
...🌹🌹🌹...
Denok
Ia benar-benar tidak tahu dan tentu saja saat ini menjadi sangat ingin tahu, mengapa Karin mendadak berada di kota ini dalam situasi seperti ini.
Mulut mereka berdua di sumpal menggunakan kain yang di ikat secara horisontal, kedua tangannya di ikat kebelakang dan kini membuat mereka tak bisa beranjak.
Denok mengedipkan matanya kepada Karin yang menangis ketakutan. Ia memberikan tanda kepada Karin untuk tetap tenang dan agar segala sesuatunya bisa berjalan dengan baik.
" Kenapa mereka menggunakan Karin untuk menjebakku. Siapa mereka sebenarnya?"
Isi kepala Denok terus berangan-angan menembus batas langit manakala ia dorong paksa masuk ke dalam mobil tanpa plat nomor itu. Jelas menandakan jika telah terjadi sesuatu yang fatal.
" Masuk!"
Keduanya hanya bisa diam di bawah pengawasan dua orang pria yang tampak garang. Mata mereka berdua kini di tutup menggunakan penutup hitam, agar keduanya tak mengetahui kemana arah mereka akan di bawa.
Beberapa saat kemudian, mereka telah tiba di sebuah kawasan yang begitu sunyi. Hanya terdapat satu bangunan yang mirip dengan gudang.
Mereka berdua di dorong dengan kasar ke sebuah ruangan usai penutup mata itu dilepas, lalu di tinggalkan begitu saja.
" Jangan coba-coba untuk kabur. Aku tidak suka manusia rewel!" Hardik salah seorang pria yang hendak keluar. Membuat Karin gemetar ketakutan.
Kini, Denok berusaha sebisa mungkin memposisikan tubuhnya agar bisa membuka ikatan bibir Karin sebab ia ingin tahu alasan mereka berdua di tangkap.
Tangan yang terikat kebelakang menjadi sangat sulit untuk di gerakkan. Karin yang tahu bila Denok berniat membuka mulutnya kini tak tinggal diam, wanita itu tampak memutar tubuhnya hingga 90 derajat, lalu mengarahkan wajahnya ke arah Denok yang kini membelakanginya.
Dan sejurus kemudian, terbukalah ikatan yang mengganggu mulut Karin itu atas usaha keras Denok yang berjuang susah payah untuk membuka simpul itu menggunakan tangan yang terikat.
" Hah... Hah!"
Karin nampak ngos-ngosan kala penutup mulut itu telah berhasil terbuka. Kini, giliran Denok yang memposisikan mulutnya ke arah tangan Karin, agar sahabatnya itu melakukan hal yang sama.
Dan beberapa waktu kemudian, usaha keras mereka membuahkan hasil. Keduanya kini terbebas dari tali yang semula membelenggu bibir, meski tangan keduanya tampak masih terikat.
" Nok, elu gak apa-apa kan?" Tanya Karin khawatir sesaat setelah tali di bibir itu lepas. Tampak tak tahan untuk tidak bertanya.
" Ya pasti kenapa-kenapa lah. Enak aja nggak kenapa-kenapa. Nih lihat, bibirku aja rasanya kayak tebel banget!" Sahut Denok mendengus demi jalaran rasa sakit akibat mulutnya di sumpal.
Membuat Karin langsung memanyunkan bibirnya karena malah mengajukan pertanyaan bodoh. Tentu saja Denok akan menggerutu, ia tahu bagiamana sikap sahabatnya itu.
" Sekarang cerita, kenapa kamu bisa ada disini, terus bikin drama kecelakaan segala!" Ketus Denok yang haus akan penjelasan.
Karin tampak menghela napas dengan wajah murung. Ya, sedikit banyak ia telah berkontribusi melakukan kecerobohan.
" Kamu ingat Leon?" Tutur Karin yang memulai pembicaraan.
Denok tampak berpikir keras seraya mengingat-ingat nama yang di sebut oleh sahabatnya itu.
" Jagung Himalaya?" Terka Denok yang mendadak teringat akan nama itu.
Karin mengangguk muram. " Lu tau kan Nok, aku itu selama ini cuman jadi manager kamu dan gak pernah ikut nge-garap mereka. Cuman Leon satu-satunya orang yang berhasil bikin aku bergairah. Tapi..."
Denok menatap Karin serius demi melihat sahabatnya yang kini nampak bergetar karena sebuah sesal.
" Tapi kenapa?" Tanyanya tak sabar.
" Dia ternyata memiliki hutang yang banyaknya kepada Jacob. Dan, Jacob yang sebenarnya mau ngebooking elu marah karena aku ngasih jadwal malam itu ke Jonathan!"
Membuat Denok mendecah tak percaya.
" Sekarang aku tanya serius. Kok kamu bisa kenal sama si Jojon?" Tanya Denok lebih serius lagi.
Kini, Karin akhirnya menceritakan jika ada pria bernama Delon yang memaksanya untuk mengatur jadwal beberapa hari yang lalu. Mereka juga bingung, kenapa orang kaya selalu memiliki akses yang mudah untuk mendapatkan nomor yang mereka mau, termasuk Karin.
" Jadi Delon yang..."
Karin mengangguk dengan wajah yang masih muram.
" Si Jojon so sweet banget sih Nok. Dia ngebooking kamu kayaknya biar kamu gak main sama tuh orang deh. Kalau kau lihat, kayaknya dia itu pingin elu berhenti jualan!"
Dan ucapan Karin baru saja sukses membuat Denok semakin gelisah.
" Terus, apa urusannya kamu sama tu orang? Kenapa aku ikut dibawa-bawa?" Tanya Denok lagi yang belum puas mengorek informasi.
" Leon gak sanggup bayar hutang dan jadiin aku tumbal! Gue nyesel banget karena udah suka sama tuh cowok brengsek! Kalau soal elu... kayaknya Jacob sakit hati karena elu gak datang!" Terangnya dengan wajah ragu.
" Apa? Emang brengsek tuh orang. Awas aja kalau ketemu aku!"
" Pasti ketemu kok Nok. Karena dia ada emang disini!"
" Apa?"
Karin mengangguk muram. " Aku nggak tahu dia bakal hidup atau mati. Pria bernama Jacob itu sadis banget. Terakhir ketemu, Leon di hajar. Maafin aku Nok karena aku diminta buat mancing kamu!" Seru Karin semakin merasa bersalah. Membuat Denok turut menatap muram sahabatnya itu.
" Tapi kenapa?"
Karin menggeleng seraya menangis. Membuat Denok tertegun beberapa saat. Apa mau pria itu. Ia bahkan tak mengenal nama Jacob.
BRAK!
Pintu yang tejeblak dengan keras membuat Karin semakin ketakutan. Denok yang melihat pria garang itu masuk hanya mengerutkan keningnya.
" Beraninya kalian melepas penutup mulut ini. Sini kamu!"
Denok yang di tarik mencoba memberontak namun tenaga laki-laki itu bukanlah tandingannya.
" Nok!" Karin menjerit-jerit histeris kala melihat sahabatnya di seret.
" Lepasin anjing!" Maki Denok yang kini di seret Paksa oleh pria itu.
" Lepas!"
" Diam!" Bentak pria itu yang seketika membuat Karin semakin ketakutan. Denok yang kini di seret paksa oleh pria besar itu hanya bisa berjalan pasrah.
Ia kini di bawa ke sebuah tempat yang berada di ujung lorong, lalu di masukkan ke tempat yang rupanya merupakan gudang minuman itu dengan kasarnya.
KLUNTHANG!
" Diam dan jangan melawan!"
BRAK!
Denok meringis kesakitan kala tubuhnya menubruk lemari berisikan kaleng minuman hingga berjatuhan. Membuatnya mengumpat kesal.
Brengsek!
Ia yang hendak berdiri kini terdiam sejenak demi mendengar suara benda jatuh dari ruangan sebelahnya. Denok yang penasaran kini terlihat mengintip sebuah celah dan ia melihat seorang pria yang di borgol.
Ia berusaha membuka pintu itu tapi sangat sulit. Ia akhirnya menendang pintu itu menggunakan kakinya hingga terjeblak.
Hingga, matanya yang semula awas, kini mendadak mendelik demi melihat Jonathan yang di borgol dengan keadaan kacau balau.
" Jon!" pekiknya dengan hati tak karuan demi melihat darah yang sudah mengering di pelipis pria itu. Bisa di pastikan jika Jonathan pasti telah di hajar habis-habisan oleh orang-orang itu dengan sadisnya.
Jonathan yang terlihat lemah menatap tak percaya ke arah Denok yang kini menangis seraya berusaha menggelasut.
Dan demi rasa marahnya, Denok menarik paksa tangannya dari jeratan tali untuk berusaha melepaskan simpul itu dan membuat tangannya kini terluka.
Wanita itu bahkan tak menghiraukan luka serta rasa sakit akibat kulit yang terkoyak.
" Astaga Jon!" Tubuh Denok bergetar demi melihat keadaan Jonathan yang memprihatinkan.
Ia merasa telah lama tak melihat Jonathan. Sudah sangat lama semenjak keduanya bercumbu bersama.
" Semalam aku memimpikanmu datang!" Lirih Jonathan tersenyum di sela keadaan menyedihkan itu.
" Apa aku masih bermimpi?" Imbuhnya lagi berusaha menatap wajah Denok yang sibuk memetakan keadaan untuk membebaskan Jonathan.
" Kau masih terlihat sangat cantik. Itu artinya aku tidak bermimpi!"
" CK!" Denok mendecak kesal demi melihat Jonathan yang masih bisa berkelakar dalam keadaan yang seperti ini.
Denok berusaha mencari kunci untuk melepas borgol itu namun menemui kendala sebab tentu saja kunci itu tak akan ada di sana.
Ia melihat kapak yang tergeletak tak jauh dari tempatnya duduk. Sejurus kemudian, Denok tampak meraih benda itu lalu berniat menghancurkan benda itu.
" Apa kau akan membunuhku?" Tanya Jonathan sedikit terkekeh.
" Ya, aku akan membunuhmu karena kau terlalu banyak membohongiku brengsek!" Kesal Denok sebab Jonathan malah mengajaknya bercanda.
Membuat Jonathan tertawa kecil.
" Aku percaya kau pasti mampu!"
Jonathan memejamkan mata seraya mencoba diam manakala Denok lekas mengangkat kapak itu.
Satu
Dua
Tiga
CRAK!
Berhasil, satu jeratan akhirnya terlepas.
" Aku tidak menyangka jika kau sangat berkompeten untuk urusan begini!" Lirih Jonathan di sisa tenaga yang ada. Tampak lemas karena berhari-hari kurang asupan makanan.
" Diamalah dan jangan banyak bicara sialan!" Maki Denok dengan perasaan yang was-was. Sungguh ia sangat kesal sebab Jonathan malah mengajaknya bercanda saat ia benar-benar sangat khawatir.
Satu
Dua
Tiga
CRUAK!
Akhirnya, tangan yang tergantung selama beberapa hari ini bebas juga. Kini, Denok melempar kapak itu dan langsung menubruk tubuh Jonathan seraya mendekapnya erat.
" Kau sangat bodoh! Kenapa kau bisa ada disini?" Ucap Denok spontan memeluk dan langsung menangis. Membuat hati Jonathan mendadak terasa hangat.
" Kau juga bodoh, kenapa kau juga bisa ada disini?"
Keduanya saling memeluk dan meluapkan rasa rindu dalam waktu yang tidak tepat untuk beberapa saat. Jonathan tidak tahu kenapa wanita itu bisa ada di sana, tapi yang jelas, sepertinya Jacob benar-benar tak main-main dengan ancamannya sebab waktu yang dibutuhkan pria itu untuk kabur menyelundupkan barang ilegal, adalah besok.
" Sebentar!" Ucap Denok mendadak melepaskan pelukannya.
Jonathan yang masih lemah bahkan sama sekali tak mengingat Feli saat ini. Benar-benar aneh. Ia yang berada dalam situasi mencekam, sejenak merasa bahagia karena melihat Denok ada di sana.
" Minumlah!" Ucap Denok menyuguhkan sebotol air yang ada di gudang itu dengan wajah resah.
Sebotol air dalam botol itu seketika tandas hanya dalam beberapa tegukan saja.
" Aku merasa seperti orang yang berbuka puasa!"
" Apa kau selalu seperti ini, bercanda di situasi yang serius?" Kesal Denok meraih botol yang kini telah kosong.
" Aku merindukanmu!" Lirih Jonathan menatap Denok kekati.
" Kau jangan gila, aku bahkan barusaja mendamprat Istrimu beberapa waktu lalu. Jangan aneh-aneh!"
" Bukankah kau yang aneh. Kau yang memelukku dulu!"
Membuat Denok mati kutu.
" Kenapa kau bisa ada disini?"
" Aku yang seharusnya menanyakan hal itu!"
Denok akhirnya menceritakan sebab musabab dirinya bisa diringkus oleh komplotan Jacob. Membuat Jonathan geram.
" Dia adalah sainganku sejak dulu. Tapi tidak kusangka, dia memiliki bisnis terselubung. Dia penjual senjata ilegal lintas negara!"
Membuat Denok membulatkan mata.
" Tapi..apa hubungannya dengan..."
" Inilah kehidupanku yang sebenarnya. Penuh dengan resiko yang tak orang lain lihat. Apa kau ingat dengan tuan Jodhistira? Seluruh keluarganya juga telah terbiasa dengan teror!"
" Aku sangat senang kau ada disini. Bersamaku!"
Denok menatap manik mata Jonathan yang terlihat lelah.
" Bagiamana cara kita keluar? Karin ada di ruangan sebelah dan ponselku di rampas pria berkumis tadi!"
" Aku punya cara!"
.
.
Delon
" Kenapa Mamak belum kembali Paman?"
Matahari sudah melorot ke sisi barat dan hendak tenggelam, tapi wanita pecicilan itu tak juga menampakkan batang hidungnya.
" Kita tunggu sebentar lagi. Mungkin masih dalam perjalanan!"
Delon yang sebenarnya juga sangat resah bahkan tak tega meninggalkan Yusuf sebab takut kalau-kalau terjadi sesuatu.
" Pak Delon, anda disini?" Windi yang masih mengenakan seragam Restoran itu tampak kaget manakah melihat Delon yang duduk di ruangan Yusuf.
" Kebetulan kau datang, kau bisa jaga Yusuf dulu?"
" Memangnya, mabuk Denok kemana?"
Delon bingung harus menjawab apa.
" Aku tidak tahu, dia pergi sedari pagi. Bisakah kau menjaga Yusuf dulu?"
Windi mengangguk, " Saya memang setiap hari menginap disini Pak!"
" Bagus, kalau begitu saya pergi dulu!"
Di perjalanan, Delon tampak berpikir untuk menemui Feli. Namun, ia menjadi terkejut saat melihat Feli yang kini mabuk di dalam rumahnya, dengan pakaian yang nyaris telanjang.
" Hey Jo, kau sudah pulang?"
Delon seketika menegang kala tubuhnya di raba oleh Feli yang berhaluan.
" Aku sangat merindukan Jo!"
Membuat pria itu kini tampak kebingungan.
.
.
.