The Destiny Of Love Naughty Woman

The Destiny Of Love Naughty Woman
Bab 35. Naik pitam



...🌹🌹🌹...


Denok


Ia duduk seraya memeluk lututnya, lalu membenamkan wajahnya dalam-dalam. Tubuh wanita itu bergetar, menandakan bila wanita itu saat ini tengah menangis.


Pertahanannya seolah runtuh, segenap kekuatannya juga perlahan memudar dalam waktu bersamaan. Ia kini benar-benar jatuh kedalam jurang kenestapaan.


"Biaya operasi kanker otak yaitu mulai dari Rp 15 jutaan hingga Rp 100 jutaan. Biaya ini tentu belum termasuk biaya rawat inap, obat atau penggunaan fasilitas dan alat lainnya."


" Tolong segera ditindaklanjuti. Sebab kanker itu bisa menyebar secara cepat seiring berjalannya waktu!"


Darimana lagi ia harus mendapatkan uang sebanyak itu? Karin baru bisa mentransfer uang besok sebab saat ini mereka sedang melakukan bisnis esek-esek itu secara diam-diam.


Lagi dan lagi, pikirannya menjadi goyah saat ia harus di perhadapkan dengan situasi pelik yang menyangkut masalah keuangan.


Jelang siang, Yusuf yang masih pucat diatas brankar itu nampak sadar.


" Mak, ha us!" Ucap Yusuf dengan suara parau.


Denok seketika bangkit dan buru-buru menyeka matanya agar Yusuf tak melihat. Namun terlambat, mata merah yang saat ini sembab itu tentu langsung bisa Yusuf identifikasi dengan baik.


" Mamak nangis?" Tanya Yusuf dengan wajah muram.


" Nggak. Kemasukan hewan tadi pas masuk. Gimana, apa yang kamu rasain Cup?"


Seperti biasa, wanita itu selalu bisa dengan cepat merubah sikapnya. Benar-benar tak ingin terlihat lemah di hadapan orang lain. Padahal, bibirnya saat ini benar-benar terasa perih.


" Badan Yusuf lemas Mak!" Yusuf menjawab seraya memindai wajah Denok yang lebam. Seketika merasa ngilu di bagian kepalanya manakala teringat aksi gelut Mamak dengan istri paman tampan.


" Kamu makan dulu ya? Mamak suapin!"


Yusuf mengangguk dan berjanji dalam hati untuk selalu patuh kepada Mamak. Ia tak ingin lagi menambah daftar panjang penderitaan Mamaknya.


" Maafin Yusuf Mak. Andai Yusuf enggak kabur. Mungkin Mamak enggak akan...


" Sstt! Ngomong apa sih kamu. Udah berapa kali Mamak bilang, gak usah gunanya menyesali sesuatu yang udah lewat Cup. Mamak cuma berharap setalah ini kamu mau nurut sama Mamak!" Ucap Denok sembari bersiap menyuapi Yusuf.


" Kita dimana ini Mak? Apa Mamak sudah dapat kontrakan?" Tanya Yusuf polos yang melihat kamar dengan desain anak-anak yang lucu.


" Kita dirumah sakit!"


" Hah, Yusuf pulang aja lah Mak. Disini bayar mahal pasti!" Yusuf seketika resah demi mendengar kata rumah sakit.


" Cup!"


Kilatan mata Denok membuat Yusuf seketika mengurungkan niatnya untuk bangun.


" Kamu harus dirawat dulu kata dokter. Mamak siang ini masik kerja. Kamu nggak apa-apa kan sendirian? Mamak harus kerja dulu!"


Yusuf semakin merasa bersalah karena dalam keadaan yang seperti itu, Mamaknya harus kembali bekerja.


Usai menitipkan Yusuf kepada perawat yang ramah tadi, ia bergegas menuju ke restoran sebelum ia terlambat. Ia nampak menguncir rambutnya dengan satu ikatan, lalu menotolkan bedak guna menyamarkan luka.


Namun, Windi yang melihat Denok bolak balik meringis manakala mencuci bertumpuk-tumpuk piring kotor, menjadi curiga dengan rekannya itu.


" Astaga mbak, mbak Deni kenapa?" Ucap Windi dengan oktaf paling tinggi. Membuat Denok geregetan.


" Passttt, lambemu kenapa keras-keras kayak corong mesjid Win!" Denok seketika membekap mulut Windi yang slong. Ini tak baik jika manager sombong itu tahu mereka ngobrol saat bekerja.


Tapi untungnya, tidak ada Tika disana.


" Sampean ini kenapa sih sebenarnya? Habis KDRT sama siapa? Kenapa bibirnya mbak Deni robek begini?" Cetus Windi lagi dengan suara penasaran bercampur kecemasan yang begitu menggebu-gebu.


Membuat Denok ingin mencekik wanita di depannya itu karena gemas.


" Passttt, astaga ni anak mulutnya kagak ada remnya atau bagaimana?" Denok geregetan dengan Windi yang benar-benar panik dengan suara stereo yang cukup mengancam keselamatan mereka.


" Udah kau jangan ribut. Ketahuan si Tika malah brabe nanti. Aku belum siap jadi pengangguran Win!" Dengus Denok yang kini frustasi.


Membuat Windi menatap muram Denok yang malah memarahinya.


" Jangan ngambek dulu! Oh ya, kamu ada info kontrakan atau sejenisnya nggak? Aku baru di usir sama bapak kost ku!"


" Apa?" Teriak Windi dengan suara yang lebih keras lagi. Membuat beberapa karyawan lain yang tengah lalu lalang menoleh ke arah dua wanita aneh itu.


" CK, jancok arek Iki!" Denok mengumpat kesal ke arah Windi yang benar-benar membuatnya mumet.


" Kok aku di marahin lagi sih?" Windi memanyunkan bibirnya karena maju kena, mundur juga kena.


Membuat Denok menghela napas panjang.


" Lagian mulutmu itu . Aku ini lagi mumet banget Win, please jangan bikin onar!" Jawab Denok pasrah.


" Aku kan syok mbak karena dengar mbak Deni di usir!" Elak Windi dengan bibir mengerucut.


" Aku lebih syok karena ternyata lambemu angel ( susah) diatur!"


Membuat Windi seketika meringis.


.


.


Jonathan


BRAK!


" Apa kau bilang?"


Delon nampak berdiri ketakutan saat melihat kilatan kemarahan di mata Jonathan pagi itu. Ya, Delon pagi itu di tugaskan oleh Jonathan untuk membayarkan uang kost Yusuf dan Denok selama beberapa bulan tanpa sepengetahuan sang empunya.


Namun, saat Delon berkunjung disana, ia mendapati kenyataan jika Denok telah pergi.


Merasa tak puas dan curiga terhadap keterangan pemilik kost yang nampak ketakutan kala di tanya, membuat Delon memaksa satu orang penghuni kost yang lain untuk menceritakan kenapa Denok pergi di jam sepagi itu.


Delon yang paham jika segala sesuatu ada harga karena ada uang, langsung merogoh kocek demi sebuah informasi penting itu. Sepuluh lembar pecahan seratus ribu membuat pria bujangan yang penuh dengan jerawat itu memberikannya video amatir tersebut dengan wajah sumringah.


Kini, dengan laju darah yang seakan mendidih, Jonathan nampak menyambar jas lalu terlihat pergi dengan rahang mengeras.


Membuat Delon turut pusing dibuatnya.


" Astaga, jelas akan ada perang ini!" Gumam Delon yang kini mau tak mau harus menyusul bosnya menuju ke suatu tempat.


Di perjalanan, Jonathan hanya diam seraya memijat keningnya yang begitu terasa mumet. Ia menghubungi Feli namun tidak juga di angkat. Membuat Jonathan memutuskan untuk menuju ke butik Feli.


BRAK!


Seluruh karyawan butik itu nampak terlonjak kaget manakala Jonathan menjeblak pintu itu dengan begitu kerasnya.


" Dimana Feli?" Tanya Jonathan dengan wajah yang teramat keruh, dingin dan menakutkan. Guratan merah di sekitar bola matanya bahkan begitu kentara.


" Bu- Bu Feli!" Salah satu karyawan disana bahkan tergagap demi melihat suami bosnya yang tampak naik pitam.


" Dimana dia ?!" Bentak Jonathan yang telah kehilangan kesabarannya. Membuat semua karyawan disana lari tunggang-langgang untuk mencari bos mereka.


" Pak sebaiknya anda te.."


" Diam kamu De!" Sergah Jonathan keras dan membuat Delon seketika bungkam. Benar-benar tak dapat di sela jika sudah marah begini.


Tak berselang lama, Feli nampak keluar dan langsung memeluk Jonathan dengan wajah sedih.


" Aku tahu kau pasti mencemaskan aku!" Ucap Feli begitu percaya diri karena ia mengirimkan foto jika ia barusaja di serang orang.


Jonathan yang di peluk Feli hanya diam. Membuat Delon mengedipkan matanya kepada semua karyawan yang ada, sebagai isyarat bagi mereka untuk pergi.


Kini, Delon yang bisa membaca situasi yang ada, juga memilih untuk menunggu di luar sebab ia tahu jika bosnya itu benar-benar marah.


" Apa yang kau lakukan?" Jonathan mencengkeram kedua lengan Feli dan berusaha melepaskan pelukan itu.


" Kau sudah melihat pesanku kan Jo?"


" Wanita itu menyerangku Jo, lihat ini!" Feli menunjukkan wajahnya yang lebam akibat di tempeleng oleh Denok.


" Kenapa kau menemui Novi?"


DEG


Membuat tubuh Feli seketika menegang. Darimana suaminya tahu jika ia...


" Jo!" Ucap Feli dengan wajah muram.


" Aku sudah berusaha meredam apa yang ada Fel, menuruti mu, mamaku, dan semua keinginan kalian. Tapi, sepertinya kau telah mengikis kesabaran ku!"


Feli nampak menelan ludah dengan perasaan kesal. Bagaimana suaminya bisa tahu, apa wanita itu mengadu? Brengsek!


" Kau yang telah menipuku. Kau masih berhubungan dengan wanita itu kan, hah?"


Kini, Feli mencoba mengeluarkan jurusnya.


" Itu alasannya kau memperkerjakan anak sialan itu karena dia adalah anak dari lon te itu kan?"


" Fel!"


Tangan Jonathan refleks terangkat manakala ia tak suka saat Feli menyebut Denok dengan sebutan seperti itu. Membuat Jonathan geram.


" Apa? Kau menamparku, lakukan!" Teriak Feli yang hendak menangis.


Kini, Jonathan tampak menghela napas demi menetralisir emosi yang begitu membuncah dalam dadanya.


" Demi apapun yang ada di dunia ini, wanita itu bahkan jauh lebih baik darimu. Sebagai wanita, kau bahkan tidak paham arti sebuah kasih sayang yang sebenarnya!"


Ucap Jonathan menatap Feli dengan penuh penekanan. Entah mengapa, Jonathan ingin menangis saat mengatakan hal itu. Hal yang tak pernah diketahui orang, bahwa dibalik Denok yang seperti itu, tersimpan berjuta-juta kebaikan yang nyata.


" Ini peringatan pertama dan terakhir. Jangan kau ganggu wanita itu karena aku tidak melakukan apa yang kau tuduhkan!" Ucap Jonathan serius kepada Felisha


" Aku tidak percaya!"


" Terserah!" Sahut Jonathan seraya berbalik.


" Jonathan berhenti!"


" Jonathan!"


" Jo!"


" Argghh!"


Jonathan pergi dengan dada bergemuruh. Meninggalkan Feli yang kesal dengan hati dongkol.


Sungguh, pantang baginya untuk menyakiti perempuan, siapapun itu orangnya. Bahkan Feli sekalipun.


Kini, Jonathan nampak menghirup napas dalam-dalam. Mencoba menormalkan tekanan darah yang ia rasa mulai naik.


" Pak ada tel..."


" Tanyakan kepada bawahan mu apa Novi masuk hari ini. Dan suruh orangmu untuk mencari tahu dimana keberadaan Yusuf dan Ibunya!" Titah Jonathan yang membuat ucapan Delon menguap percuma.


Delon meneguk ludahnya dengan susah payah. Belum pernah ia melihat bosnya se marah ini sebelumnya.


" Anda benar-benar beruntung nona, karena bisa membuat Pak Jo kalang kabut begini!"


.


.


.