
" Juoo ada apa !!!?"tanya Leo
" Shuuutttt !!!dia sedang mengigau," ucap Juo menyuruh mereka untuk diam.
" Aaaaaa ampun ampuun ,,, Ayah tolong jangan pukul akuuu hik hik hik sakit Ayaaah ..!!"teriak Luna saat mengigau.
" Apa sebenarnya yang terjadi pada wanita ini," ucap Sun yang merasa kasihan.
"Ntahlah, mungkin dia sedang menjalani hidup yang kurang menyenangkan," ucap Deon menduga duga.
" Jika terjadi sesuatu pada wanitaku. Aku tidak akan mengampuni kalian !"ucap Juo menatap mereka dengan tajam.
" Hay Juo kenapa kamu malah menyalahkan kami. Bukankah kamu sendiri sudah setuju membiarkan Luna kehilangan beberapa ingatannya," ucap Sun dengan nada sedikit kesal.
" Sudah cukup !sekarang bagaimana ini, apa kita bangunkan dia ?"ucap Leo.
Di saat mereka sedang berfikir tindakan apa yang harus di lakukan, tiba tiba Luna membuka matanya. Luna melihat ke empat pria itu dengan mata yang bertanya tanya siapa 4 pria ini.
" Jangan mendekat !!"teriak Luna menyuruh Juo menjauh saat dia mau mendekati Luna.
"Nona kami telah membantu anda," ucap Leo mencoba menjelaskan.
" Membantu apa, dimana saya, kenapa saya ada disini,siapa kalian. Awww kepala sakit sekali," ucap Luna yang masih di guncang rasa bingung.
" Nona anda tidak papa ?"tanya Juo yang merasa sangat kasihan dengan keadaan Luna.
"Jangan mendekat !!!"teriak Luna kembali.
"Nona lihatlah ini, mungkin anda akan menemukan ingatan Anda kembali." ucap Leo yang menunjukan Vidio Luna.
Di dalam Vidio itu terlihat Luna sedang turun dari bus, Luna berjalan ke arah toko bunga, tetapi tiba tiba Luna memegangi kepalanya sepertinya dia sangat sakit kepala.kemudian Luna pingsan dan bertepan dengan Juo yang sedang berpapasan dengan Luna dan langsung menangkap tubuh Luna. Dan Juo membawa Luna kedalam mobilnya.
Tetapi jelas itu bukanlah Luna, itu hanyalah Vidio animasi yang terlihat sangat nyata. Itu adalah salah satu keahlian mereka dalam seni teknologi.
" Apa !! itu aku, dimana memang sekarang aku ?Aku seharusnya berada di sebuah Bar? Ayahku menjualku kepada seseorang jahat di dalam Bar itu," ucap Luna yang masih tidak mengerti mengapa dirinya ada di apartemen Juo.
Ke empat pria itu sungguh sangat syok mendengar penjelasan Luna.
" Nona memangnya kamu berasal dari negara mana ?"tanya Leo.
" Bukankah ini Negara J ?"tanya Luna memastikan.
" Nona ini adalah Negara K ,"ucap Leo menjelaskan.
" Apa !!bagaimana mungkin aku berada jauh dari rumahku, awwww kepalaku sakiit," teriak Luna yang menahan sakit di kepalanya.
Deon mencoba menyuntikan obat penenang kepada Luna. Di saat Luna sudah tertidur, ke empat pria itu pergi menuju ke ruang tamu. Mereka sama sama berfikir apa yang harus mereka lakukan karena mereka tidak mengenal wanita itu.
" Juo coba kamu cek telepon wanita itu. Siapa tau kita dapat menemukan petunjuk," ucap Leo.
" Baiklah."
" Gawat, di tas Luna tidak ada Handphone !!" ucap Juo panik.
" Apa mungkin Handphonenya terjatuh di ruang rahasia,?" tanya Deon panik.
" Bisa jadi, ayo cepat kita cari handphone wanita itu sebelum sesuatu buruk terjadi," ucap Leo.
Mereka bergegas menuju toko bunga,sedangakan Juo tetap tinggal untuk menjaga Luna.
....
Di Mansion utama.
Amaoura sedang mengumpulkan semua pekerja yang ada di Mansion.
" Pak, jelaskan mengapa Luna tidak pulang bersama anda ?"tanya Maoura kepada supir Luna.
" Maafkan saya Miss karena tidak bisa menjaga Non Luna. Tapi Non Luna sendiri yang tidak ingin di antar Miss, dia berkata ingin keliling kota menggunakan Bus," ucap supir itu dengan nada bergetar.
Suara langkah kaki berjalan dengan cepat kearah mereka.
"Maaf Miss kami sudah mencoba mencari info dari rekan rekan Luna,tetapi mereka tidak mengetahui keberadaan Luna setelah pulang dari kantor," ucap sekertaris Max menjelaskan.
" Ayo kita ke ruangan rahasia, jangan sampai kakek mendengar berita ini," ucap Maoura yang sedang merasa sangat kawatir.
Beberapa pembantu yang di butuhkan mengikuti Luna, dan sisanya menjaga kakek dan Mansion.
..
"Semuanya cari dengan teliti. Rentas semua CCTV di jalanan, cari di setiap Halte bis, jangan lewatkan sedetik pun," perintah Maoura kepada para ahli digital yang selama ini bekerja dan membantu Maoura.
" Baik Miss," ucap mereka serempak.
" Miss ada jejak dari nomor telpon Non Maoura," ucap sekertaris Max yang berhasil menemukan titik letak handphone Luna.
" Sedang berada di mana dia sekertaris Max,?"tanya Maoura yang merasa senang.
" Semua cepat cari CCTV yang berada di jalan xxx, cermati dengan benar jangan sampai kita melewatkan sesuatu," perintah Maoura yang senang karena ada sedikit titik terang.
" Miss kamera CCTV yang ada di beberapa titik halte telah di non aktifkan oleh hacker," ucap salah satu ahli komputer.
" Apa kita bisa memulihkannya kembali ?"tanya Maoura yang kembali cemas.
" Akan saya usahakan Miss, Karena orang yang kita hadapi sangat hebat," ucap ahli itu yang terus mengotak ngatik komputernya.
....
Di tempat lain. Di ruang rahasia the Meong, Leo sedang mempertahankan benteng pertahanannya.
" Deon apa kamu sudah memanipulasi CCTV yang ada di jalanan, seseorang sedang mencoba membobol benteng kita, mereka juga sangat hebat," ucap Leo yang sedikit kualahan.
" bentar kak 20menit lagi program akan selesai,"ucap Deon.
Sedangkan Sun dengan cepat mengembalikan handphone Luna di tempat terakhir handphone itu mati. Karena dugaan mereka benar bahwa handphone itu telah jatuh di ruang rahasia mereka. Dan keberuntungan ada di pihak mereka karena handphone Luna telah mati disaat Luna memasuki toko bunga milik mereka.
..
Di ruang rahasia Maoura, mereka terus berusaha membobol benteng Leo.
"Siapa sebenarnya mereka," ucap Maoura yang sangat kesal dengan hacker yang sedang dia hadapi.
" Miss sudah dapat di buka," ucap salah satu ahli itu.
Dan mereka semua akhirnya mendekat dan melihat bersama apa yang sebenarnya terjadi.
Terlihat disana Luna sedang turun dari Bus dan Luna berjalan menuju ke toko bunga, tetapi sebelum Luna sampai ke toko bunga tiba tiba Luna pingsan dan di tolong oleh seorang pria yang tidak dikenal dan orang itu membawa Luna masuk kedalam mobilnya.
" Cepat cari siapa pemilik mobil itu," akhirnya mereka mendapatkan titik terang dari hilangnya Luna.
Tapi jelas itu adalah Vidio yang sama dengan Vidio yang Leo berikan kepada Luna, itu hanyalah sebuah animasi yang terlihat seperti sangat nyata. Jika hanya dilihat sekilas mata mereka tidak akan tahu jika itu hanyalah sebuah gambar. Mereka harus memprogram Vidio jika ingin melihat yang sebenarnya. Tetapi karena sangat senang Maoura tidak lebih teliti, mereka fokus mencari ke beradaan mobil itu.
" Miss kami menemukannya. Mobil itu atas nama Leo Waldy," ucap salah satu ahli itu.
" Miss mobil itu telah memasuki sebuah apartemen yang berada di tengah tengah kota," ucap sekertaris Max.
" Ayo cepat kita susul Luna, aku berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk kepada Luna."
Dengan kecepatan tinggi mereka menuju lokasi yang telah mereka tentukan. Karena jalanan sepi mereka dapat sampai dengan waktu yang cukup singkat.
...
Di dalam apartemen, Juo terus memandangi Luna yang sedang terlelap. Ketika Juo ingin mencium kening Luna tiba tiba handphone Juo berdering.
Tertulis nama Kakak Leo.
" Halo Juo ."
" Iya ada apa Leo ?"
" Apa kamu masih di apartemen ?"
" Tentu."
" Cepatlah keluar karena akan seseorang yang akan menjemput Luna, jangan sampai kita tertangkap," ucap Leo memperingati.
Dengan kesal akhirnya Juo meninggalkan Luna sendiri, saat Juo akan keluar apartemen dia melihat 5 orang berjas hitam sedang menuju kekamar Juo. Dengan cepat Juo memasuki kamar kosong yang sedang dia lewati untuk menghindari orang orang itu. Di belakang orang berjas hitam itu ada seorang wanita cantik yang menggunakan masker dan topi, itu adalah Maoura yang menyamar agar orang orang sekitar tidak ada yang mengenalinya.
" Siapa mereka, apa hubungannya mereka dengan Luna," pikir Juo penasaran.
Di dalam kamar apartemen Juo, Maoura menatap Luna dengan seksama.
" Luna maafkan aku, apakah musuh musuhku yang melakukan ini kepadamu ?"tanya Maoura di depan Luna yang sedang terlelap.
" Cepat bawa Luna pergi, dan sekertaris Max cepat pergi dan amankan semua CCTV yang ada di apartemen ini," perintah Maoura.
" Baik Miss," ucap sekertaris Max membungkuk hormat dan setelah itu pergi melakukan apa yang di perintahkan.
.
.
.
.
.
.
.
.