya ingin pecah jika mengingat itu semua," ucap Leo yang masih merasa tidak percaya.


tak tak tak tak suara Sun memotong bawan di atas talenan.


"Sun kenapa kamu bawang lagi kan aku aku menyuruhmu memotong wortel," ucap Deon kesal.


"Apa ! bukankah tadi kamu menyuruhku memotong bawang," ucap Sun yang tidak fokus.


"Ada denganmu Sun ?"tanya Leo.


"Aku ada janji dengan Dauna makanya aku bekerja dengan cepat agar tugasku cepat selesai dan aku bisa segera pergi," ucap Sun memelas.


"Inj masih sangat pagi Sun. Bukankah tadi malam kalian sudah ketemu," ucap Deon yang merasa kesal.


"Kami akan melakukan joging bersama," ucap Sun dengan mata yang berkaca kaca berharap teman temannya akan mengizinkan dia untuk pergi lebih awal.


"Ya sudah pergilah," ucap Leo yang tidak ingin ambil pusing karena dirinya sudah pusing sedari tadi karena mengingat perihal Luna.


"Terima kasih Leo, aku pergi dulu ya bye," ucap Sun bersemangat.


"Dasar anak sialan !!"teriak Deon yang merasa iri oleh Sun.


"Deon jika kamu mau aku akan memperkenalkan kamu dengan wanita cantik," ucap Juo yang mengerti perasaan Deon.


"Baiklah jika begitu."


"Hmm oh Luna mengapa aku selalu terbayang bayang dirimu," ucap Juo sudah mabuk cinta oleh Luna.


"Juo aku khawatir jika kita terus berhubungan dengan Luna dia akan kembali mengingat kita semua. Dosis yang aku berikan sangat kecil, ada kemungkinan dia bisa mengingat semuanya seiring waktu," ucap Leo merasa cemas.


"Jika begitu kita harus bertemu dengan Maoura secepatnya dan meminta maaf. Kita harus menjelaskan apa yang terjadi agar Maoura bisa memahami apa yang kita lakukan," ucap Juo memberi saran.


"Baiklah, kita harus diam diam jangan sampai Rio tahu atau kita akan di gantung hidup hidup olehnya," ucap Leo.


"Aku tidak ikut kalian," ucap Deon.


"Kenapa ?"tanya Juo.


"Aku banyak pekerjaan. Robot wanita buatan kita masih banyak yang harus di perbaiki," ucap Deon sambil memasak dengan kesal. Suasana hati Deon benar benar kacau gara gara Sun.


"Aku akan membuat robot wanita yang bisa aku kencani," batin Deon yang tiba tiba tersenyum aneh. Juo dan Leo hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka melihat tingkah aneh Deon.


..


"Buk buk,," suara tutup mobil.


"Sampai jumpa nenek Manda, jika Maoura ada waktu Maoura akan main ke tempat nenek dan Kakek," ucap Maoura memberi salam terakhir sebelum Tuan Suerdja dan istrinya pergi.


"Kami akan selalu menunggu kedatanganmu nak, sampai jumpa ,," ucap Nenek Manda melambaikan tangan.


"Da,, da,, nenek kakek," ucap Maoura sambil melambaikan tangannya juga.


"Ayok kita masuk sayang," ucap Rio yang juga menemani Maoura saat akan berpisah dengan kakek dan neneknya.


Di ruang keluarga.


"Maoura apa nenek dan kakek telah pergi," ucap nyonya Sarla yang baru keluar kamar mandi.


"Iya Mami, mereka juga berpesan sebelum Mami dan Papi pergi ke luar negeri harus mampir dulu ke rumah kakek nenek," ucap Maoura menyampaikan pesan dari Kakek neneknya.


"Baiklah, mengapa mereka sangat terburu buru sekali," ucap Nyonya Sarla heran.


"Mungkin mereka merasa tidak nyaman karena tempat ini begitu ramai, mereka seperti ingin mengatakan sesuatu kepada mu sayang," bisik Tuan Raden.


"Aku juga merasa begitu," bisik Nyonya Sarla.


"Puding siap !!" teriak Luna yang membawa cemilan puding segar untuk mereka semua.


"Apa kamu yang membuat Luna ?"tanya Nyonya Sarla.


"Iya Tante."


"Emm ini enak Luna," puji Maoura yang sudah menyantap puding itu.


"Terima kasih banyak Maoura."


"Rio ada dengan ekspresi mu itu ?"tanya Luna yang merasa Rio kurang puas dengan puding yang dia buat.


"Emm tidak papa kok Luna, ini enak," ucap Rio yang tidak ingin mengecewakan Luna.


"Jujur saja."


"Baiklah. Emm begini, saat membuat kamu terlalu banyak air, paduan antara api air dan gula kurang pas sehingga membuat puding kurang lembut dan kenyal," ucap Rio menjelaskan.


"Emm begitu ya, apakah kamu mau mengajari aku jika ada waktu senggang," ucap Luna yang merasa dirinya memang kurang pandai.


Sebelum menjawab Rio menatap Maoura meminta persetujuan.


"Tidak papa jika mau Rio," ucap Maoura tersenyum manis.


"Baiklah, karena istriku mengizinkan aku bersedia," ucap Rio dengan senyum.


"Kami beruntung memiliki mantu yang pandai masak seperti nak Rio. Kapan kapan buatkan Mami dan papi masakan yang spesial ya Rio," ucap Nyonya Sarla.


"Dengan senang hati Mami," ucap Rio tersenyum.


Maoura merasa sangat senang. Bertahun tahun di hidup dalam kesepian dan kesunyian tetapi sekarang dia bisa merasakan hangatnya sebuah hubungan keluarga. Walaupun Maoura belum terlalu mengenal Rio, dia berjanji akan membuka hati dan kepercayaan kepada Rio. Walaupun mata mata Maoura selalu memberikan informasi yang berbeda dari apa yang Rio katakan. Contoh saja seperti ibu Rio yang tidak datang di acara pernikahannya, Rio mengatakan jika ibunya sedang berada di luar negeri, tapi kenyataanya ibu Rio ada di rumah yang biasa Rio tempati.


Maoura tidak menceritakan ini kepada kakeknya perihal kebohongan Rio karena kakek sangat percaya kepada Rio. Jika Maoura mengatakan kebohongan Rio maka kakek tidak akan memberikan kebebasan kepada Maoura. Rasa takut akan cucunya terluka akan selalu menghantui kakek.