The Destiny Of Love Naughty Woman

The Destiny Of Love Naughty Woman
Bab 64. Ketika keadilan berbicara



...🌹🌹🌹...


Nyonya Weni


Pasca Delon datang beberapa saat yang lalu, ia mengalami panik serta ketakutan yang luar biasa, ketakutan yang terjadi terus menerus itu bahkan membuat tubuhnya kini terus bergetar.


Di bawah tatapan anak buah Delon yang masih ada menungguinya di kantor polisi, pikirannya melayang kemana-mana. Tentang harta yang selama ini ia incar, musnah begitu saja dalam sekejap.


Selama itu pula, bayangan wajah suaminya terus muncul bersamaan dengan wajah pucat Feli yang membuatnya semakin tak karuan. Perasaan takut, merasa bersalah, serta ketidakterimaannya kepada harta yang bakal hilang begitu saja


" Tidak! Aku tidak membunuhnya!" Ia tiba-tiba berucap seraya menggelengkan kepalanya panik.


Anak buah Delon yang berjumlah dua orang itu, kini saling menatap saat wanita itu tengah dimintai keterangan oleh polisi. Membuat situasi di ruang penyelidikan itu seketika kacau.


" Dia yang membunuh anakku, dia sudah mati hahahaha!"


Melihat adanya sesuatu yang tidak beres, anak buah Delon tampak merekam kejadian itu lalu mengirimkannya kepada Delon.


" Nyonya tolong jawab pertanyaan saya, apakah anda yang membuat menantu dan suami anda..."


" Tidak! Dia yang malah membunuh Felix, dia yang membunuh anakku!"


" Mereka sangat jahat. Tidak mau menolong orang miskin seperti ku!"


Nyonya Weni terlihat berteriak-teriak dengan frustasi dan emosi yang tak bisa di kendalikan. Wanita itu kini mengamuk dan membuat suasana seketika berubah menjadi gaduh.


Membuat polisi yang bertugas disana kini kebingungan untuk menenangkan.


Jonathan


Percaya atau tidak, menerima atau tidak, nyatanya wanita yang selama ini tinggal seatap dengannya itu telah memejamkan matanya untuk selama-lamanya.


Ya, Jonathas memilih untuk kembali ke rumah sakit terlebih dahulu, untuk melihat Tuan Iqbal sekaligus mengantar Feli yang telah di masukkan ke kantong jenazah oleh tim forensik, sebagai salah satu upaya prosedur penanganan kematian yang janggal.


Berniat akan menemui Nyonya Weni setelahnya.


Walau bagaimanapun juga, meskipun dia tak mencintai Feli, tapi tentu saja bukan ini yang Jonathan harapkan. Membuatnya kini tertunduk seraya menitikkan air mata manakala hatinya tak kuasa menerima semua yang ada.


Tentang mengapa semua ini harus terjadi. Ia memang tak mencintai Feli, namun ia juga sangat tak mengharapkan kejadian ini menimpa wanita itu.


" Pak!"


Ia cepat-cepat menyusut sudut matanya yang berair, manakala Delon memanggilnya.


" Ya De, ada apa?"


" Kendra mengatakan kepada saya jika Nyonya Weni..."


Jonathan tertegun untuk beberapa saat demi melihat rekaman video yang menunjukkan jika serigala berbulu domba itu tengah mengamuk di kantor polisi.


Membuat Jonathan semakin larut dalam kerumitan persoalan.


" Sekarang dimana Papa?"


" Ada di ruang perawatan!"


Jonathan dengan langkah yang masih menahan nyeri di perutnya, kini berjalan serius dan terlihat tak sempat menyapa Denok juga yang lain yang turut menantikan informasi penting itu.


Membuat wanita itu terdiam.


" Jonathan pasti sedang bingung. Kita sabar nunggu dia kasih info!" Karin mengusap lembut punggung Denok manakala ia memahami isi hati sahabatnya itu.


" Apa kau sangat kehilangan Feli Jo?"


.


.


Entah harus bersikap bagaimana dia saat ini. Sejak mengetahui penuturan notaris tua beberapa waktu yang lalu, kekecewaan yang menjurus kepada kebencian itu tak dapat lagi Jonathan halau.


Kasih sayang yang diberikan, tak lain hanyalah sebuah instrumen yang musti mereka jalankan untuk melakukan kejahatan. Sementara Jonathan, ia bagai pion yang mereka mainkan, untuk memenangkan pertandingan.


Namun sayang, Tuhan yang maha bijaksana, tiada pernah mengizinkan hal keji itu terjadi.


" Kenapa kau lakukan semua itu?" Tanya Jonathan dengan dada bergemuruh, serta mata yang telah memerah. Menatap tajam sebujur manusia yang kini telah tak berdaya.


Membuat Tuan Iqbal yang kini masih berbaring lemah diatas kasur ruma sakit itu , menangis sejadi-jadinya.


" Maafkan kami nak..."


" Jangan panggil aku anakmu brengsek!"


Delon bahkan ketakutan manakala Jonathan menjawab pria itu dengan sebuah teriakan yang menggema. Sungguh, hati mana yang tak sakit bila mendengar kenyataan seperti itu .


Membuat pria itu kian menangis dengan perasaan bersalah yang tentunya sudah tiada berguna.


" Istriku benar-benar terpukul saat itu. Anak kami lahir di tanggal yang sama denganmu. Kami yang miskin tidak sanggup membayar dan justru mendapat penanganan yang lamban saat anakku Felix mendapat permasalahan di kesehatannya!"


Tuan Iqbal menjelaskan hal itu dengan tangis dan suara terbata-bata. Membuat Delon menundukkan kepalanya karena bingung harus berbuat apa.


" Tolong maafkan kami nak...!"


" Maafkan dosa-dosa kami!"


Jonathan memejamkan matanya seraya berusaha mensugesti diri untuk tidak emosi. Walau yang ada, ingin sekali ia mematahkan tulang pria itu.


Jonathan merasa marah sebab kejahatan yang mereka lakukan benar-benar terorganisir dengan baik dalam jangka waktu yang tak sebentar. Apalagi, ia semakin merasa sakit manakala merasa jika selama ini hidupnya yang lebih banyak di kekang itu, tak lain adalah bagian dari skenario kejahatan nyonya Weni.


"Pastikan dia mendapatkan apa yang harusnya dia dapatkan De. Aku tidak mau bertemu dengan muka mereka lagi!"


Delon mengangguk penuh hormat saat Jonathan pergi, dan membuat tuan Iqbal berteriak-teriak memanggil nama Jonathan untuk meminta maaf.


.


.


Denok


Ia termenung di dalam ruangan bersama Yusuf yang sebentar lagi akan dibawa Yanti pulang kerumah mereka. Hatinya cemas akan Jonathan. Apalagi, ia mendengar kabar jika Feli telah meninggal.


Meski ia juga sangat tidak suka dengan wanita itu, namun tentu saja hal ini tidak akan ia harapkan menimpa Feli.


" Nok, cepat siap-siap. Kita bawa Yusuf pulang sekarang!"


Ia hanya mengangguk dengan wajah susah. Tak seperti sebelum-sebelumnya, ia yang biasanya mengemas kesedihan dalam bentuk candaan itu, kini terlihat diam dan membuat situasi malah ngeri.


Yanti serta Tante Rania memaksa dirinya untuk membawa Yusuf ke luar negeri untuk menjalani pengobatan terbaik.


Di perjalanan, ia yang membawa serta Karin dalam mobil berisikan empat orang plus satu sopir hanya diam.


" Kau ini kenapa, kamu nggak seneng Yusuf aku bawa?" Tanya Yanti yang kini duduk bersama Yusuf yang terlihat senang naik mobil sebagus itu.


Membuat Denok menghela napas.


" Bukan itu Yan. Aku malah seneng kamu ikut menawarkan diri untuk ngurus anak ini. Anak yang sama dengan kita!"


Mereka bertiga mengangguk seirama kala Denok mengatakan hal itu.


" Tapi aku sama Karin habis ini bakal cari tempat tinggal lain selama kamu pergi bawa Yusuf berobat!"


" Kenapa begitu?" Sergah Yanti agak tidak setuju.


" Tolong kamu sampaikan hal ini ke Lintang dan Tante Rania. Aku oke soal Yusuf dibawa berobat ke sana, tapi aku bener-bener nggak bisa kalau harus tinggal sama kalian. Aku bakal sering ketempatmu. Tapi aku sama Karin bakal cari tempat tinggal lain. Kuharap kamu ngerti maksud aku Yan..."


Yanti menatap manik mata penuh harap Denok lekat-lekat sesaat, sebelum ia mengangguk menyetujui. Ya, Yanti paham akan hal itu, Denok memang orang berprinsip yang orientasi hidupnya bukan untuk menyusahkan apalagi menjadi beban untuk orang lain.