The Lion, PRINCESS CEO.

The Lion, PRINCESS CEO.
EPISODE 31 PRINCESS CEO



Di taman Maoura dan Rio berhadapan saling menatap. Maoura duduk dengan gaya wanita angkuh.


"Rio kamu tahu bukan kakek menikahkan kita karena dia sangat percaya padamu," ucap Maoura dengan gaya feminim tetapi sedikit menekan.


"Iya Maoura kalian bisa mempercayai saya," ucap Rio mencoba untuk tenang.


"Tetapi kamu sudah membuat buat saya kecewa di hari pertama pernikahan kita," ucap Maoura.


"Maoura maafkan saya karena waktu itu saya tidak ingin kehilanganmu," jawab Rio dengan mata yang di buat sejujur jujurnya.


Maoura menatap Rio tajam lalu sekita tersenyum manis layaknya Maoura yang Rio kenal waktu masih di rumah sakit.


"Baiklah ayok kita masuk," ucap Maoura tersenyum manis dan bersikap seolah olah tidak ada apa apa.


Rio sedikit janggug dengan perubahan ekspresi dan sikap Maoura.


"Dasar wanita siluman aku benar benar akan membuatmu mencium tanah secepatnya," batin Rio


"Hay semua," sapa Maoura setelah kembali ke ruang keluarga.


"Hay sayang, bagaimana dengan urusanmu sudah selesai ?"tanya Nyonya Sarla.


"Sudah Mami."


"Mami mau kemana membawa koper, apa Mami sudah akan kembali negara A ?"tanya Maoura sedikit manja.


"Oh tidak sayang Mami sama Papi akan pergi ke rumah nenek dan kakek, dan koper yang itu adalah milik kakekmu dia akan terbang hari ini juga," ucap Nyonya Sarla.


"Baiklah aku akan menemui kakek dulu," ucap Maoura berjalan menuju kamar kakek.


"Kakek ?"


"Iya sayang."


"Kakek akan pergi sekarang ?"


"Maaf nak, apakah Kakek terlihat buru buru ?"


"Emm tidak kek semakin cepat lebih baik,. Maoura mendoakan agar kakek selalu bahagia disana."


"Terima kasih nak, setelah kakek pergi tolong jaga dirimu baik baik. Kakek sudah meminta Back dan King untuk selalu menjagamu."


"Terima kasih kek," ucap Maoura sedikit risau karena kakek tetap menjaganya walaupun diakan pergi jauh.


Di ruang keluarga semua orang sedang bersenda gurau dengan damai.


"Ayok kita berangkat," ucap kakek yang sudah keluar dari kamarnya bersama Maoura.


"Baik pah, ayo Sarla kita antar kakek dulu kebandara baru nanti kita lanjutkan lagi perjalan ke rumah ibu dan ayah," ucap tuan Raden.


"Apa tidak sebaiknya kita menggunakan helikopter saja, aku sedikit merasa sedikit lelah," ucap Nyonya Sarla, padahal mobil di zaman sekarang begitu sangat canggih, semua di disain sedemikian rupa untuk memberi kenyamanan dan keamanan sang penumpang. Segala fitur keselamatan sangat terjamin.


"Baiklah," ucap Tuan Raden.


"Maoura kakek pergi dulu ya, nak Rio tolong jaga Maoura sebaik mungkin dan Yuan aku harap kamu bisa tinggal lebih lama disini," ucap kakek.


"Maafkan aku kak karena aku harus segera pulang ke negara J secepatnya, sahabatku sedang sakit keras dan aku harus berada di sampingnya. Tetapi kamu jangan khawatir karena Shian dan Luna tetap akan berada disini," ucap Nyonya Yuan.


"Baik jika begitu jaga dirimu baik baik."


Akhirnya kakek bisa terbang dan menemui sang pujaan hati.


"Ayo Bibi, Rio, Luna kita masuk," ucap Maoura.


"Bibi aku akan kekamar dulu ya," ucap Maoura sambil menggandeng tangan Rio.


"Dasar pengantin baru maunya masuk kamar terus," ucap Luna sedikit mengejek Maoura.


"Kamu akan merasakannya jika sudah menikah," ucap Maoura dan hanya di balas muka masam dari Luna.


"Hay Rio mengapa kamu melamun, istirahatlah karena nanti malam kita melihat melihat ruang rahasia kalian," ucap Maoura sambil melepaskan anting dan membersihkan make up nya.


Rio tersadar dari lamunannya.


"Jika aku seperti ini terus mana mungkin aku bisa membalaskan dendamku kepada Maoura, aku harus kuat dan tidak boleh takut," batin Rio dengan tekat yang bulat.


"Maoura," ucap Rio sambil mendekati Maoura ke meja rias.


"Ada apa Rio ?"


"Kamu tahu bukan ke wajibkan seorang istri," ucap Rio memancing Maoura.


Maoura seketika berhenti membuat tangan sibuk.


"Apakah aku akan memberikan kepadanya, mau bagaimana juga dia suamiku sekarang," batin Maoura yang masih merasa canggung.


"Emm Rio kamu tahu ini semua masih baru bagiku, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan," jawab Maoura.


Lalu Rio menuntun Maoura agar berdiri, setelah berdiri Rio langsung memeluk pinggang Maoura.


Maoura sedikit terkejut dan merasa malu sampai wajahnya memerah.


"Maoura tatap mata aku," ucap Rio.


perlahan Maoura menatap Rio.


"Apa kamu mencintaiku ?"tanya Rio.


"Ntahlah Rio aku tidak mengerti apa itu cinta, yang jelas jantung terasa sangat berdebar saat di dekatmu," ucap Maoura dengan polos.


"Apa selama ini kamu tidak pernah memiliki kekasih ?"


"Aku tidak pernah punya waktu untuk sekedar mencari teman pria."


"Berarti aku yang pertama?"tanya Rio senang.


dan Maoura hanya mengangguk.


perlahan Rio mendekatkan wajahnya ke Maoura. Rio mencium Maoura dengan sangat lembut dan mesra, ini sangat baru bagi Maoura dan dia tidak mengerti harus bagaimana.


Rio melepaskan ciumannya.


"Maoura kamu tidak perlu takut, ikuti saja alurnya maka kamu akan bisa dengan sendirinya," ucap Rio.


Maoura hanya tersenyum tersipu malu.


Rio kembali mencium Maoura sambil tangannya melepaskan resleting gaun Maoura. Ciuman mereka semakin dalam dan tidak sadar Maoura telah kehilangan benang yang menutupi seluruh tubuhnya.


Rio melepaskan ciumannya dan melihat keindahan di depan matanya.


"Maoura apa kamu malu ?"tanya Rio yang melihat wajah Maoura seperti kepiting rebus.


"Ini yang pertama bagiku Rio," ucap Maoura menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.


Tanpa aba aba Rio langsung menggendong Maoura menuju kasur mereka.


perlahan Rio memberi sensasi ke telinga Maoura.


"Rio hentikan ini geli," ucap Maoura.


"Aku belum berkunjung ke istanamu tuan putri," ucap Rio dengan senyum nakalnya. perlahan Rio membuka bajunya yang masih menempel utuh di tubuhnya. Maoura sangat terkejut saat melihat pedang pusaka milik Rio yang berukuran king size.


"Maoura apa sudah siap ?"tanya Rio yang tidak perduli dengan ekspresi takut dari Maoura. Kali ini Rio bermain dengan kasar seolah olah dia sedang menyiksa Maoura.


Rio memasuki istana Maoura dengan sangat kasar dan paksa membuat Maoura berteriak dan mencengkram sprei dengan kuat, Maoura hanya bisa memejamkan matanya sambil mengeluarkan buih buih air mata di ujung matanya. Rio sangat puas melihat Maoura yang tidak bisa berkutik dan menikmati penderitaan yang Rio berikan.


Maoura beberapa kali mencoba untuk mendorong tubuh Rio tetapi tenaganya tidak sebanding dengan Rio.