
Setelah Tuan Nick pulang, Rio mengantar Maoura sampai ke depan pintu utama mansion. Ruang tamu cadang berada agak jauh dari pintu utama Mansion. Ruang tamu itu berada di tengah tengah taman yang ada disana.
Luna segara berlari untuk menghampiri Maoura. Saat akan menuruni tangga, Luna menghentikan langkahnya karena melihat Rio bersama Maoura.
"Maoura pulang dulu, jaga dirimu baik baik, kita akan bertemu di pelaminan." ucap Rio dengan penuh kasih sayang.
"Baiklah, jaga dirimu baik baik." ucap Maoura dengan senyumnya yang manis.
Setelah Rio pergi Luna mengurungkan niatnya untuk mengatakan sesuatu kepada Maoura.
"Maoura begitu mencintai Rio, aku tidak ingin membuat Maoura bersedih lagi pula semua yang terjadi memanglah salahku, aku mengerti mengapa mereka membuatku hilang ingatan itu karena mereka tidak ingin aku mengingat ruang rahasia mereka," gumam Luna dalam rasa bimbangnya.
"Baiklah, aku akan berpura pura untuk tetap hilang ingatan. Lagi pula ibu ada disini, dia pasti akan menyuruhku untuk melanjutkan rencana jahatnya, aku tidak mengerti mengapa ibu ingin aku merebut kekuasaan Maoura." lanjut Luna dengan gumamnya.
"Ah ya bagaimana kabar anakku, apakah dia baik baik saja. Setelah urusanku selesai aku segera menyusulnya." ucap Luna yang teringat tentang anaknya. Dia belum tahu jika anaknya sudah di pindah kesebuah villa megah milik Maoura.
...
Hari pernikahan Maoura dan Rio sudah tiba, semua tamu undangan berdatangan dan menyaksikan dua sejoli itu menyatukan cinta dan hati mereka.
"Mami dan papi tidak percaya kamu akan menikah secepat ini sayang, selamat untukmu ya," ucap nyonya Sarla, dia baru tiba dua jam dari sebelum acara di mulai.
"terima kasih mami papi kalian sudah hadir di acara pernikahan Maoura, Maoura sangat senang."
"sayang ini sudah kewajiban papi untuk mengantar dan menyerahkan mu kepada calon suamimu, semoga tuhan selalu melindungi kalian," ucap Tuan Raden.
"Ayo acara sudah akan segera di mulai," lanjut Tuan Raden memberikan tangannya untuk di gandeng oleh Maoura.
"Oh cucukuu sayang kamu sangat cantik sekali," puji Tuan Suerdja dan nenek Manda.
"Terima kasih kakek nenek." jawab Maoura dengan senyumnya.
"Cucuku selamat ya nak, kakek senang akhirnya kakek dapat meninggalkan mu dengan tenang." ucap tuan Widjaya menahan air matanya. Akhirnya tanggung jawab dia akan berakhir, dan dia dapat beristirahat dengan tenang.
"Apa yang kakek katakan, selamanya kakek tidak akan pernah meninggalkan Maoura, karena aku akan mengurung kakek di sini[menunjukan hati]," ucap Maoura .
"Oh sayang kakek sangat menyayangi mu nak,"
"Maoura juga sangat menyayangi kakek, dan semua," ucap Maoura dengan wajah yang bahagia.
Semua bertepuk tangan saat dua mempelai saling mengutarakan sebuah janji suci mereka.
"Selamat.. selamat.. selamat,, selamat,, selamat." begitulah ucapan dari para tamu.
"Hay broo selamat yaa akhirnya kamu menikah juga," ucap Leo bersama saudaranya yang lain.
"Terima kasih semua. Hay siapa di Sun?" tanya Rio yang menyadari jika Sun menggandeng seorang wanita cantik.
"Perkenalkan, ini Dauna calon istri ku," ucap Sun dengan bangga.
"Ah selamat ya kawan akhirnya kamu mendapatkan dambaan hatimu." puji Rio.
Di saat mereka sedang asyik mengobrol tiba tiba jantung Juo serasa akan berhenti.
"Bukankah dia Luna, yah dia Luna." batin Juo yang merasa sangat terkejut melihat Luna ada di acara itu. Karena sibuk Rio Lupa untuk memberi tahu mereka jika Luna adalah saudara Maoura.
"Hay Maoura selamat ya, maaf aku baru turun karena akhir akhir kepalaku sangat sakit sekali." sapa Luna yang berpura pura tidak ingat dengan 5 pria kurang ngajar itu.
"Apakah kamu sakit, sebaiknya kamu istirahat saja tidak papa Luna," ucap Maoura khawatir.
"Sekarang aku sudah mendingan karena tabib di mansion sangat luar biasa," ucap Luna tidak sadar jika dia tahu di mansion itu ada seorang tabib, dan dengan cepat Maoura menyadari jika Luna sudah mengingat kembali ingatanya.
"Syukurlah jika kamu sudah ingat semuanya," bisik Maoura dengan sangat lirih.
Luna langsung menutup mulutnya karena dia baru sadar jika dia sudah keceplosan.
"Aku masih merahasiakan ini," bisik Luna kembali.
"Apa yang kalian bicarakan," tanya Juo tiba tiba.
"Ah aku hanya sedikit merayu saudariku ini," ucap Luna seperti tidak mengenal mereka.
"Apa !! jadi Luna adalah saudari Maoura, matilah aku," begitulah kurang lebih batin Juo, Deon, Sun dan juga Juo.
"Oh hay salam kenal, saya Juo ini Leo, Deon, Sun kami saudara Rio," ucap Juo yang terlihat tidak berdosa di depan Luna.
"Hay senang berkenalan dengan kalian dan perkenalkan, saya Luna." ucap Luna membalas akting mereka.
"Tunggu bukankah kalian pria yang ada di apartemen itu !!" ucap Luna yang tiba tiba teringat dengan kejadian di apartemen itu lalu tersenyum polos.
"Ah apa !! haha sepertinya anda salah orang Nona !?"ucap Juo yang merasa seluruh badannya bergetar, dia takut jika Maoura mengetahui segalanya maka hancur semuanya. Bahkan pernikahan Rio juga akan berantakan jika sampai Maoura mengetahui jika Rio juga ikut adil dalam bencana Luna.
"Ah ya mungkin saja aku salah orang," ucap Luna dengan polosnya. padahal di dalam hatinya dia tertawa karena melihat tampang gugup dari 5 saudara itu.
"Huft syukurlah," begitulah kurang lebih batin 5 bersaudara yang di ambang kegugupan yang mengguncang hati mereka.
Maoura memperhatikan gelagat mereka benar benar sangat aneh," apakah mereka ada hubungannya dengan apa telah menimpa Luna,"batin Maoura.
"Haaaay Miss selamat yaa," sapa Zahra dan beberapa kru anggota kuaci.
"terima kasih semuanya." ucap Maoura menerima bingkisan kecil dari anggota kuaci.
"Oh Hay Luna apakah kamu sudah baik baik saja, kami merindukanmu." iya kami sungguh rindu," kapan kamu akan kembali ke kantor." ucap para anggota kuaci menyapa Luna dengan Semangat.
"Besok aku akan masuk kantor dan bekerja lagi," jawab Luna tersenyum, di depan para karyawan Luna tidak bisa pura pura hilang ingatan karena itu akan terlihat aneh.
"Syukurlah jika begitu." ucap Lanord, ketua grup kuaci.
"Eh tunggu bukankah kamu Juo ??" tanya Zahra salah satu anggota grup kuaci.
"Ini aku Zahra !!" lanjut nya lagi.
" Apa !! Zahra ?? benarkah, mengapa rambutmu bisa selurus ini aku bahkan hampir tidak mengenalmu," puji Juo.
" Haha iya karena kami akan selalu meluruskan rambut di saat saat seperti ini," ucap Zahra.
Akhirnya mereka semua berada di dalam obrolan kecil Sampai acara itu selesai.
Diam diam Luna melirik Leo, di mata Luna leo sungguh pria yang sangat sempurna.
"Andai Leo tahu yang sebenarnya aku memiliki seorang anak, apakah dia mau menerima cintaku?" ucap Luna dalam hati dengan sangat galau.
"Hemm wangi parfum ini seperti nya tidak asing," batin Luna, di saat dia memutar badan seseorang yang memiliki parfum yang sangat dia kenal sudah berjalan jauh darinya. " Ah siapa saja bisa memiliki parfum itu," batin Luna.
Di dalam mobil Tuan Nick menatap mobil kacanya dan melamun," sepertinya aku melihat bayangan yang tidak asing, ntahlah aku sungguh sangat lelah." batin Tuan Nick, dia baru saja menghadiri acara pernikahan Maoura.
"Dimana wanita itu, apakah anakku tumbuh dengan baik," batin Tuan Nick kembali.
...
Di dalam kamar yang begitu megah dan luas dua pengantin sedang sama sama membelakangi.
"Maoura sebaiknya kamu mandi dulu setelah itu baru istirahat dan tidur," ucap Rio mencoba membuka suasana yang sangat canggung.
"Ah baiklah, aku akan mandi dulu," ucap Maoura gugup. Di dalam kamar mandi Maoura sangat kesulitan membuka baju pengantin yang dia kenakan. "Ah kenapa sangat sulit membuka ini, apa aku meminta bantuan Rio' ah tidak tidak tidak, ah ini !! sebaiknya aku gunting sedikit gaun ini dan besok aku menyuruh pelayanan memperbaikinya," ucap Maoura bersemangat.
Setelah selesai mandi Maoura baru langsung menuju ke ruang ganti. Untung pintu kamar mandi langsung terhubung ke ruang ganti jadi Maoura tidak bingung saat lupa tidak membawa handuk.
"Rio aku sudah selesai, sekarang giliranmu."
"Baiklah," ucap Rio kikuk.
Akhirnya setelah mereka selesai mandi, mereka langsung menuju kasur dan tidur dengan nyenyak. Rio belum ingin menyentuh Maoura karena dia menikahi Maoura hanya untuk membalas dendamnya. Sedangkan Maoura yang tidak mengerti harus berbuat apa memutuskan untuk memejamkan matanya