
...🌹🌹🌹...
Felisha
Malam ini dia baru saja menuntaskan pekerjaannya. Ia puas lantaran client taraf sultan miliknya sangat menyukai desain yang ia buat. Kini, istri Jonathan itu nampak tengah bersiap untuk kembali ke kota J.
" Kau yakin akan meninggalkan kota ini secepatnya? Bukankah, kita bisa menciptakan banyak waktu?" Andra menatap Feli yang duduk dengan elegan kala menikmati makan malamnya dengan tatapan penuh minat.
" Gaun ini sudah harus jadi dalam waktu singkat, aku benar-benar tak memiliki waktu banyak!" Sahut Feli yang nampak tak terganggu dengan sorot mata Andra.
" Tapi kita masih memiliki waktu yang banyak kan?" Andra meraih gelas minumannya sembari menatap Feli penuh seringai misterius.
Feli menatap Andra dengan tatapan yang tak bisa di artikan. Bisa jadi, Feli menjadikan Andra sebagai friend with benefitnya.
" Jangan sering-sering menghubungiku saat aku dirumah. Jaga batasanmu!" Ucapnya menatap lekat Andra.
Namun hal itu rupanya tak bisa di lakukan oleh Andra. Keesokan paginya, ia yang telah landing di jam pertama penerbangan kota J itu, mendecak kesal sebab Andra malah mengirimkannya foto manakala mereka merengkuh nikmat bersama.
" Apa yang kau harapkan dari laki-laki itu? Aku bahkan bisa memberimu semua yang kamu mau!"
Sedikit menyesal kenapa ia tak bisa menahan diri untuk bercumbu dengan pria itu. Kini, sepertinya ia harus menjaga jarak aman dengan Andra sebab ia tak ingin kehilangan Jonathan.
Tapi mau bagiamana lagi, hal biologis macam itu siapa juga yang bisa menahan? Dan harus ia akui, Andra merupakan pria yang peka dan baik. Membuatnya tak menyadari, jika hal yang telah ia lakukan, adalah sama saja seperti sedang menggali lubang besar untuknya. Lubang yang sewaktu-waktu, dapat membuatnya terperosok.
Ia yang sejak kemarin sibuk sehingga tak memiliki kesempatan menjawab telepon dari Jonathan. Orang lain yang melihat mereka pasti akan berdecak kagum. Pasangan kaya yang nampak menjadi rising star di bidang masing-masing. Namun, jika kita tilik lebih dalam lagi, semua yang nampak tak lebih dari sekedar fatamorgana kehidupan saja.
Kini, ia nampak berjalan angkuh di lobi dan menuju ke tempat Delon yang telah siaga untuk menjemputnya.
" Selamat pagi Bu Feli!" Delon membungkukkan badannya penuh rasa hormat manakala istri dari bosnya datang.
" Hemm, mana Jonathan?" Tanya Feli dengan sikap elegan, sembari menyerahkan koper serta beberapa barang untuk ia berikan kepada mama mertuanya kepada pria yang selalu menebarkan keharuman sepanjang hari itu.
Benar-benar wanita yang sempurna.
" Pak Jo sedang ada urusan penting Bu. Beliau berpesan agar saya mengantar anda. Beliau janji akan pulang lebih cepat hari ini!" Jawabnya selalu hati-hati jika berhadapan dengan Feli.
Feli mendecah dalam hatinya. Kenapa semakin kesini ia menyadari bila Jonathan sering tak memiliki waktu untuknya. Kualitas hubungan yang sama sekali tidak sesuai dengan ekspektasi nya.
Ia memang senang dengan Jonathan yang workaholic, tapi saat ini yang ia butuhkan juga bukan materi saja, ada belaian serta cinta yang ia butuhkan.
.
.
Jonathan
Dan, hal penting yang di maksud Delon ialah pertemuannya dengan Denok. Ya pagi ini Jonathan sudah tak bisa menahan diri untuk tidak bertemu dengan wanita itu.
Nampak tak ingin membuang kesempatan yang ada di depannya.
" Bagiamana De?"
" Aman Pak, wanita itu bilang enggak masalah bertemunya di hotel!"
" Kalau begitu bilang saja Yusuf ingin menemuinya di hotel saja. Pastikan dia tidak keluar!"
Begitu percakapan mereka pagi tadi sebelum keduanya berpisah untuk tujuan yang berbeda.
Ia bahkan berkali-kali menyugar rambutnya di depan rear vission mirror, demi memastikan penampilannya telah sempurna. Entahlah, ia pasti sudah gila. Menemui wanita saat ia sudah berstatus sebagai suami.
Persetan untuk itu. Bagiamanapun juga, ini merupakan kesempatan baginya untuk membenahi serta meluruskan apa yang telah ia perbuat. Walau ia tahu, ia tak bisa berharap lebih pada kondisi ini.
" Kau tahu apa yang harus kamu lakukan?" Jonathan nampak mengkonfirmasi sekutunya yang pagi ini lebih modis dan parlente.
Yusuf yang pagi itu mengenakan pakaian yang bahkan bisa merubah keseluruhan penampilannya mengangguk dengan penuh semangat. Yang ia tahu, paman tampan adalah teman Mamaknya.
Sepertinya, dua laki-laki beda usia itu akan membuat Denok repot.
" Mamakmu adalah teman baikku yang sudah lama hilang Suf. Kami ada sedikit kesalahpahaman. Jadi, maukah kamu menolong Paman untuk meminta maaf?"
Itulah jawaban yang di lontarkan oleh Jonathan manakala Yusuf terkejut sewaktu ia menunjukkan foto Denok saat bicara serius kemarin.
Ia mengingat betul nomor kamar yang di informasikan oleh Delon. Otaknya kini tengah bekerja keras demi menyusun kalimat - kalimat pamungkas yang ia harapkan bisa menolongnya untuk menghadapi Denok.
Sebab ia tahu, jika wanita itu sangat sulit di taklukkan.
Ia mengenakan masker hitam dan menanggalkan pakaian formalnya. Lebih memilih mengenakan kaos hitam dengan jeans serta topi. Membuat pria itu benar-benar terlihat tampan.
Ia nampak menghela napas panjang, sesaat sebelum menggedor pintu kamar yang kini membuatnya grogi.
TOK TOK TOK
Jonathan nampak mengetuk pintu kamar Denok dengan hati berdebar. Perasaan yang telah lama sirna, entah mengapa kini seolah bangkit dari kematiannya.
" Apa dia akan memaafkannya?"
TOK TOK TOK
CEKLEK
" Siapa sih, gak sabaran am..."
Suara sebal seorang wanita seketika menguap ke udara manakala Jonathan langsung mendorong pintu itu agar terbuka lebih lebar.
Pria itu menepikan tatapan penuh keterkejutan dari wanita yang nampak baru mandi, sebab tak memakai make up apapun.
Terlihat mendorong pintu itu kuat-kuat lalu memaksa masuk kedalam sehingga membuat Denok melongo dengan mata membulat.
" Setan belang! Siapa kamu, seenaknya saj..."
DEG
Lagi, ucapan penuh kekesalan itu harus terjeda tatkala sang empunya tubuh tinggi tegap itu kini membuka masker yang menutupi wajahnya.
Membuat tubuh Denok seketika bergetar hebat manakala memandang sosok yang kini tersenyum tanpa dosa ke arahnya.
" Bagaimana kabarmu? Sepertinya, kita sudah sangat lama tidak bertemu."
Denok yang sudah berasa ingin pingsan saat melihat sosok tampan yang bahkan sudah tidak ia harapkan lagi kehadirannya itu, kini hanya bisa membeku dengan wajah yang mendadak pucat.
Apa ia sedang bermimpi?
.
.
.
.
To be continued....