
...🌹🌹🌹...
Kelvin
Begitu berada di dalam mobil, ia memilih memutar sebuah lagu di dashboard nya, guna mengurangi kecanggungan yang tiba-tiba menyeruak.
🎶 Suatu kali kutemukan..
Bunga di tepi jalan...
Siapa yang menanamnya...
Tak seorangpun mengira...
*Bunga di tepi jalan, alangkah indahnya*...
*Oh kasihan...kan kupetik*
Sialnya, Kelvin malah merasa jika bunga dalam lirik lagu itu adalah Karin. Oh man!
Walau secara pribadi ia belum begitu mengenal Karin lebih dekat, namun dari sikap apa adanya dan rela berkorban itu, bisa Kelvin simpulkan jika wanita itu bukanlah tipe wanita yang silau harta.
" Kita kemana dulu?" Tanya Kelvin melirik Karin menggunakan ekor matanya.
" Terserah kamu lah. Aku belum pernah kesini!" Jawab Karin pasrah.
Kelvin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan yang seolah tiada pernah sepi itu. Walau dalam hatinya berkata jika sepertinya dia tertarik dengan pribadi wanita itu, namun sebisa mungkin ia menjaga sikapnya.
Kini, usai berkendara selama tiga puluh menit, mereka sampai di sebuah danau buatan yang masih ramai di jam semalam itu. Banyak pasangan muda-mudi yang juga menghabiskan waktu untuk berduaan di tempat yang menenangkan itu.
Karin tampak terpukau dan langsung duduk sembari menikmati ketenteraman dari kerlipan lampu, yang terpantul dari sebuah cafe yang menyuguhkan live musik cowok-cowok ganteng di kota itu.
Luar biasa!
" Aku gak nyangka di kota besar ini, ada tempat yang tenang macam ini!"
Kelvin turut menatap air luas yang memang membuat hati siapa saja tenang manakala menatapnya.
" Gimana keadaan Jonathan, aku gak sempat tanya si Denok tadi!"
Karin bertanya guna membunuh rasa kikuk.
" Dia syok. masalah ini gak main-main soalnya. Aku sama Delon masih mau bantu buat nyari lokasi pemakaman Mama sama Papanya Jonathan yang asli berada.
Karin tercenung untuk beberapa saat. Sama sekali tak mengira jika pria kaya yang tampak tak memiliki persoalan hidup seperti Jonathan, rupanya malah memprihatinkan.
" Kalau sahabat kita itu merupakan orang yang baik. Rasanya gak enak aja kalau kita cuma berpangku tangan terus gak bantu!"
Kelvin mengangguk setuju pada perkataan Karin.
" Aku juga sudah tidak punya Mama Papa. Tapi masih tragis Jonathan!"
Karin terhenyak demi mendengar cerita itu. Ia memang tidak tahu jika kedua orangtuanya Kelvin telah tiada.
" Lah, baju yang kemarin aku pakai?"
Kelvin tersenyum menatap Karin yang masih terlolong, " Punya mendiang Mamaku. Kenapa kamu kaget?"
Karin kembali mengangguk, " Aku kira orangtuamu ada di luar kota. Maaf!"
Kelvin menarik seulas senyum penuh kewibawaan. Pria itu suka saat melihat Karin yang tampak ketar-ketir seperti itu.
" Aku selama ini cuma tinggal sama Oma. Kedua orang tuaku..."
Karin menatap hari wajah ganteng Kelvin yang kini menceritakannya kisah hidupnya. Sebuah kisah yang sebenernya membuat siapapun yang mendengarnya turut mengiba. Sama sekali tak menduga, jika pria sehebat Kelvin, rupanya jika memiliki rekam jejak yang menyedihkan.
" Semua orang punya kisahnya Vin. Kau masih beruntung, masih memiliki Oma dan Opa. Memiliki keluarga yang berkecukupan!" Ucap karin yang kini memeluk lututnya sembari menatap jauh pepohonan gelap.
" Akupun juga masih selalu bersyukur meski hidupku seperti ini. Denok yang mengajariku semua ini. Dari luar...wanita itu memang terlihat kotor, hitam juga jauh dari kesan elegan. Tapi kalau kamu tahu, gak ada satupun anak jalanan yang gak pernah kebantu sama dia!"
Kelvin lekat menata Karin yang antusias kala menceritakan Denok.
" Membuatku sadar, bahwa sejelek apapun nasib kita, masih banyak lagi yang jauh lebih jelek. Sejak saat itulah, aku jadi bisa menyimpulkan, bahwa inti dari semua kegiatan peribadatan itu ya soal menolong. Nggak peduli kamu hitam, putih, bahkan merah sekalipun!"
Luar biasa. Kelvin takjub dan kagum kepada Karin yang mampu melihat sudut pandang hal buruk menjadi hal baik.
" Rin.."
" Ya?"
" Kalau...aku pingin kenal kamu lebih dalam lagi sama kamu boleh nggak?"
Karin malah tergelak. Membuat Kelvin tertegun saat melihat wanita itu.
" Jangan Vin. Orang kayak kamu itu harus dapat yang sederajat. Kamu itu ganteng, baik, terhormat. Asal kamu tahu aja, walau cuma sekali, tapi tubuhku ini sudah pernah dinikmati oleh orang!"
Membuat Kelvin menatap lekat Karin yang menyuguhkan senyum ironi. Ia juga tahu siapa pria yang telah melakukan hal itu. Pria yang turut menjadi korban kebiadaban Jac.
" Kenapa kamu ngomong gitu?" Tanya Kelvin dengan raut wajah serius.
" Ya.. karena perbedaan kelas sosial. Aku dan kamu baru kenal, dan jangan sampai kamu..."
" Kalau aku tetep mau gimana?" Potong Kelvin cepat yang membuat Karin seketika terdiam.
" Kalau semua itu gak membuat aku berhenti buat kenal lebih jauh sama kamu gimana? "
Karin menatap tak percaya ke arah Kelvin yang menatapnya dalam. Sungguh, Karin belum pernah melihat sorot mata ketulusan seperti yang di tunjukkan oleh Kelvin.
.
.
...🌹🌹🌹...
Satu bulan kemudian
Hari yang berjalan melarutkan segenap kesibukan semua insan. Pasca Denok menemui Jonathan tempo hari, ia tahu bila pria itu pasti akan sibuk hingga saat ini.
Tak hanya Jonathan, Delon juga Kelvin tampak riwa-riwi ke kantor polisi untuk urusan yang tak sepele itu. Membuat Jonathan kini jarang menghubungi Denok.
Waktu yang di gadang-gadang sebagai hari pemberangkatan Yusuf akhirnya tiba juga, setelah sempat tertunda lantaran birokrasi kepengurusan pasport, serta surat-surat penunjang untuk Yusuf yang mengalami kendala.
Yanti mengambil alih posisi Denok sebab ia teringat dengan mendiang anaknya yang telah meninggal dulu.
Mereka dengan senang hati melakukan hal ini, karena ingin membalas budi semua kebaikan Denok. Tak ingin lagi melihat wanita itu mengalami kesedihannya, mereka berharap apa yang di upayakan saat ini, bisa memberikan kebahagiaan untuk Yusuf dan Denok.
" Jangan nakal Ya. Ucup pasti sembuh. Maaf, Mamak belum bisa ikut. Tapi nanti bakal Mamak susul!"
Yusuf mengangguk tersenyum meski wajahnya pucat, Bu Yanti sudah mengatakan jika Mamaknya juga akan menjalani tes kesehatan. Niatnya untuk meninggalkan rekam jejak yang gelap rupanya tidak main-main.
Meski hati Denok masih berharap jika Jonathan mau datang untuk sekedar memberikan semangat kepada Yusuf, tapi agaknya ia harus cukup tahu diri bila pria itu pasti memprioritaskan kesibukannya.
Denok sadar, jangankan untuk datang, mengiriminya pesan saja sudah sangat jarang Jonathan lakukan. Membuat hatinya kembali goyah.
kini, di menit-menit menuju mereka semua boarding, saat Denok, Jodhi dan Lintang saling melambaikan tangan kepada Yusuf dan Bu Yanti ,seorang pria tinggi tegap tampak berlari dengan napas ngos-ngosan.
" Cup!"
Kesemua orang yang barusaja melambaikan tangan seketika memutar badannya, dan terkejut demi melihat Jonathan yang nampak mengatur napasnya.
Membuat Denok terlolong.
" Paman!"
Jonathan lalu berlari menuju ke arah Yusuf yang sudah duduk di atas kursi roda di depan Bastian, dengan wajah terburu-buru.
" Maafkan Paman terlambat!"
Dengan napas yang masih tak beraturan, Jonathan tampak berjongkok lalu berbicara kepada bocah yang terlihat senang itu.
" Cup, akhirnya kita berhasil nak. Kita berhasil buat Mamak meninggalkan semua itu!"
Yusuf yang melihat Jonathan menangis sembari menangkup wajahnya, kini tak bisa lagi menahan bendungan air matanya yang mendadak jebol.
Membuat kesemua orang yang berasa di sana turut mengharu biru.
" Kau harus sembuh. Paman akan menyusulmu jika urusan paman sudah selesai, hm?"
Yusuf mengangguk dengan hati sesak. Ia senang, superhero nya ternyata tak lupa kepadanya.
Kini, dengan mata yang masih basah. Jonathan tampak meraih sebuah benda dari balik sakunya. Membuat Tante Rania dan yang lainnya saling menatap.
Pria itu terlihat berjalan melewati Lintang dan Jodhi yang berdiri tak jauh dari Denok. Sejurus kemudian, Jonathan tampak menatap wajah Denok dalam seraya tersenyum.
" Maaf karena aku beberapa hari ini sangat memfokuskan kasus Mama agak cepat beres!"
Denok mengangguk tersenyum. Sesungguhnya, ia sangat bahagia demi melihat Jonathan yang turut menghantarkan Yusuf untuk pergi.
" Nov!"
" Ya?"
" Menikahlah denganku!" Ucap Jonathan yang tak bisa berbasa-basi, dan tampak menyodorkan sebentuk cincin bermata biru, ke arah Denok.
Yanti dan Rania yang melihat hal itu seketika tersenyum haru. Pun dengan Lintang dan Jodhi.
" Apa?" Tanya Denok yang tentu saja syok dan mendadak kehilangan fokus pendengarannya.
Membuat Jonathan tersenyum penuh arti. Ia juga menjadi malu sebab Denok malah membuatnya harus mengulang. Oh my God!
" Aku ingin kita bahagia bersama Yusuf dan adik-adiknya kelak! So, Will you marry me?"
Denok yang merasa tubuhnya mendadak dingin juga panas dalam waktu bersamaan hanya bisa menatap semau anggota keluarganya dengan wajah bingung.
" Terima! Terima!" Seru Yanti, Rania dan Bastian yang mendadak menjadi team hore.
" Ciee akhirnya!" Bisik Jodhi
" Terima mbak. Terima!" Seru Lintang yang gemas dengan apa yang ia lihat.
Beberapa orang yang lewat, bahkan seketika turut berhenti demi melihat kejadian membahagiakan itu.
Jonathan menatap Denok membuka mulutnya untuk mengeluarkan jawaban.
Alih-alih menjawab dengan suara yang lantang, wanita itu justru menangis seraya mengangguk, sebab lidahnya mendadak tercekat, akibat luapan kebahagiaan yang saling berdesak di relung hatinya.
Membuat Jonathan seketika menarik jari manis wanita itu lalu menyematkan sebentuk cincin indah, ke jari manis Denok yang bersih dengan perasaan lega.
" Akhirnya kita bersama Nov. Aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi. Aku janji!
Jonathan berbisik penuh kesungguhan manakala ia menarik lalu mendekap erat tubuh Denok yang kini berada dalam pelukannya.
Kedua manusia itu tampak memejamkan matanya lalu saling mengisi rongga mereka dengan aroma tubuh satu sama lain.
Sungguh, semua yang telah terjadi nyaris saja memisahkan mereka. Tapi begitulah cinta, ia tahu kemana arahnya, ia tahu kepada siapa harus berlabuh. Tak peduli kasta, tak peduli kesenjangan yang ada.
Detik itu juga, Jonathan yang perlahan melepaskan pelukannya, tampak menangkup wajah Denok yang masih menyisakan air mata, lalu dengan perlahan mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir wanita itu dengan sangat dalam.
Membuat kesemua yang ada di sana saling bertepuk tangan dengan rasa bahagia yang tiada terkira.
.
.
The Destiny of Love Naughty Woman (Takdir cinta wanita nakal) TAMAT
.
.
.
.
Halo pembaca sekalian, sesuai apa yang mommy sampaikan sebelumnya jika kisah DenJOn ini tidak panjang. Sebab apa, sebab kisah mereka sebagian sudah termuat di side story novel Menjadi Ibu untuk Anakmu.
Mommy paham, menyenangkan hati semua orang itu adalah sebuah kegilaan.
Artinya, tak mungkin Mommy bisa memuaskan hati para pembaca sekalian disini. Maaf kalau belum sesuai dengan apa yang panjenengan semua harapkan.
Akhir kata, Mommy pamit dari kisah DenJOn. Setelah ini, Mommy juga akan menyelesaikan kisah MBMEMH yang molor begitu lama.
Sehat-sehat semua readersku. Insyaallah akan ada ekstra part nanti ya.
😘😘😘😘