The Destiny Of Love Naughty Woman

The Destiny Of Love Naughty Woman
Bab 52. Di persimpangan pilihan



...🌹🌹🌹...


Jacob


KROMPYANG!


Ia melempar semua barang penting juga barang tidak penting yang berada di atas mejanya, demi meluapkan kemarahan yang berada di ubun-ubun. Nampak berang keadaan anak buahnya karena telah ceroboh dan membuat tua tawanan itu kabur.


" Pindahkan wanita yang satunya sebelum dia turut kabur. Perkuat penjagaan kalian!"


Para anak buah yang berwajah ketakutan itu, kini tampak kocar-kacir untuk melaksanakan titah Jacob. Terlihat tak mau lagi membuat bosnya bertambah berang.


Esok malam, ia berencana akan menyelundupkan senjata ke pelabuhan dan dia memerlukannya akses dari Jonathan agar lolos. Proyek besar ini harus ia dapatkan.


Lagi dan lagi, uang mampu membutakan mata manusia dengan segala kefanaanya.


" Kau yang memilih jalan sulit Jonathan! Dan kau akan tahu siapa Jacob Oetama yang sebenarnya!" Geram Jacob yang kini benar-benar murka.


Pria itu tampak mengepalkan tangannya kuat-kuat lantaran begitu marah sebab Jonathan rupanya tak bisa di sepelekan.


Dengan langkah yang penuh kemarahan, ia kini berjalan menemui Leon dan Karin yang masih berada di sana.


BRAK!


Daun pintu yang terjeblak keras membuat Leon yang kini terikat lemah seketika bergetar.


" Bawa wanita itu kemari!" Titahnya dengan luapan kemarahan.


Kini, tanpa menunggu lama, Karin yang menangis tampak dilempar ke lantai dan membuat wanita itu terjerembab tepat di depan kaki Jac. Membuat Leon terperanjat.


" Apa kau yang merencanakan ini semua, hah?"


Jac mencengkeram rambut Karin hingga membuat wanita itu mendongak. Leon yang sebenarnya kasihan dan ingin menolong Karin kini tak dapat berbuat apa-apa karena sedang sekarat. Namun, sebagai laki-laki yang kerja meniduri wanita itu, sepertinya hatinya tergerak untuk menolong.


" Bu- bukan Pak, sa- saya..."


" Banyak alasan!" Jac menampar wajah Karin dan menjadikan wanita itu benar-benar ketakutan.


Membuat pria yang sedang dalam keadaan kacau itu terlihat meraih sebuah balok lalu melemparkannya ke arah Jac.


DUG!


" Arrghhh!"


Karin seketika mendelik manakala mendengar suara Jac yang terdengar berang akibat kesakitan, manakala balok itu menimpa wajahnya.


" Kurang ajar!"


Pria itu sejurus kemudian menarik senjata yang ada di balik punggungnya, lalu tanpa perhitungan, langsung menembakkan ke kepala Leon.


DOR DOR DOR


" Leon!"


Karin menjerit dengan tubuh gemetar manakala melihat Leon yang di berondong dengan timah panas oleh Jac yang murka.


Kini, sekujur tubuh Karin terlihat tremor dengan wajah yang begitu pucat. Wanita itu benar-benar takut disertasi dengan rasa cemas yang berlebih.


" Sekarang kau harus melakukan sesuatu dan bawa mereka kemari. Jika kau sampai gagal...aku akan membuatmu seperti dia!" Ancam Jac dengan suara yang tak main-main.


Kini, dengan tangis yang semakin menjadi, Karin tampak begitu syok.


.


.


Meninggalkan ketegangan di antah berantah, beberapa papa keren dan seorang bujangan tampan terlihat berkumpul dalam satu meja di sebuah tempat futuristik di jam petang itu.


Raka yang diminta Jodhi untuk membantu mereka tampak begitu antusias saat mendapatkan kabar jika Denok ada di kota itu.


Bahkan, saat seluruh keluarganya kini tahu persoalan yang menimpa keduanya, Raka dan Jodhi menjadi pria yang nasibnya paling terancam.


" Kenapa baru cerita sekarang?"


" Cepat lakukan sesuatu!"


" Mas harus menyelamatkan Denok apapun yang terjadi!"


" Jangan pulang sebelum Danuja bertemu dengan dadenya!"


Membuat keduanya harus menghadapi urusan yang kini menjadi runyam.


" Istriku bisa membuatku tidur diluar jika aku tak bisa menemukan Denok!"


" Hemm aku juga, gara-gara kau, sekarang nasibku juga turut terancam. Bahkan Mama sudah mewanti-wanti ku. Kau tahu, jika ibu negara sudah bertitah, tidak ada gunanya memiliki otot besar jika kita kalah!"


Membuat Delon menahan tawa sebab ternyata tuan Raka dan tuan Jodhistira suka bekelakar juga.


" Orangku mengatakan jika mereka ada di daerah selatan!" Tutur Delon yang kini mengambil alih pembicaraan.


" Apa orangmu bisa di percaya?" Tanya Raka yang kini tertarik untuk menganalisa mitigasi.


" Jurus kamuflase!" Sahut Delon dengan penuh keyakinan.


" Itu artinya orangmu menjadi salah satu dari mereka!"


Delon mengangguk mengiyakan. Pria bernama Raka itu selain tampan dia juga sangat cermat dalam membaca pergerakan.


" Kita sebaiknya pergi malam nanti. Jac adalah orang yang memiliki koneksi dengan para pejabat penting. Tidak mudah menangkap orang itu!" Tutur Raka serius.


" Benar, menurut om Wisang, kita tidak boleh serta merta datang dengan penggerebekan, karena mereka penuh dengan rencana!" Timpal Jodhi demi mengingat saran salah satu tetua dari anggota trio konglo.


" Apa orangmu bisa memastikan jika Denok dan Jonathan ada di sana?" Tanya Raka kembali.


" Belum. Inilah yang membuatku cemas saat ini!" Tutur Delon dengan wajah yang penuh keresahan.


" Kita harus tenang, jangan hubungi polisi dulu, kau tau kebiasaan kita kan?"


Jodhi mengangguk, " Sekarang yang aku takutkan hanyalah kemarahan Ibunya Danuja. Masa depanku ada di tangan dia!"


Membuat Delon celingak-celinguk tak mengerti arah pembicaraan mereka. Tentang apa hubungan sebuah misi penyelamatan, dnegan hubungan masa depan bersama wanita.


" Jomblo mana paham! Beda aliran man!" Tutur Jodhi terkekeh seraya menepuk pundak Delon yang kini tampak bloon.


Membuat Delon mencibir.


Sialan!


.


.


Malam gelap tanpa penerangan membuat Jonathan memutuskan untuk bersembunyi di sebuah tempat yang mirip dengan gua. Entah mengapa ia kesal sendiri karena tempat itu seperti tiada bertepi.


" Aku lapar!" Rengek Denok dengan wajah muram seraya menyentuh perutnya yang perih.


" Kau lapar di saat yang tidak tepat!" Gumam Jonathan seraya mencabut rumput liar di sekitarnya.


" Sudah pernah aku katakan, ancaman mati karena perut kosong itu lebih mengerikan ketimbang mati karena gelut!" Balas Denok dengan wajah memberengut.


Membuat Jonathan menjadi serba salah. Tenyata seperti ini rasanya menjadi gelandangan yang kelaparan.


" Kenapa kau diam?" Tanya Denok kala mereka telah mendapat posisi duduk yang pas.


" Aku hanya berpikir, ternyata seperti ini menjadi gelandangan!"


" Enak saja. Aku bukan gelandangan!" Timpal Denok menyela.


" Lalu apa?"


" Kaum duafa!"


Membuat Jonathan mendengus. Wanita itu masih sama rupanya dengan beberapa tahun yang lalu. Ceplas-ceplos dan kadangkala ekstrim luar biasa.


" Dingin Jon!" Seru Denok seraya memeluk tubuhnya sendiri. Wanita itu tampak manyun sebab teringat dengan Yusuf.


" Semoga Windi datang dan menunggu anak itu. Maafkan Mamak Nak!"


Jonathan terlihat melirik Denok, saat ia sibuk membuka gulungan lengan kemeja dan berniat akan membuka pakaian itu untuk melingkupi tubuh Denok yang tampak kedinginan.


" Pakailah!" Ucap Jonathan sembari melingkupi tubuh Denok dengan kemeja miliknya.


Membuat tubuh liat pria itu kini terpampang jelas, dengan sebuah kaos ketat berwarna hitam yang membungkusnya.


" Aku tidak percaya berada di goa bersama suami orang!" Seru Denok tersenyum sebab keharuman tubuh pria itu rupanya selalu berhasil membuatnya berdesir.


Alih-alih tersindir, Jonathan malah turut tersenyum demi mendengar ocehan bibir yang telah kembali ke jalurnya itu.


" Jadi kamu selama ini berteman dengan Windi?" Tanya Jonathan yang membuat Denok terkejut.


Darimana dia tahu?


Membuat Jonathan seketika tergelak.


" Tika maksudmu?" Ucapnya di sela tawa yang gak dapat lagi ia tahan.


" Aku bahkan tak ingat namanya!" Cetus Denok dengan wajah malas. Membuat Jonathan semakin tergelak.


" Kenapa kau tidak suka?"


" Kau masih bertanya alasanku tidak suka? Sumpah ya Jon, wanita itu bahkan lebih cocok jadi penjilat ketimbang jadi supervisor. Kalau lagi akting, beh ...gak ketulungan. Harusnya dia dapat piala citra!"


Jonathan lagi-lagi semakin tergelak demi mendengar Denok yang mengomel panjang.


Kini, usai meluapkan kekesalan secara maksimal, suasana menjadi senyap. Jonathan mungkin kelelahan pun dengan Denok.


Dalam temaram cahaya bulan yang sedang purnama, Jonathan tertidur demi rasa penat yang menyerangnya. Membuat Denok yang tak sengaja menatap, kini tersenyum melihat pria tampan yang memejamkan mata seraya bersedekap.


Tangannya yang kokoh dan kekar, serta tubuhnya yang tinggi membuat Denok merasa aman dan terlindungi, karena tubuh sebagus itu, jelas bisa menjadi kota benteng untuk dirinya.


" Apa aku salah jika harus mencintaimu Jon? Tapi bagiamana dengan Feli?"


Denok tampak menyusut air mata yang jatuh tanpa izin darinya. Terlihat menghela napas berulang kali demi merasakan kebimbangan.


" Dia bukan anak kandung Mamanya. Pak Jonathan hanya anak angkat!" Ucapan Delon kembali menari-nari di dalam otaknya.


Hingga, ia yang juga merasa lelah memilih untuk memejamkan mata dan berharap rasa lapar itu sirna.


.


.


Dalam redupnya cahaya bulan yang terhalau ranting dan dahan-dahan pohon besar, seorang wanita tampak berjalan lurus tanpa alas kaki.


Wanita itu terus berjalan dengan tatapan kosong, terlihat tak mempedulikan lolongan burung malam di rimba yang menyayat jiwa.


Terus dan terus berjalan sembari menarik sosok yang ditugaskan.


Ranting yang terinjak sepasang kaki telanjang itu, membuat dua manusia yang semula terlelap, kini terjaga dengan sikap waspada.


" Jon, apa kau dengar sesuatu?" Tanya Denok dengan posisi berjaga-jaga.


Jonathan mengangguk, sejurus kemudian pria itu tampak mengintip dari balik dinding gua yang mereka gunakan untuk bersembunyi.


" Karin?"


Denok menatap kosong ke arah wanita yang di panggil namanya oleh Jonathan. Tampak membeku beberapa saat sebelum ia menoleh ke sebuah tempat yang sepertinya dijadikan tempat persembunyian dua manusia itu.


" Karin, kau disini? Kau berhasil kabur?" maafkan aku karena aku bersama Jonathan pergi lebih dulu, karena aku ingin menyel..."


" Pergi Nok, kau harus pergi sebelum mereka menemukanmu!" Seru Karin dengan bahasa tubuh yang aneh. Wanita itu tampak tertekan dengan sorot mata yang putus asa.


" Rin, kau kenapa?"


" Kita bisa sama-sama kab..."


Kini, Denok terpaksa menghentikan ucapannya saat tangannya menyentuh sebuah benda aneh di balik pakaian Karin. Membuat dia dan Jonathan seketika saling menatap.


DEG


" Astaga, Rin. Kamu...?" Denok seketika mundur dengan keterkejutan yang begitu kentara, demi melihat bom yang terpasang di tubuh wanita itu.


" Apa kau sudah menemukan dua manusia kurang ajar itu? Jika sudah ajak dia kembali atau aku akan meledakkan tubuhmu sekarang juga! Hahaha!"


Jonathan yang mendengar suara Jac dari dalam handy talky yang ada di pinggang Karin seketika mengeraskan rahang.


" Kau di jadikan alat untuk menemukan ku!" Gumam Jonathan penuh dengan rasa iba. Merasa benar-benar geram dengan tingkah laku Jac yang semakin biadab.


" Kau masih memiliki waktu sebelum temanmu itu akan meledak. Ingat Jo, aku butuh akses besok malam!"


Dalam situasi yang benar membuat Jonathan terdesak, ia kini bingung harus mengambil keputusan. Jika ia kembali, bukan hanya Karin yang berada dalam bahaya, tetapi ia juga Denok mungkin akan turut dibinasakan setelah ia memberikan akses itu.


Tapi, jika ia kembali, setidaknya ia masih bisa mengulur waktu dan mencari cara agar mereka bisa selamat.


Dan, jika ia tak menuruti laki-laki jahat itu, Denok pasti menderita saat ini.


" Pergilah, jangan khawatirkan aku!" Seru Karin dengan wajah yang kehilangan harap. Wanita itu kini bahkan menyuguhkan pandangan kosong. Membuat Denok menangis.


" Apa kau ingat, aku bukanlah orang yang suka menunggu!"


Seru Jac dari handy talky yang membuat Jonathan mengumpat keras detik itu juga.


" Satu..."


Jonathan mengepalkan tangannya demi rasa marah yang menggerogoti jiwanya.


" Dua..."


" Aku bersumpah akan memecahkan kepalamu dengan tanganmu Jacob Oetama!" Pekik Jonathan yang tampak naik pitam. Membuat Denok semakin tegang.


" Ti..."


" Hentikan omong kosong mau, aku akan kembali kesana! " Sahut Jonathan cepat menekan handy talky dengan rahang mengeras.


Kini, baik Denok maupun Karin terlihat menangis demi mendengar keputusan Jonathan yang akan mempertaruhkan reputasi, juga masa depan hidupnya jika ia memberikan akses kepada pria itu.


" Jo...!" Tatap Denok dengan mata sedih.


" It's Ok. Katamu Tuhan bagi siapa saja. Kalau memang begitu, Dia pasti juga untuk kita!"


Kini, dalam bayang-bayang keadaan yang tidak memungkinkan, mereka bertiga kembali ke tempat Jac.


Beberapa saat kemudian.


BUG!


BUG!


" Jo!" Teriak Denok manakala melihat Jonathan dipukuli dalam keadaan terikat oleh Jac


BUG!


" Hentikan brengsek!"


Denok berteriak manakala melihat Jonathan yang lagi-lagi di pukul wajahnya oleh Jac.


Jac tergelak dengan wajah senang. " Pelacur sepertimu ternyata bisa memiliki rasa cinta juga ya?"


" Cuih!" Denok meludahi wajah Jac sebab ia begitu geram.


" Wanita sundal!"


PLAK!


" Argghh!"


" Novi!"


Jonathan menatap geram Jac yang barusaja menampar wajah cantik Denok hingga membuat sudut bibir wanita itu robek.


" Brengsek!"


KLAK KLEK!


" Jika kau berani melawan, maka wanita ini akan menjadi bangkai saat ini juga!" Ancam Jac yang baru saja mengokang senjatanya dengan senyuman licik.


Membuat Jonathan terpaksa menahan diri meski ia sangat ingin membunuh laki-laki itu.


" Zam, beri mereka makan dan pastikan mereka tidak membuat kita repot lagi. Aku ingin tidur nyenyak malam ini. Good night sayang, haahhah!"


Denok menatap jijik pria yang kini tergelak seraya pergi itu. Membuat Karin yang pias hanya bisa menitikkan air mata.


.


.


" Apa kau bilang?" Windi yang malam ini bersama Yusuf terkejut demi mendengar ucapan Delon yang mengatakan jika Denok dan Jonathan di sekap dalam tempat yang sama.


" Passttt! Jangan keras-keras, nanti Yusuf bangun. Sekarang kau harus dengar, banyak orang jahat di sekeliling Pak Jonathan sehingga membuatku sulit untuk membedakan mana yang baik juga mana yang jahat. Jadi...kumohon kepadamu untuk tetap disini menjaga Yusuf. Gajimu kali ini untuk menjaga Yusuf, bukan untuk pergi ke restoran. Dan dengar, jika Yusuf bertanya bilang saja jika Denok sedang mengikuti pelatihan!"


Windi yang sebenarnya masih belum sempurna dalam mencerna ucapan yang begitu panjang itu hanya bisa merunduk muram sebab yang ada di pikirannya saat ini adalah tentang Denok yang tengah meregang bahaya.


Tanpa mereka duga, dokter Andra yang hendak masuk terpaksa menghentikan langkahnya demi mendengar percakapan mengejutkan itu.


" Ada apa sebenarnya? Apa ini ada hubungannya dengan Feli?" Batin dokter Andra mendadak risau.


.


.


.