
...🌹🌹🌹...
Denok
Hanya satu tas yang ia bawa menuju ke barat. Biksu Tong dan murid-muridnya saja bahkan tak membawa apapun selain baju yang menempel di badan. Jadi, kenapa dia harus rempong . Begitu pikir Denok.
" Maaf, kursi 7D!" Ucap Denok berdiplomasi kepada laki-laki yang duduk di tempat yang seharusnya miliknya.
" Duduk dimana-mana sama aja mbak!" Sahut pria itu acuh.
" Kalau dimana-mana aja sama, ngapain kamu nggak duduk di depan WC? Kenapa di tempat orang?" Serang Denok kepada pria yang tidak taat aturan itu.
Membuat beberapa orang lain di dekat bangku kereta itu menoleh demi keributan yang terjadi.
" Saya pusing mbak pingin tidur, mbaknya bisa duduk disebelah sana kan. Toh juga masih kosong!"
Denok begitu geram dengan orang yang tak disiplin macam pemuda itu. Sejurus kemudian, ia tak mau menyerah untuk merampas tahtanya.
" Gini nih rakyat yang gak mau taat aturan. Pembangkang. Manusia kayak begini ini pasti paling ribut kalau gak dapat jatah bantuan sembako dari pemerintah!"
Gumam Denok yang benar-benar kesal.
" Ehem! Mas, saya bisa minta tolong!" Ucap Denok melembutkan nada bicaranya manakala ada Polsuska yang tengah melakukan screening passenger di dalam kabin kereta.
Kebetulan 😁
Membuat laki-laki yang semaunya sendiri itu seketika melirik demi nada bicara yang begitu berbeda.
Dasar penjilat!
" Ada apa Bu?"
" Emmm, tempat duduk saya harusnya di 7D, di dekat jendela, nah itu...." Denok tersenyum sok manis dihadapan Polsuska berbau maskulin, berambut wet look, bertubuh tinggi tegap, dan tentu saja tampan.
Namun, belum juga Polsuska bernama dada Dirgantara itu berucap, laki-laki di jendela itu seketika bangkit.
" Tukang ngadu!" ucap laki-laki itu kesal kepada Denok lalu melengos pergi ke tempat yang seharusnya. Duduk di dekat gang dan di dekat WC yang tepat berada di atas sambungan lokomotif.
Membuat wanita itu seketika terkekeh-kekeh.
" Sudah ya Bu, anda bisa duduk disana sekarang. Mohon maaf atas ketidaknyamanan nya. Saya permisi dulu!"
Untuk pertama kalinya sejak Yusuf menghilang, Denok bisa tersenyum penuh.
Kini, usai meletakkan barangnya diatas headtrack, Ia yang bakal melalui perjalanan panjang nampak memejamkan matanya sembari menyumpal telinganya dengan headset.
🎶🎶Berjalan sendiri disini
Renungi cinta kita yang telah mati
Terlintas bayanganmu saat masih bersama
Pedihnya kesadari kau bukan milikku lagi
Mencoba untuk ku mengerti
Arti cinta yang telah kau beri
Diriku yang percaya semua dustamu
Kiniku mampu berkata kau pergi saja dariku
Aku terus bertahan
Kucoba untuk lupakan
Semua beban dihati
Ku jatuh terhempas
Tak sanggup ku lalui
Jiwa ini tlah terluka
Kekosongan yang ada
Melingkupi raga diriku
Mencoba untuk ku mengerti
Arti cinta yang telah kau beri
Diriku yang percaya semua dustamu
Kiniku mampu berkata kau pergi saja dariku
( Kotak~ Sendiri)
.
.
Yusuf
Ia menatap lekat satu box makanan cepat saji berisikan ayam goreng lezat, saus dengan nama yang sulit di eja dengan bungkus mengkilat, satu cup besar minuman manis dengan kasar gila yang pasti tinggi, juga beberapa cemilan jajanan yang sering ia dapat dari teman Mamak.
Wow, benar-benar gembel kelas sultan.
Pria tampan dengan jam bagus itu masih menatapnya penuh rasa Iba. Sedikit membuat Yusuf takut untuk menyentuh makanan itu.
" Saya juga tidak tahu Pak!"
" Kenapa, aku juga bisa kasihan kepadamu?" Imbuhnya lagi.
" Saya...juga tidak tahu pak!"
" Kenapa, kami bisa bertemu denganmu?"
" Saya tidak tahu pak!"
Kini, Delon seketika mendengus demi jawaban sama yang selalunya lempeng itu.
" Dan kenapa, kau harus kabur dari Mamakmu?"
Membuat Yusuf seketika mendongak.
" Bapak tahu Lon te? Pe Lacur?"
" Hah?"
Delon mendelik dihadapan wajah datar nan polos Yusuf yang mengucapkan dua kata absdurd itu.
" Mamak saya sering di katai begitu sama tetangga kontrakan saya Pak. Saya...!" Yusuf menundukkan kepalanya dan takut jika Delon akan mengusirnya. Mirip orang yang sedang mengheningkan cipta.
Delon hanya bisa tercenung melihat anak yang kini tertunduk layu. Apa anak itu terkena serangan mental?
Namun, di sela-sela pembicaraan serius dalam kamar kos itu, sebuah suara alam yang agung memecah kecanggungan.
KRUK KRUK!
Suara kejujuran dengan tingkat kenestapaan yang tinggi. Membuat Yusuf seketika meringis.
" Makanlah. Setelah ini kau bisa tidur!" Ucap Delon yang menyadari jika ia terlalu lama dalam menginterogasi Yusuf.
Anak itu mengangguk patuh akan apa yang dikatakan oleh Delon. Sejurus kemudian, assiten Jonathan itu nampak menelepon bosnya.
" Sekarang bagaimana bos? Sepertinya, hidup anak ini tidaklah mudah!"
.
.
Hari yang berganti menggelar harapan baru. Meski tak selalunya sarat akan keberuntungan, namun setidaknya tiap usaha pasti berkawan dengan peluang.
Yusuf yang semalaman tak bisa tidur karena takut seorang diri dalam kamar kos itu, kini merasa pusing karena baru saja ia memejamkan mata, gedoran dari luar membuatnya bangun secara terpaksa.
CEKLEK!
" Apa kau bisa tidur semalam?"
Pria tampan yang jarang tersenyum itu pagi-pagi sekali sudah rapih dan begitu wangi. Sangat berbeda dengan dirinya yang tai matanya masih utuh, bahkan kerak air liurnya juga nampak seperti siung Cakil.
" Ma - masuk Pak!" Ucapnya gugup.
Jonathan tak menjawab tapi langsung masuk. Di pindainya sekeliling ruangan yang tak luas namun rapih. Delon yang memilih tempat itu. Lumayan lah, toh Yusuf juga bukan siapa-siapa. Begitu pikirnya.
Tapi, jujur saja, melihat tubuh Yusuf yang kurus, bahasa yang santun, justru membuat Jonathan begitu tak tega.
" Apa saya sudah boleh bekerja hari ini?" Tanya Yusuf dengan wajah berbinar.
" Hemm. Sekarang pergilah mandi!"
Yusuf senang dan langsung melesat menuju kamar mandi yang ada di kamarnya.
Namun, kesenangan Yusuf rupanya hanya bersifat fana. Sukacitanya mendadak menguap di terpa angin, kala ia yang hendak menuju ruang depan tempat dimana pria tampan itu duduk bersila diatas permadani sembari menelpon seseorang.
" Setelah ini, kamu antar saja ke kota S. Aku kawatir kalau orangtuanya akan..."
DEG
Tidak, rupanya pria tampan itu membohongi dirinya. Pasti pria itu tengah berbicara dengan om tampan yang jam nya bagus.
Orang tampan itu, jelas akan mengirim dirinya kembali ke kota S. Membuat Yusuf seketika ingin menangis.
Kini, ia harus bisa kabur sebelum pria itu membawanya pergi. Ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk bisa bekerja. Demi Mamak.
BRAK!
Jonathan yang sedang sibuk berbicara dengan Delon seketika terkejut demi mendengar suara gaduh yang berasal dari arah belakang. Membuat laki-laki itu seketika menuju ke arah kamar Yusuf.
" Yusuf!"
" Yusuf!"
Ia kebingungan kala sosok yang ia panggil tak berada dalam ruangan itu. Dan benar saja, jendela yang terjeblak menjadi penegas jika anak itu kabur.
" Sial, Yusuf pasti mendengar pembicaraan kita De. Dia kabur!"
" Apa?"
.
.
.
.