The Lion, PRINCESS CEO.

The Lion, PRINCESS CEO.
EPISODE 40 PRINCESS CEO



Sore pukul 4:00.


"Huft menghabiskan uang melelahkan sekali," ucap Nyonya Shian yang baru pulang shopping.


"Hmm seperti biasa semua orang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka," batin Nyonya Shian merasa kesepian di rumah yang super besar itu.


Nyonya Shian memutuskan untuk mandi dan beristirahat sejenak, karena dia merasa sangat lelah.


Di dalam kamar paling besar dan mewah. Rio dan Maoura terbangun dari tidur mereka.


"Sayang aku akan mandi, kamu istirahatlah dulu," ucap Rio lalu mengecup kening Maoura.


"Baiklah."


Setelah Rio pergi terlihat Maoura menghubungi seseorang.


"Urus segalanya, aku mau satu Minggu lagi semua sudah di persiapkan," ucap Maoura lalu menutup telponnya.


Maoura yang sedang memainkan handphone berhenti ketika Rio membuka pintu kamar mandi.


"Hay sayang kamu sudah selesai," ucap Maoura dengan senyum yang sangat manis.


"Sudah, kamu mandilah dulu. Aku akan memasak untuk makan malam," ucap Rio.


"Emm apa kamu tidak keberatan ? dirumah ini ada pelayan tetapi kamu selalu meluangkan waktu memasak untuk kami," ucap Maoura yang tidak ingin Rio merasa jadi koki di rumahnya sendiri.


"Apa yang kamu katakan sayang, aku datang kesini tidak membawa apa apa. Aku hanya membawa keahlian masakku," ucap Rio yang merasa sadar diri.


"Apa yang kamu katakan Rio,? Aku menerima kamu bukan masalah harta atau tahta. Walaupun kamu tidak memiliki keahlian apapun, takdirku adalah kamu," ucap Maoura mencoba membuat Rio mengerti bahwa dirinya tulus mencintai Rio.


"Terima kasih sayang, kamu sudah sangat mencintai aku tanpa syarat. Aku juga melakukan ini untukmu, aku ingin kamu selalu menikmati masakan yang aku buat. Entah mengapa aku merasa senang dan puas saat kamu menghabiskan makanan yang aku buat," ucap Rio.


"Baiklah jika memang membuatmu senang. Aku tidak akan melarangmu memasak dirumah ini,"


"Emuach... Ya sudah mandilah dulu," satu kecupan mendarat di kening Maoura.


"Baiklah."


...


Laras yang merasa bosan di dalam kamar memutuskan untuk keluar dan berjalan jalan di taman yang ada di halaman belakang.


"Hay Nona Laras, ada yang bisa kami bantu," sapa pelayan wanita cantik. Dia adalah Siska, ahli spikolog.


"Oh hay, siapa namamu ?"tanya Laras yang ingin mengenal pelayan itu.


"Saya Siska Non, jika perlu bantuan anda bisa menghubungi saya," ucap Siska ramah.


"Saya ingin berjalan jalan di taman, apa kamu ingin menemani aku," ucap Laras.


"Baik Non, saya akan menemani anda."


Di taman Laras yang mengetahui beberapa jenis bunga langka, dia merasa sangat senang karena bisa melihat bunga bunga itu di taman ini. Dari jauh Laras tertawa bahagia dengan seorang pelayan, entah apa yang mereka tertawakan. Tetapi Maoura yang melihat dari atas kamarnya merasa senang dengan kepolosan Laras.


Rio yang sedang memasak tidak memperhatikan siapapun yang ada di sekitarnya. Rio selalu memasak dengan cara melayangkan pisau dan juga membakar wajan. Laras yang ingin mengambil minum di kulkas terpana dengan cara Rio memasak. Menurutnya itu sangat keren.


"Hay Rio !" sapa Laras.


"Oh hay Laras, apa yang kamu lakukan disini? menjauhlah, aku sedang memasak," ucap Rio yang sebenarnya tidak suka di ganggu saat memasak.


"Ah aku sedang mengambil air minum dan tidak sengaja melihatmu memasak," ucap Laras yang mengerti jika Rio merasa tidak nyaman dengan kehadirannya.


"Aku sedang masak untuk makan malam, kamu bisa mencobanya nanti," ucap Rio yang menghentikan aktivitasnya.


"Baiklah, aku akan kembali ketaman," ucap Laras yang merasa kikuk.


Rio hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Di saat Rio mau memotong daging, terdengar suara yang kaki berjalan kearahnya.


"Ah Sayang, ternyata kamu," ucap Rio tersenyum.


"Memang kamu fikir siapa ?"tanya Maoura sambil mendekati dan memeluk Rio dari belakang.


"Em bukan siapa siapa. Apa yang kamu lakukan disini ?"tanya Rio.


"Bolehkah aku ikut memasak denganmu, aku ingin belajar memasak agar bisa menghidangkan makanan untuk suamiku," ucap Maoura.


"Emm tentu sayang, apa yang ingin kamu pelajari ?"tanya Rio.


"Apapun yang kamu masak akan aku pelajari," ucap Maoura bersemangat.


"Baiklah Tuan Putri, aku harap kamu tidak membuat kekacauan," ucap Rio bergurau.


Dengan sekali contoh Maoura bisa menirukan cara Rio menyincang daging sambil gaya melayangkan Pisau terlebih dahulu.


"Woaww istriku memang yang terhebat sedunia," puji Rio kagum.


"Apa sekarang kamu sedang memujiku," ledek Maoura.


"Emm kamu memang yang terbaik sayang," ucap Rio sambil memeluk Maoura dari belakang.


Laras Sragen yang sebenarnya belum pergi jauh sempat melihat keromantisan Maoura dan Rio. Dia bahagia karena Rio sangat mencintai Maoura.


"Hay Non !"sapa Siska yang mengagetkan Laras.


"Ah kamu Siska," ucap Laras mengelus dada karena kaget.


"Maaf Non, saya menunggu lama tapi anda tidak datang juga, jadi saya memutuskan untuk memastikan," ucap Siska.


"Ah iya maaf Siska sudah membuatmu menunggu lama di taman. Lihatlah Rio dan Maoura, mereka sungguh romantis ya," ucap Laras sambil menunjuk ke arah Maoura dan Rio yang sedang bermain lempar lempar sayuran. Karena mereka ahli pisau, jadi sayuran yang di lempar akan langsung di tangkis dengan pisau yang menjadi senjata mereka.


"Oh iya Non, semenjak kedatangan Tuan Rio Miss Maoura bisa kembali tersenyum seperti itu," ucap Siska yang mencoba menyembunyikan kecurigaan mereka terhadap Rio.


"Memang Maoura kenapa ?"tanya Laras yang tidak tahu masa lalu Maoura.


"Itu karena orang Tua Miss Maoura selalu sibuk dengan pekerjaan mereka sehingga kurang memperhatikan Miss Maoura," ucap Siska berbohong.


"Oh begitu, kasian sekali Maoura. Padahal dia memiliki begitu banyak harta," ucap Laras yang merasa sedikit iri. Nasib mereka sama, kurang kasih sayang kedua orang Tua. Namun Laras harus bekerja keras, berbeda dengan Maoura yang bergelimang harta.


"Harta tidak menjamin hidup seseorang bahagia Nona," ucap Siska mencoba memberi pengertian kepada Laras.


"Kamu benar Laras. Ayok kita ke taman lagi," ucap Laras sambil memegang tangan Siska.


Dari kamar Nyonya Shian dia melihat Laras dari jendela kamarnya.


"Ah ternyata itu cucu yang lain dari Paman Widjaya. Dia sangat mirip dengan Paman," batin Nyonya Shian tanpa ada iri atau kebencian lagi. Karena dia sudah sadar. Lebih tepatnya bukan sadar, tapi karena Maoura telah berjanji akan mengembalikan perusahaan yang selalu dia mimpi mimpikan.


...


Waktu makan malam.


"Luna, bagaimana pekerjaanmu ?"tanya Maoura.


"Hari ini sungguh melelahkan Maoura, aku tadi sampai pulang telat," ucap Luna sambil mengunyah makanan. Dia sangat lapar sehingga tidak bisa melepaskan sendok di tangannya.


"Bagus, besok kamu akan di antar oleh Sekertaris Max menemui anakmu," ucap Maoura.


"Benarkah, terima kasih banyak Maoura," ucap Luna sangat senang.


"Em ibu ikut ya nak ?"tanya Nyonya Shian yang ikut antusias.


Luna hanya melirik sinis tanpa bicara.


"Em aku serahkan semua kepada Luna Bibik," ucap Maoura yang tidak ingin membuat Luna merasa tidak nyaman.


Luna yang ingat pengorbanan ibunya untuk dirinya dan anaknya dulu membuat hatinya tidak tega.


"Baiklah Bu, tetapi ibu bisa membawa mobil sendiri karena Luna akan langsung menuju kantor," ucap Luna.


Laras yang tidak mengerti ada apa dengan keluarga itu memilih diam dan memakan makanan lezat yang di buat oleh Rio.


"Dan Laras, besok kamu akan ikut denganku kekantor," ucap Maoura dengan senyum.


"Apa secepat itu Maoura, aku merasa belum siap," ucap Laras ragu.


"Semakin cepat belajar semakin bagus Laras, karena perusahaan itu akan menjadi milikmu secepatnya," ucap Maoura tanpa ragu.


Rio yang sedang makan tersenyum kecil di balik bibirnya yang sedang mengunyah.


"Apa !! tapi Maoura !?" ucap Laras ragu, apakah benar Maoura akan memberikan dia sebuah perusahaan.


"Aku ingatkan lagi Laras, kamu adalah cucu kandung kakek jadi kamu berhak atas semua yang kakek miliki," ucap Maoura mencoba meyakinkan.


"Lalu bagaimana denganmu Maoura," ucap Laras yang masih belum mengenal keluarga kaya raya itu.


"Kamu tidak perlu khawatir Laras, kakek memiliki perusahaan dan pabrik banyak di negara ini. Aku tidak mungkin mengambil semua, kepalaku akan pecah jika terus terusan memikirkan perusahaan. Belum lagi perusahaan Mami Papi aku di luar negeri," ucap Maoura.


"Oh begitu," ucap Laras yang masih tidak percaya dengan kekayaan kakeknya.


"Sudahlah kita habiskan dulu makam malam ini," ucap Maoura.


Semua makan dengan nikmat. Rio sesekali melirik Maoura dan tidak henti hentinya tersenyum aneh ke arah Maoura. Dia tidak sadar jika semua pelayan sedang memperhatikannya dan juga mengawasi gerak geriknya di dalam Mansion.