The Lion, PRINCESS CEO.

The Lion, PRINCESS CEO.
EPISODE 23 PRINCESS CEO



Maoura masuk dalam kamar kakek. Jam 8 malam jika tidak ada kepentingan kakek sudah beristirahat, karena kakek ingin menjaga kesehatan tubuhnya agar berumur lebih panjang dan agar bisa terus memantau Cucunya.


"Kakek, Maoura minta izin. Malam ini Maoura akan melawan tuan king sahabat kakek, sebisa mungkin Maoura tidak akan menyakitinya demi kakek. Kakek doakan Maoura agar pulang dengan selamat," ucap Maoura berpamitan dengan kakeknya yang sedang terlelap, karena Maoura tidak ingin membangun kan kakek'nya jadi dia hanya berpamitan lewat mimpi kakek.


Di saat MAOURA keluar kamar, kakek yang sebenarnya sudah terbangun saat mendengar Maoura membuka pintu langsung beranjak dari tempat tidurnya dan menghubungi seseorang.


"Hallo Back .."


Kakek menceritakan kepada Tuan Back bahwa malam ini King akan bertindak. Dengan orang suruhan Kakek, kakek pergi dari mansion utama untuk menyusul Maoura dengan diam diam. Kakek berpesan dengan semua pelayan Rumah agar tidak ada yang melaporkan dirinya kepada Maoura. Kakek tidak ingin Maoura khawatir dan tidak fokus dengan tugasnya.


Di sebuah markas besar milik Maoura, semua para mafia telah di kumpulkan. Maoura sengaja tidak meminta bantuan dari negara karena tidak ingin Tuan king tertangkap. Maoura ingin membawa kembali tuan king untuk kakek nya.


"Miss, kami telah memasang pelacak pada mobil Tuan king." Ucap Rio yang akan membantu Maoura.


Sedangkan Leo, deon, Sun,dan Juo sudah bertindak mengikuti mobil boks yang mengangkut barang berisi senjata api itu. Tidak tanggung tanggung 3 truk besar telah di kerahkan, apa jadinya dunia jika sampai para TER*RIS itu memiliki senjata super canggih dan sebanyak itu.


"Bagus, ayo kita bergerak. Ingat kita harus perlahan dan jangan gegabah karena hidup mati kalian tergantung kehati hatian kalian. Jika sampai kalian gugur dalam misi ini, aku berjanji akan menghidupi keluarga kalian dengan layak sampai akhir hayatku. Dan siapa yang ingin mundur silahkan, karena aku tidak ingin memaksa kalian.


Tiba tiba ada seorang pria gagah keluar dari barisan.


" Miss maafkan saya, saya akan tetap ikut dengan anda. Dan jika saya gugur tolong jaga ibuku yang sedang sakit keras, sekarang beliau sedang akan melakukan operasi di kepalanya. Maafkan atas kelancangan saya Miss," ucap pria itu tanpa getar.


Maoura merasa sangat iba dengan salah satu anak buahnya ini.


"Siapa namamu ?"tanya Maoura.


"Saya IGO Miss," ucap pria itu.


"Berapa umurmu ?"


"Saya 18 tahun Miss."


"Pulanglah dan temanni ibumu, saat ini dia pasti memerlukan dukunganmu."


"Taa.. tapi Miss," ucap pria itu ragu, karena jika dia tidak ikut maka dia tidak akan mendapatkan bonus besar malam ini.


"Kamu tidak perlu kawatir, saya akan menanggung semua biaya rumah sakit dan kamu juga akan tetap mendapatkan bonus malam ini," ucap Maoura yang mengerti keadaan Igo.


"Terima kasih banyak Miss, terima kasih banyak," ucap pria itu bersujud di bawah kaki Maoura karena merasa sangat senang.


"Sudah, sekarang cepat temui ibumu dan beri dia dukungan agar tetap semangat untuk hidup."


"Miss sampai akhir hayat saya akan selalu setia kepadamu," ucap pria itu lalu berlari meninggalkan markas.


.


"Baiklah, sekarang apa kalian semua siap !!!?" seru Maoura.


"Siap Miss !!"


Di dalam mobil Rio mengendarai mobil sambil melamun mengingat apa yang telah dia lihat di depan matanya. Dia tidak menyangka, Maoura yang dia tahu adalah seseorang yang kejam dan tidak punya hati, tetapi Maoura sekarang begitu baik dan bijaksana. Bahkan tatapannya pun penuh kelembutan dan kasih sayang, berbeda jauh dengan mata Maoura 10 tahun yang selalu menghantui pikiran Rio selama ini. Walau banyak keraguan dalam diri Rio dia tetap bersikeras untuk membalaskan dendam yang selama ini sudah dia simpan dalam hatinya.


Hampir menempuh perjalanan selama 5 jam akhirnya mereka sampai ke hutan perbatasan antara Negara mereka dengan negara tetangga .


"Mengapa mereka melakukan ini di perbatasan ?"tanya Rio.


"Untuk mempermudah mereka untuk melarikan diri," jawab Maoura singkat.


Setelah semua berkumpul, Leo menjemput mereka untuk segera masuk ke dalam hutan dan melihat apa yang sedang mereka lakukan.


Anggota Maoura indentik dengan kostum ninja hitam mereka, suasana malam hari mempermudah mereka untuk menyelinap di pohon-pohon besar.


Seribu pasukan telah berpencar untuk mengepung tempat itu.


Maoura melihat Tuan King sedang berbincang bincang dengan tamu yang akan membeli senjatanya.


Dari kesepakatan mereka Maoura mendengar Tuan king meminta agar mereka tidak mengganggu negaranya, jika sampai mereka menganggu negaranya maka Tuan king tidak segan segan akan meledakan negara mereka. Masih belum jelas siapa dan dari mana para TER*RIS itu berada, selain menutupi wajah mereka juga sangat lihai berbicara dengan bahasa mereka.


Setelah mereka setuju dengan syarat syarat yang di berikan Tuan king mengajak mereka untuk melihat lihat senjata yang telah di bawa.


Salah satunya adalah senapan yang begitu canggih senapan ini mampu membaca target hanya dengan memasukan sebuah chip kedalam senapan maka senapan akan memprogram wajah wajah orang yang akan mereka incar. Senapan juga akan memberi tahu sang pengguna agar timbakan mereka tepat mengenai bagian tubuh yang di inginkan agar tidak meleset. Senapan itu mampu membaca suhu dari dari jarak 1 kilometer. Mampu membaca target walau di tempat yang gelap. Dan masih banyak lagi ke canggihan dari senapan itu.


Setelah memastikan adanya senjata dari dalam mobil itu Maoura dan pasukannya bersiap siap untuk menyerang, tetapi langkah kaki Maoura terhenti ketika melihat kakek'nya Widjaya dan Tuan Back datang menghampiri Tuan King.


"King aku ingin memberikan tawaran yang bagus untukmu," ucap Tuan Widjaya yang mengagetkan Tuan King.


"Widjaya / Back !! Kalian disini ?"tanya Tuan King heran.


"Bagaimana King, aku akan membeli semua senjatamu 2 kali lipat dari harga yang mereka tawarkan," ucap Tuan Widjaya tanpa basa basi.


"Hahhaaa CUIH !! Kamu tidak pernah berubah Widjaya, selalu sombong dengan harta yang kamu miliki," ucap king dengan kesal.


"Tutup mulutmu King, Widjaya selalu ingin membantu kita dia hanya ingin kita menjadi orang yang baik !!"ucap Tuan Back.


"Aku tidak percaya kamu telah berhianat Back !!"


"King, mari kita berdamai dan menghabiskan masa tua kita bersama sama," ucap Back


"Benar King, aku ingin persahabatan kita tetap utuh sampai akhir hayat. Maafkan kesalahan ku King, tapi jujur aku tidak pernah mengaggap rendah kalian sedari dulu. Aku selalu ingin membantu kalian, tetapi kalian tahu bukan harta yang ku punya semua itu adalah milik mertuaku. Di saat itu aku tidak ada pilihan untuk menghidupi adikku Yuan Li aku harus menerima menjadi babu mertuaku." Jelas Tuan Widjaya.


"Aku menunggumu di bawah air hujan, kamu berjanji akan menemuiku Widjaya, kamu berjanji akan memberikanku pinjaman, jika kamu datang mungkin ibuku tidak akan meninggal dalam kesakitannya, dia begitu menderita dan terluka, di matanya dia ingin hidup panjang agar bisa merawat anaknya dan melihatnya sukses. Tapi mengapa kamu tidak datang, malah mertuamu yang sombong itu datang dan memukulku sampai babak belur, ibuku sangat sedih melihatku yang penuh luka, dia meninggal sambil menetaskan air mata penyesalan. Sangat sulit bagiku hidup tanpa ibuku. Dan kamulah Widjaya satu satunya alasanku menjadi seperti ini," jelas Tuan king dengan air matanya.


"King kamu harus tau disaat itu aku datang, aku melihatmu di pukuli oleh ayah mertuaku, disaat aku ingin menolongmu aku di halangi oleh bodyguard mertuaku. Di saat sampai rumah aku di beri pilihan, menemuimu atau meninggalkan Purima. Awalnya aku akan menemuimu tetapi Purima datang dan memberi tahu jika dirinya hamil, sungguh sulit bagiku untuk memilih, tetapi aku tidak bisa meninggalkan tanggung jawab ku sebagai calon ayah untuk anaku." Ucap Tuan Widjaya dengan penuh penyesalan. Walaupun kejadian itu sudah berpuluh puluh tahun berlalu, tetap saja Widjaya selalu memendam perasaan bersalah nya.


King yang mendengar itu langsung menjatuhkan pistol yang ada di tangannya dan berlutut. Widjaya dan Back mendekati King dan memeluknya. Mereka bertiga saling menangis dan berpelukan, namun tiba tiba Ter*ris itu menodongkan senjatanya ke arah King.