
...🌹🌹🌹...
Jonathan
" Bagiamana?"
" Apanya yang bagaimana Pak?"
Delon yang masih sibuk mengetik pekerjaannya menatap heran ke arah bos-nya yang duduk di singgasana.
" CK, soal Denok...mmmm- maksdutku Mamaknya Yusuf curiga nggak kalau kita..."
Membuat Delon kini tahu arah pembicaraan mereka.
" Sejauh ini yang dia ributkan hanya soal membawa pulang Yusuf Pak! Selebihnya, tidak ada pergerakan yang berarti!"
" Memangnya kenapa Pak? Jangan bilang kalau bapak..." Delon sengaja menggantungkan pertanyaannya sembari menatap Jonathan penuh selidik.
Jelas ada yang tak beres disini.
" Ingat Pak, ada Bu Feli!" Timpal Delon seraya memutar bola matanya malas, menakala ia mengendus aroma mencurigakan.
Entah mengapa, Jonathan seketika lesu demi mendengar ucapan menohok assistenya itu.
Bagai di celikkan, ia seketika sadar jika saat ini telah menjadi suami seseorang. Ya, ia peduli terhadap nasib seorang wanita saat ia bahkan telah menjadi suami wanita lain. Damned!
" Tapi...maaf Ya pak, emangnya bapak serius pernah suka sama..."
" Memangnya apa yang kamu pikir?" Potong Jonathan cepat demi mengakhiri pemikiran ngawur Delon.
" Don't judge book base on cover De. Gak selamanya apa yang terlihat kotor, itu bobrok. Sebaliknya, kadang yang nampak mulus, justru busuk di dalamnya!"
Jonathan menjawab dengan tatapan menerawang jauh manakala ia teringat akan perbedaan sikap Feli dan Denok.
" Bagiku dia adalah malaikat tak bersayap De!"
Teringat saat mereka bertemu untuk pertama kali, diwaktu Jodhi mencari Lintang.
Pucuk dicita ulam tiba. Ya, saat ini bibir mereka masih belum tertutup manakala membicarakan Denok, tapi yang bersangkutan nampak menghubungi Delon.
" Lah Pak, Mamaknya Yusuf!" Ucap Delon dengan sedikit terkejut. Menunjukkan benda berlayar pipih yang nampak menyala kepada Jonathan.
" Angkat!" Titah Jonathan dengan wajah datar.
" Hal..."
" Dimana? Kata si Jojon restoran kamu menerima pegawai?"
What?
"Pak?" Lirih Delon meminta penjelasan terhadap Jonathan atas ucapan Denok yang mengira dirinya memiliki restoran.
" Udah bilang aja itu punya kamu!" Jawab Jonathan tanpa suara. Membuat Delon seketika mendengus kesal demi hal yang sama sekali belum pernah dibicarakan dengannya itu. Bos sialan!
" CK, yang benar aja ni Pak Jo!" Gumamnya lirih.
"Halo, halo! Eh buset ni orang dengerin gak sih? Halo ..hal.."
" Ah iya, kebetulan setelah ini saya ada pertemuan di hotel tempat anda menginap. Kita ketemu disana!"
.
.
Saat jam makan siang, Jonathan yang berniat keluar untuk beberapa urusan, terpaksa menghentikan langkahnya saat melihat Feli datang ke kantornya.
" Pak, bukankah itu Bu Feli?" Delon nampak syok saat itu.
" Tumben datang kemari! Bakal ada bencana alam nih? " Seru Delon lagi yang membuat pria datar di sampingnya itu melirik sosok cantik yang tampak memukau mata beberapa orang disana.
" Selamat siang Bu!" Delon mengangguk sopan sesuai standar operasional penghormatan kepada istri bos.
Feli hanya mengangguk sekilas, " Kamu mau kemana? Aku hari ini masak. Sengaja bawain kesini biar kamu makan!" Tutur Feli tersenyum ke arah Jonathan yang masih saja flat.
Delon yang tahu jika bosnya sebenarnya mau ikut dengannya seketika menjadi takut. Takut kalau-kalau ada permasalahan lain yang bakal muncul.
Melihat kebisuan Jonathan, Delon akhirnya memutuskan untuk pergi sendiri. Jika bosnya itu diam, bisa di pastikan jika Jonathan tidak akan pergi.
" Emmm kalau saya pergi dulu Pak, Bu. Sudah janji dengan seseorang!" Jawab Delon belingsatan yang membuat Jonathan meliriknya tajam.
" Maaf bos, saya duluan!"
.
.
Di resto hotel
Suara kuku yang mengetuk-ngetuk meja kayu itu menjadi pemecah keheningan antara Delon juga Denok yang larut dalam kebisuan yang menyeruak.
" Kamu ini sebenernya siapanya Jojon?" Tanya Denok yang kini beralih melipat kedua tangannya.
" What Jojon? Ngawur nih orang, masak pak Jo ganteng dibilang Jojon?"
Membuatnya melirik ngeri ke arah Denok.
" Ingat De. Jangan pernah bilang kalau kamu anak buah saya. Bilang saja kamu ini rekan, sahabat, pokoknya jangan bilang kalau saya yang punya. Kalau dia tahu saya yang punya, dia enggak bakalan mau!"
Ucapkan bernada ancaman mendadak menari-nari di kepalanya.
" Saya teman dekatnya Jonathan. Ya benar...saya...teman dekatnya!" Jawabnya kikuk.
" Astaga, kenapa rasanya kaku sekali menyebut Pak Jo tanpa embel-embel Pak!"
Denok mengangguk tanpa curiga. Masuk akal juga jika seorang sahabat selalu menempel di mana-mana.
" Memangnya benar, ada lowongan di restoran kamu?" Tanya Denok kini dengan suara yang lebih wajar.
Delon mengangguk cepat. Tidak boleh menimbulkan kecurigaan.
" Ada tiga posisi, kasir, pelayan, serta bagian pencucian!"
" Sistem gaji bulanan, makan di tempat, dan libur seminggu sekali!"
" Sebaiknya and..
" Aku mau di bagian cuci piring!" Potong Denok cepat.
"What? Aku bahkan belum menawari dia!" Batin Delon merasai.
" Bagian cuci piring engga perlu ijazah kan? Soalnya pendidikan ku cuman sampai SMP!"
Denok berbicara apa adanya. Sebab selama ini yang menjadi kendala dalam mencari pekerjaan adalah pendidikan serta usianya yang terbilang expired.
" Tapi, bisakah kau meminjamkan aku uang dulu agar sundel bolong itu tidak memarahi anakku lagi?"
" Jika aku ada uang lebih dulu, aku akan melunasinya!"
Delon seketika kaget sembari berusaha menahan tawa demi sebutan sundel bolong yang pasti ditujukan kepada Feli.
" Bagian cuci piring minta pinjam uang dulu? Yang benar saja!" Pemikiran yang ada di otak Delon malah kini terlontar tanpa kendali. Membuat laki-laki itu seketika menutup mulutnya dengan spontan.
" Kalau enggak mau ya sudah. Aku bisa cari kerja lain!"
Denok yang mendengar hal itu tentu saja tersinggung.
" Eit Eit Eit!" Cegah Delon kepada Denok yang sudah berdiri.
" CK, yang benar aja. Mana ada yang punya tempat kerja malah takut sama calon pegawainya. Aku benar-benar nggak ngerti sama si bos!" Batin Delon yang kini panik sebab takut Denok akan menolak bekerja.
" Aku hanya bercanda, jangan terlalu di ambil hati!" Ucapnya meringis dengan maksud menjilat Denok agar tak marah.
" Baiklah, Minggu depan anda sudah bisa masuk. Soal uang itu, nanti akan ku kabari lagi!"
.
.
Denok
Pekerjaannya saat ini sedang di ujung tanduk karena pihak berwajib tengah memburu para pelaku bisnis lendir mulai hulu hingga hilir. Membuatnya tak memiliki pilihan untuk menjajal pekerjaan itu.
Ia cukup lega karena Delon rupanya pria baik yang mau meminjaminya uang. Tidak apalah, anggap saja ia sedang berhutang. Karena bagiamanapun juga, Yusuf harus bisa ia bawa pulang.
Tidak masalah, mungkin hanya beberapa bulan sampai pekerjaannya normal, ia akan mengembalikan uang itu dan akan membawa Yusuf pergi. Begitu pikir Denok.
Sekembalinya dari bertemu Delon, ia yang kini kekenyangan nampak kembali ke kamarnya karena sepertinya ia akan check out dan memilih mencari kost yang lebih murah.
Uangnya jelas tak akan cukup jika digunakan untuk tidur di hotel yang nyaman seperti itu.
Rencananya benar-benar tak ada yang tepat, niat hati datang ke kota lalu mengajak Yusuf pulang, namun siapa sangka jika skenario kehidupan berbalik secepat ini.
Denok lupa, jika keadaan pasti punya kenyataan. Apalagi, berita dimana-mana menayangkan soal terbongkarnya kasus prostitusi online. Dan sebagai salah satu pelaksana, tentu ia juga mencemaskan diri juga komplotannya.
Menurut kepada saran Karin adalah hal terbaik demi kelangsungan hidupnya saat ini.
Bahkan pekerjaan yang di anggap mudah dan enak sekalipun oleh orang lain, ternyata memiliki resiko yang tak kalah besar pula.
Ia terlihat menaiki lift menuju lantai delapan. Sengaja mengenakan masker sebab bibirnya kini jontor lantaran memakan seafood yang mungkin saja mengandung alergen yang tidak ia sadari.
Namun, saat ia hendak menekan tombol up, tangan seseorang membuat pintu lift yang akan tertutup itu kembali terbuka.
" Maaf, aku buru-buru!"
Ia hanya mengangguk saat pria yang sepertinya seorang dokter itu nampak tergesa manakala masuk seraya melepas atributnya.
DLUK
ID card berwarna biru yang terjatuh ke lantai lift membuatnya turut menatap benda persegi panjang itu.
"dr. Nevandra? Sepertinya pernah dengar namanya!"
Denok bergumam dalam hati seraya melirik dokter muda yang nampak terburu-buru itu dari balik maskernya. Nampak begitu familiar.
.
.
.